Pusparagam Negeriku 'Gelang Gelanggang' dari Kabupaten Sarolangun di Taman Budaya Jambi
Jangan Lewatkan untuk pagelaran penutupan Pusparagam Negeriku, Selasa (4/08/2026) dari kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Merangin.
Pusparagam Negeriku merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jambi pada 31 Juli hingga 4 Agustus 2026, sebagai upaya pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan warisan budaya daerah.
Kegiatan ini menghimpun berbagai mata acara yang saling melengkapi sebagai bentuk perayaan kekayaan seni dan budaya Provinsi Jambi.
Pusparagam Negeriku bukan sekadar sebuah festival seni dan budaya, melainkan ruang bersama untuk merayakan keberagaman, memperkuat persatuan, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Karena pada hakikatnya, tak kenal tradisi, tak sayang dengan budaya.
Kabupaten Sarolangun
'Gelang Gelanggang' Penata Tari: Redho Syaputra, Penata Musik: Bayu Wahyudi S.Pd
Sanggar Kuju Sarolangun
Di sebuah gelanggang, dua ayam dilepas untuk saling menyerang. Sorak-sorai menggema, taruhan dipasang, dan dua pihak laki-laki menanti siapa yang akan pulang membawa kemenangan. Namun diantara riuh itu, ada satu benda yang turut dipertaruhkan tanpa pernah ditanyakan izin dari pemiliknya:
Gelang, perhiasan yang melekat pada tubuh perempuan, bagian paling pribadi dari dirinya. Gelang Gelanggang lahir dari jarak yang janggal antara dua kata yang terasa dekat namun menempati ruang yang sangat berjauhan. Gelanggang adalah ruang milik laki-laki, ruang kontestasi, ruang kuasa. Gelang adalah ruang milik perempuan, ruang identitas, ruang tubuh. Dalam struktur dramatik Tari Ayam Biring, kedua ruang ini dipertemukan secara paksa: gelang menjadi taruhan dari pertaruhan yang berlangsung di gelanggang, sebuah ruang yang sama sekali tidak menghadirkan suara, persetujuan, atau kehadiran perempuan sebagai pihak yang berkepentingan.
Karya ini membaca ulang Tari Tradisi Ayam Biring (sudah ditetapkan WBTB) Kabupaten Sarolangun bukan lagi sebagai kisah tentang menang-kalahnya sabung ayam, melainkan sebagai kisah tentang bagaimana kedaulatan seorang perempuan atas dirinya dan miliknya dapat dilucuti tanpa ia pernah berada di ruang tempat keputusan itu diambil. Tubuh penari, dalam karya ini, tidak lagi merepresentasikan "ayam yang disabung" — ia adalah representasi dari ruang gerak perempuan itu sendiri: ruang yang menyempit, ruang yang terkungkung, ruang yang terikat, sebagai konsekuensi dari sebuah pertaruhan yang berlangsung jauh di luar jangkauan suaranya.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom

.jpeg)