Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Peta Awal Sebelum Pilihan
BAGIAN I
Dari Rimba, Bukit, dan Tanah yang Retak
Festival Teater Remaja (FTR) akan kembali digelar. Taman Budaya Jambi (TBJ) selaku penyelenggara iven tahunan ini, resmi merilis petunjuk teknis (juknis) melalui akun media sosial mereka. Iven yang ditunggu-tunggu pelajar dan remaja peminat seni peran panggung ini akan dihelat pada Oktober mendatang. FTR 2026 akan mempertemukan kelompok teater pelajar dan remaja melalui sejumlah naskah yang memiliki latar, persoalan, tokoh, dan kemungkinan pemanggungan yang beragam.
Memilih naskah teater tentu bukan sekadar memilih cerita yang dianggap menarik. Pembacaan terhadap naskah perlu diawali dengan pertanyaan yang lebih kritis. Apa yang sebenarnya ingin dimainkan? Konfliknya seperti apa? Tokohnya memberi ruang bagi aktor untuk berkembang atau tidak? Apakah cerita itu bisa diterjemahkan menjadi peristiwa panggung? Hal yang tidak kalah penting, apakah gagasan naskah tersebut sesuai dengan kemampuan kelompok yang akan memainkannya?
Naskah yang tampak sederhana bisa saja menjadi pertunjukan yang kuat ketika digarap dengan gagasan penyutradaraan yang tepat. Sebaliknya, naskah yang memiliki cerita besar bisa saja kehilangan daya panggung apabila hanya diperlakukan sebagai dialog yang harus dihafalkan.
Berpangkal dari pemikiran itu, tulisan berseri ini tidak dimaksudkan untuk menentukan naskah mana yang “paling baik”. Setiap naskah memiliki karakter dan tuntutan panggungnya sendiri. Tulisan ini merupakan peta awal agar calon peserta FTR dapat membaca pilihan mereka dengan lebih sadar.
Pada bagian pertama ini, akan dibedah enam naskah yang bergerak di sekitar persoalan alam, tradisi, masyarakat, dan perubahan: GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH, Bukit Perak, Celebau, Cenenggo, Hantu Aek, dan Kampung yang Hilang.
1. GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH karya Asro Al Murthawi
GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH menjadi naskah yang sejak awal terasa seperti cerita yang menunggu untuk dimainkan. Ya, GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH termasuk jenis naskah seperti itu. Tokoh-tokohnya antara lain Datuk Tamol, Tingkas, Puti Muyu, Barasdak, dan Julrawas. Namun daya tarik utama naskah ini bukan hanya terletak pada siapa mereka, melainkan pada dunia yang mengelilingi mereka: rimba, suara, ancaman, binatang, kepercayaan, dan rasa takut.
Cerita semacam ini memberi kesempatan kepada sutradara untuk tidak membangun hutan secara harfiah. Panggung tidak harus dipenuhi pohon-pohon buatan. Hutan dapat dibangun melalui suara, cahaya, gerak tubuh, bayangan, kabut, ritme, dan kehadiran sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar diperlihatkan. Di sinilah kekuatan utama naskah ini. Bukan sekadar cerita tentang harimau.
Jika tokoh harimau hanya diwujudkan sebagai pemain yang mengenakan kostum harimau, kemungkinan terbesar pertunjukan justru menjadi terlalu literal. Sebaliknya, harimau dapat menjadi kehadiran. Suara geraman terdengar dari kegelapan. Para tokoh tiba-tiba berhenti berbicara. Seseorang melihat sesuatu di luar panggung. Cahaya berpindah. Aktor lain bereaksi sebelum penonton mengetahui apa yang terjadi. Dengan cara itu, penonton tidak hanya “melihat harimau”. Penonton percaya dan merasakan bahwa harimau benar-benar ada.
Konsep tersebut membuka ruang yang sangat besar bagi keaktoran fisik. Aktor dituntut untuk tidak hanya mengandalkan dialog, tetapi juga kemampuan mendengar, bereaksi, mengamati, menyembunyikan rasa takut, bergerak dalam tekanan, dan membangun hubungan dengan ruang.
Konfliknya berlapis. Naskah ini dapat dibaca melalui beberapa lapisan konflik: manusia dengan alam, manusia dengan binatang, manusia dengan rasa takut, serta hubungan antarmanusia yang muncul ketika mereka menghadapi ancaman. Karena itu, tantangan penyutradaraannya bukan sekadar membuat adegan “seram”. Ketegangan perlu dibangun secara bertahap. Kapan penonton mulai merasa ada sesuatu? Kapan aktor mulai menyadarinya? Kapan ancaman itu menjadi nyata? Apa yang berubah pada diri tokoh setelah mereka melewati pengalaman tersebut?
Pertanyaan terakhir penting karena pertunjukan yang kuat bukan hanya menghadirkan kejadian, tetapi memperlihatkan perubahan manusia akibat kejadian tersebut.
Tantangan
Jika memilih naskah ini, peserta dituntut mampu mengerjakan seluruh elemen. Suara, cahaya, musik, blocking, gerak aktor, dan tempo adegan harus bekerja sebagai satu sistem. Artinya, kelompok yang memilih naskah ini harus siap berlatih bukan hanya dialog, tetapi juga tubuh dan kepekaan panggung. Kekuatan naskah ini berada pada kemungkinan menjadikan panggung sebagai rimba.
2. BUKIT PERAK karya Resti Anggratiani
Bukit Perak membawa penonton ke dunia masyarakat yang masih memiliki hubungan kuat dengan tempat, pantangan, ritual, dan kepercayaan. Tokoh Noglog dan Bono digambarkan sebagai dua pemuda yang jahil dan tidak memahami tradisi. Mereka memasuki hutan untuk mencari babi polkadot. Dalam perjalanan itu, Noglog menginjak sesajen yang diletakkan di hutan. Setelah kejadian tersebut, gangguan dan penyakit mulai muncul.
Secara dramaturgi, premis ini menarik karena sebuah tindakan yang pada awalnya dianggap sepele kemudian menghasilkan konsekuensi yang semakin besar.
Kekuatan utama Bukit Perak adalah pertunjukan dengan premis tradisi Bukit Perak dapat menjadi ruang pertunjukan yang kaya. Hutan, sesajen, penyakit, pantangan, perjalanan mencari pengobatan, serta berbagai figur yang mereka temui dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual.
Dua tokoh utama, Noglog dan Bono, juga memberi kemungkinan permainan komedi. Namun komedi di sini sebaiknya tidak membuat seluruh dunia ritual menjadi bahan lelucon. Justru akan lebih menarik jika penonton dapat merasakan bahwa bagi Noglog dan Bono sesuatu itu lucu atau tidak masuk akal, tetapi bagi masyarakat di dalam cerita, sesuatu itu memiliki makna. Perbedaan cara pandang itulah yang dapat menjadi sumber permainan.
Tantangan
Tantangan naskah ini adalah perubahan suasana. Dari komedi menuju ketegangan. Cerita bergerak dari tingkah dua pemuda yang jahil menuju penyakit, gangguan, dan persoalan yang lebih serius. Jika perubahan ini berlangsung terlalu cepat, pertunjukan bisa terasa terbelah menjadi dua: bagian komedi dan bagian tragedi.
Sutradara perlu mencari jembatan di antara keduanya. Misalnya, gangguan yang dialami tokoh dapat dimulai dari sesuatu yang hampir lucu, kemudian perlahan menjadi semakin mengganggu. Dengan begitu, penonton ikut mengalami perubahan suasana bersama tokoh.
Naskah ini menyediakn ruang eksplorasi keaktoran. Noglog dan Bono memiliki potensi menjadi pusat permainan aktor. Mereka dapat dibangun sebagai dua karakter dengan respons berbeda terhadap kejadian yang sama. Yang satu mungkin lebih berani. Yang lain lebih mudah takut. Yang satu menertawakan pantangan. Yang lain mulai ragu. Perbedaan itu penting karena akan membuat hubungan keduanya hidup.
Kelompok yang ingin menggabungkan komedi, ketegangan, tradisi, dan permainan aktor, Bukit Perak pilihan yang cocok. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar perubahan suasana tetap terasa organik.
3. CELEBAU Karya Oky Akbar
Jika beberapa naskah sebelumnya membawa kita ke hutan, Celebau membawa kita ke persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: tanah, kemarau, kebutuhan ekonomi, dan akibat dari pilihan manusia terhadap alam.
Hujan tidak turun selama berbulan-bulan. Tanah retak. Sawah gagal menghasilkan panen. Yanto, yang bergantung pada sawah, mengalami tekanan ekonomi. Dalam situasi tersebut datang tawaran untuk mengolah tanah warisan istrinya. Pohon-pohon ditebang dan tanah dikeruk dengan alasan ekonomi.
Pilihan itu pada awalnya tampak masuk akal. Justru di sinilah konflik naskah bekerja.
Tidak ada konflik yang sesederhana “baik melawan jahat” dalam Celebau. Yanto tidak harus dimainkan sebagai tokoh jahat. Ia berada dalam tekanan. Ia membutuhkan uang. Keluarganya membutuhkan penghasilan. Anaknya membutuhkan biaya. Dalam kondisi seperti itu, keputusan yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan bisa saja terlihat sebagai jalan keluar.
Ini membuat konflik Celebau lebih menarik jika tidak dimainkan secara hitam-putih. Hal yang perlu diperlihatkan adalah tekanan yang membuat seseorang mengambil keputusan tertentu.
Tantangan
Tantangan terkuat Celebau adalah tantangan keaktoran. Tokoh Yanto memiliki perjalanan karakter yang cukup jelas. Ia berangkat dari seorang petani yang terdesak keadaan, mengambil keputusan, kemudian berhadapan dengan konsekuensinya.
Aktor yang memainkan Yanto harus mampu menunjukkan perubahan tersebut secara bertahap. Jangan sampai pada awal pertunjukan ia sudah tampak sebagai “orang yang akan melakukan kesalahan”, sementara pada akhir cerita tiba-tiba menjadi “orang yang sadar”. Yang lebih menarik adalah memperlihatkan proses perubahan itu.
Selain itu, latar alam pada Celebau dapat digarap sebagai bagian dari dramaturgi. Naskah ini memiliki kemungkinan visual yang besar. Panggung dapat dimulai dengan tanah kering dan retak. Suara angin dan dedaunan yang kering mengisi ruang. Aktivitas manusia menjadi semakin keras ketika alat-alat mulai bekerja. Kemudian ritual Celebau hadir. Setelah itu hujan. Tetapi hujan yang dinantikan justru membawa persoalan baru: banjir, longsor, dan akibat dari perubahan lingkungan.
Dengan demikian, air tidak hanya menjadi latar cerita. Air menjadi bagian dari struktur dramatik. Kekeringan-Menunggu-Berusaha-Memohon-Hujan-Bencana. Rangkaian tersebut dapat membentuk ritme pertunjukan.
Celebau sangat potensial bagi kelompok yang ingin menggabungkan persoalan sosial dengan kekuatan visual panggung.
4. CENENGGO Karya Suwandi
Cenenggo memiliki kekuatan dramaturgis yang sangat sederhana sekaligus sangat besar: pembahasan tentang jarak. Dalam kajian sederhana Cenenggo bisa jadi sangat dangkal. Tetapi, jika dikaji secara dalam, persoalan jarak akan sangat berlapis.
Naskah ini menghadirkan tokoh Meriau, Induk Nyerau, Bungo Dewo, Malim Pematang, Betuah, Nyeruduk, dan Suami Malim Pematang. Di dalam cerita terdapat situasi ketika seseorang yang sakit harus dipisahkan dari kelompok.
Bagi pertunjukan teater, kondisi tersebut menghasilkan persoalan yang sangat menarik. Bagaimana memainkan kasih sayang ketika seseorang tidak boleh mendekat? Jaraklah yang dijadikan sebagai bahasa panggung. Inilah kemungkinan paling kuat dari Cenenggo.
Bayangkan satu wilayah panggung menjadi ruang orang sakit. Wilayah lain menjadi ruang keluarga atau masyarakat. Tidak perlu selalu ada tembok. Tidak perlu selalu ada pagar. Cukup sebuah garis cahaya. Atau jarak tubuh. Atau benda tertentu yang tidak boleh dilewati.
Ketika seorang anak ingin mendekati ibunya tetapi dicegah, jarak beberapa meter dapat terasa lebih menyakitkan daripada dialog panjang. Dengan demikian, konflik tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Tubuh aktor sendiri menjadi alat untuk menunjukkan konflik. Konflik yang sangat manusiawi
Cenenggo tidak hanya berbicara tentang penyakit. Ia berbicara tentang ketakutan. Tentang pengetahuan yang belum tentu lengkap. Tentang aturan komunitas. Tentang keinginan untuk melindungi orang yang dicintai. Dan tentang pertentangan antara keinginan untuk mendekat dengan kebutuhan untuk menjaga jarak.
Situasi seperti ini memberi ruang besar kepada aktor untuk memainkan emosi yang tidak selalu harus diucapkan. Seorang ibu dapat memanggil. Seorang anak ingin maju. Seseorang menahannya. Tidak terjadi apa-apa secara fisik. Tetapi secara dramatik, peristiwa sedang berlangsung.
Tantangan
Bahaya naskah ini adalah potensinya menjadi garapan yang terlalu informatif. Jika seluruh persoalan kemudian dijelaskan melalui dialog atau tokoh yang menerangkan keadaan, kekuatan “jarak” sebagai bahasa panggung akan berkurang. Karena itu, kelompok yang memilih Cenenggo perlu berani mempercayai keheningan, blocking, tatapan, suara, dan ruang.
Naskah ini sangat menarik bagi kelompok yang ingin belajar bahwa konflik teater tidak selalu harus berupa pertengkaran. Kadang-kadang konflik paling kuat justru terjadi ketika dua orang sama-sama ingin mendekat, tetapi tidak boleh melakukannya.
5. HANTU AEK karya Gesang Tri Wahyudi
Berbeda dari Cenenggo yang cenderung menempatkan penonton dalam ketegangan psikologis, Hantu Aek memiliki energi yang lebih dekat dengan komedi rakyat. Ada ruang untuk warung, pos ronda, masyarakat, kepercayaan terhadap hal gaib, dan tokoh-tokoh yang mencoba membaca sebuah kejadian melalui pengetahuan yang mereka miliki. Naskah ini menarik karena mempertemukan kepercayaan masyarakat dengan perilaku manusia yang sangat sehari-hari. Ketika yang gaib menjadi bahan permainan
Cerita tentang hantu mudah jatuh menjadi pertunjukan horor yang sederhana: muncul, menakutkan, kemudian hilang. Hantu Aek memiliki kemungkinan yang lebih menarik jika unsur gaib tidak hanya dipakai sebagai alat menakut-nakuti, tetapi menjadi cermin bagaimana masyarakat membangun sebuah kepercayaan.
Siapa yang percaya? Siapa yang tidak percaya? Siapa yang memanfaatkan ketakutan orang lain? Bagaimana sebuah kabar berkembang ketika tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memperkaya pertunjukan.
Kelompok pelajar atau remaja dapat memainkan naskah ini dengan Kekuatan komedi dan energi yang ringan. Namun komedi tetap membutuhkan kontrol. Tokoh tidak boleh sekadar berteriak untuk membuat penonton tertawa. Kelucuan sebaiknya lahir dari situasi, karakter, perbedaan cara berpikir, dan respons terhadap keadaan.
Semakin serius tokoh menghadapi sesuatu yang sebenarnya absurd, semakin besar kemungkinan situasi tersebut menjadi lucu.
Tantangan
Tantangan terberat Hantu Aek adalah dramaturgi. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah penyelesaian cerita. Jika seluruh misteri kemudian dijelaskan secara tuntas sebagai sesuatu yang ternyata hanya persoalan biasa, sebagian daya misterinya bisa hilang.
Sutradara dapat mempertimbangkan untuk tetap menyisakan sedikit ruang bagi imajinasi penonton. Dalam teater, tidak semua pertanyaan harus dijawab. Kadang-kadang satu suara dari belakang panggung setelah semua tokoh pergi jauh lebih mengganggu daripada penjelasan panjang tentang apa sebenarnya yang terjadi.
6. KAMPUNG YANG HILANG karya Titas Suwanda
Membaca judul Kampung yang Hilang segera menimbulkan pertanyaan, jika rumah, jalan, sungai, dan tanahnya masih ada, apa yang sebenarnya hilang? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk penting untuk membaca keseluruhan naskah ini.
Imam pulang ke kampung setelah kehilangan pekerjaan di kota. Ia berharap kampung halaman masih memiliki kehidupan yang dahulu ia kenal: gotong royong, keguyuban, dan nilai-nilai yang diwariskan masyarakat. Namun kampung yang ditemuinya telah berubah. Orang-orang menjadi lebih individualistis dan materialistis. Dengan demikian, “hilangnya kampung” dalam naskah ini tidak harus dibaca sebagai hilangnya wilayah secara geografis. Tetapi, yang hilang adalah nilai yang membuat sebuah tempat layak disebut kampung.
Kekuatan naskah ini terletak pada konflik gagasan. Konflik yang terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Imam membawa ingatan tentang kampung masa lalu. Orang-orang yang tinggal di sana menghadapi kehidupan masa kini.
Pertemuan dua pandangan tersebut membuka pertanyaan tentang perubahan sosial. Apakah perubahan selalu berarti kehilangan? Apakah tradisi harus dipertahankan dalam bentuk yang sama? Apakah gotong royong masih mungkin ketika kebutuhan ekonomi setiap orang semakin besar? Dan apakah seseorang yang lama meninggalkan kampung masih berhak menentukan bagaimana kampung itu harus hidup?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat naskah memiliki ruang diskusi yang luas bagi pemain teater remaja.
Kekuatan lain dari naskah ini adalah hadirnya tradisi Mandi Kayik sebagai bagian dari persoalan cerita. Namun, kekuatan ini bisa menjadi kelemahan yang fatal. Ritual tidak seharusnya hanya menjadi dekorasi. Ia dapat menjadi titik ketika nilai lama dan cara pandang baru bertemu.
Musik, bunyi air, suara masyarakat, nyanyian atau tradisi lisan, dan gerak kelompok dapat digunakan untuk membuat ritual menjadi peristiwa teatrikal, bukan sekadar adegan yang dijelaskan melalui dialog.
Tantangan
Tantangan utama jika memilih Kampung Yang Hilang adalah tantangan bagi penyutradaraan. Sebab, kelemahan potensial naskah ini justru terdapat pada kekuatan dialognya. Jika dimainkan secara realis—orang duduk, berbicara, lalu menjelaskan persoalan—pertunjukan berpotensi menjadi sangat verbal. Karena itu, sutradara perlu mencari bentuk visual untuk gagasan “kampung yang hilang”.
Misalnya, ruang yang pada awalnya terasa penuh oleh suara masyarakat perlahan menjadi sunyi. Atau benda-benda yang dahulu digunakan bersama mulai menjadi milik pribadi. Atau aktor-aktor yang pada awal pertunjukan selalu bergerak sebagai kelompok perlahan terpisah menjadi individu-individu. Dengan pendekatan seperti itu, gagasan tidak hanya dibicarakan, tetapi diperlihatkan.
Enam Naskah, Enam Kemungkinan Panggung
Enam naskah yang dikupas pada bagian pertama dari kumpulan naskah pilihan FTR 2026 ini memperlihatkan bahwa cerita lokal dapat membawa kelompok teater menuju bentuk pertunjukan yang sangat berbeda. GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH membuka kemungkinan teater tubuh, suara, dan atmosfer. Bukit Perak mempertemukan komedi, tradisi, pantangan, dan dunia gaib. Celebau menawarkan persoalan manusia, tanah, ekonomi, ritual, dan lingkungan. Cenenggo memperlihatkan bagaimana jarak dapat menjadi bahasa konflik. Hantu Aek membuka ruang komedi rakyat yang bermain dengan kepercayaan dan ketakutan. Sementara Kampung yang Hilang mengajak pemain mempertanyakan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, calon peserta tidak cukup bertanya, Cerita mana yang saya suka? Pertanyaan berikutnya adalah Pertunjukan seperti apa yang bisa dibangun dari cerita ini? Sebab naskah teater baru benar-benar hidup ketika bertemu dengan tubuh aktor, ruang, cahaya, suara, musik, properti, dan imajinasi sebuah kelompok.
Pada akhirnya, pilihan naskah juga merupakan pilihan tentang jenis perjalanan artistik yang bersedia dijalani sebuah kelompok.
BAGIAN II
Pusako, Keris, dan Ingatan yang Diperebutkan
Pada bagian pertama, kita bertemu dengan naskah-naskah yang bergerak di sekitar rimba, alam, tradisi, dan perubahan masyarakat. Pada bagian kedua ini, perhatian bergeser kepada sesuatu yang lebih dekat dengan ingatan kolektif: pusaka, sejarah, tanah, warisan, dan pertanyaan tentang apa yang harus dipertahankan ketika zaman berubah.
Enam naskah yang dikupas berikutnya adalah Hati Pusako, Kepala Batu, Keris Tubanso, Keruh di Muaro, Tengok ke Hulu, Kursi Kosong, dan Menuak. Masing-masing menawarkan dunia panggung yang berbeda.
1. HATI PUSAKO karya Agung Syahputra
Hati Pusako membawa kita ke sebuah kampung yang masih kuat memegang adat. Di dalamnya terdapat Pak Yusuf, seorang pesirah kampung yang keras kepala dan taat pada tradisi, serta Jalul, anak mudanya yang memiliki perilaku berlawanan. Konflik keluarga ini kemudian bertemu dengan upacara cuci pusako dan kehidupan komunal masyarakat.
Di sinilah kekuatan naskah berada: konflik personal bertemu dengan konflik adat. Pusaka bukan sekadar benda. Dalam pertunjukan, benda pusaka jangan hanya diperlakukan sebagai properti. Ia harus memiliki nilai dramatik. Ketika pusaka dibersihkan, yang sebenarnya sedang dibersihkan bukan hanya benda. Ada ingatan, identitas, hubungan dengan leluhur, dan harga diri komunitas yang ikut dipertaruhkan. Upacara cuci pusako dapat menjadi pusat visual pertunjukan.
Persiapan warga, gotong royong, bertauh, kenduri, musik, hingga peristiwa ketika warga mengalami kerasukan memberi kemungkinan bagi ensemble yang besar. Naskah bahkan menggambarkan masyarakat bekerja bersama menyiapkan cuci pusako sebelum suasana berubah ketika beberapa warga jatuh pingsan dan kerasukan.
Tokoh Jalul menarik bukan hanya karena ia “anak nakal”. Yang lebih menarik adalah pertanyaan: mengapa seorang anak yang berada di tengah masyarakat adat justru merasa tidak memiliki tempat di dalam komunitasnya sendiri? Jika pertanyaan ini dikembangkan, Jalul tidak lagi menjadi sekadar anak pembangkang. Ia dapat menjadi representasi generasi yang tidak menemukan hubungan emosional dengan tradisi yang diwariskan kepadanya.
Tantangan
Bahaya naskah ini adalah terjebak pada pola: anak muda selalu salah, adat benar, anak sadar. Terjebak pada paradigma arustama. Jika demikian, konflik menjadi terlalu mudah. Sutradara dapat mencari lapisan yang lebih rumit, mungkin tradisi memang penting, tetapi cara generasi tua memperlakukan generasi muda juga memiliki persoalan. Dengan begitu, pertunjukan tidak hanya berbicara tentang mempertahankan adat, tetapi juga tentang bagaimana adat diwariskan.
2. KEPALA BATU karya Ahmad Faathir
Kepala Batu memiliki energi yang berbeda. Dunia anak muda, permainan daring, teknologi, dan tradisi lokal dipertemukan dalam satu ruang konflik. Persoalan ini sangat dekat dengan kehidupan pelajar dan remaja. Seorang anak muda dapat mengenal berbagai dunia melalui layar, tetapi belum tentu mengenal cerita yang hidup di halaman rumahnya sendiri.
Konflik yang relevan dalam naskah ini menarik bukan semata-mata karena ada game online. Pertanyaan yang lebih penting adalah, mengapa sesuatu yang berasal dari jauh bisa terasa lebih menarik daripada sesuatu yang tumbuh di sekitar kita? Pertanyaan tersebut dapat menjadi konflik identitas. Tradisi bukan hanya berhadapan dengan teknologi. Tradisi berhadapan dengan perhatian manusia modern. Apa yang menarik perhatian? Apa yang dianggap keren? Apa yang dianggap kuno? Siapa yang menentukan semua itu?
Kemungkinan visual naskah ini dapat menjadi sangat menarik jika dunia permainan tidak hanya dibicarakan. Dunia game dapat hadir melalui proyeksi layar, suara notifikasi, efek visual, perubahan cahaya, gerak tubuh, musik elektronik, atau bahkan perubahan cara aktor berbicara dan bergerak. Dunia digital dapat menjadi ruang kedua yang berhadapan dengan ruang tradisi.
Tantangan
Bahaya terbesar adalah menjadikan pertunjukan sebagai ceramah tentang “Jangan main game terlalu banyak. Lestarikan budaya.” Pesan seperti itu terlalu mudah ditebak. Potensi yang lebih menarik adalah memperlihatkan konflik yang benar-benar dialami tokoh. Apa yang ia dapatkan dari dunia digital? Apa yang tidak ia dapatkan dari lingkungannya? Apakah tradisi memang sudah menawarkan bentuk komunikasi yang dapat dimengerti generasi sekarang? Jika pertanyaan tersebut muncul, naskah akan menjadi lebih hidup.
3. KERIS TUBANSO karya Asro Al Murthawi
Di antara naskah-naskah FTR 2026, Keris Tubanso memiliki energi sejarah dan legenda yang sangat kuat. Tokoh Sigindo Tiang Bungkuk berada di pusat cerita. Keris yang menyertai kelahirannya menjadi bagian dari mitologi tokoh tersebut. Naskah juga menghubungkan kisahnya dengan Kenduri Sko masyarakat Tamiai, Kerinci.
Keris tersebut bukan sekadar senjata. Ia menjadi simbol identitas dan takdir tokoh. Sejarah atau legenda? Inilah pertanyaan penting bagi sutradara. Keris Tubanso dapat dipentaskan sebagai drama sejarah yang realistis. Tetapi ia juga dapat dipentaskan sebagai teater legenda.
Jika pendekatan kedua dipilih, ruang tidak perlu dibangun seperti museum sejarah. Penjara dapat dibentuk oleh cahaya. Kerajaan dapat hadir melalui tubuh ensemble. Perjalanan waktu dapat terjadi melalui perubahan musik. Keris dapat menjadi objek yang terus-menerus muncul sebagai simbol. Dengan demikian, penonton tidak sedang melihat rekonstruksi sejarah, tetapi masuk ke dalam ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Salah satu kemungkinan panggung yang menarik terdapat pada adegan lemang. Lemang yang dibawa kepada Tiang Bungkuk dicurigai menyimpan senjata. Ketegangan kemudian dibangun melalui tindakan membelah lemang untuk mencari keris. Adegan seperti ini sebenarnya memiliki mesin panggung yang kuat.
Tidak perlu banyak efek. Aktor yang tepat, tempo yang tepat, dan perhatian seluruh ensemble kepada satu benda sudah dapat menciptakan ketegangan. Naskah menawarkan akhir yang sangat teatrikal: bunyi seperti petir, kilatan cahaya, asap, dan hilangnya tokoh.
Tantangan
Tantangan sutradara karena dia memiliki ruang besar untuk menentukan apakah akhir tersebut akan dibuat spektakuler atau justru sederhana. Kadang-kadang semakin sedikit yang diperlihatkan, semakin besar ruang imajinasi penonton.
4. KERUH DI MUARO, TENGOK KE HULU karya Yuyun DNS
Naskah ini mungkin merupakan naskah paling “berisik” secara gagasan. Di dalamnya terdapat Orang Rimba, sidang adat, kucing hitam, Besale, penyakit, media sosial, viralitas, kompetisi, bahkan berbagai lembaga dan komunitas yang masuk ke dalam konflik cerita. Tokoh Beteguh menjadi salah satu pusat persoalan. Justru karena itu, naskah ini menarik bagi kelompok yang ingin melakukan eksplorasi bentuk.
Bayangkan sebuah sidang adat tiba-tiba menjadi viral. Apa yang terjadi ketika persoalan masyarakat adat tidak lagi hanya diketahui oleh masyarakatnya sendiri, tetapi ditonton ribuan orang? Di sinilah kemungkinan dramaturgi media baru muncul. Layar dapat menjadi ruang publik. Kamera dapat menjadi saksi. Komentar media sosial dapat menjadi suara massa. Tokoh dapat berubah ketika kamera menyala.
Jika kelompok memilih naskah ini, multimedia sebaiknya menjadi bagian dari konflik. Misalnya: aktor berbicara, kamera merekam, penonton melihat gambar aktor di layar. Namun apa yang terlihat di layar berbeda dari kenyataan di panggung. Di titik itu, pertunjukan mulai bertanya: Mana yang sebenarnya nyata? Apa yang sebenarnya sedang dilihat penonton? Pertanyaan seperti ini sangat potensial untuk teater remaja.
Tantangan
Naskah ini memiliki banyak gagasan. Itulah sekaligus kekuatan dan risikonya. Jika semua persoalan dimainkan dengan bobot yang sama, pertunjukan dapat kehilangan pusat. Sutradara perlu memilih satu pertanyaan utama. Salah satu kemungkinan adalah: Apa yang terjadi ketika ritual dan kehidupan masyarakat adat dipaksa mengikuti logika konten digital? Jika pertanyaan itu menjadi pusat, berbagai persoalan lain dapat ditempatkan sebagai cabang.
5. KURSI KOSONG karya Hendry Nursal
Kursi Kosong menghadirkan benda yang sangat sederhana tetapi memiliki potensi dramaturgis besar: kursi.
Dalam cerita, kursi bukan hanya tempat duduk. Ia berkaitan dengan perebutan ruang, misteri, Danau Sipin, pembangunan, dan kehadiran sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Tokoh-tokoh seperti Zastia, Iqbal, Malik, Adi, Mawan, dan lainnya bergerak dalam persoalan tersebut.
Sutradara dapat menjadikan kursi sebagai “tokoh” tanpa menjadikannya hidup secara harfiah. Siapa yang duduk? Siapa yang tidak boleh duduk? Mengapa semua orang menginginkannya? Apa yang terjadi ketika kursi kosong? Pertanyaan sederhana tersebut dapat terus diulang dengan makna yang berbeda. Kursi dapat menjadi simbol ruang yang diperebutkan.
Kursi Kosong juga menghubungkan misteri dengan cerita tentang Orang Kayo Hitam dan Danau Sipin. Ada pula persoalan pembangunan yang dapat mengganggu fungsi kawasan sebagai area resapan.
Dengan demikian, naskah sebenarnya memiliki dua lapisan: misteri dan persoalan lingkungan. Jika keduanya disatukan dengan baik, pertunjukan tidak berhenti sebagai cerita hantu.
Tantangan
Sutradara jangan menghadirkan hantu sebagai satu-satunya daya tarik. Lebih menarik adalah membuat penonton terus bertanya: Apakah yang mengganggu tokoh benar-benar makhluk gaib, atau ada sesuatu yang selama ini mereka abaikan dalam kehidupan nyata? Pertanyaan tersebut membuat kursi, danau, serta bayangan memiliki makna yang lebih luas.
6. MENUAK karya Megawaty S.
Naskah Menuak karya Megawaty S. berangkat dari tradisi yang berkaitan dengan kehamilan dalam masyarakat Jambi. Tokoh Masri dan Sopiah menjadi pusat cerita. Kehamilan membawa pasangan tersebut ke dalam perbincangan mengenai tradisi, dukun beranak, pemeriksaan medis, dan pilihan antara pengetahuan tradisional dan layanan kesehatan modern. Naskah kemudian memperlihatkan pelaksanaan Menuak ketika usia kehamilan mencapai tujuh bulan.
Naskah ini memiliki kekuatan pada ruang rumah. Ruang keluarga dapat menjadi pusat pertunjukan. Kemudian ritual Menuak perlahan mengubah ruang domestik tersebut menjadi ruang komunal. Orang datang, makanan disiapkan, dukun hadir, warga berkumpul. Tradisi berlangsung. Perubahan ruang tersebut dapat menjadi bahasa visual yang menarik.
Konflik modern dan tradisional yang mengetengahkan pertentangan antara pemeriksaan medis dan dukun beranak sebenarnya memiliki potensi menjadi konflik yang lebih dalam. Jangan membuatnya hanya sebagai: tradisi salah, modern benar. Garapan akan lebih menarik jika memperlihatkan mengapa tokoh percaya kepada satu sistem pengetahuan tertentu. Apa yang membuat Sopiah merasa aman? Apa yang membuat Masri ragu? Apa yang membuat keluarga tetap mempertahankan tradisi? Dengan demikian, konflik menjadi konflik manusia, bukan sekadar debat sistem pengetahuan.
Tantangan
Sebagian informasi tentang tahapan Menuak disampaikan secara panjang melalui dialog. Sutradara dapat mengubah informasi tersebut menjadi tindakan. Biarkan ritual terjadi, bukan hanya diterangkan. Biarkan penonton melihat makanan, persiapan, pembagian peran, dan hubungan antaranggota masyarakat. Dengan begitu, tradisi menjadi pengalaman teatrikal.
Enam Naskah, Enam Cara Memandang Ingatan
Jika keenam naskah pada bagian ini dibaca bersama, terlihat bahwa “tradisi” ternyata tidak memiliki satu wajah. Hati Pusako berbicara tentang hubungan generasi dan pusaka. Kepala Batu mempertemukan tradisi dengan budaya digital. Keris Tubanso membawa kita kepada legenda dan sejarah. Keruh di Muaro, Tengok ke Hulu mempertanyakan apa yang terjadi ketika tradisi masuk ke ruang viral. Kursi Kosong mempertemukan ruang, mitos, dan perubahan lingkungan. Sementara Menuak membawa tradisi masuk ke ruang paling dekat: keluarga.
Inilah salah satu kekayaan naskah FTR 2026. Cerita lokal tidak harus selalu dipentaskan sebagai cerita masa lalu. Ia dapat berbicara tentang apa yang terjadi hari ini.
BAGIAN III
Keluarga, Tradisi, dan Pilihan Hidup
Pada pembahasan dua bagian sebelumnya, terdedah bahwa naskah teater tidak cukup hanya memiliki cerita yang menarik. Ia membutuhkan mesin yang dapat menggerakkan panggung, konflik yang terus bertumbuh, tokoh yang memiliki kehendak, serta kemungkinan untuk diterjemahkan menjadi bahasa tubuh, suara, ruang, cahaya, benda, dan hubungan antarpemain.
Pada bagian ini, dikupas sejumlah naskah FTR 2026 yang berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, perkawinan, adat, kepercayaan, pekerjaan, lingkungan, dan hubungan manusia dengan tradisinya.
Bahan-bahan semacam ini sebenarnya sangat kaya. Namun, ada satu pertanyaan penting bagi calon pemain dan sutradara: Apakah tradisi hanya menjadi latar cerita, atau benar-benar menjadi kekuatan yang mengubah hidup tokoh?
Sebab panggung tidak hanya membutuhkan informasi tentang sebuah tradisi. Panggung membutuhkan peristiwa. Tradisi menjadi menarik ketika seseorang harus memilih. Ketika seorang anak harus berhadapan dengan keputusan orang dewasa. Ketika kepercayaan berbenturan dengan kebutuhan. Ketika sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tiba-tiba berhadapan dengan dunia hari ini. Di situlah cerita mulai bergerak.
Bagian ini mengupas tujuh naskah FTR 2026. Menuak, Nur, Patok, Penurun Hujan, Secanting Beras, Sumbun, dan Kenduri Sko.
1. MENUAK karya Diana Aini
Ada naskah lain berjudul Menuak dalam kumpulan FTR 2026. Naskah ini berbeda dari Menuak karya Megawaty S. yang dibahas pada Bagian II. Jika Menuak karya Megawaty berpusat pada kehamilan dan hubungan antara tradisi dengan pemeriksaan medis, Menuak karya Diana Aini bergerak ke wilayah yang jauh lebih gelap: keluarga, kecemburuan, kemiskinan, kekerasan, dan akibatnya terhadap anak.
Potensi dramatik yang menarik justru bukan ritualnya. Tradisi Menuak hadir sebagai bagian dari dunia cerita, tetapi kekuatan dramaturgis naskah ini sebenarnya dapat ditemukan pada hubungan antartokohnya. Leman, Midah, Bujang, dan tokoh-tokoh keluarga di dalamnya membuka persoalan tentang rumah sebagai tempat yang seharusnya memberi perlindungan, tetapi justru dapat menjadi ruang konflik.
Bagi penyutradara, ini adalah peluang untuk mengubah ruang rumah menjadi ruang psikologis. Satu meja, satu pintu, satu benda, dan satu bunyi dari luar. Semua dapat menjadi pemicu ketegangan.
Satu kemungkinan pengembangan yang menarik adalah menjadikan toko Bujang sebagai pusat emosional pertunjukan. Jika orang dewasa sibuk dengan persoalan mereka sendiri, apa yang dilihat seorang anak? Apa yang ia dengar? Apa yang ia pahami? Apa yang ia bawa setelah semua peristiwa itu selesai?
Dengan perspektif tersebut, kekerasan keluarga tidak hanya menjadi kejadian dramatis, tetapi menjadi pengalaman yang membentuk seorang anak.
Tantangan
Naskah memiliki muatan emosi yang berat. Karena itu, pertunjukan tidak perlu mengejar ledakan emosi terus-menerus. Justru kontras antara adegan biasa dan adegan tegang dapat membuat penonton lebih merasakan perubahan. Kelompok yang memilih naskah ini perlu memiliki aktor yang mampu bermain dengan emosi tertahan, bukan hanya menangis atau berteriak.
Sutradara perlu berhati-hati agar kekerasan tidak hanya menjadi alat untuk menghasilkan efek emosional. Jika semua konflik diarahkan menuju ledakan, pertunjukan dapat kehilangan lapisan. Bagaimana konflik itu tumbuh sedikit demi sedikit. Bujang, khususnya, dapat menjadi pintu masuk untuk membaca naskah ini dengan perspektif yang lebih dalam.
2. NUR karya Gavin Chandrawira
Nur membawa persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan remaja perempuan: pendidikan, keluarga, perjodohan, dan pilihan masa depan. Nur masih memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah. Namun keluarga mulai membicarakan perjodohannya. Bahkan ketika Nur belum terlihat di ruang panggung, keputusan tentang hidupnya sudah dibicarakan oleh orang-orang dewasa. Di sinilah konflik naskah sebenarnya mulai bekerja.
Apa yang sebenarnya diinginkan Nur menjadi persoalan dramaturgis naskah ini. Tokoh Nur berada di tengah konflik, tetapi dalam beberapa bagian ia lebih banyak menjadi objek dari keputusan tokoh-tokoh lain. Padahal, panggung akan menjadi jauh lebih kuat apabila Nur sendiri memiliki kehendak yang harus diperjuangkan. Sebab konflik bukan hanya terjadi ketika dua orang berbeda pendapat. Konflik terjadi ketika seseorang menginginkan sesuatu dan ada kekuatan yang menghalanginya.
Siapa yang menentukan hidup Nur? Apakah Nur akan menikah atau sekolah? Apakah Nur memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri masa depannya? Jika pertanyaan ini menjadi pusat pertunjukan, tokoh Nur harus memperoleh ruang sebagai subjek. Ia bukan sekadar anak perempuan yang menjadi bahan pembicaraan orang dewasa.
Tantangan
Naskah ini perlu menghindari jebakan “tradisi versus modernitas” yang terlalu sederhana. Tradisi tidak harus selalu menjadi pihak yang salah. Modernitas juga tidak otomatis menjadi jawaban. Hal yang jauh lebih menarik adalah mempertemukan manusia dengan pilihannya.
Jika dimainkan secara biasa, tokoh-tokoh orang tua dapat menjadi terlalu dominan. Sementara Nur hanya menunggu keputusan. Sutradara dapat mencari cara agar penonton mengetahui keinginan Nur secara kuat bahkan ketika ia tidak banyak berbicara. Bisa melalui surat. Benda sekolah seperti buku dan seragam, atau hubungan Nur dengan ruang rumah. Dengan begitu, keinginan Nur hadir bahkan ketika tubuhnya tidak selalu hadir di panggung.
Naskah ini sangat dekat dengan pemain seusia pelajar dan remaja karena persoalannya berhubungan dengan pertanyaan: Siapa yang berhak menentukan masa depan seorang anak? Itulah yang dapat membuat pertunjukan lebih kuat daripada sekadar menyampaikan pesan tentang pendidikan.
3. PATOK karya Alief Hasbunallah
Patok menawarkan sesuatu yang secara dramaturgis cukup menarik: konflik tanah dan kepemilikan yang diwujudkan melalui sebuah benda sederhana, patok. Benda kecil itu dapat menjadi pusat panggung. Ia dapat dipindahkan, dicabut, ditanam Kembali, diperebutkan. Bahkan dapat menjadi objek komedi sekaligus simbol perebutan ruang.
Tokoh-tokohnya yang menggunakan nama seperti Si Anu, Si Ini, dan Si Itu juga membuka kemungkinan pembacaan yang lebih absurd dan satiris. Sutradara sebenarnya memiliki peluang untuk tidak memainkan naskah Patok secara realis. Bayangkan jika patok bukan sekadar benda yang diletakkan di halaman, tetapi menjadi pusat permainan seluruh aktor. Ruang panggung dapat berubah hanya karena posisi patok berubah. Satu benda mengubah hubungan antarmanusia. Itulah salah satu cara benda sederhana menjadi bahasa teater.
Tantangan
Karena persoalannya dapat berkembang ke banyak arah, sutradara harus menentukan pusat konflik. Jangan sampai patok hanya menjadi alasan untuk menghadirkan serangkaian peristiwa lucu. Potensi dramaturgi yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sebuah benda kecil dapat membongkar sifat manusia.
Persoalan utama naskah ini adalah penyebaran konflik. Karena persoalan tanah dapat merambat ke banyak tokoh dan kepentingan, cerita berisiko menjadi episodik. Sutradara perlu menemukan satu garis konflik utama. Bukan sekadar siapa mendapatkan tanah. Tetapi mengapa tanah itu begitu penting sehingga manusia bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankannya? Ketika pertanyaan kedua mulai bekerja, patok tidak lagi sekadar properti. Ia menjadi simbol.
4. PENURUN HUJAN karya Ayu Diah Lestary
Penurun Hujan berangkat dari situasi yang sederhana: hujan menjadi sesuatu yang ditunggu, tetapi keluarga justru berdebat tentang siapa atau apa yang menyebabkan hujan turun. Tokohnya terdiri atas Bapak, Mamak, Kakak, dan Adik. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap hujan: mistik, religius, tradisional, dan ilmiah.
Satu keluarga, banyak cara mengetahui dunia Inilah kekuatan naskah. Konflik tidak perlu dipahami hanya sebagai pertentangan paradigma agama versus ilmu pengetahuan. Ada adat. Ada pengalaman. Ada keyakinan. Ada sains. Ada keinginan manusia untuk memahami alam. Perdebatan tersebut menjadi menarik karena semua tokoh merasa memiliki alasan.
Konfliknya mempertemukan beberapa cara manusia memahami alam: ilmu pengetahuan, keyakinan, pengalaman, dan kepercayaan. Persoalannya kemudian bukan hanya siapa yang benar tentang hujan. Melainkan, apa yang dilakukan manusia ketika sesuatu yang sangat dibutuhkan berada di luar kendalinya?
Hujan sebaiknya tidak hanya hadir sebagai efek suara. Ia dapat menjadi bagian dari dramaturgi. Sebelum hujan: ruang kering, tubuh gelisah, suara angin. Setelah hujan: ritme berubah, tubuh berubah, suara berubah, cahaya berubah. Dengan pendekatan semacam itu, hujan menjadi pengalaman, bukan dekorasi.
Tantangan
Dialog naskah cukup banyak. Karena itu, kelompok yang memilihnya harus berhati-hati agar pertunjukan tidak menjadi “adu argumentasi” di ruang tamu. Pertanyaan yang mereka perdebatkan harus menghasilkan tindakan. Jika Bapak percaya sesuatu, ia melakukan sesuatu. Jika Adik percaya sesuatu, ia bertindak. Jika Kakak percaya sains, pengetahuannya harus memengaruhi tindakan panggung. Dengan begitu, gagasan menjadi peristiwa.
5. SECANTING BERAS karya Hendry Nursal
Secanting Beras mengangkat persoalan yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat terhadap anak dan kecerdasan. Sepasang orang tua, Ardi dan Lia, khawatir setelah anak mereka melakukan sesuatu yang kemudian dianggap sebagai pertanda bahwa anak tersebut akan menjadi bodoh. Mereka kemudian masuk ke dalam ritual yang berhubungan dengan “jual anak” dengan secanting beras.
Di balik unsur komedi dan ritual, ada persoalan yang cukup manusiawi, ketakutan orang tua terhadap masa depan anak. Apa yang terjadi ketika orang tua terlalu takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi? Apa yang terjadi ketika sebuah kepercayaan diwariskan tanpa benar-benar dipahami? Di sinilah naskah dapat dibaca lebih dalam.
Naskah ini memiliki peluang menjadi komedi rakyat. Tetapi kelucuan jangan hanya muncul dari karakter yang dianggap “percaya hal aneh”. Lebih menarik jika komedi muncul dari keseriusan tokoh menghadapi situasi yang absurd. Semakin sungguh-sungguh mereka mempercayai situasi tersebut, semakin kuat potensi komedinya.
Namun komedi memiliki satu bahaya ketika sesuatu ditertawakan, apa sebenarnya yang sedang kita tertawakan? Apakah perilaku manusianya? Ketidaktahuannya? Situasinya? Atau justru kepercayaannya? Pertanyaan ini penting karena cerita yang mengambil bahan dari tradisi mudah tergelincir menjadi sekadar lelucon tentang masyarakat tradisional. Padahal, teater dapat menertawakan manusia tanpa harus merendahkan kebudayaannya.
Ritual, pohon, ayam, beras, dan mantra dapat menjadi unsur visual. Namun jangan semuanya ditampilkan secara realis. Pohon dapat dibentuk oleh tubuh ensemble. Mantra dapat menjadi bunyi berulang. Secanting beras dapat menjadi benda simbolis. Dengan begitu, panggung memiliki dunia sendiri.
Tantangan
Jika akhir cerita terlalu cepat menjelaskan bahwa semua itu tidak nyata, misteri dan permainan imajinasi dapat berkurang. Sutradara dapat mempertahankan sedikit ambiguitas. Biarkan penonton bertanya apakah yang mereka alami benar-benar terjadi? Atau ketakutan merekalah yang membuat semua itu terasa nyata?
6. SUMBUN karya Devi Hanan
Sumbun membawa penonton ke Kampung Laut, Tanjung Jabung Timur, ketika musim sumbun tiba. Tokoh-tokoh muda datang berhadapan dengan tradisi Mutik Sumbun dan kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan sumbun bagian dari kebiasaan mereka.
Persoalan naskah menjadi menarik ketika anak muda memandang tradisi sebagai sesuatu yang melelahkan atau tidak menarik. Jamal, misalnya, lebih tertarik pada permainan digital daripada mengikuti tradisi berburu sumbun. Dialog tentang tradisi bahkan memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal diwariskan melalui cerita orang tua.
Konflik ini sangat dekat dengan kehidupan remaja: Apakah sesuatu harus dianggap penting hanya karena merupakan tradisi? Atau, haruskah tradisi menemukan cara baru agar tetap menarik bagi generasi berikutnya?
Potensi panggung musim sumbun memberi kemungkinan visual yang khas. Suara pantai, angin, lampu malam, aktivitas berburu, gerak kelompok. Semua dapat menjadi bagian dari koreografi panggung. Kelompok tidak harus membuat pantai secara realistis. Bahkan cahaya dan suara dapat membuat penonton membayangkan malam di Kampung Laut.
Tantangan
Naskah ini perlu menjaga agar perubahan sikap tokoh tidak terlalu sederhana. Lebih menarik adalah jika perubahan itu menyisakan pertanyaan. Apakah ia benar-benar memahami tradisi? Ataukah ia hanya mulai menghargainya karena mengalami sesuatu?
Ketika pada akhirnya misteri atau persoalan dibuka sebagai sebuah penipuan, ada kemungkinan energi cerita yang sebelumnya dibangun sebagai misteri menjadi berkurang. Karena itu, sutradara perlu mempertimbangkan kembali pusat ketegangannya. Jangan sampai penonton hanya menunggu: “Siapa yang sebenarnya melakukan itu?”
7. KENDURI SKO karya Fioren Edri
Naskah ini berlatar Desa Tanjung Tanah, Kerinci, dan menjadikan Kenduri Sko sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Gendhis digambarkan sebagai anak yang membantu keluarganya dan memiliki cita-cita menjadi dokter. Menjelang pelaksanaan Kenduri Sko, masyarakat mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan upacara.
Kemudian muncul persoalan utama, pusaka yang akan digunakan dalam upacara ternyata hilang. Dari sinilah cerita berubah menjadi semacam misteri anak.
Gendhis mengingat sesuatu yang pernah dilihatnya. Arka ikut membantu. Ada kain yang ditemukan, catatan pesanan kain, penyelidikan terhadap Bu Ratna, hingga kecurigaan kepada Pak Salman. Secara panggung, ini sebenarnya cukup menarik. Ada benda yang dicari, ada petunjuk, ada waktu yang terbatas karena upacara akan segera berlangsung. Ada sejumlah properti yang dapat menjadi pusat permainan. Namun di sinilah kita perlu membedakan antara bahan lokal yang kuat dan dramaturgi yang kuat.
Sebagian besar energi cerita justru digunakan untuk menemukan siapa yang mengambil pusaka. Ketika pelaku akhirnya diketahui dan pusaka ditemukan, konflik utama segera selesai. Pak Salman terbukti bersalah, kemudian pelaksanaan Kenduri Sko dapat berlangsung. Akibatnya, Kenduri Sko sendiri lebih terasa sebagai latar penting bagi sebuah cerita detektif anak, bukan sebagai pusat konflik dramatik.
Padahal, benda pusaka memiliki kemungkinan makna yang jauh lebih besar. Pusaka bukan hanya benda yang hilang. Ia bisa menjadi ingatan, identitas. hubungan antargenerasi. Sesuatu yang membuat sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri.
Tantangan
Dari sisi keaktoran, tokoh Gendhis dan Arka memberi ruang yang cukup baik bagi eksplorasi potensi keaktoran pemain muda. Mereka aktif bergerak, mengamati, membuat dugaan, dan mengambil keputusan. Gendhis bahkan menjadi penghubung penting dalam menemukan petunjuk. Ia mengingat kejadian yang dialaminya dan menghubungkannya dengan kain yang ditemukan. Namun perjalanan batin mereka masih dapat diperdalam.
Naskah ini memiliki cukup banyak benda yang dapat menjadi bahasa visual: pusaka, kain, buku catatan, rumah lama, Keramnatang, bambu berisi lemang, hingga benda-benda pusaka yang dibersihkan dalam prosesi. Pelaksanaan Kenduri Sko sendiri menyediakan kemungkinan visual yang cukup kaya. Tetapi tantangannya adalah jangan sampai semua kekayaan visual itu hanya muncul di bagian akhir. Kalau sepanjang pertunjukan penonton terutama melihat proses penyelidikan, lalu pada akhir pertunjukan baru diperlihatkan Kenduri Sko, maka judul dan isi pertunjukan dapat terasa tidak sepenuhnya seimbang.
Dari Keluarga hingga Tradisi
Tujuh naskah pada bagian ini memperlihatkan bahwa konflik besar dapat tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat. Menuak berbicara tentang luka keluarga, Nur tentang hak menentukan masa depan, Patok tentang batas dan kepemilikan, Penurun Hujan tentang cara manusia memahami alam, Secanting Beras tentang ketakutan dan kepercayaan. Sumbun dan Kenduri Sko tentang pewarisan tradisi.
Jika dimainkan oleh kelompok pelajar dan remaja, semua persoalan tersebut dapat dibaca dari pengalaman generasi sekarang. Sebab teater tidak harus selalu bertanya: “Apa yang terjadi dahulu?” Teater juga dapat bertanya: “Apa arti cerita itu bagi kita sekarang?”
BAGIAN IV
Ritual, Tubuh, dan Ruang Pertunjukan
Sampailah kita pada bagian terakhir dari rangkaian pembacaan naskah FTR 2026. Enam naskah terakhir membawa kita kepada bentuk yang sangat dekat dengan panggung: ritual, tubuh, ruang, keluarga, tradisi, dan proses penciptaan teater.
Ada naskah yang memiliki kemungkinan dikembangkan menjadi teater tari (dance teater). Ada yang membutuhkan aktor dengan kemampuan psikologis kuat. Ada yang membutuhkan ensemble. Ada pula yang justru mengajak pemain mempertanyakan bagaimana sebuah pertunjukan diciptakan. Enam naskah tersebut adalah Tari Inai, Tarian Mandi Safar, Tekurung Tangas, Tepasung, Timbang Tebu, dan Malam Terakhir.
1. TARI INAI karya Asep Supriyanto
Tari Inai memiliki kekuatan yang langsung terlihat dari sumber budayanya: ritual dan tari. Naskah ini membawa tradisi Tari Inai ke dalam struktur cerita yang berkaitan dengan kerajaan, perkawinan, dan kehidupan masyarakat. Artinya, naskah ini memiliki peluang untuk mempertemukan teater dan tari.
Jangan menjadikan tari sebagai selingan. Jika tari hanya muncul ketika cerita berhenti, maka tari menjadi dekorasi. Sebaliknya, gerak dapat menjadi bagian dari cerita. Tokoh dapat menyampaikan emosi melalui tubuh. Kelompok dapat menciptakan perubahan suasana melalui formasi. Dengan demikian, tari tidak berada di luar drama. Jika ditangani secara kuat, pertunjukan dapat mendekati bentuk teater tari tanpa kehilangan konflik dramatiknya.
Tantangan
Bahaya utama adalah menjadikan cerita kerajaan terlalu konvensional. Jika semua dimainkan secara realis—raja, putri, istana, konflik kerajaan—pertunjukan dapat terasa seperti dongeng biasa. Kekuatan naskah justru dapat dicari pada ritual Tari Inai sebagai pusat bahasa panggung.
2. TARIAN MANDI SAFAR karya Citra Nur Aini
Tarian Mandi Safar juga memiliki kekuatan pada ritual. Naskah menghadirkan tradisi Mandi Safar yang berkembang sebagai upacara masyarakat dan memiliki berbagai pemaknaan terhadap keselamatan, wabah, maupun musibah. Naskah juga menyertakan latar historis mengenai perkembangan tradisi tersebut.
Mandi Safar sebenarnya menyediakan kemungkinan ensemble yang besar. Satu orang melakukan ritual, yang lain mengamati. Kemudian semua ikut bergerak. Ruang berubah, musik berubah, cahaya berubah.
Tantangan
Seperti Tari Inai, persoalan utamanya adalah bagaimana menghindari bentuk “cerita rakyat yang dijelaskan”. Jika tokoh terus-menerus menerangkan sejarah Mandi Safar, pertunjukan dapat menjadi seperti pelajaran kebudayaan. Padahal penonton datang untuk mengalami pertunjukan.
Karena itu, muatan sejarah sebaiknya diubah. Bisa menjadi gambar, bunyi, gerak, tindakan, dan situasi.
Potensi
Naskah ini sangat mungkin dikembangkan ke arah teater tari atau pertunjukan berbasis ritual. Kekuatan utamanya bukan pada dialog panjang, tetapi pada kemungkinan membangun atmosfer kolektif.
3. TEKURUNG TANGAS karya Natasya Salsabilla
Tekurung Tangas bergerak ke wilayah yang lebih psikologis. Sahara adalah perempuan yang menghadapi ketakutan terhadap masa depan hubungan dan pernikahan. Darto, anak-anak mereka, serta Wak Leha menjadi bagian dari lingkungan emosional yang mengelilinginya. Naskah sendiri merumuskan persoalan utamanya sebagai ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi dan pikiran negatif yang kemudian memengaruhi diri.
Konfliknya berada di dalam kepala tokoh. Ini membuat Tekurung Tangas berbeda dari naskah yang konfliknya berasal dari peristiwa eksternal. Musuh utama tokoh bukan seseorang, bukan bencana, bukan hantu. Melainkan pikiran yang terus membangun kemungkinan buruk. Terasa lebih cocok jika naskah ini dijadikan monolog.
Karena itu, pertunjukan dapat menggunakan bahasa visual untuk menghadirkan dunia batin Sahara. Bayangan, suara, pengulangan gerak. Tokoh-tokoh lain yang muncul seperti gema dari pikirannya.
Pemeranan terhadap tokoh Sahara menjadi tantangan keaktoran yang besar. Aktor harus mampu memperlihatkan proses berpikir. Bukan hanya mengatakan “Aku takut.” Penonton perlu melihat ketakutan tersebut bekerja dalam tubuh aktor. Cara duduk berubah, cara memandang berubah, helaan napas berubah, respons berubah. Dengan demikian, keaktoran menjadi pusat pertunjukan.
Tantangan
Naskah dapat menjadi terlalu statis jika seluruh konflik hanya dibicarakan. Sutradara perlu menemukan tindakan konkret yang membuat pikiran Sahara menjadi peristiwa panggung. Jika tidak, pertunjukan dapat terasa seperti sesi percakapan keluarga.
4. TEPASUNG karya Medi Saputra
Tepasung merupakan naskah dengan muatan keluarga yang kuat dan sumber lokal yang sangat spesifik. Naskah mengangkat tiga unsur dari Kerinci: Aseik Nyabung, Sijundai, dan pasung. Penulis juga secara eksplisit menjelaskan sumber tersebut sebagai dasar penulisan naskah. Sarah menjadi salah satu pusat cerita, bersama Mak, Bapak, dan tokoh-tokoh lain dalam keluarga.
Seperti Patok dan Kursi Kosong, Tepasung memiliki objek yang dapat menjadi pusat dramaturgi. Pasung tidak hanya benda. Ia dapat menjadi symbol yang merepresentasikan ketakutan, stigma, ketidakberdayaan, cara masyarakat menghadapi sesuatu yang tidak mereka pahami, dan hubungan keluarga.
Jika dipentaskan secara literal, pasung hanya menjadi properti. Tetapi jika diperlakukan sebagai simbol, ia dapat terus hadir bahkan ketika tidak digunakan. Bayangan pasung, bunyi kayu, jejak ruang, gerak tubuh yang terbatas. Semua dapat menjadi bagian dari bahasa pertunjukan.
Tokoh Sarah memiliki ruang yang besar bagi kreativitas keaktoran. Ia digambarkan sebagai perempuan pekerja keras, logis, tegas, penyayang, tetapi juga berada dalam tekanan lingkungan keluarga dan kepercayaan masyarakat. Pertunjukan dapat berpusat pada pengalaman Sarah menghadapi dunia yang berusaha menentukan apa yang terjadi terhadap dirinya.
Tantangan
Naskah memiliki banyak konflik dan unsur dramatik. Karena itu, sutradara perlu berhati-hati agar seluruh persoalan tidak ditumpuk sekaligus. Pilih pusat emosional. Kemudian biarkan persoalan lain mengelilinginya. Jika semuanya ingin dibuat besar, tidak ada yang benar-benar terasa besar.
5. TIMBANG TEBU karya Hendry Nursal
Timbang Tebu memiliki energi yang mulanya tampak lebih ringan. Naskah menghadirkan kehidupan masyarakat, tokoh muda, dan sebuah tradisi yang berkaitan dengan anak yang lahir pada bulan Safar.
Tradisi Timbang Tebu dijelaskan melalui penggunaan timbangan: bayi ditempatkan pada satu sisi dan ketan pada sisi lainnya, disertai pembacaan shalawat dan kemudian makan bersama.
Timbangan dapat menjadi pusat visual. Benda itu dapat dimainkan secara nyata. Bisa pula dibuat lebih teatrikal. Yang penting, benda tersebut tidak hanya menjadi properti upacara. Ia menjadi bagian dari konflik dan imajinasi panggung.
Hubungan antara tokoh muda seperti Indra dengan tokoh tua seperti Donteng memberi peluang munculnya komedi sekaligus perdebatan tentang zaman. Ada pembicaraan tentang kemajuan, bahasa asing, kehidupan modern, dan kekayaan yang sebenarnya dimiliki masyarakat. Ini membuka ruang bagi permainan antargenerasi.
Tantangan
Naskah dapat menjadi terlalu mudah jika tokoh tua hanya menjadi “orang yang benar” dan anak muda hanya menjadi “anak yang belum mengerti”. Akan lebih menarik jika kedua pihak memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Generasi tua memiliki pengetahuan. Generasi muda memiliki pertanyaan. Pertemuan keduanya justru dapat menjadi pusat pertunjukan.
6. MALAM TERAKHIR karya Laila Fajrianti
Malam Terakhir memiliki bentuk yang berbeda dari sebagian besar naskah lain dalam kumpulan ini. Naskah tidak hanya berbicara tentang sebuah cerita lokal. Ia memperlihatkan orang-orang yang sedang berusaha menciptakan pertunjukan dari cerita dan tradisi. Di dalamnya terdapat proses diskusi, riset, laptop, materi referensi, juknis lomba, dan pencarian bentuk pertunjukan. Bahkan pada bagian akhir, para tokoh menyadari bahwa malam itu merupakan batas terakhir pengumpulan naskah.
Sesungguhnya, teater memang tentang proses penciptaan. Inilah kekuatan utama Malam Terakhir. Biasanya proses mencari cerita terjadi sebelum penonton datang. Dalam Malam Terakhir, proses itu justru dapat menjadi peristiwa panggung yang dipertunjukan.
Para Pemain dapat membuka laptop, mencari informasi, membaca, berdebat, menonton video, mencari referensi, menolak sebuah gagasan, kemudian menemukan gagasan baru. Jika semua itu dimainkan dengan ritme yang tepat, penonton tidak hanya melihat hasil penciptaan. Penonton dapat melihat bagaimana proses penciptaan suatu karya.
Naskah ini sangat dekat dengan cara generasi muda bekerja hari ini. Riset dapat dilakukan melalui internet. Video dapat menjadi referensi. Layar dapat menjadi ruang informasi. Juknis dapat diproyeksikan. Percakapan dapat berlangsung bersamaan dengan pencarian data. Bahkan layar dapat menampilkan apa yang sedang dicari oleh tokoh. Namun multimedia harus memiliki fungsi dramatik. Jika hanya menjadi dekorasi, keunikannya hilang.
Tantangan
Naskah yang berisi proses diskusi sangat mudah berubah menjadi orang duduk dan berbicara. Karena itu, setiap perdebatan harus menghasilkan perubahan. Seseorang menemukan informasi. Orang lain menolaknya. Hubungan mereka berubah. Sebuah gagasan muncul. Gagasan tersebut mengubah bentuk pertunjukan. Dengan demikian, diskusi berubah menjadi tindakan.
Mengapa Malam Terakhir sangat menarik bagi remaja? Karena naskah ini sebenarnya mengajukan pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: Bagaimana generasi sekarang menceritakan kembali tradisi lama? Apakah harus sama persis? Apa yang boleh diubah? Apa yang harus dipertahankan? Dan ketika tradis masuk ke panggung hari ini, siapa sebenarnya yang sedang berbicara: masa lalu atau generasi sekarang?
Serangkaian pertanyaan tersebut membuat Malam Terakhir memiliki kemungkinan menjadi pertunjukan yang tidak hanya bercerita tentang tradisi, tetapi juga mempertanyakan cara kita menceritakan tradisi.
Menutup Pembacaan: Naskah Bukan Pertunjukan
Dengan Bagian IV ini, seluruh naskah yang terdapat dalam kumpulan pilihan FTR 2026 telah kita bedah dari berbagai kemungkinan panggung. Dari rimba sampai rumah. Dari sungai sampai kerajaan. Dari ritual sampai media sosial. Dari hantu sampai persoalan keluarga. Dari tanah sampai hujan. Dari tradisi lama sampai layar digital.
Satu hal menjadi jelas adalah, naskah tidak pernah sama dengan pertunjukan. Naskah hanya menyediakan kemungkinan. Pertunjukan lahir ketika kemungkinan tersebut bertemu dengan: aktor, sutradara, ruang, cahaya, suara, musik, kostum, properti, waktu latihan, dan imajinasi kelompok.
Karena itu, sebelum memilih naskah, calon peserta FTR sebaiknya tidak hanya membaca sinopsis. Bacalah naskah sampai selesai. Bacalah keras-keras. Coba mainkan satu adegan. Lihat apakah aktor mendapatkan sesuatu untuk dimainkan. Bayangkan ruang panggungnya. Bayangkan penonton.
Kemudian tanyakan kepada kelompok masing-masing “Apakah kita ingin menjalani proses latihan untuk cerita ini?” Sebab memilih naskah pada akhirnya bukan hanya memilih cerita. Tetapi, setiap kelompok sedang memilih perjalanan artistiknya masing-masing.
Perjalanan itulah yang nantinya akan terlihat di atas panggung Festival Teater Remaja 2026.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom



