PUISI Rachman Sabur: BLACKOUT MUNIR
BLACKOUT MUNIR
Namaku Munir
7 September 2005 lalu
aku dibunuh
diracun arsenik
oleh seseorang
di pesawat menuju Amsterdam.
Aku tahu
kenapa diracun.
Aku dianggap membahayakan penguasa negara.
Aku tahu adanya
perselingkuhan politik
kongkalikong kekuasaan
konspirasi busuk
melatar-belakangi
berbagai peristiwa :
Talangsari, penculikan para aktivis, tragedi Mei
1998, penembakan mahasiswa Trisakti,
Semanggi I, Semanggi II,
penembakan petani Alas
Tlongo, Lapindo,
dan lainnya.
Dari Megawati Soekarno
Putri, Susilo Bambang Yudoyono, Joko Widodo,
Prabowo Subianto,
tak seorangpun diantara
para presiden itu
mau menyelesaikan
kasus kematianku.
Aku masih harus menunggu kasus
gelap ini dibukakan
di pengadilan.
Aku masih harus
menunggu para akhli hukum dan para penjaga
keadilan tergerak nuraninya.Tapi entahlah.
Aku tidak banyak berharap. Apakah suatu saat nanti kebenaran
dan keadilan akan menemukan jalannya sendiri?
Atau sampai kiamatpun
kotak pandora itu akan tertutup rapat?
Hanya Tuhan yang tahu.
Aku menuntut
kasus kematianku
bukan untuk aku
bukan pula
untuk keluargaku
tapi untuk bangsaku
untuk negeriku
yang keadaannya memprihatinkan!
Betapa rusaknya
negeri ini!
Andai saja
aku bisa hidup kembali
aku bisa menjelaskan
apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku harus dibunuh?
Aku juga ingin bertanya
kepada mereka.
Kepada polisi
kepada tentara
kepada hakim
kepada jaksa
kepada para mantan presiden
dan kepada presiden
yang sekarang.
Pertanyaanku :
Masih adakah
hukum dan keadilan
bagi rakyat
yang selama ini
ditindas kekuasaan?
Kebiadaban apa lagi
yang akan ditimpakan
kepada rakyat?
Masih belum cukupkah
darah rakyat bersimbah
di tanahnya sendiri?
Kesunyianku semakin panjang dalam gelapnya
hukum dan keadilan
di negeri ini.
Gelap semakin gelap!
2017
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom