Jumat, 25 September 2026

Menyambut Lebaran Teater Jambi; FTR 2026 Perayaan perlombaan, pembelajaran dan pertumbuhan


Oleh: Ady Santoso


Tulisan ini adalah upaya dalam menyambut perhelatan Festival Teater Remaja Taman Budaya Jambi (FTR) tahun 2026, yang menjad sebuah peristiwa kebudayaan yang tidak semata-mata hadir sebagai agenda perlombaan teater remaja, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan, pembelajaran, pengujian gagasan, dan pertumbuhan artistik bagi generasi muda teater di Jambi. Harus diakui bahwa didalam perhetalan tersebut, panggung tidak hanya menjadi tempat untuk mempertontonkan hasil latihan, melainkan ruang untuk menguji keberanian, kedisiplinan, kreativitas, kerja kolektif, serta kemampuan para remaja dalam membaca kehidupan melalui bahasa teater.


Karena itu, menyambut FTR 2026 kiranya tidak cukup hanya dengan mempersiapkan panggung, naskah, pemain, tata artistik, atau kesiapan teknis pertunjukan, namun ada upaya lain yakni mempersiapkan ekosistem pembelajarannya. Dalam pandangan saya FTR semestinya dipahami sebagai sebuah peristiwa yang mempertemukan tiga hal sekaligus: perlombaan, pembelajaran, dan pertumbuhan. Dimana perlombaan memberikan tantangan, pembelajaran memberikan proses, sementara pertumbuhan memberikan makna atas seluruh pengalaman yang berlangsung di dalamnya.


Dalam kerangka itulah saya mencoba untuk mengutarakan perihal gagasan FTR Taman Budaya Jambi 2026 sebagai “Lebaran Teater Jambi”, dengan menggunakan sebuah metafora untuk menyambut perhelatan FTR 2026. Lebaran yang saya ungkapkan disini dalam pengertian kebudayaan, bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah masa dan dimulainya hari perayaan. Lebaran adalah momentum perjumpaan, silaturahmi, pulang, berbagi pengalaman, saling mengunjungi, dan merayakan kembali ikatan yang mungkin selama perjalanan mengalami jarak. 


Ketika metafora ini saya coba bawa ke dalam dunia teater, maka Lebaran Teater Jambi dapat dimaknai sebagai momentum ketika komunitas-komunitas teater remaja di Jambi kembali berkumpul di satu ruang, membawa karya, pengalaman, kegelisahan, pencapaian, pembelajaran serta harapan untuk tumbuh bersama. Dalam pengertian itulah FTR 2026 dapat menjadi Lebaran Teater Jambi, sebuah momentum ketika teater remaja tidak hanya berkumpul untuk berlomba, tetapi juga pulang membawa pengalaman, membawa karya, membawa pulang pengetahuan, dan membawa pertumbuhan teater.


Perayaan Perlombaan, Pembelajaran, dan Pertumbuhan


Setiap festival teater dalam pandangan saya sesungguhnya selalu menyimpan dua wajah. Di satu sisi ia adalah arena perlombaan, ada kelompok yang datang untuk berkompetisi, ada juri yang memberikan penilaian, ada penghargaan yang diperebutkan, dan ada keputusan yang pada akhirnya membedakan satu pertunjukan dengan pertunjukan lainnya. Tetapi di sisi lain, festival juga merupakan ruang pendidikan, dimana ia mempertemukan pengalaman, memperlihatkan perbedaan, membuka percakapan, dan menghadirkan kesempatan bagi setiap kelompok untuk melihat kembali apa yang selama ini mereka kerjakan di ruang latihan. FTR Taman Budaya Jambi 2026 saya pandang berada di antara dua wajah itu. 


Dalam konteks FTR Taman Budaya Jambi, para peserta datang untuk menunjukan siapa yang paling baik, mereka datang untuk menunjukkan siapa diri mereka, apa yang telah mereka pelajari, bagaimana mereka membaca persoalan, bagaimana mereka menerjemahkan teks menjadi pertunjukan, dan sejauh mana mereka berani mengambil risiko artistik, disanalah kemudian mereka datang dengan membawa kualitas karya. Namun sesungguhnya, sebelum membicarakan kualitas artistik, kita harus melihat kebelakang bahwa dari sebuah kualitas yang datang, didalamnya terdapat proses pembelajaran. Dan proses itulah yang sering kali luput ketika sebuah festival berlangsung, dimana kita terlalu cepat membacanya hanya dari hasil akhir.


Memang tidak menutup mata bahwa banyak kecenderungan yang hampir selalu muncul dalam setiap kompetisi seni, dimana kita akan melihat festival melalui hasilnya. Siapa juaranya? Siapa aktor terbaik? Siapa sutradara terbaik? Pertanyaan-pertanyaan itu sah. Namun sebelum para pemenang itu diumumkan, ada hal yang ingin saya ajak dari para pembaca semua, dimana jangan sampai makna festival hanya berhenti pada pertanyaan-pertanyaan itu. Karena ketika sebuah festival hanya dikenang melalui daftar pemenang, ada bagian penting yang sebenarnya hilang dari ingatan kolektif kita. Bagaimana dengan kelompok yang tidak memperoleh penghargaan? 


Oleh karenanya FTR dalam pandangan saya jangan hanya dibaca dari hasil akhirnya saja, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia harus juga dibaca dalam konteks pengalaman pembelajaran, sebab pengalaman belajar dari kemenangan ataupun kegagalan akan terus membekas, dan akan terus tinggal di dalam ingatan. Hingga dari pembelajaran itulah kemudian pada suatu hari, ingatan pengalaman belajar itu akan menjadi dasar dari lahirnya karya-karya baru. Pada titik inilah kemudian FTR 2026 seharusnya tidak hanya bertanya siapa yang menang? Namun juga kita perlu bertanya apa yang telah kita pelajari dari pengalaman? Dan lebih jauh lagi, apa yang telah tumbuh dari perhelatan? Pertanyaan terakhir inilah yang menurut saya penting untuk diletakkan di tengah perbincangan tentang masa depan Festival Teater Remaja Taman Budaya Jambi.


Lebaran sebagai metafora ekosistem teater


Menggunakan istilah “Lebaran” untuk membaca FTR 2026 bukanlah perkara kosmetik. Ia bukan sekadar upaya mencari istilah yang terdengar menarik, melainkan Lebaran dapat menjadi metafora tentang perjumpaan. Dalam kehidupan teater, perjumpaan merupakan energi yang sangat penting. Teater tidak tumbuh dalam kesendirian. Ia tumbuh karena ada pemain dan sutradara, ada penulis dan penata artistik, ada kelompok dan penonton, ada guru dan murid, ada generasi lama dan generasi baru, sehingga pada akhirnya teater membutuhkan orang lain.


Bahkan seorang aktor yang berdiri sendirian dalam sebuah pertunjukan monolog pun sesungguhnya tidak pernah benar-benar sendirian. Ia membawa teks yang ditulis seseorang. Ia dibentuk oleh sutradara, guru, pengalaman hidup, lingkungan sosial, tradisi pertunjukan, dan penonton yang menjadi tujuan komunikasinya. Karena itu, teater pada dasarnya adalah seni perjumpaan, dan FTR menjadi penting ketika ia mampu menyediakan ruang bagi perjumpaan itu.


Kelompok-kelompok teater remaja yang selama ini mungkin berlatih di ruang sekolah, sanggar, aula, ruang kelas, atau halaman tertentu, pada satu waktu bertemu dalam satu ruang yang sama. Ruang itulah yang dapat kita jumpai sama sama dalam FTR Taman Budaya Jambi 2026.


Gagasan tentang “Lebaran Teater Jambi” tentu bukan sesuatu yang muncul dalam ruang kosong. Dalam sejarah kehidupan teater Indonesia, istilah tersebut pernah digunakan sebagai gagasan kegiatan untuk mempertemukan dan merayakan kehidupan teater, salah satunya melalui kegiatan Lebaran Teater yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2022. Yang menarik untuk dibaca bukan semata-mata bentuk kegiatannya, melainkan cara sebuah istilah kebudayaan dapat digunakan untuk menyebut momentum perjumpaan dalam kehidupan teater.


Di sinilah Jambi dapat mengambil jarak sekaligus mengambil pelajaran. Tidak perlu menyalin Jakarta, karena Jambi memiliki sejarah kebudayaan sendiri, kelompok teater sendiri, komunitas seni sendiri, sekolah-sekolah dengan dinamika masing-masing, Taman Budaya Jambi sebagai ruang kebudayaan, serta generasi muda yang tumbuh dalam lanskap sosial dan teknologi yang berbeda. Maka yang perlu dipinjam bukan bentuknya, melainkan semangat metaforanya. Semangat dalam dalam membaca momentum berkumpulnya ekosistem teater Jambi. Dan FTR 2026 dapat menjadi salah satu titik penting dari perjumpaan itu.


Perjumpaan antara sekolah dan sanggar, antara pemain dan sutradara, antara kelompok lama dan kelompok baru, antara pengalaman dan eksperimentasi, antara kompetisi dan Pendidikan, antara pertunjukan dan refleksi. Dan dari sinilah FTR tidak lagi hanya menjadi kalender kegiatan. Ia dapat menjadi ritual kebudayaan tahunan yang ditunggu-tunggu oleh generasi teater muda Jambi.


Taman Budaya Jambi sebagai Rumah Kebudayaan


Dalam gagasan “Lebaran Teater Jambi”, Taman Budaya Jambi saya pandang smempunyai posisiangat yang penting. Ia bukan hanya sekedar Lokasi, karena lokasi dapat digantikan,tetapi sebagai rumah kebudayaan. Rumah yang memiliki makna yang lebih Panjang, dimana Taman Budaya Jambi menjadi ruang tempat berbagai energi seni bertemu. Dalam konteks FTR, ruang tersebut dapat menjadi rumah bagi teater remaja. Rumah yang bukan berarti tempat yang selalu nyaman dan damai, namun juga dapat menjadi rumah yang juga tempat kita belajar hidup Bersama, dimana selalu ada perbedaan, ada konflik, ada keterbatasan, ada aturan, ada ruang yang harus dibagi, namun dari situlah rumah menjadi penting.


Jika FTR ingin tumbuh sebagai ekosistem, Taman Budaya Jambi perlu terus diposisikan sebagai ruang yang bukan hanya menerima pertunjukan, tetapi juga memfasilitasi proses pembelajaran kebudayaan yang terus berkelanjutan. Di sana dapat terjadi diskusi, lokakarya, bedah pertunjukan, pertemuan antarkelompok, pameran artistik, gelar dokumentasi dan arsip, bahkan percakapan informal setelah pertunjukan. Karena sering kali pembelajaran paling penting tidak terjadi ketika dalam satu forum pertunjukan, melainkan Ketika hal-hal tersebut berjalan dan berlaku dalam keseharian.


Karena itu, FTR Taman Budaya Jambi 2026 sebaiknya tidak hanya dipikirkan sebagai rangkaian pertunjukan selama beberapa hari, melainkan ditempatkan sebagai satu titik dalam siklus pembelajaran tahunan, dan jika boleh kembali saya menggunakan istilah guna memperkuat gagasan FTR sebagai ruang pembelajaran, saya kira saya akan menyebutnya sebagai sekolah tanpa kelas. Dimana tidak tidak ada papan tulis, tidak ada bangku yang disusun berbaris tidak ada ujian tertulis, melainkan pembelajaran terus terjadi. Panggung pertunjukan menjadi ruang praktik, dimana juri menjadi pembaca, penonton menjadi cermin, kelompok penampil lain menjadi referens, taklupa pengalaman kegagalan sebagai refleksinya.


FTR dapat menjadi sekolah semacam itu, sekolah yang tidak menggantikan pendidikan formal, tetapi melengkapinya. Sekolah yang mengajarkan sesuatu yang sulit diajarkan hanya melalui teori, dan itulah pengalaman artistik. Pada akhirnya, ada satu hal yang mungkin paling sederhana tetapi paling penting, para remaja yang berdiri di atas panggung sedang belajar untuk hadir, hadir dengan tubuhnya, hadir dengan suaranya, hadir dengan pikirannya, hadir dengan emosinya. Dan berani dilihat oleh orang lain.


Pada akhirnya FTR adalah ruang nyata, dimana di tengah dunia digital sekarang yang memungkinkan seorang remaja bersembunyi di balik layar, pengalaman hadir secara fisik diatas panggung menjadi semakin penting. Panggung yang kemudian memaksa remaja untuk hadir dan bekerja sama. Panggung yang kemudian membuat perjalanan hidup remaja lebih bermakna. Panggung yang kemudian mendorong guru pembina menjadi bagian dari forum pembelajaran bersama. Panggung kebudayaan yang dibangun oleh sistem pengetahuan yang terus dirawat setiap tahunnya dan akan terus menjadi arsip pembelajaran dalam melihat bagaimana teater remaja Jambi berkembang dari waktu ke waktu.


Menyambut Lebaran Teater Jambi


Maka, menyambut FTR Taman Budaya Jambi 2026, barangkali kita tidak sedang menyambut sebuah perlombaan dalam pengertian yang sempit. Kita sedang menyambut sebuah perayaan perjumpaan, sebuah perayaan perjumpaan yang memungkinkan anak-anak muda melihat bahwa teater tidak hanya hidup di kelompok mereka sendiri. Karena ada kelompok lain, ada cara lain, ada pendekatan lain, ada kesalahan lain, ada keberhasilan lain, ada kemungkinan lain, dan dari perayaan perjumpaan itu mereka dapat menemukan dirinya sendiri.


Itulah mengapa saya menyebutnya Lebaran Teater Jambi bukan karena ia harus menyerupai perayaan agama tertentu, bukan pula karena kita membutuhkan nama baru untuk sebuah festival. Tetapi karena kata “Lebaran” menawarkan sebuah cara untuk memahami festival sebagai momentum berkumpul, berefleksi, berbagi, dan pulang membawa sesuatu. Dalam konteks FTR 2026, sesuatu itu adalah pembelajaran, dan dari pembelajaran itulah pertumbuhan dimulai.


Pada akhirnya, tiga kata dalam judul ini bukan tiga kata yang berdiri sendiri. Perlombaan adalah pintu masuk, pembelajaran adalah proses, pertumbuhan adalah tujuan jangka panjang. Kita membutuhkan perlombaan agar anak-anak muda memiliki tantangan. Kita membutuhkan pembelajaran agar tantangan tersebut tidak berhenti sebagai kompetisi. Dan kita membutuhkan pertumbuhan agar seluruh pengalaman festival memiliki makna setelah festival selesai.


Karena itu, FTR Taman Budaya Jambi 2026 hendaknya tidak harus hanya menghasilkan juara. Ia harus menghasilkan pembelajar, ia harus menghasilkan pemain yang semakin sadar terhadap tubuhnya. Sutradara yang semakin peka terhadap ruang. Penata artistik yang semakin memahami dramaturgi visual. Penulis yang semakin mampu membaca realitas. Guru pembina yang semakin kaya pengalaman dan pendampingan. Dan kelompok yang semakin matang dalam bekerja. Jika semua itu terjadi, maka kita sebenarnya telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada daftar pemenang, kita telah membangun manusia kebudayaan.


Dan di sanalah FTR kemudian lebih menemukan maknanya, dimana FTR 2026 adalah perlombaan, tetapi jangan berhenti pada perlombaan. FTR 2026 adalah pembelajaran, tetapi jangan berhenti pada pembelajaran. FTR 2026 adalah pertumbuhan, dan pertumbuhan itulah yang harus kita bawa pulang. Karena itulah, Lebaran Teater Jambi bukan hanya tentang datang dan berkumpul. Ia tentang datang untuk bertemu, tampil untuk belajar, bertanding untuk bertumbuh, dan pulang untuk kembali menciptakan. Dan jika kelak kita bertanya apa yang sebenarnya dirayakan dari sebuah Festival Teater Remaja, mungkin jawabannya tidak perlu terlalu rumit.


Kita merayakan anak-anak muda yang masih mau percaya bahwa panggung dapat mengatakan sesuatu. Kita merayakan guru-guru yang masih mau mendampingi. Kita merayakan kelompok-kelompok yang masih mau berlatih. Kita merayakan juri yang bersedia membaca dan memberikan catatan. Kita merayakan penonton yang masih bersedia menyaksikan. Kita merayakan Taman Budaya Jambi sebagai ruang perjumpaan. Dan yang paling penting, kita merayakan kemungkinan bahwa dari panggung kecil hari ini, suatu hari nanti akan tumbuh perjalanan artistik yang jauh lebih panjang.


Maka, mari menyambut FTR Taman Budaya Jambi 2026. FTR yang bukan sekadar sebagai festival, FTR yang bukan hanya sekadar sebagai perlombaan, melainkan sebagai sebuah Lebaran Teater Jambi. Tempat kita berkumpul, tempat kita belajar, tempat kita bercermin., tempat kita merayakan proses. Dan akhirnya, tempat kita pulang dengan membawa satu hal yang tidak pernah boleh hilang dari kehidupan teater, yakni keinginan untuk terus tumbuh. Selamat menyambut Lebaran Teater Jambi.







.........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap