2 0 7 7
Ilustrasi/pixabay.com
2 0 7 7
Karya Hendry Nursal
Pemeran:
Lorka : Sombong dan merasa paling berkuasa
Renka : Emosional dan Mau Menang Sendiri
Arka : Pengkhayal, pemimpi, serta diluar
dugaan
FADE IN
SIRINE
MENGGEMA, TERDENGAR SUARA LANGKAH KAKI KADANG BERJALAN PERLAHAN, MENGENDAP DAN
BERLARIAN. LALU DIBALIK MINIMNYA CAHAYA JUGA ADA SUARA-SUARA MANUSIA MENYEBUT
NAMA LORKA, RENKA SERTA ARKA.
Arka : Nafas ku sesak,
tolong aku
Lorka : Penutup hidung dipakai
Arka : Mata ku perih seperti
terkena cairan panas, mata ku seperti tertutup awan, tidak bisa melihat jelas
Lorka : (Marah dan bersuara
keras) Dasar bodoh pakai kaca mata mu!
SIRINE
MENGECIL DAN SEMAKIN MENGHILANG
Lorka : sepertinya sudah aman,
sirine telah hilang (seolah mendengar suara mesin) jangan bersuara, ada yang
datang
Renka : (mendengarkan namun
hanyalah hening) Mana? Ahhhh……aku bosan, terus begini sepanjang hari, terus
begini sepanjang waktu. Entah sampai kapan, aku tak lagi merasakan perbedaan
antara siang dan malam, tak lagi mendengar setiap detak perputaran waktu. Semua
terlihat sama!
Lorka : Suara mu!
Renka : Kau siapa,
perintah-perintah aku!
Lorka : Suara mu, nanti kita
semua akan ketahuan, kita akan terkurung dikegelapan, terkunci diantara mimpi
dan khayalan lalu terkubur berteman sepi. Itu kalau masih ada ampun, jika kita
melawan maka tamatlah hidup kita
Renka : Aku tak peduli, aku
sudah muak! Apa bedanya terkubur berteman sepi, dengan kebebasan terbelenggu
rasa takut. Kalaupun ketahuan aku akan melawan. Biarlah mati dalam perlawanan
dari pada diam tertindas!
Lorka : Sekali lagi aku
peringatkan, kau diam
Renka : Kau melarang aku
berbicara?
Lorka : Suara kita telah lama
bisu, suara kita telah lama ditelan rasa sakit. Kalau masih mau berbicara
setidaknya kecilkan suara mu, selama ini kita bebas karena kita tidak
tertangkap, supaya tidak tertangkap? Kecilkan suara mu atau diam saja.
Renka : Tapi……
SIRINE
KEMBALI TERDENGAR, MEREKA MEMBISU DAN TAK BERGERAK TETAPI ADA CAHAYA MENYOROTI
SEBATAS KAKI. TERLIHAT TIGA PASANG KAKI YANG BERJEJER MEMAKAI SEPATU DAN
BALUTAN PLASTIK BENING.
TAK
LAMA SIRINE MENGECIL DAN MENGHILANG BERIRINGAN DENGAN CAHAYA YANG SEDANG
MENYOROTI SEBATAS KAKI
Arka : Apakah semua telah
aman,? seaman mimpi ku yang sedang menikmati secangkir minuman hangat,
dikelilingi pemadangan bagai Surga, atau duduk bersantai dikayangan sembari
menikmati langit biru.
Lorka : Dasar pengkhayal,
pemimpi buta, hei bangun kau Arka! Kita belum aman
Renka : Arka, nyalakan
listriknya! Tak perlu mengikuti perintah Lorka, macam penguasa saja dia. Kita
ini semua sama tidak ada yang lebih bahkan merasa sebagai pemimpin.
Arka : Baik, Nyalakan
listrik
Lorka : Padamkan listrik
Arka : Nyalakan Listrik
Lorka : Padamkan listrik
Renka : Apa maksud mu Lorka,
kita harus nyalakan listrik agar udaranya kembali pulih. Dengan begitu bisa
bernafas tanpa sesak, bisa membuka kaca mata tanpa perih
Lorka : Engkau penyebab semua
ini, jika saja kau tidak membuka jendela maka sirine tidak akan berbunyi.
Sekarang siapa yang susah, kita semua
Renka : Kau sudah menghapus
pendeteksi suara ku, sekarang kalian berdua yang bisa melakukannya
Lorka : Dari pada nanti kau
kembali ceroboh, lebih baik kami hapus
Renka : Sekarang apa yang
ditunggu, tutup jendelanya lalu nyalakan listrik
Lorka : Selain ceroboh,
emosional, mau menang sendiri ternyata otak mu juga korengan
Renka : Apa maksud mu!
Lorka : (tertawa) Jika kita
menutup jendela saat ini, maka akan menimbulkan suara keras yang memantik
sirine. Jika sirine berbunyi engkau tau sendiri akibatanya nanti
Renka : Lalu kita akan terus
begini, terus diam tertindas
Lorka : (tertawa) kenapa baru
sekarang kau mengatakan itu? Dari dulu kita sudah tertindas tapi kau diam?
Apakah karena perut mu kenyang lantas lupa, lantas tidak menyadari ada yang
sedang berkebun di punggung mu, sedang diinjak sepanjang waktu, dijual setiap
detik. Senang dengan sekarung beras padahal mereka menghasilkan ratusan karung.
Sekarang ketika lapar, ketika sekarung beras itu tak lagi diterima, engkau
berteriak sedang tertindas. kenapa baru sekarang kau mengatakan itu?
Renka : Engkau mulai mengungkit
sisi buruk ku?
Lorka : Bukan, aku hanya
mengingatkan saja. Saat dulu, engkau bahkan tidak menoleh kami.
Renka : Terlau banyak cerita,
apa mau mu? (menantang)
Arka : Waktu terus berputar,
walaupun kita tak mampu lagi membedakan siang dan malam, teman dan lawan, kata
manis dan pahit karena sudah terlena berada diantaranya. Tergiur dengan
kesenangan semu, keceriaan sejenak, tak punya sikap dan prinsip yang kokoh.
Hanya penganut keuntungan, beragama kepentingan, bertuhan-kan nafsu. Tidak
mampu menghadapi harta dan kekuasaan yang datang bagai hujan secara serentak,
menghasilkan rakus, tamak, lupa berpijak ke tanah, lupa bahwa dirinya manusia.
Renka : Engkau diam
Lorka : jaga sikap mu Renka!
Arka : Sudah, kalian cukup
jangan bertengkar lagi. Tutup Jendela!
TERDENGAR
SUARA JENDELA TERTUTUP LALU HENING SESAAT
Arka : Nyalakan
Listrik
LISTRIK
MENYALA, TERLIHAT RUANGAN BESAR DENGAN BEBERAPA PROPERTY DAN TIGA TOKOH YANG
BERBUSANA TIDAK BIASA
Renka : Itu
aman kan, engkau terlalu berlebihan Lorka (sembari membuka pelindung hidung dan
kaca mata)
Lorka : iya
ya, ini karena situasi benar-benar sudah aman. Tadi masih dalam masa krusial
kamu saja yang hampir membuat kita semua menjadi sial
Arka : Andai
saja aku adalah penyusun waktu, Maka aku akan menuai kesenangan paling egois di
dunia ini, Menunjuk bintang berkelip di langit impian, Aku sendiri tidak pernah
bosan mencari setitik warna dikubangan hitam nan kelam
Renka : Aku
lelah begini setiap waktu, bumi serasa benar-benar berhenti bergerak
Lorka : sudahlah,
jangan terlalu banyak mengeluh, tidak menyelesaikan masalah dengan segala keluh
kesah mu
Renka : Terlalu
banyak teori, aku bukan lah satu-satunya manusia yang berbuat masalah atas
keadaan saat ini. Lihat sungai menguning pekat, lautan kehilangan penghuninya,
kemana ikan? Rasakan udara busuk, kemana para burung kini? Buka mata mu
bagaimana panasnya langit akibat polusi merajalela bahkan kita tak lagi
merasakan sinar mentari pagi karena langit tak lagi cerah telah berubah hitam
kelam. Apakah salah saya?
Lorka : Tapi
kau turut menikmati
Renka : Menikmati
apa maksud mu
Lorka : Makanya
jangan mengeluh, ingat apapun yang terjadi saat ini, itu ada sumbangsih
perlakuan, ada peran buruk kita juga
Renka : Kita?
Lorka : Iya,
sungai menguning dan lautan yang telah kehilangan penghuninya? Limbah, sampah,
kotoran itu karena siapa. Udara yang tak lagi bersih? Polusi udara dari pabrik,
kendaraan, pencemaran sebegitu besar dan lainnya itu karena siapa. Penggalian
besar-besaran terhadap bumi untuk mengejar minyak fosil, segala macam kandungan
mineral hingga panas bumi termasuk pembabatan hutan tanpa reboisasi. Pada
akhirnya semua itu menyebabkan efek rumah kaca, mengikis lapisan ozon, sehingga
bumi semakin panas mencairkan bongkahan es di dua kutub menyebabkan daratan
semakin mengecil, belum lagi cuaca menjadi ekstrem
Renka : Dahulu
aku hanyalah seorang petani, hari-hari ku ada dikebun tidak melakukan itu
semua. Mengapa aku harus ikut merasakan dampak buruknya? Kalau engkau bisa
jadi, karena kau dulu seorang pejabat pengambil kebijakan dan berkuasa
Lorka : Namun
engkau juga turut menggunakan banyak hal dari itu. Kalau sudah menikmatinya,
maka tak perlu menyalahkan dan membantah ketika harus merasakan dampak buruknya
Renka : Tidak
semuanya karena aku, sebatas apa kekuatan ku dulu dibandingkan kamu. Saat kamu
berkuasa, saat kamu memiliki kekuatan politis adakah berpikir efek yang terjadi
saat ini? Engkau hanya berusaha mementingkan hasrat mu sendiri, mementingkan
keuntungan untuk diri mu dan kolega mu, kata-kata mu memikirkan orang banyak
hanyalah di mulut, hanyalah pemanis agar kedepan kembali dapat berkuasa.
Lorka : Mana
bisa aku memutuskannya sendiri!
Renka : Iya,
tapi engkau mendukung karena tergiur dengan keuntungan. Engkau hidup diruang
sejuk, keluar rumah tanpa terkena debu, tunjuk jari mu menjadi perintah, ucapan
mu menjadi bak titah raja. Sekarang dengan seenaknya engkau menyebut ini
kesalahan kita bersama!
Lorka : Betul,
setidaknya ada sumbangsih kita. Tidak hanya aku, kau dan dia juga ikut jangan
engkau membantah itu! (terdiam sejenak) Belum lagi hasrat manusia menguasai
dunia, hasrat menjadi terdepan, hasrat menjadi satu-satunya terkuat. Maka
berlomba-lomba negara-negara besar menggali bumi tanpa batas, mencari sumber
energi, ketika sudah menipis saat ini? Energi terbarukan juga tidak ada artinya
lagi, dulu kita hanya disibukkan memakai energi kotor yang ciptakan panas
sehingga hancurkan pelapis ozon. Setelah semakin minim, sumber energinya
dikuasai hanya satu pihak. (terpikirkan sesuatu) Apa engkau mengerti apa yang
menyebakan perang?
Renka : Aku
tidak peduli itu, aku hanya paham berkebun
Lorka : Perang
terjadi karena ingin menguasai dan menjadi tak terkalahkan, ya nafsu manusia
untuk mencapai kejayaan. Maka terciptalah senjata-senjata pembunuh dengan alibi
sebagai alat pertahanan diri. Contohnya Nuklir, senjata yang paling berbahaya
di muka bumi. Hanya satu ledakan bisa menghancurkan seluruh isi kota, membunuh
jutaan jiwa, dan memusnahkan ekosistem. Nuklir berbahan dasar Uranium, tidak
semua negara yang buminya terkandung logam tersebut. Akhirnya dengan segala
cara untuk menguasainya melalui pendekatan politis, ekonomi, sosial dan
sebagainya. Ketika berhasil maka penggalian besar-besaran terjadi, itu berefek
pada alam, kini kita merasakan dampak itu.
Renka : Tapi
kita tidak ada peperangan
Lorka : Semakin
canggih pengetahuan, perang tidak selamanya ditandai dengan ledakan atau
senjata kimia, bisa juga dengan senjata biologis.
Renka : Kamu
udah mirip Arka, pengkhayal
Lorka : Maksud
mu
Renka : Kisah
perang, itu sudah masa lalu
Lorka : (tersenyum)
perang tidak selama fisik ada juga non fisik, perang teknologi tanpa ledakan
dan korban jiwa langsung namun melemahkan perekonomian, melumpuhkan pertahanan.
Sehingga menyebabkan kemiskinan, kelaparan akhirnya kematian secara perlahan.
Saat ini hanya ada penguasa tunggal di bumi, bersama pasukan robot yang
canggih.
Renka : Jika
ingin melemahkan pasukan itu, hanya ada satu cara yaitu meruntuhkan puncak
pemimpin, sang raja, sang kaisar tertinggi
Lorka : (tertawa)
ternyata kau juga sama dengan Arka, khayalan mu mustahil (mendengar sesuatu)
diam ada yang berjalan dibalik dinding
Renka : (termenung)
Kita kembali ke zaman batu, terkuat berkuasa, mereka bersiap menjadi Tuhan
Lorka : Kita
bisa berkata apa saat ini, kecuali berusaha bertahan hidup
Arka : Bumi
telah hitam, langit tak lagi cerah, lautan membiru sepi, udara menjadi pencekik
manusia
Renka : Hentikan
kata-kata bias mu melontarkan makna ganda! Sibuk saja memikirkan nilai-nilai
estetik, bersandiwara dalam setiap ucapan. Apa mata mu sudah buta, tidak
melihat realita saat ini,? kita di tahun 2077 Bung! (bersuara keras) Tidak ada
penonton disini jangan berharap tepuk tangan.
SIRINE
BERBUNYI KENCANG
Lorka : Pakai
kaca mata dan penutup hidung segera
Arka : Padamkan
Listrik
TAK LAMA SIRINE KEMBALI MENGHILANG
Arka : Nyalakan
Listrik! Hidup sepenuhnya sandiwara, sebatas mata tersilap dalam keindahan,
sebatas mimpi.
Renka : Cukup,
kau terlalu sibuk dengan dunia mu sendiri. Pernahkah kau berpesan pada penonton
mu akan tragedi saat ini dan akan datang? Padahal penonton mu mulai dari mereka
yang ingusan hingga tua bangka, mulai para kaum pailit hingga elit, mulai dari
awam hingga pejabat
Arka : Hanya
Tuhan penguasa sekalian alam yang memegang rahasia akan datang
Renka : Tapi
ingat daya imajinasi mu, seharusnya mampu menembus waktu, menembus ruang,
menembus diluar logika. Bahkan memanusiakan manusia menjadi efek akhir, dengan
begitu kehalusan rasa, sensitif terhadap alam, lingkungan sosial akan terpupuk.
Nyatanya kau mengejar kesenangan batin, ya hanya untuk diri mu sendiri
Arka : kau
salah menilai ku
Renka : Kau
merasa puas terhadap tepuk tangan semu, senang berada diantara pujian bahkan
makian
Lorka : Hentikan
Renka!
Renka : Kalian
berdua memiliki peran besar, aku hanyalah pengais rezeky dibawah terik untuk
sesuap nasi bukan dibalik meja nyentrik lalu menghabiskannya diantara lampu
gemerlap
Arka : (Marah)
kau menilai tanpa melihat, kau menghujat tanpa mendengar, Aku terus memberikan
pesan kepada penonton walau kecil tapi jelas mengingatkan mereka atas tragedi
hari ini dan akan datang. Aku sibuk dengan dunia sendiri namun ada penonton
didepan ku, ada yang dia dengar, rasakan dan lihat! Mustahil satu persen saja
pesan tak diingatnya, satu persen berarti dan itu memberikan manfaat. Kau hanya
memikirkan perut sendiri, tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Hanya
protes saat merasa rugi, diam saat mendapatkan jatah, berceloteh jika tak
dilibatkan, bungkam saat diuntungkan. Jelas semua retorika mu juga sandiwara,
juga palsu demi nafsu
Renka : Iya
wajar aku hanyalah seorang petani dan berkebun di lahan sendiri
Arka : Petani?
(tertawa) berkebun di lahan sendiri, atau berkebun di punggung kami?
Renka : Tuduhan
kasar dan tidak mendasar, kau sudah kelewatan (marah dan akan memukul Arka)
Lorka : Berhenti!
Jangan merasa paling tersakiti, merasa bersih, merasa benar, kita semua
bersalah, paham! Apapun kita dahulu, tidak melihat kah? Kita berada di tahun
2077 bukan 1997, kini Robot menjadi penegak hukum, sistem menjadi kitab dan
mesin telah menjadi Tuhan.
Renka : Mereka
yang salah bukan kita
Lorka : Tak
perlu lagi menyalahkan, tak ada gunanya, intinya adalah kesombongan dan
angkuhnya manusia
Renka : Kita
kini bahkan tak bisa lagi melihat keluar, tak lagi bisa duduk bersantai di
taman sembari mendengar kicauan burung, tak lagi bisa menyaksikan deburan ombak
dan menikmati hangatnya mentari serta sejuknya hembusan angin pantai
Arka : Bertahan
disini, mempertahankan ruang ini membosankan namun inilah cara supaya kita bisa
bertahan hidup, terpaksa kita genggam bara api
Renka : Masih
saja mengkhayal kau Arka (melempar suatu benda ke dinding)
SIRINE
BERBUNYI KENCANG DAN SUARA DESINGAN MENYERUPAI PESAWAT
Lorka : Pakai
kaca mata dan penutup hidung segera
Arka : Padamkan
Listrik
LANGKAH
KAKI BERGEROMBOL DAN PINTU DIKETUK KERAS, SEMENTARA LORKA, ARKA, RENKA HANYA
BERDIAM DIRI TANPA SUARA. KETUKAN MENGHILANG LANGKAH KAKI MENJAUH, LALU KEMBALI
SUNYI
Arka : Nyalakan
listrik
Lorka : Lihat
perbuatan mu, kita hampir saja terdeteksi dan ketahuan. Ingat jangan
menimbulkan suara terlalu keras terutama adanya benturan benda, sirine akan
berbunyi.
Renka : Lebih
dari penjara!
Lorka : Bisa
bilang apa?
Renka : Tak
boleh bersuara keras, tak bisa membuka jendela, tak boleh ada benturan benda
Lorka : Semua
ini kita yang membangunnya, kita yang membuatnya menjadi sangat kokoh, kitalah
penyebab, kita juga penerima akibat
Arka : Ku
tuang garam di cawan nestapa hingga meruah, di altar pembaringan sang durga,
yang menyeringai gelap, menerawang. Angkara bukan salah ku, luka menganga,
goresan gurat yang tersentuh bencana
Renka : Aku
muak dengan khayalan mu
Arka : gelap
bukan di malam hari, duduk di taman merindu kicau burung, berbaring di pinggir
pantai tanpa ombak, berjalan di gurun yang kehilangan desiran angin
Renka : (mendekati
Arka) Pengkhayal seperti mu tak perlu lagi hidup, kita butuh tindakan nyata
bukan hanya sekedar kata (mencekik Arka)
Lorka : Hentikan
Renka!
KERIBUTAN
TERUS BERLANGSUNG, RENKA TIDAK MELEPASKAN ARKA SAMBIL MEMEGANG SATU BENDA.
AKHIRNYA LORKA EMOSI YANG TIDAK TERTAHANKAN, DIA MENGHANCURKAN SERTA
MELEMPARKAN PROPERTY AGAR RENKA BERHENTI
RENKA
TAK PEDULI, MENYEBABKAN SIRINE BERBUNYI KERAS DAN SOROTAN CAHAYA, TERLIHAT
RENKA DAN ARKA MEMEGANG BENDA KERAS
Arka : (berteriak)
akulah hidup tersembunyi dari rasa seduhannya, terbuai dari aroma kehitamannya
CAHAYA SEMAKIN TERANG, DAN LEDAKAN KERAS
FADE OUT
T A M A T
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom