Selingkung Bumi 'NADI KOMPANG' #PusparagamNegeriku di Taman Budaya Jambi
BICARA SENI - Panggung Pusparagam Negeriku di Taman Budaya Jambi, Minggu (2/08/2026) dari Kota Jambi.
Jangan Lewatkan untuk pagelaran, Senin (3/08/2026) dari kabupaten Batanghari dan Kabupaten Sarolangun.
Pusparagam Negeriku merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jambi pada 31 Juli hingga 4 Agustus 2026, sebagai upaya pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan warisan budaya daerah.
Kegiatan ini menghimpun berbagai mata acara yang saling melengkapi sebagai bentuk perayaan kekayaan seni dan budaya Provinsi Jambi.
Pusparagam Negeriku bukan sekadar sebuah festival seni dan budaya, melainkan ruang bersama untuk merayakan keberagaman, memperkuat persatuan, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Karena pada hakikatnya, tak kenal tradisi, tak sayang dengan budaya.
Kota Jambi
'Nadi Kompang' Koreografer: IchaLago
Sanggar Selingkung Bumi
Ada satu denyut yang tak pernah hilang dari tubuh masyarakat kota Jambi, yaitu energi yang terpancar dari kompangan. Namun, karya tari ini tidak lahir untuk meniru pola pukulannya. Justru, koreografer mencoba menangkap gelombang getar yang tersisa di udara dan memindahkannya ke dalam raga penari. Bagaimana rasanya jika energi sebuah perkusi merasuk ke dalam otot, persendian, dan aliran napas? Itulah pertanyaan dasar yang dieksplorasi dalam Nadi Kompang.
Bergaya semi kontemporer etnik, tarian ini menjadi ruang pertemuan antara nilai tradisi Melayu dan kebebasan berekspresi masa kini. Penari tidak bertindak sebagai pemain alat musik, melainkan sebagai medium perambatan energi. Gerakan-gerakan yang ditampilkan lahir dari respons fisik terhadap imajinasi bunyi ,kadang keras dan memecah sunyi, kadang pelan dan menyisakan getar panjang. Dialog antara gerak tegas dan gerak cair menjadi ciri khasnya, menciptakan ritme visual yang atraktif dan tak terduga.
Untuk memperkuat pesan, koreografi ini mengutamakan eksplorasi ruang dan dinamika tubuh. Penari bergerak dalam formasi yang saling mengisi, membangun dan melepas ketegangan seperti alunan kompangan yang menghidupkan suasana. Gerak atraktif yang penuh lompatan, putaran, dan hentakan kaki hadir bukan untuk pamer teknik, melainkan untuk menggambarkan semangat kolektif yang meriah. Kreativitas gerak muncul dari pengolahan gestur sehari-hari menjadi estetika panggung yang segar, tanpa kehilangan akar budaya Jambi yang kental.
Nadi Kompang adalah perayaan atas tradisi yang terus berdetak. Ia mengajak penonton merasakan bahwa kompangan tidak hanya hidup di telinga, tetapi juga bisa dirasakan melalui tatapan dan gerak. Tarian ini menjadi bukti bahwa energi budaya mampu berubah wujud, tetap kuat meski dikemas dalam balutan yang baru.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom



