Senin, 03 Agustus 2026

Warisan Budaya Tidak Akan Hidup Tanpa Rasa

 


Oleh : Elvin Sarina (*)


“Penguatan dan Pengembangan Gastronomi di Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi”


Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan pusat peradaban Buddha terbesar di Asia Tenggara.


Berbagai upaya pelestarian telah dilakukan melalui konservasi bangunan, penelitian arkeologi, dan pengembangan kawasan wisata.


Namun, satu aspek penting yang masih belum mendapatkan perhatian serius adalah gastronomi. Padahal, makanan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang mampu memperkuat pengalaman wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.


Saya berpendapat bahwa pengembangan gastronomi harus menjadi prioritas dalam pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi, bahkan sama pentingnya dengan pelestarian situs fisiknya. 


Tanpa menghidupkan budaya kuliner lokal, pelestarian cagar budaya akan kehilangan dimensi sosial yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat saat ini.


Pendapat tersebut tentu dapat diperdebatkan. Sebagian pihak beranggapan bahwa kawasan cagar budaya seharusnya difokuskan pada pelestarian bangunan dan tinggalan arkeologi, sedangkan aktivitas kuliner dikhawatirkan mengganggu keaslian kawasan.


Namun, pandangan tersebut terlalu sempit. Pelestarian budaya tidak hanya berarti menjaga batu bata kuno tetap utuh, tetapi juga mempertahankan tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Gastronomi justru menjadi media untuk memperkenalkan nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal kepada pengunjung tanpa harus mengubah atau merusak situs.


Muaro Jambi memiliki kekayaan kuliner yang layak dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya, seperti tempoyak, gulai tepek ikan, ikan semah, gulai rebung, dodol durian, kue padamaran, hingga aneka olahan hasil sungai Batanghari.


Kuliner tersebut tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga mencerminkan hubungan masyarakat Melayu Jambi dengan lingkungan alam, tradisi pertanian, dan kehidupan sungai yang telah berlangsung selama berabad-abad. Jika dikemas secara profesional melalui festival gastronomi, pusat kuliner tradisional, demonstrasi memasak, maupun paket wisata budaya, makanan lokal dapat menjadi daya tarik yang memperpanjang lama tinggal wisatawan.


Selain meningkatkan daya tarik wisata, pengembangan gastronomi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata. Selama ini, manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat sekitar kawasan candi.


Melalui penguatan usaha kuliner lokal, petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga generasi muda dapat terlibat langsung dalam rantai ekonomi pariwisata. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kepentingan masyarakat karena memberikan manfaat nyata bagi kehidupan mereka.


Namun demikian, pengembangan gastronomi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Aktivitas komersial yang berlebihan dapat menggeser nilai sejarah menjadi sekadar objek bisnis. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang jelas mengenai lokasi pusat kuliner, standar kebersihan, penggunaan bahan lokal, desain bangunan yang selaras dengan karakter kawasan, serta edukasi mengenai sejarah dan filosofi setiap makanan yang disajikan.


Gastronomi harus menjadi sarana interpretasi budaya, bukan hanya tempat berjualan makanan.


Klaim bahwa pengembangan gastronomi merupakan strategi paling efektif untuk meningkatkan daya saing Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi dibandingkan hanya mengandalkan wisata sejarah merupakan pernyataan yang dapat diperdebatkan. Ada pihak yang percaya bahwa promosi digital, pembangunan infrastruktur, atau penyelenggaraan event internasional lebih menentukan keberhasilan destinasi wisata.


Namun, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa wisatawan modern semakin mencari pengalaman yang autentik, termasuk melalui makanan lokal yang memiliki cerita dan nilai budaya.


Pada akhirnya, penguatan gastronomi bukan sekadar menambah pilihan makanan bagi wisatawan, melainkan membangun identitas kawasan yang utuh. Candi Muaro Jambi tidak hanya harus dikenal sebagai situs arkeologi yang megah, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menghadirkan sejarah melalui cita rasa lokal.


Oleh karena itu, pengembangan gastronomi berbasis warisan budaya dan partisipasi masyarakat perlu ditempatkan sebagai strategi utama dalam pengelolaan kawasan. Dengan cara tersebut, pelestarian budaya tidak hanya menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Muaro Jambi.***


(*) Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Politik Semester IV Universitas Nurdin Hamzah




.........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap