Sajak EM Yogiswara: TANAH, AIR, DAN INGATAN
TANAH, AIR, DAN INGATAN
Sajak EM Yogiswara
(1)
Ini hari, Kalbu kembali memberi tuah pada
Tubuh: Yakinlah, semua misteri kehidupan
manusia, tersimpan di tanah. Tanah ibarat
ibu yang tak letih memelihara kegelisahan
debu yang dilahirkan oleh anaknya.
Jejak hitam putih manusia, ditampung
tanah. Tanah juga mewadahi keinginan
manusia. Tanpa tanah, tak ada peradaban.
Tanpa tanah, keseimbangan hidup hilang.
Karenanya, jaga tanah seperti menjaga diri.
Sebab dari tanah kita ada. Tanah memberi
tanpa meminta. Tanah adalah keabadian
manusia. Dari tanah kita kembali ke tanah.
"Artinya manusia memiliki kewajiban menjaga
tanah? Bagaimana kalau manusia melalaikan
tanah?" Resah Tubuh.
Kalbu tersenyum. "Tanah adalah riwayat hidup
manusia. Jejak sejarah manusia yang kelak
jadi saksi hidup manusia dalam menyimpan
kemanusiaan, tentang tangan yang memupuk
benih impian, tentang hati yang memilih dan
memilah perjuangan tanpa lelah. Karenanya,
usah lupakan tanah, sebab tanah adalah jiwa
manusia dalam menjaga peradaban."
"Tanah tempat kuberdiri, kini dilukai tangan
yang mementingkan diri sendiri. Sementara
kami terbiarkan menampung duka. Kemana
kami bisa memisahkan hak dan himpitan
ketidakadilan? Sementara nyawa berjatuhan
di tanah. Tanah adalah ibu, tapi anak-anaknya
terusir. Di mana kemanusiaan jika dilukai atas
nama kekuasaan," keluh Tubuh.
Kalbu yang memaklumi kegelisahan Tubuh,
bergegas mengurai pesan: Tanah ini bukan
sekadar perebutan sejarah, tapi harapan
kemanusiaan. Tanah rumah bagi peradaban
manusia. Ini jika ada manusia yang ingin
memahami asal usul kemanusiaan.
Tanah menyimpan peradaban manusia.
Tanah tak pernah bertanya dan menerima,
siapa yang mengijak dan merusak dirinya.
Tanah tetap menyuburkan peradaban dan
merangkul kemanusiaan yang jatuh. "Tanah
adalah saksi, atas duka dan impian. Dari sana
manusia datang, dan kepada-Nya manusia
pulang. Dari tanah kembali ke tanah,"
"Kenapa manusia masih ada yang merenggut
haknya? Padahal manusia tahu, tanah bukan
tempat pengolahan keinginan, tapi tanah
napas peradaban kemanusiaan," sungut
Tubuh.
Kalbu tersenyum menyimak amarah Tubuh,
lalu kembali menuang tuah: Semua manusia
sebenarnya tahu, bahwa tanah adalah jiwa
manusia. Tempat menyimpan jejak kesedihan
dan kegembiraan tanpa batas. Dari tanah kita
berasal, dan kembali ke tanah.Tapi manusia
sering lengah tuk kembali di pangkuan-Nya.
Padahak, tiap debu yang melekat, di hati kan
menjadi saksi hidup di keabadian-Nya,"
Tubuh diam. Tubuh teringat tangis dan doa
yang jatuh sia-sia, karena lalai memberi hidup
dengan cinta, pada tanah.
"Tanah adalah rumah bagi yang bernyawa.
Peluklah dengan kemanusiaan. Tanah bicara
tanpa suara. Tiap retak suaranya ada kisah
tentang harapan yang tak menyerah. Tanah
mendengar nyanyian hati. Kemanusiaan hadir
dan pergi, jiwa tanah tetap menawarkan
peradaban,"
Dan saat Tubuh mau melemparkan gelisah,
Kalbu kembali menggulirkan pesan: Tanah
mata hati yang senantiasa menanti manusia
tuk menjaga kemanusia, bukan merusak
warisan peradaban tanpa rasa.
(2)
Ini hari pun, Tubuh tak menemukan lumbung
air di kekeringan kehidupan. Padahal, air
adalah rahmat Allah yang tak kan pernah
mengering dan lelah memberikan jiwanya
tuk kehidupan. "Kini kesucian air tak lagi
abadi, karena manusia lalai menjaga
kebeningan jiwanya," tutur Kalbu.
"Lalu dimana ketemui lumbung air?" Resah
Tubuh yang belum menemukan lumbung air,
sementara duka dunia terus meminta Akal
menggali kesedihannya. "Tak kan kau temui
mata air di lumbung gelisah, jika air mata
terus kau urai di kesedihan air. Mata air, setia
menawarkan beningnya, meski keruh dunia
kau hadirkan di sekitarnya," sungut Kalbu
Tubuh terdiam. Dan sebelum Tubuh mencuci
telapak tangan yang terkotori kefanaan dunia,
Kalbu menuang kasih: Kehidupan tanpa air,
tak kan berjalan. Karenanya, tetap alirkan
bening air tuk kehidupan di sekitarmu. Kian
sering diambil air di mata air, mangkin jernih
keberadaan mata air.
Jagalah air sebagaimana kau jaga kesucian
Tubuh. Air bukan sekadar pelepas dahaga,
tapi amanah tuk membersihkan hati. Jangan
cemari yang bening di hulu dari ketamakan.
Sebab setetes air adalah anugerah kehidupan.
"Kuakui tak semua lumbung air kujaga. Sebab,
di sekelilingku, ketamakan menutup mata air
sebagai denyut pertama kehidupan! Dan aku
tak punya kekuatan tuk mengajarkan manusia
menjaga kemanusiaan," kilah Tubuh.
Mendengar dalih Tubuh, Kalbu bergegas
menuang pesan: Jika akal manusia tak hirau
merawat lumbung, air akan kehilangan aliran
arah. Dan perlahan, kemanusiaan mengering.
"Air adalah peradaban kemanusiaan. Di mana
air mengalir, di situ manusia kan membangun
harapan dan belajar membersihkan hati."
"Adakah kisah terjadi jika air lenyap dari
peradaban manusia?"
Mendengar keraguan Tubuh, Kalbu mengurai
tuah: Tak ada air, tak ada cerita. Tak ada
kehidupan yang bercerita tentang do'a, dosa,
gelisah dan riwayat peradaban. Air, lembut
di luar namun menyimpan badai di dalam.
Ketika air menenggelamkan rumah, sawah,
itu karena balasan atas kerakusanmu. Air
bisa memberi hidup, tapi bisa merebutnya
kembali.
Tubuh yang telah merusak hutan, membuka
tambang, mencemari sungai, seketika cemas.
Sebab, sawah, desa, kota, telah tenggelam
oleh ketamakannya. Namun Tubuh masih
mengelak: Banjir bukan karena salahku, tapi
karena air yang melimpah.
Mendengar alasan Tubuh, Kalbu melaknat:
Air mengamuk bukan kutukan, tapi cermin
dari kerakusanmu. Usah salahkan hujan jika
kau telah melubangi langit. Usah salahkan
limbah air yang mengalir enggan mencari
resapan.
"Air hanya tunduk pada titah-Nya. Air taat
menggenangi bumi, dan membawa berkah
bagi manusia yang ingin membersihkan hati
Saat ini, air bersujud dalam sunyi. Menanti
hati yang peduli pada kebersamaan, bukan
tangan-tangan serakah tuk mencemari dunia,
bukan jiwa yang lupa bersyukur."
Karena tak ada lagi belaan Tubuh, Kalbu
menutup tuah: Dulu, di setiap aliran air,
tumbuh peradaban. Kini air masih mengalir,
tapi tak lagi dijaga. Air seolah hanya benda,
bukan jiwa. Air adalah peradaban yang hilang
di hati, karena manusia telah lupa bahwa air
adalah bagian dari dirinya.
Jagalah laut, sungai, dan dirimu, seperti kau
memelihara do'amu. Sebab semua ketentuan
itu adalah titipan, bukan milikmu selamanya.
Sebab, jika sumber air mu mengering, siapa
yang kan memberimu air. Sementara badai
berbatu mencoba menutup lubuk air mu.
(3)
Tanah menyimpan jejak petani. Dari sebutir
benih, tertanam kehidupan. Sementara air
membasuh peradaban. Tanpa tanah, tak ada
tanaman. Tanpa air, sawah tiada. Jika semua
tiada, yang tertuang adalah ingatan. Tentang
tanaman, tentang doa peradaban di setiap
panen.
Kelak, pangan jadi kisah debu yang bertahan
di tanah yang pernah diwariskan air. Esok,
tanah tinggal cerita yang menghapus jejak
dan keringat petani. Di masa mendatang, air
tinggal kenangan yang mengering di aliran
sawah dan sungai. Karenanya, sebelum
kenangan menjelma jadi ingatan, rawatlah
sisa tanah dan air di bumi.
Bila semua jadi ingatan, akankah Akal sadar
dan merindu tuk memperbaiki retak tanah,
membuka lumbung agar riak air mengalir
dan menyapa sawah? Hanya kemanusiaan
yang bisa mengubah kelalaian manusia, agar
esok tanah, air, tak menjadi ingatan.
Teater Air Jambi, 05042025
Catatan:
Sajak Tanah, Air, Ingatan ada di Himpunan Sajak CAHAYA TUBUH (halaman 11, penerbit JBS, Juli 2025)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom