'Tasbih Batanghari' Karya Ramayani: Wewangian Air Mata Darah yang Ngilu...
BICARA LITERASI - Wanita Penulis Indonesia (WPI) Jambi luncurkan kumpulan puisi 'Tasbih Batanghari' karya Ramayani (Jum'at, 17/04/2026) bertempat di Tempoa Art Galery, Kawasan pasar Hongkong, Jalan Tempoa Cempaka Putih, Jelutung, Kota Jambi.
Momen peluncuran dipandu oleh Queen, awalnya diisi dengan pembacaan puisi karya Ramayani, diantaranya Didin Siroz, Nanang Sunarya, Titas Suwanda, Iriani R Tandy, Hendry Nursal, dan sejumlah tamu lainnya.
"Saya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih pada semua pihak yang telah turut mendukung terbit dan hadirnya Kumpulan Puisi Tasbih Batanghari, semoga akan terus menjadi motivasi saya, bahkan semoga menginspirasi para anak muda untuk menulis," Ungkap Ramayani, dalam kata sambutannya.
Kalimat yang menyiratkan pesan kepada semua generasi muda, dari Ramayani seperti salah satu judul puisi di Tasbih Batanghari 'Jika rindu tulislah puisi'.
Sambutan hangat dan apresiasi positif sangat kentara terhadap karya-karya puisi Ramayani di Tasbih Batanghari. Tidak hanya itu, dari berbagai kalangan tergambar, sebagaimana Dikutip dari kumpulan puisi Tasbih Batanghari, terbitan Egypt van Andalas.
Maman S. Mahayana, seorang kritikus berkata Inilah kumpulan puisi yang ditulis melalui proses kreatif dengan kesadaran kultural. Ya, penting bagi penyair punya kesadaran itu: menulis puisi sebagai panggilan budaya tanah leluhur. Itulah yang sesungguhnya dilakukan para penyair pendahulu kita. Muhammad Yamin, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan sederet penyair lain, menulis puisi didasari elan membangun kebudayaan dan peradaban.
Ramayani, sadar atau tidak, menegaskan sikap kepenyairannya dengan semangat itu. Maka, kita berjumpa dengan puisi-puisi yang secara tematik mengusung spirit yang berakar pada keagungan Ibu Budaya yang menjadi pusat orientasi masyarakatnya. Sebuah cara untuk melengkapi mozaik peta kebudayaan Indonesia. Bukankah keberagaman kekayaan etnisitas itu yang merekatkannya menjadi Indonesia?
Puisi-puisi dalam kumpulan Tasbih Batanghari, Ramayani ini, dapat dijadikan salah satu bahan renungan kita tentang Indonesia yang berada dalam proses menjadi!
Gol A Gong, Duta Baca Indonesia 2021-2025: Membaca Tasbih Batanghari seolah sedang menapaki jalan kata penuh misteri, menuju danau di rimba belantara puisi. Ada kerinduan pada sejarah kota tua, yang tercabik zaman. Ramayani begitu hening menuliskan setiap sudut hatinya, jari-jarinya meniti tasbih kata, hanyut di sungai Batanghari hingga ke samudera.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis ellipsis: Tasbih Batanghari karya Ramayani adalah untaian puisi yang lirih namun kuat, menghadirkan suara tanah leluhur dan napas spiritual dari Jambi yang nyaris senyap. Ramayani menulis dengan hati, merekam alam, budaya, dan nilai hidup masyarakat Tebo dalam larik-larik yang menyentuh dan jujur. Buku ini bukan hanya karya sastra, tapi juga pelita budaya yang layak dikenang dan direnungi.
Tidak hanya peluncuran 'Tasbih Batanghari' namun juga Bincang Buku dalam The BeBiBeBa (Bebas Bicara, Bebas Bahasan) show special event yang didukung oleh Tempoa Art Galery, dan Komunitas Senu Kuflet.
Bincang Buku dimoderatori Rachmadi A selaku Direktur Program The BeBiBeBa Show, dan narasumber Sulaiman Juned seorang Sastrawan, Sutradara, Pimpinan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Lalu Muhammad Subhan seorang penulis, Founder Sekolah Menulis Elipsis dan Jumardi Putra seoarang Esais serta penyair asal Jambi.
TASBIH BATANGHARI
Kumpulan Puisi
Penulis:
Ramayani
ISBN: 978-623-88695-5-8
Editor:
Muhammad Subhan
Desain sampul:
Nur Afandi
Penata letak:
Muhammad Subhan
Penerbit:
Egypt van Andalas
Jalan Soekarno-Hatta No. 02
Pasar Usang, Padang Panjang Barat Kota Padang Panjang, Sumatra Barat
Cetakan pertama, Januari 2026
72 hlm. 13 x 21 cm
RAMAYANI lahir di Jambi, 25 Agustus 1978. Ia dikenal sebagai Penyair, Ketua WPI Jambi. Aktif menggelar, mengikuti, dan diundang di berbagai kegiatan sastra dan seni budaya, baik di dalam maupun di luar negeri, di antaranya: WPIC the 7th Women Playwights International, Perempuan-Perempuan di Panggung Indonesia, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dll., Temu Sastrawan Indonesia (TSI), Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) I dan II oleh Pusat Bahasa Indonesia, Borobudur Writers & Culture Festival (BWCF), Management Organisasi Budaya (MOB) oleh Kelola, Jakarta International Literary Festival (JILFest), Gelegar Sastra, Kampanye Sastra. Karya buku: Sebungkus Kenangan, Behvour & Pertunjukan Hujan, Di Bawah Cahaya Sigombak, Tasbih Batanghari, dan puluhan antologi bersama lainnya.
....
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom



.jpeg)