Sunday, May 10, 2026

Latar Belakang dan Ide Gagasan Jambi Cultural Festival 2026


BICARA PANGGUNG
- Jambi Cultural Festival (JCF) 2026 Kembali diselenggarkan oleh Yayasan Arus Budaya, pada 16 s.d 18 Juli 2026 di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi.


Kegiatan yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi ini, untuk tahun 2026 meluaskan jangkauannya se-Indonesia yang akan diikuti 6 Koreografer. Sebelumnya JCF 2025 berasal dari 4 provinsi di pulau Sumatera, JCF 2024 asal Jambi 4 koreografer.


"Adapun tema JCF 2026, kami mengangkat tradisi masyarakat asli setempat "bukan sebagai kenangan, melainkan jawaban" di tegah Krisis sosial yang merenggut gotong royong, tradisi mengajarkan Kembali kebersamaan. Dalam tekanan ekonomi yang meminggirkan yang kecil, kearifan lokal menawarkan ekonomi yang adil dan berakar," Terang Ichalago, Direktur Festival.


JCF 2026 berlatar belakang dari Indikasi penurunan kualitas ekologi di Provinsi  Jambi dalam dua dekade terakhir terlihat melalui berkurangnya tutupan hutan, penurunan kualitas air permukaan, serta melemahnya fungsi ruang-ruang alami dalam kehidupan masyarakat.   


Sejumlah laporan regional menunjukkan bahwa tekanan terhadap lanskap baik melalui alih fungsi lahan maupun aktivitas domestik membentuk pola perubahan yang semakin menjauhkan masyarakat dari pengalaman ekologis langsung. Perubahan ini mempengaruhi tidak hanya kondisi fisik lingkungan, tetapi juga cara manusia memahami hubungan mereka dengan alam.


Dalam berbagai kebudayaan, pengetahuan ekologis tidak selalu diturunkan melalui  teks, tetapi melalui praktik simbolik seperti ritual, mantra, dan Tindakan keseharian yang berorientasi  pada perawatan lingkungan. Praktik- praktik tersebut berfungsi sebagai mekanisme kolektif untuk membaca perubahan alam, menata ritme hidup, serta menjaga keseimbangan antara  pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya. Dengan demikian, ritual dan mantra dapat dipahami sebagai bentuk pengetahuan empiris yang dikodifikasi dalam bahasa simbolik.


Kecenderungan perubahan pola hidup masyarakat urban dan semiurban telah menyebabkan menurunnya paparan langsung terhadap lingkungan. Ruang alami yang sebelumnya menjadi mediator Utama antara manusia dan lanskap kini semakin terbatas. 


Hal ini berdampak pada melemahnya kemampuan masyarakat untuk mengidentifikasi perubahan ekologis melalui pengalaman tubuh, observasi inderawi, dan kepekaan emosional. Ketika pengalaman ekologis ini terputus, pengetahuan yang diwariskan melalui praktik simbolik kehilangan konteks sosialnya dan berisiko tidak lagi berfungsi sebagai pedoman etis dalam merawat lingkungan.


Dengan memadukan pengalaman estetik dan refleksi kritis, festival ini diharapkan memperkuat pemahaman publik mengenai relasi manusialingkungan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang dapat menghasilkan kontribusi nyata bagi ekosistem seni dan upaya keberlanjutan di Jambi. 


Melalui strategi ini, seni tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai instrumen penyadaran ekologis yang relevan dan mudah diterima masyarakat. (*/)







Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com