Senin, 28 September 2026

Mujahadah sebagai Transformasi Diri di Era Global


Oleh: Prof. Mukhtar Latif 

(Ketua Senat UIN STS Jambi)



Satu kondisi yang paling berbahaya dari manusia bukan tubuh yang sakit, melainkan hati yang tidak menyadari penyakitnya. Penyakit ini dapat terjadi pada siapapun, tidak memandang tinggi rendahnya pendidikan, tinggi rendahnya jabatan, kalangan berpunya maupun tidak.


Tubuh yang sakit seharusnya, mendorong seseorang mencari obat. 

Namun realita, hati yang sakit justru sering membuat seseorang mencari kesalahan orang lain. Ia iri ketika orang lain berhasil, gelisah ketika orang lain dipuji, menyimpan dendam ketika tersinggung, buruk sangka ketika menghadapi perbedaan, lalu merasa dirinya paling benar. Dari penyakit itu lahir gosip, fitnah, intrik, kebencian, dan adu domba.


Penyakit hati memiliki persoalan yang lebih serius, pemiliknya sering tidak menyadarinya.


Al Quran menyebut penyakit hati sebagai maradh. QS. Al Baqarah ayat 10 menjelaskan adanya penyakit dalam hati manusia. Al Quran juga menunjukkan jalan penyucian jiwa. QS Asy Syams ayat 9 menegaskan keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya.


Di sinilah mujahadah menemukan maknanya.

Mujahadah adalah perjuangan sungguh sungguh menghadapi diri sendiri. Objek perjuangannya bukan manusia lain, melainkan hawa nafsu, ego, amarah, keserakahan, iri, dengki, dan berbagai dorongan yang merusak kualitas batin.


Tradisi sufi memiliki perhatian mendalam terhadap persoalan ini. Al Ghazali menempatkan perjuangan melawan hawa nafsu sebagai bagian penting dalam penyucian jiwa. Al Qusyairi menekankan latihan spiritual dan pembentukan akhlak. Ibn Athaillah mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kebanggaan terhadap amalnya sendiri. Rumi memandang perjalanan spiritual sebagai proses pembebasan manusia dari dominasi ego menuju cinta. Ibn Arabi menghubungkan perjalanan batin dengan pengenalan manusia terhadap dirinya di hadapan Allah.


Keragaman pemikiran tersebut bertemu pada satu prinsip: transformasi manusia dimulai dari perubahan batin.


Rasulullah SAW memberikan ukuran kekuatan yang berbeda dari ukuran dunia. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, orang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan orang lain, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.


Pesan tersebut semakin relevan pada era global.

Manusia hidup dalam ruang komunikasi tanpa batas. Satu jari dapat menyebarkan ilmu kepada ribuan orang. Satu jari yang sama dapat menyebarkan fitnah, kebencian, dan prasangka. Media sosial membuka ruang silaturahmi sekaligus menyediakan ruang luas bagi konflik. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan ketika pengendalian diri tidak berjalan.


Teknologi berkembang sangat cepat. Kedewasaan manusia tidak selalu mengikuti kecepatannya. Karena itu, kemajuan teknologi harus disertai kemajuan kualitas batin.


Mujahadah mengajarkan disiplin diri dalam menghadapi situasi tersebut. Berhenti sebelum berbicara. Berpikir sebelum menyebarkan informasi. Memeriksa sebelum mempercayai. Menahan amarah sebelum membalas. Mengoreksi diri sebelum menuduh orang lain.


Pada titik ini, para sufi memiliki ruang dialog dengan psikologi modern melalui konsep self regulation, pengendalian emosi, pembentukan karakter, resilience, dan pengembangan diri. Istilahnya berbeda, tetapi terdapat titik temu pada kemampuan manusia mengendalikan pikiran, emosi, dan perilakunya.


Mujahadah tidak menjadikan manusia tanpa kesalahan. Mujahadah membentuk kesadaran untuk terus memperbaiki kesalahan.


Iri dilatih menjadi syukur. Dengki diubah menjadi doa kebaikan. Kebencian dikendalikan dengan kedewasaan. Kesombongan diganti kerendahan hati. Gosip dihentikan dengan menjaga kehormatan. Fitnah dilawan dengan kejujuran. Adu domba dihentikan dengan perdamaian.


Inilah transformasi diri.

Manusia yang bertumbuh tidak ditandai oleh banyaknya orang yang dapat ia kalahkan. Ia ditandai oleh semakin kuatnya kemampuan mengendalikan dirinya. Ia tidak sibuk menghitung kesalahan orang lain karena memiliki keberanian untuk memeriksa kelemahan dirinya sendiri.


Mujahadah membawa manusia dari hati yang sakit menuju hati yang sehat, dari ego menuju ketundukan, dari kebencian menuju kasih sayang, dari kegaduhan menuju kedamaian.


Manusia tidak selalu mampu mengubah seluruh dunia. Namun manusia memiliki tanggung jawab untuk mengubah dirinya sendiri.


Perubahan sosial yang sehat berawal dari perubahan manusia. Perubahan manusia berawal dari keberanian menghadapi dirinya sendiri.


Di situlah mujahadah menemukan makna terdalamnya: menyembuhkan hati, menundukkan ego, membentuk akhlak, dan menghadirkan manusia yang membawa kedamaian serta manfaat bagi kehidupan. (*)




..........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap