Tuesday, July 8, 2025

Qatar: Gencatan Senjata Israel-Hamas Masih Butuh Waktu


BICARA INTERNASIONAL
- Pemerintah Qatar menyatakan pada Selasa (8/7/2025) bahwa negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza masih membutuhkan waktu, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan optimismenya akan adanya terobosan dalam waktu dekat.


"Saya rasa belum bisa menetapkan tenggat waktu saat ini, tetapi yang jelas proses ini masih memerlukan waktu," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, di tengah berlanjutnya negosiasi tidak langsung yang memasuki hari ketiga di Doha, Rabu (9/7/2025).


Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah berada di Washington dalam kunjungan ketiganya ke Gedung Putih sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. Trump sendiri mengaku yakin bahwa kesepakatan dapat segera dicapai. “Saya tidak melihat adanya hambatan besar. Semuanya berjalan cukup baik,” katanya.


Qatar berperan sebagai mediator bersama Amerika Serikat dan Mesir. Fokus pertemuan di Doha saat ini adalah menyusun kerangka kerja negosiasi. Namun, menurut seorang pejabat Palestina yang terlibat dalam pembicaraan, belum ada kemajuan signifikan sejauh ini.


Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan bergabung dalam pembicaraan pekan ini.


Trump menegaskan bahwa Hamas menunjukkan niat untuk mengakhiri konflik. "Mereka ingin bertemu dan mencapai gencatan senjata," ujarnya ketika duduk bersama Netanyahu di Gedung Putih.


Seorang pejabat Israel yang ikut serta dalam delegasi mengatakan, proposal yang sedang dibahas sudah 80–90 persen sesuai dengan kepentingan Israel. Ia juga yakin bahwa dengan tekanan militer dan diplomatik, semua sandera dapat dikembalikan.


Menurut laporan jurnalis Ariel Kahana dari harian Israel Hayom, Trump dan timnya kini tengah bekerja keras untuk merumuskan kesepakatan yang memungkinkan pembebasan sandera dan mengakhiri perang di Gaza.


Namun, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, menentang perundingan tersebut. "Tidak perlu bernegosiasi dengan pihak yang membunuh tentara kita, mereka seharusnya dilenyapkan," tegasnya.


Gedung Putih menyatakan bahwa prioritas utama Presiden Trump di Timur Tengah adalah mengakhiri perang di Gaza dan memulangkan seluruh sandera. Usulan AS mencakup gencatan senjata selama 60 hari, di mana Hamas akan membebaskan 10 sandera hidup serta beberapa jenazah sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina oleh Israel.


Hamas menuntut jaminan tidak dimulainya kembali pertempuran selama negosiasi, penarikan pasukan Israel secara bertahap, serta kembalinya sistem distribusi bantuan kemanusiaan yang dipimpin oleh PBB.


Dari total 251 sandera yang diculik oleh militan Palestina dalam serangan 7 Oktober 2023, masih terdapat 49 orang yang ditahan di Gaza. Menurut militer Israel, 27 di antaranya dipastikan telah meninggal dunia.


Serangan Hamas pada Oktober 2023 menyebabkan 1.219 kematian, sebagian besar warga sipil, menurut data resmi Israel yang dikutip AFP. Sebagai balasan, serangan Israel telah menewaskan setidaknya 57.575 warga Palestina di Gaza, menurut otoritas Kesehatan yang dikelola Hamas. Angka ini diakui keakuratannya oleh PBB.


Sumber: beritasatu.com




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com