Tuesday, June 9, 2026

Hiu Paus Kembali Terdampar di Pesisir Cilacap, Mengapa?


BICARA FAUNA
Jumawan (33) setiap hari melintasi pesisir pantai Cilacap mencari telur penyu. Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah, ini menyelamatkan telur penyu untuk ditetaskan menjadi tukik. Namun, pada Sabtu (23/5/2026), dia mendapat kabar ada hiu paus (Rhincodon typus) terdampar.

“Saya langsung ke lokasi, Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu. Pada Minggu (17/5/2026) sebelumnya, ada juga hiu terdampar sepanjang 4 meter, di Pantai Pagubugan, Desa Binangun, Kecamatan Binangun. Jarak kedua lokasi ini sekitar 6 kilometer,” jelasnya, Minggu (24/5/2026).

Jumawan segera menghubungi pihak terkait, sekitar pukul 05.30 WIB.

“Kami bersama warga berusaha mendorong hiu paus kembali ke laut, karena saat terdampar masih dalam kondisi hidup. Namun, gagal. Ikan terbesar di dunia itu, akhirnya mati.”

Ekskavator didatangkan untuk mengevakuasi hiu paus sepanjang 8,36 meter dengan diameter 3,71 meter.

“Tali tambang yang digunakan beberapa kali putus,” ungkap Arief Nugroho, Site Coordinator DIY dan Jawa Tengah Yayasan Sealife Indonesia, Senin (1/6/2026).

Inilah hiu paus yang terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, CIlacap, Jawa Tengah, Minggu (24/5/2026), ini dievakuasi ke daratan. Foto: Dok. Sealife Indonesia.

Sering terdampar

Mengapa hiu paus sering terdampar di pesisir Cilacap?

Darmawan, dari Balai Pengelolaan Laut Pontianak Wilayah Kerja Semarang, mengatakan terdamparnya kejadian ini bukan hal baru.

“Hiu paus terdampar pernah terjadi beruntun pada 2022. Saat itu terjadi pada 5, 12, dan 31 Oktober, kemudian terjadi lagi pada 5 November,” jelasnya, Selasa (2/6/2026).

Mukti Trenggono, pakar kelautan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, mengungkapkan berdasarkan citra satelit MODIS Aqua, kondisi perairan Cilacap hingga Kebumen pada Mei 2026 menunjukkan fase produktif.

“Konsentrasi klorofil-a tercatat relatif tinggi, berkisar 1-3 mg/m³, dengan suhu permukaan laut mencapai 29-30 derajat Celsius. Kondisi oseanografi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas perairan dan potensi agregasi plankton serta nekton kecil,” terangnya.

Bagi hiu paus, lanjut Mukti, kondisi itu ibarat meja makan sedang penuh. Plankton yang melimpah akan menarik ikan-ikan kecil seperti teri nasi dan udang rebon. Kehadiran mangsa dalam jumlah besar, menarik hiu paus mendekati perairan dangkal.

Hal ini diperkuat dengan temuan nekropsi terkait dugaan tersebut. Saat lambung dibuka, peneliti menemukan isi perut hiu paus dipenuhi ikan teri nasi yang belum tercerna.

“Artinya, sebelum mati, satwa itu sedang aktif mencari makan.”

Bedasarkan pemeriksaan fisik, tim peneliti gabungan menemukan lima luka sayatan sepanjang 5-10 sentimeter dengan kedalaman sekitar satu milimeter. Luka itu diduga berasal dari benturan baling-baling kapal.

“Temuan tersebut memperlihatkan risiko yang semakin besar ketika satwa laut berukuran raksasa memasuki kawasan yang menjadi jalur aktivitas pelayaran,” jelasnya.

Tim peneliti juga menemukan benda asing berupa plastik di saluran pencernaan hiu paus. Temuan ini menambah daftar panjang satwa laut yang terpapar sampah plastik di lautan Indonesia. Bagi hiu paus yang mencari makan dengan cara menyaring air laut dalam jumlah besar, plastik berukuran kecil sangat mungkin tertelan bersama plankton maupun ikan kecil yang menjadi mangsanya.

Keberadaan plastik di saluran cerna belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung kematian.

“Namun bagi para peneliti, temuan tersebut menjadi indikator bahwa kualitas lingkungan laut sedang menghadapi tekanan serius.”

Tim ahli memperlihatkan bagian dalam hiu paus untuk diteliti di laboratorium. Foto: Dok. Sealife Indonesia.

Fenomena serupa banyak ditemukan di berbagai lokasi agregasi hiu paus dunia, mulai dari Teluk Cenderawasih di Papua hingga Ningaloo Reef di Australia Barat. Hiu paus umumnya mengikuti konsentrasi makanan yang terbentuk akibat dinamika oseanografi. Namun, ketersediaan makanan saja tidak cukup menjelaskan mengapa satwa tersebut berakhir di pantai.

Nuning Vita Hidayati, peneliti Ilmu Kelautan Unsoed, menambahkan bahwa pencemaran laut dapat memicu gangguan fisiologis yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

“Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Gangguan tersebut berpotensi menyebabkan disorientasi, stres lingkungan, hingga keracunan yang dapat meningkatkan risiko keterdamparan.

Hiu paus terdampar di pesisir Cilacap sudah beberapa kali terjadi. Foto: Dok. Sealife Indonesia.

Indikasi keracunan

Dwi Suprapti, Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, mengatakan berdasarkan hasil nekropsi dan observasi lapangan, tim menduga kematian hiu paus ini mengarah pada intoksikasi akut atau keracunan.

Keracunan dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari cemaran yang masuk melalui rantai makanan, kualitas perairan yang buruk, hingga kontaminan yang berasal dari benda asing seperti plastik yang ditemukan dalam saluran pencernaan.

“Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui serangkaian analisis laboratorium,” jelasnya, Selasa (2/6/2026).

Yayasan Sealife Indonesia mengirimkan sampel organ dan isi perut ke laboratorium di Yogyakarta untuk pengujian histopatologi serta analisis cemaran kimia dan logam berat. Sementara Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed melakukan pengujian kualitas air, analisis genetik, dan kajian oseanografi.

Bagi para peneliti, hasil laboratorium menjadi kunci untuk memahami apakah keterdamparan ini dipicu oleh faktor alami, aktivitas manusia, atau kombinasi keduanya.

Sebagai spesies migratori yang dapat menempuh ribuan kilometer, hiu paus merupakan indikator penting kualitas lingkungan laut. Ketika satwa ini semakin sering terdampar, muncul pertanyaan lebih besar tentang kondisi habitat yang mereka lintasi.


sumber: mongabay.co.id




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com