Friday, July 25, 2025

Novel: Love on the Second Read


BICARA LITERASI
- Tak semua kisah cinta bermula dari tempat romantis seperti kafe senja atau perjalanan liburan. Ada pula cinta yang tumbuh perlahan dari ruang kerja, di antara meja rapat dan tumpukan dokumen.


Interaksi yang awalnya hanya berupa diskusi profesional, bisa berubah menjadi persaingan yang menggugah emosi, lalu bertransformasi menjadi hubungan yang lebih personal. Dari saling menyindir hingga saling memperhatikan, hubungan yang terjalin di kantor sering kali menghadirkan dinamika yang unik—terutama ketika dua orang yang berbeda pandangan harus bekerja dalam satu proyek penting.


Dalam konteks ini, sebuah novel karya Mica De Leon hadir menyuguhkan kisah romansa yang tidak hanya manis, tetapi juga menghibur. Ceritanya berpusat pada Emma dan Kip, dua editor dari genre yang sangat berbeda tapi dipaksa untuk bekerja sama demi menyelamatkan perusahaan penerbitan tempat mereka bernaung.


Judul: Love on the Second Read

Penulis: Mica De Leon

Penerjemah: Harisa Permatasari

Penyunting: Francisca Ratna

Pemeriksa Aksara: Jia Effendie

Penata Isi: Kirana Putri Ersapranu

Ilustrasi Isi: Hastapena, vecteezy.com, freepik.com

Perancang sampul: Hastapena


***


Kehidupan Emma berkisar seputar kisah romansa. Bagaimanapun ini pekerjaan impian Emma, menerbitkan novel romansa sebagai mata pencaharian. Ia hanya tidak menyangka ternyata pekerjaan ini akan sangat melelahkan (dan tidak mendatangkan kekayaan). (hlm. 20)


Kutu buku memiliki banyak tampilan berbeda, kebiasaan berbeda, bentuk, wujud, nama, dan kepribadian berbeda. Satu-satunya kesamaan yang mereka miliki adalah hasrat membara terhadap hal yang paling mereka sukai--biasanya hal yang selalu siap menemani di saat mereka sangat membutuhkan pertolongan. (hlm. 66)


Kip tidak mau bermain kecuali ia yakin akan menang. Ia hanya bersedia memperjuangkan hal-hal yang sangat ia sukai, yaitu buku. (hlm. 71)


"Penerbit tradisional di negara yang tidak sanggup membeli buku sama saja dengan memakai sweter ke pantai. Mungkin terlihat manis. Mungkin akan menyelamatkan kulitmu agar tidak terbakar matahari, tapi jelas-jelas tidak nyaman." (hlm. 114)


"Akhir bahagia. Romansa adalah kisah cinta yang selalu, kutekankan, selalu, memiliki akhir bahagia." (hlm. 123)


Begitu banyak cara berbeda untuk membunuh sosok yang kita cintai. Cara paling perlahan untuk melakukannya adalah tidak pernah mencintai mereka secara layak. Dan mengabaikan kenyataan itu tidaklah mudah. (hlm. 131)


***


Emma dikenal sebagai editor lini romansa yang punya prinsip kuat terhadap kisah cinta yang indah dan mengharukan. Sementara Kip adalah editor fiksi ilmiah dan fantasi yang skeptis terhadap realita romantis. Mereka bekerja di ruangan yang sama, tapi hidup dalam genre yang sangat berbeda.


Persaingan antara Emma dan Kip terasa menyenangkan bagi pembaca. Alih-alih konflik besar yang dramatis, hubungan mereka dipenuhi sindiran tajam dan adu strategi kecil yang lucu.


Awalnya, mereka tampak seperti dua orang yang tidak akan pernah bisa akur, tapi ada semacam ketegangan manis yang tumbuh dalam setiap perdebatan mereka. Situasi mulai berubah ketika mereka diberi tugas untuk menggarap naskah lintas genre dari seorang penulis terkenal bernama Amora—naskah yang menggabungkan unsur roman, fiksi ilmiah, dan fantasi.


Tantangan profesional ini menuntut mereka untuk saling berkompromi. Emma yang selama ini terbiasa dengan kisah cinta penuh harapan harus mulai memahami logika dunia fiksi spekulatif.


Sementara Kip yang sinis terhadap kisah romantis terpaksa membuka pikirannya untuk melihat nilai-nilai emosional dalam cerita cinta. Dari sini, dinamika mereka berkembang menjadi lebih dalam, karena mereka bukan hanya berdiskusi soal isi buku, tapi juga belajar mengenali sudut pandang dan luka batin masing-masing.


Yang membuat kisah ini terasa menyentuh adalah bagaimana penulis menyisipkan latar belakang emosional dari kedua tokoh utama. Emma, misalnya, masih dibayangi oleh masa lalunya dengan mantan kekasih yang kini kembali muncul di sekelilingnya.


Sementara Kip juga menyimpan keraguan sendiri terhadap komitmen dan hubungan yang lebih dari sekadar profesional. Ini bukan sekadar kisah dua orang yang saling jatuh cinta, tetapi tentang dua manusia yang sama-sama terluka dan berusaha memberi ruang bagi perasaan baru untuk tumbuh.


Salah satu keunikan novel ini adalah bagaimana dunia buku tidak hanya menjadi latar, tetapi juga bagian penting dari narasi. Setiap bab diawali dengan kutipan literatur yang relevan dengan isi cerita. Serta ada gambaran tentang dampak pandemi terhadap industri penerbitan buku, serta strategi yang diusahakan untuk kembali bangkit. 


Bahkan dalam dialog antara Emma dan Kip, pembaca akan menemukan adu kutipan dan referensi sastra yang menyenangkan untuk disimak. Bagi pecinta buku, detail ini menjadi nilai tambah tersendiri. Rasanya seperti masuk ke dalam dunia penerbitan yang sebenarnya, lengkap dengan segala tantangannya, kerumitannya, dan tentu saja romansanya.


Penulis juga dengan cermat membahas isu penting tentang genre dan batasan dalam dunia sastra. Melalui proyek yang digarap Emma dan Kip, kita seakan diajak merenungkan pentingnya tidak membatasi diri pada satu label atau klasifikasi. Meski dalam dinamika hubungan Emma dan Kip ada hal-perasaan dan pemahaman yang sepertinya masih perlu diselami lebih dalam tanpa harus membuat mereka mengambil kesimpulan sendiri.


Hanya saja seperti dalam hubungan mana pun, tidak semua berjalan mulus. Meski kedekatan mereka semakin nyata, Kip tetap merasa ragu. Ia khawatir akan bayangan masa lalu Emma, terutama karena mantan kekasih Emma masih terus hadir di sekitar mereka.


Rasa ragu mulai merayap, dan keduanya harus menghadapi kenyataan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga keberanian untuk membuka hati dan mengambil risiko. Di sinilah kekuatan novel ini: memperlihatkan bahwa cinta yang tumbuh perlahan di tengah keraguan justru bisa menjadi yang paling kuat dan berarti.


Trope "dari benci jadi suka" (enemies to lovers) dipadukan dengan "office romance" membuat cerita ini terasa akrab namun tetap segar. Tambahan latar dunia penerbitan yang jarang diangkat secara detail dalam kisah romansa menjadikan Love on the Second Read memiliki karakter tersendiri. Hanya saja rasanya akan lebih apik apabila sentuhan budaya Filipina diperbanyak sehingga nuansanya akan terasa lebih menawan.


Di setiap perdebatan Emma dan Kip, ada pertumbuhan emosi yang menarik. Perjalanan mereka tidak hanya membawa pembaca ke dalam kisah cinta, tetapi juga ke dalam proses memahami diri sendiri dan orang lain.


Love on the Second Read, novel ini juga menghadirkan refleksi sastra yang menarik, serta karakter-karakter yang terasa hidup dan nyata. Hubungan Emma dan Kip berkembang dengan ritme yang cukup dinamis.


Setiap konflik, percakapan, dan perubahan sikap terasa logis dan bisa dipahami. Jika mencari cerita cinta yang tidak hanya menghangatkan hati, tapi juga mengajak untuk memahami kedalaman hati dan perasan, maka novel ini bisa jadi pilihan yang menarik.


Sumber: fimela.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com