Friday, July 25, 2025

Namanya Ular Kucing, Bagaimana Bentuknya?


BICARA LINGKUNGAN
Warna tubuhnya bervariasi. Mulai merah menyala, oranye cerah, hingga cokelat kemerahan. Gerakannya anggun di antara pepohonan dengan panjang satu meter lebih. Namun di balik penampilannya yang memikat dan menawan, ular ini memiliki nama umum yang unik dan juga menarik perhatian; ular kucing kepala gelap atau ular kucing merah (Boiga nigriceps).

Julukan ular kucing atau Black-Headed Cat Snake, merujuk pada salah satu ciri fisiknya yang paling khas, yakni bentuk pupil matanya yang vertikal atau elips. Ini sangat mirip dengan pupil mata kucing, terutama siang hari atau dalam cahaya terang.

Julukan ini juga merupakan interpretasi paling umum dan diterima di kalangan herpetolog. Apalagi, pupil ular ini dapat menyempit menjadi celah vertikal tipis saat terpapar cahaya terang siang hari dan melebar sempurna membentuk lingkaran besar di malam hari.

“Adaptasi visual ini sangat efisien untuk hewan nokturnal, memungkinkan mereka melihat dengan baik dalam kondisi minim cahaya. Sekaligus, melindungi mata dari silau berlebihan,” ungkap Fujishima, dkk, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Herpetology Notes.

Secara taksonomi, ular kucing termasuk dalam Famili Colubridae dan Genus Boiga. Nama ilmiah nigriceps berasal dari Bahasa Latin, yaitu niger (hitam) dan caput (kepala), mengacu pada beberapa spesimen yang memiliki kepala berwarna lebih gelap atau bahkan hitam. Kondisi ini menunjukkan variasi warna yang ada dalam spesies ini, meskipun nama umum “ular kucing merah” lebih sering digunakan karena dominasi individu berwarna merah atau oranye di alam.

Ular ini merupakan jenis Boiga nigriceps. Foto: Wikimedia Commons/Rushenb/CC BY-SA 4.0

 

Gaya hidup arboreal

Ular kucing merah adalah ular ramping yang dapat mencapai panjang total hingga 175 cm. Genus Boiga merujuk pada sekelompok ular yang umumnya arboreal dan nokturnal, yang berarti mereka aktif malam hari dan menghabiskan sebagian besar waktunya di pohon. Gaya hidup ini memungkinkan mereka untuk menjelajahi berbagai tingkat ketinggian hutan.

Hasil penelitian Fujishima, dkk melalui studi radiotelemetri yang dilakukan di Taman Nasional Kubah, Sarawak, Malaysia, menunjukkan bahwa 91% dari lokasi ular yang terlacak berada di atas tanah, yang menjelaskan mengenai dominasi hidup arboreal mereka. Rata-rata, perpindahan harian kedua ular yang dipantau berkisar antara 23,6 hingga 29 meter per hari. Artinya, mereka pemburu yang aktif bergerak di antara pepohonan.

Studi tersebut juga mengungkapkan pola penggunaan ketinggian berbeda antara siang dan malam. Siang hari, hanya 20% dari lokasi ular berada di bagian bawah hutan (kurang dari 3 meter di atas tanah). Namun, saat malam, angka ini melonjak menjadi 62%. Para peneliti menduga bahwa kecenderungan berada di lapisan bawah pada malam hari berkaitan erat dengan distribusi mangsa amfibi.

“Ular kucing ini ketika diteliti isi perutnya, ternyata dua di antaranya ditemukan berisi katak pohon Harlequin (Rhacophorus pardalis). Bahkan satu ular menelan dua ekor katak, sementara yang lain menelan satu,” ungkap para peneliti.

Temuan ini sangat relevan karena katak pohon Harlequin diketahui sebagai spesies melimpah di area studi dan katak jantan sering berkumpul di vegetasi rendah (1-3 meter di atas tanah) di sekitar lokasi pemijahan malam hari. Ini mengindikasikan, pergeseran ular kucing merah ke lapisan bawah hutan di malam hari adalah strategi berburu yang cerdas, menargetkan sumber makanan tersedia melimpah pada waktu dan tempat yang tepat.

Studi ini juga menyoroti bagaimana spesies ini sangat bergantung pada ketersediaan mangsa tertentu di habitat lokal mereka, yang memiliki diet generalis mencakup reptil, burung, dan mamalia kecil.

Ular ular kucing merah (Boiga nigriceps) tersebar di Asia Tenggara. Foto: Wikimedia Commons/Rushenb/CC BY-SA 4.0

 

Jenis ular berbisa

Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, distribusi ular ini adalah Asia Tenggara, seperti kepulauan Indonesia bagian tengah hingga barat, ditemukan di dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 1000 m dpl. Persebarannya, untuk wilayah Indonesia timur, diketahui hanya ditemukan di Ambon, Maluku. Namun temuan terbaru menunjukan bahwa ular ini juga ada di Malagufuk, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Dijelaska Hari, meskipun ular kucing merah jenis berbisa, namun gigitannya jarang menghasilkan efek merugikan pada manusia karena sistem penyebaran racunnya kurang efektif. Ular kucing merah memiliki bisa menengah, yang dapat menyebabkan pusing dan pembengkakan. Meski gigitannya jarang mengakibatkan efek serius, disarankan untuk tetap berhati-hati dan segera membersihkan luka jika terjadi gigitan.

“Secara umum, ular kucing merah tidak agresif terhadap manusia dan cenderung menghindari interaksi. Mereka lebih suka bersembunyi atau melarikan diri ketika merasa terganggu. Namun, jika merasa terancam dan tidak ada jalan keluar, beberapa spesies ular kucing dapat menggigit sebagai upaya pertahanan,” ujar Hari kepada Mongabay Indonesia, Selasa (22/7/2025).

Ketika merasa terganggu, ular ini biasanya memilih untuk menjauh atau bersembunyi di dedaunan, alih-alih melawan.

“Mereka biasanya defensif, tidak mencari masalah dan lebih memilih melarikan diri jika memungkinkan. Ini menjadikan ular kucing relatif aman dan jarang menimbulkan bahaya bagi manusia,” paparnya.







Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com