Jambi Siapkan Tes Psikologi Massal untuk Guru dan Kepala Sekolah
BICARA PENDIDIKAN - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi bersiap mengambil langkah strategis di sektor pendidikan dengan menyiapkan pelaksanaan tes psikologi massal bagi guru dan tenaga kependidikan di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya preventif pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas mental para pendidik sekaligus memastikan lingkungan belajar yang sehat dan kondusif di sekolah.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan langsung Gubernur Jambi dalam rapat internal yang digelar akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi diminta segera menyusun skema pelaksanaan tes psikologi secara menyeluruh dan terukur.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, M. Umar, mengungkapkan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima arahan tersebut. Saat ini, Dinas Pendidikan telah menjalin koordinasi dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Kolonel HM Syukur guna mempersiapkan teknis pelaksanaan tes psikologi.
“Malam Sabtu lalu kami mendapat arahan langsung dari Pak Gubernur melalui rapat internal. Kami diminta segera menyiapkan tes psikologi, dan saat ini sudah berkoordinasi dengan Direktur RSJ Daerah Kolonel HM Syukur untuk persiapan teknisnya,” ujar Umar, Kamis (5/2/2026).
Umar menegaskan bahwa kebijakan ini tidak ditujukan kepada individu tertentu, melainkan bersifat menyeluruh bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan di Provinsi Jambi. Namun, pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan anggaran dan sumber daya.
Pada tahap awal, tes psikologi akan difokuskan kepada kepala satuan pendidikan negeri yang jumlahnya sekitar 289 orang. Menurut Umar, kepala sekolah menjadi prioritas karena memegang peran sentral dalam pengelolaan sekolah, pembentukan budaya kerja, serta penciptaan iklim belajar yang aman dan positif bagi peserta didik.
“Bukan hanya satu guru yang sedang menjadi perhatian publik. Seluruh guru dan tenaga kependidikan nantinya akan mengikuti tes psikologi. Namun tahap awal kita fokus kepada kepala sekolah negeri terlebih dahulu,” jelasnya.
Tes psikologi ini bertujuan untuk memetakan kondisi mental dan emosional para pimpinan sekolah serta tenaga pendidik agar tetap stabil dan profesional dalam menjalankan tugas. Pemerintah ingin memastikan tidak ada tekanan psikologis yang berpotensi mengganggu kualitas pembelajaran maupun hubungan sosial di lingkungan sekolah.
“Kita ingin memastikan para kepala sekolah dan guru benar-benar siap secara psikologis. Jangan sampai ada beban mental yang berdampak pada proses belajar mengajar maupun interaksi dengan siswa,” tegas Umar.
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menargetkan pelaksanaan tes psikologi dapat dimulai pada pertengahan Februari 2026, setelah seluruh persiapan administrasi dan teknis dinyatakan selesai. Saat ini, tahapan yang sedang berjalan meliputi penyusunan regulasi internal, koordinasi lintas instansi, hingga penentuan metode pelaksanaan tes.
Dari sisi pendanaan, Umar mengakui bahwa anggaran khusus untuk tes psikologi belum tersedia dalam pos anggaran Dinas Pendidikan. Namun pemerintah tengah mengkaji kemungkinan penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sebagai alternatif pembiayaan, dengan tetap menyesuaikan aturan dan ketentuan yang berlaku.
“Untuk di dinas memang belum teranggarkan secara khusus. Opsi sementara melalui dana BOS atau BOSP masing-masing satuan pendidikan, namun ini masih kami kaji dan lakukan cross-check terhadap regulasinya agar tidak menyalahi aturan,” ujarnya.
Menjawab perhatian publik terkait salah satu guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur yang belakangan menjadi sorotan, Umar memastikan bahwa yang bersangkutan juga akan mengikuti tes psikologi sesuai arahan Gubernur Jambi. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses akan dilakukan secara profesional dan proporsional tanpa diskriminasi.
Kebijakan tes psikologi massal ini diharapkan menjadi langkah awal Pemprov Jambi dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kompetensi akademik, tetapi juga kesehatan mental para pendidik. Dengan kondisi psikologis yang terjaga, guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Sumber: jambiprima.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
