Kamis, 03 September 2026

Do'a dan Tausiyah untuk Negeri: Hadirkan Syeh A'la Muhammad Mustafa Na'imah


Oleh: Prof. Mukhtar Latif

(Ketua ICMI Orwil Jambi - Ketua Dewan Pakar ISMI)


​Di tengah pusaran disrupsi informasi dan percepatan modernitas, ruang publik kita menghadapi kecemasan eksistensial yang cukup akut. Kecepatan algoritma sering kali memangkas kedalaman pemahaman nilai, mereduksinya menjadi serpihan informasi instan yang rentan memantik friksi sosial dan polarisasi. Pada titik inilah bangsa ini membutuhkan jeda kontemplatif. Ikhtiar merawat keutuhan bernegara tidak pernah cukup hanya mengandalkan instrumen hukum positif maupun rekayasa teknokratis,  ada fondasi etika dan spiritualitas publik yang wajib dihadirkan sebagai penopang moral peradaban.


​Langkah kultural yang diikhtiarkan oleh Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi melalui kehadiran ulama asal Alexandria, Mesir, Syekh A'la Muhammad Mustafa Na'imah, menemukan relevansi kebangsaan yang mendalam. Momentum ini bukan sekadar perhelatan seremoni keagamaan, melainkan representasi perjumpaan dialektis antara tradisi keilmuan Islam klasik Timur Tengah dan etos keislaman Nusantara yang ramah, moderat, serta berakar kuat pada nilai-nilai tradisi lokal.


​Vitalitas Turats dan Tantangan Nalar Digital


​Krisis keberagamaan kontemporer kerap bermula dari keterputusan generasi dari tradisi literatur yang otoritatif. Di ruang maya, otoritas keagamaan kerap mengalami pendangkalan akibat simplifikasi teks tanpa metodologi penafsiran yang memadai. Kondisi ini melahirkan sikap serba menghakimi yang menodai kebinekaan kita. Kehadiran figur Syekh A'la Muhammad Mustafa Na'imah menawarkan sebuah komparasi penting bagi pemulihan nalar keilmuan tersebut.


​Sebagai figur hafiz Al-Qur'an dan pakar turats klasik, beliau merepresentasikan tradisi keilmuan Alexandria yang bertumpu pada ketelitian sanad, metodologi yang ajek, serta pandangan dunia yang wasatiah. Tradisi turats bukanlah romantisisme masa lalu yang pasif, melainkan instrumen epistemologis yang lentur untuk membaca dinamika zaman secara kontekstual tanpa tercerabut dari substansi teks suci.


​Bobot intelektual ini kian menemukan bentuk humanisnya ketika dipadukan dengan dimensi kebudayaan. Kepiawaian beliau melantunkan bait-bait Qasidah Burdah karya Imam al-Bushiri memperlihatkan bahwa bahasa seni dan estetika spiritual memiliki daya rekat luar biasa untuk mencairkan ketegangan sosial. Bahasa rasa menjangkau relung kemanusiaan paling murni, menampilkan wajah keagamaan yang teduh, damai, dan penuh empati. Kedekatan beliau dengan para pelajar dan mahasantri asal Indonesia di Alexandria selama ini pun kian menegaskan modal kultural diplomasi keilmuan yang kukuh antara Indonesia dan Mesir.


​Menuntun Nalar Generasi Muda


​Konsistensi dakwah Syekh A'la dalam membina remaja dan kaum muda merupakan diskursus krusial yang patut digarisbawahi. Generasi muda hari ini terpapar langsung oleh rimba informasi digital yang kerap menimbulkan kegamangan identitas. Pola dakwah yang dogmatis, kaku, dan menghakimi terbukti kehilangan resonansi di kalangan generasi Z dan milenial.


​Kiprah beliau yang mengedepankan pendekatan dialogis, kehangatan personal, dan keteduhan tausiyah menjadi tawaran pedagogis yang berharga. Ruang-ruang pembinaan keagamaan sudah semestinya menumbuhkan etika publik dan nalar kritis secara seimbang, mengarahkan potensi intelektual kaum muda agar berdaya guna bagi penguatan ketahanan sosial dan kemajuan daerah.


​Sinergi Sosial dan Keberadaban Publik


​Gagasan kebangsaan ini mewujud secara konkret melalui inisiasi kepemimpinan Ketua Umum ISMI Provinsi Jambi, Hj. Ernawati, M.Pd., yang mengorkestrasi sinergi lintas elemen secara luas, pada tanggal 4-5 September 2026. Pertemuan ini menjalin kemitraan strategis antara Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kota Jambi, UIN STS Jambi, MUI, Pondok Pesantren, ormas, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT),  hingga komunitas pencinta selawat.


​Fenomena ini membuktikan bahwa spiritualitas, bila diartikulasikan secara inklusif, sanggup berfungsi sebagai daya rekat sosial yang solid. Duduk bersanding dengan kalangan ulama, umara, akademisi, santri, dan masyarakat luas dalam satu majelis do'a dan Tausiyah, menegaskan pesan kolektif, harnonisasi dan stabilitas daerah, kedamaian sosial, dan kebahagiaan warga adalah komitmen peradaban yang harus dirawat bersama.


​Do'a dan Tausiyah  bersama ini merupakan ikhtiar batiniyah aktif yang melandasi seluruh kerja-kerja lahiriah pembangunan. Dari Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, ikhtiar ini mengirimkan sinyal moral tentang pentingnya merawat adab publik, memupuk toleransi, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (")




.........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap