Tuesday, July 8, 2025

Apa Jadinya Hutan Tanpa Satwa Liar?


BICARA LINGKUNGAN
Sekelompok pengamat burung bergerak pelan, melewati jalan setapak curam di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), wilayah Kampung Citalahab, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.


Ratu Karenina (20), mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, IPB University, salah satunya. Untuk menuju wilayah ini, dia dan peserta menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Bogor ke kawasan konservasi seluas 113.357 hektar.

“Saya mendeskripsikan cuaca, habitat, bahkan menggambar burung langsung,” ujarnya, pada field trip Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) XII, Jum’at (27/6/2025).

Yulia Endah, pustakawan yang aktif di komunitas pengamat burung sejak 2008, mengatakan pengamatan burung merupakan jembatan sosial yang menyatukan banyak orang dalam kesamaan minat. Tak ada batasan usia, profesi, atau keahlian teknis.

Momen mengesankan bagi dirinya adalah melihat beberapa jenis burung liar yang selama ini hanya dikenal melalui gambar. Sebut saja luntur harimau (Harpactes oreskios), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), dan takur tohtor (Megalaima armillaris).

Satwa liar di Indonesia, termasuk burung, banyak jumlahnya. Ini bisa jadi jendela pendidikan siswa,” jelas Yulia, yang telah menulis tiga buku cerita anak bertema lingkungan.

Macan tutul jawa yang hidup di habitatnya, kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Semangat akar rumput

Aris Hidayat, penggerak PPBI XII mengatakan, yang membedakan pertemuan ini dengan forum konservasi lain adalah semangat akar rumputnya.

“Kami tinggal di homestay warga, konsumsi dari dapur ibu-ibu kampung. Kami percaya, bila bicara konservasi, masyarakat harus diibatkan sejak awal.”

Model penyelenggaraan seperti ini, bukan hanya logistik atau efisiensi, namun soal prinsip, bahwa konservasi tidak boleh menjadi ruang eksklusif.

“Harus membumi, membaur, dan menjadi bagian keseharian masyarakat.”

Meski dilakukan sukarela, dampak kegiatan ini nyata. Misalnya, lomba pengamatan 6 bulan lalu menghasilkan lebih dari 14.000 checklist burung dari 245 peserta. Data ini bisa diakses publik tanpa bayar.

“Ini data cuma-cuma, tapi sangat bernilai. Pemerintah kalau mau mendata burung sampai 1.200 jenis, butuh dana besar. Kami lakukan dengan senang hati, gotong royong,” ujarnya.

PPBI kali ini mengangkat tema Citizen Science, Illegal Trade, One Health, dan konservasi burung berbasis masyarakat. Para peserta sepakat menghidupkan kembali dan menggerakkan Amaturalist ─yang sebelumnya dikenal sebagai Foto Biodiversitas Indonesia (FOBI)─ serta Journal of Indonesian Natural History (JINH) sebagai wadah kemandirian data dan publikasi.

Wiwik uncuing yang terpantau di TNGHS. Foto: Dok. Ari Noviono

 

Budhi Chandra, Kepala Balai TNGHS menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dalam mengampanyekan perlindungan burung dan satwa liar di kawasan taman nasional. Pihaknya tengah mengembangkan program relawan JAWARA, akronim ‘Jaga Alam Wanaraya’.

“Kegiatan ini mengintegrasikan para relawan konservasi dari berbagai bidang, baik pengamat burung, pendaki gunung, pemerhati primata, hingga pemantau macan tutul.”

Jenis burung yang ditemukan di Citalahab, TNGHS, dibuat dalam bentuk ilustrasi. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Hutan tanpa satwa liar

Sunarto, ahli ekologi satwa liar dan Co-Chair International Union for Conservation of Nature (IUCN) Indonesia Specialist Group, menjelaskan pentingnya satwa liar bagi kelangsungan hutan.

“Hutan adalah hasil dan proses kerja tim yang lengkap, antara tumbuhan dan satwa. Kalau tidak ada satwa liar, hutan tidak berfungsi lagi,” terangnya, Senin (7/7/2025).

Satwa liar, seperti burung, punya banyak tugas penting di hutan. Mereka penyerbuk bunga dan penebar benih. Ada juga satwa dan jasad renik yang berperan menguraikan sisa-sisa organik agar nutrisi tanah tetap terjaga dan tersedia bagi tumbuhan.

“Tanpa bantuan ini, pertumbuhan pohon dan regenerasi hutan akan terganggu.”

Pengamatan burung merupakan jembatan sosial yang menyatukan banyak orang dalam kesamaan minat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Ekosistem hutan itu seperti sebuah kendaraan, bisa mobil atau kapal besar.

“Setiap spesies satwa adalah mur atau baut kecil yang penting. Jika satu atau dua mur hilang, mobil masih jalan. Tapi jika banyak yang hilang, apalagi bagian kunci, kendaraan bisa mogok total atau terlibat kecelakaan. Andai burung hilang, maka tanaman akan kesulitan berkembang. Ini mengganggu rantai makanan dan keseimbangan ekosistem keseluruhan.”

Hutan TNGHS merupakan habitatnya satwa liar yang sangat penting bagi kelestarian hutan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Menurut Sunarto, dampak kerusakan hutan dan hilangnya satwa liar tidak selalu terasa dalam waktu singkat. Akan dirasakan jauh di masa depan, menjadi beban generasi anak-cucu.

“Padahal, manusia dengan populasi sekitar delapan miliar di Bumi, sangat bergantung pada hutan untuk mendapatkan oksigen, air bersih, dan iklim yang stabil.”

Jika manusia menyadari posisinya dalam sistem alam dan bersedia memperbaiki perannya, maka manusia bisa menjadi bagian dari solusi. Bukan sebagai sumber masalah.

“Sudah semestinya, manusia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, namun juga aktif merawat dan menjaga keberlangsungan ekosistem lingkungan,” tegasnya.







Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com