Jumat, 16 Oktober 2026

Polisi Mendadak ke Masjid dan Ingat Film Mendadak Dangdut


Catatan : Mursyid Sonsang, Alumni Lemhannas PPSA 18


Ini sebuah opini harus dibaca dan dipahami dengan hati yang lapang dan tidak ada maksud melukai atau memojokkan siapapun. Apakah pas perbandingannya, tergantung kita memahami secara positiv..?


Jumat tanggal 16 Oktober 2026, di sebuah mesjid yang jauh dari kantor Kapolsek di datangi  serombongan polisi di antaranya komandan polseknya. Mereka shalat Jumat berbaur dengan kalangan masyarakat, tanpa duduk di saf depan. Selesai shalat memperkenalkan diri sambil meminta agar jemaah menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan masing masing dan pesan pesan positiv lainnya 


Jemaah terkejut dan heran serta bangga, selama ini tidak pernah setingkat Komandan Polsek  shalat Jumat di mesjid mereka. Jemaah menyambut positif yang di lakukan Kapolsek itu.


Tagline yang digagas Kapolri Jenderal Pol Sayudi Ario Seto " Polisi Bersama Masyarakat" akan diikuti seluruh personil Polri dari jenderal hingga brigadir, jika ada contoh teladan dari pimpinan. Hal itu sudah dimulai Jenderal Sayudi. 


Misalnya, sewaktu terjadi aksi buruh di Jakarta, Jenderal Sayudi menemui langsung massa aksi buruh yang menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada hari Selasa, 6 Oktober 2026.


Kapolri menaiki sepeda motor patroli untuk menuju lokasi di depan Gedung DPR RI. Menyempatkan diri menyapa serta menyemangati para anggotanya yang sedang bertugas menjaga keamanan. 


Gebrakan yang paling heroik dan membanggakan, ketika  Suyudi Ario Seto bertindak sebagai khatib dalam ibadah shalat Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Mabes Polri, Jakarta, pada Jumat, 9 Oktober 2026. 


Dalam khutbahnya Sayudi menyampaikan pesan untuk dirinya dan seluruh personil Polri agar selalu rendah hati, tidak sombong, serta tidak merasa lebih hebat dari orang lain.


Polisi Mendadak ke Mesjid


Ada pelajaran menarik jika kita sejajarkan fenomena "Polisi Mendadak ke Masjid" yang digagas Kapolri Jenderal Sayudi dengan film populer "Mendadak Dangdut"


Keduanya punya premis yang sama, seseorang yang dipaksa masuk ke dunia yang dulu ia anggap bukan dunianya, lalu justru menemukan jati dirinya di sana.


Naya dalam Mendadak Dangdut adalah gambaran polisi kita. Penyanyi pop kota yang hidup di panggung gemerlap, dikelilingi penggemar dan lampu sorot. Ia merasa musiknya paling modern, paling keren, dan menganggap dangdut itu kampungan, pinggiran, tidak berkelas.


Bukankah itu mirip dengan sebagian wajah Polri beberapa tahun terakhir? Terlihat gagah di atas mobil patroli, sibuk dengan razia, dengan seragam dan senjata, dengan kantor ber-AC. Jauh dari debu pasar, jauh dari sajadah masjid kampung. Masjid dianggap bukan tempat kerja polisi.


Lalu takdir membalik. Naya dituduh membunuh, harus lari, dan satu-satunya tempat yang mau menerimanya adalah panggung dangdut keliling yang bau keringat. Mau tidak mau ia harus pakai baju seksi dangdut, goyang di depan petani dan kuli.


Kapolri Jenderal Sayudi hari ini melakukan hal yang sama. Ia memaksa anggotanya keluar dari zona nyaman: meninggalkan kantor, meninggalkan apel yang formalitas, untuk masuk ke masjid-masjid kecil di gang sempit. Shalat Subuh keliling jam 04.30 saat mata masih ngantuk. Shalat Jumat keliling berdesakan dengan kuli bangunan dan pedagang sayur.


Awalnya mungkin canggung. “Mendadak dangdut” dan “mendadak ke masjid” memang terdengar lucu dan dipaksakan. Tapi di titik kecanggungan itulah keajaiban terjadi.


Belajar Rendah Hati.


Di panggung pop, Naya adalah ratu. Di panggung dangdut, ia harus belajar dari nol cara menyapa penonton. Begitu pula polisi. Di kantor ia adalah komandan. Di masjid, ia hanyalah makmum yang sejajar, bahu bertemu bahu dengan warga. Tidak ada pangkat di atas sajadah. Di situlah ego seragam itu luruh.


Menemukan Audiens yang Sesungguhnya.


Naya baru sadar, penonton dangdut jauh lebih tulus. Mereka tidak menilai dari kostum mahal, tapi dari ketulusan suara. Polisi pun baru sadar, kepercayaan publik tidak dibangun dari konferensi pers di Jakarta, tapi dari doa ibu-ibu setelah wirid di masjid yang bilang, “Terima kasih Pak Polisi sudah shalat di sini, kampung kami jadi aman


Menemukan Rumah.


Di akhir film, Naya tidak ingin kembali jadi penyanyi pop. Ia memilih tetap menjadi penyanyi dangdut karena di sana ia menemukan keluarganya. Pesan toleransi ala Monty Tiwa tercapai: musik menyatukan perbedaan kota dan desa.


Harapan kita sama untuk Polri. Setelah "mendadak ke masjid" jangan kembali lagi menjadi polisi yang jauh. Tetaplah di sana. Jadikan masjid sebagai Mabes kedua. Karena sesuai dalil:


“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah sesuatu pun di dalamnya di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)


Masjid adalah milik Allah, bukan milik kelompok. Jika polisi sudah kembali ke rumah Allah, maka rakyat akan merasa Allah dekat dengan mereka melalui polisi.


Dari mendadak dangdut menjadi cinta dangdut. Semoga dari mendadak ke masjid menjadi cinta masjid dan cinta rakyat selamanya.






........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap