Friday, July 18, 2025

Sajak EM Yogiswara: TANAH, AIR, DAN INGATAN


TANAH, AIR, DAN INGATAN

Sajak EM Yogiswara


(1)


Ini hari, Kalbu kembali memberi tuah pada 

Tubuh: Yakinlah, semua misteri kehidupan

manusia, tersimpan di tanah. Tanah ibarat

ibu yang tak letih memelihara kegelisahan 

debu yang dilahirkan oleh anaknya. 


Jejak hitam putih manusia, ditampung 

tanah. Tanah juga mewadahi keinginan

manusia. Tanpa tanah, tak ada peradaban.

Tanpa tanah, keseimbangan hidup hilang. 


Karenanya, jaga tanah seperti menjaga diri. 

Sebab dari tanah kita ada. Tanah memberi

tanpa meminta. Tanah adalah keabadian

manusia. Dari tanah kita kembali ke tanah. 


"Artinya manusia memiliki kewajiban menjaga

tanah? Bagaimana kalau manusia melalaikan

tanah?" Resah Tubuh. 


Kalbu tersenyum. "Tanah adalah riwayat hidup

manusia. Jejak sejarah manusia yang kelak

jadi saksi hidup manusia dalam menyimpan

kemanusiaan, tentang tangan yang memupuk

benih impian, tentang hati yang memilih dan

memilah perjuangan tanpa lelah. Karenanya,

usah lupakan tanah, sebab tanah adalah jiwa

manusia dalam menjaga peradaban."


"Tanah tempat kuberdiri, kini dilukai tangan

yang mementingkan diri sendiri. Sementara

kami terbiarkan menampung duka. Kemana 

kami bisa memisahkan hak dan himpitan

ketidakadilan? Sementara nyawa berjatuhan

di tanah. Tanah adalah ibu, tapi anak-anaknya

terusir. Di mana kemanusiaan jika dilukai atas

nama kekuasaan," keluh Tubuh. 


Kalbu yang memaklumi kegelisahan Tubuh,

bergegas mengurai pesan: Tanah ini bukan

sekadar perebutan sejarah, tapi harapan

kemanusiaan. Tanah rumah bagi peradaban

manusia. Ini jika ada manusia yang ingin

memahami asal usul kemanusiaan. 


Tanah menyimpan peradaban manusia. 

Tanah tak pernah bertanya dan menerima,

siapa yang mengijak dan merusak dirinya.

Tanah tetap menyuburkan peradaban dan

merangkul kemanusiaan yang jatuh. "Tanah

adalah saksi, atas duka dan impian. Dari sana

manusia datang, dan kepada-Nya manusia

pulang. Dari tanah kembali ke tanah,"


"Kenapa manusia masih ada yang merenggut 

haknya? Padahal manusia tahu, tanah bukan

tempat pengolahan keinginan, tapi tanah

napas peradaban kemanusiaan," sungut

Tubuh. 


Kalbu tersenyum menyimak amarah Tubuh, 

lalu kembali menuang tuah: Semua manusia

sebenarnya tahu, bahwa tanah adalah jiwa

manusia. Tempat menyimpan jejak kesedihan

dan  kegembiraan tanpa batas. Dari tanah kita

berasal, dan kembali ke tanah.Tapi manusia

sering lengah tuk kembali di pangkuan-Nya. 

Padahak, tiap debu yang melekat, di hati kan

menjadi saksi hidup di keabadian-Nya,"


Tubuh diam. Tubuh teringat tangis dan doa

yang jatuh sia-sia, karena lalai memberi hidup

dengan cinta, pada tanah. 


"Tanah adalah rumah bagi yang bernyawa.

Peluklah dengan kemanusiaan. Tanah bicara

tanpa suara. Tiap retak suaranya ada kisah

tentang harapan yang tak menyerah. Tanah

mendengar nyanyian hati. Kemanusiaan hadir

dan pergi, jiwa tanah tetap menawarkan

peradaban,"


Dan saat Tubuh mau melemparkan gelisah, 

Kalbu kembali menggulirkan pesan: Tanah

mata hati yang senantiasa menanti manusia

tuk menjaga kemanusia, bukan merusak

warisan peradaban tanpa rasa.


(2) 


Ini hari pun, Tubuh tak menemukan lumbung

air di kekeringan kehidupan. Padahal, air

adalah rahmat Allah yang tak kan pernah 

mengering dan lelah memberikan jiwanya

tuk kehidupan. "Kini kesucian air tak lagi

abadi, karena manusia lalai menjaga

kebeningan jiwanya," tutur Kalbu. 


"Lalu dimana ketemui lumbung air?" Resah

Tubuh yang belum menemukan lumbung air,

sementara duka dunia terus meminta Akal

menggali kesedihannya. "Tak kan kau temui

mata air di lumbung gelisah,  jika air mata

terus kau urai di kesedihan air. Mata air, setia

menawarkan beningnya, meski keruh dunia

kau hadirkan di sekitarnya," sungut Kalbu


Tubuh terdiam. Dan sebelum Tubuh mencuci

telapak tangan  yang terkotori kefanaan dunia,

Kalbu menuang kasih:  Kehidupan tanpa air,

tak kan berjalan. Karenanya, tetap alirkan

bening air tuk kehidupan di sekitarmu. Kian

sering diambil air di mata air, mangkin jernih

keberadaan mata air.


Jagalah air sebagaimana kau jaga kesucian

Tubuh. Air bukan sekadar pelepas dahaga,

tapi amanah tuk membersihkan hati. Jangan

cemari yang bening di hulu dari ketamakan. 

Sebab setetes air adalah anugerah kehidupan. 


"Kuakui tak semua lumbung air kujaga. Sebab, 

di sekelilingku, ketamakan menutup mata air

sebagai denyut pertama kehidupan! Dan aku

tak punya kekuatan tuk mengajarkan manusia

menjaga kemanusiaan," kilah Tubuh.


Mendengar dalih Tubuh, Kalbu bergegas

menuang pesan: Jika akal manusia tak hirau

merawat lumbung, air akan kehilangan aliran

arah. Dan perlahan, kemanusiaan mengering.

"Air adalah peradaban kemanusiaan. Di mana

air mengalir, di situ manusia kan membangun

harapan dan belajar membersihkan hati." 


"Adakah kisah terjadi jika air lenyap dari

peradaban manusia?" 


Mendengar keraguan Tubuh, Kalbu mengurai

tuah: Tak ada air, tak ada cerita. Tak ada

kehidupan yang bercerita tentang do'a, dosa,

gelisah dan riwayat peradaban. Air, lembut 

di luar namun menyimpan badai di dalam. 

Ketika air menenggelamkan rumah, sawah,

itu karena balasan atas kerakusanmu. Air

bisa memberi hidup, tapi bisa merebutnya

kembali.


Tubuh yang telah merusak hutan, membuka

tambang, mencemari sungai, seketika cemas. 

Sebab, sawah, desa, kota, telah tenggelam

oleh ketamakannya. Namun Tubuh masih

mengelak: Banjir bukan karena salahku, tapi

karena air yang melimpah.


Mendengar alasan Tubuh, Kalbu melaknat:

Air mengamuk bukan kutukan, tapi cermin

dari kerakusanmu. Usah salahkan hujan jika

kau telah melubangi langit. Usah salahkan

limbah air yang mengalir enggan mencari

resapan. 


"Air hanya tunduk pada titah-Nya. Air taat

menggenangi bumi, dan membawa berkah

bagi manusia yang ingin membersihkan hati

Saat ini, air bersujud dalam sunyi. Menanti

hati yang peduli pada kebersamaan, bukan

tangan-tangan serakah tuk mencemari dunia,

bukan jiwa yang lupa bersyukur."


Karena tak ada lagi belaan Tubuh, Kalbu 

menutup tuah:  Dulu, di setiap aliran air, 

tumbuh peradaban. Kini air masih mengalir,

tapi tak lagi dijaga. Air seolah hanya benda,

bukan jiwa. Air adalah peradaban yang hilang

di hati, karena manusia telah lupa bahwa air

adalah bagian dari dirinya. 


Jagalah laut, sungai, dan dirimu, seperti kau

memelihara do'amu. Sebab semua ketentuan

itu adalah titipan, bukan milikmu selamanya.

Sebab, jika sumber air mu mengering, siapa

yang kan memberimu air. Sementara badai

berbatu mencoba menutup lubuk air mu.


(3)


Tanah menyimpan jejak petani. Dari sebutir

benih, tertanam kehidupan. Sementara air

membasuh peradaban. Tanpa tanah, tak ada

tanaman. Tanpa air, sawah tiada. Jika semua

tiada, yang tertuang adalah ingatan. Tentang

tanaman, tentang doa peradaban di setiap

panen. 


Kelak, pangan jadi kisah debu yang bertahan

di tanah yang pernah diwariskan air. Esok, 

tanah  tinggal cerita yang menghapus jejak

dan keringat petani. Di masa mendatang, air

tinggal kenangan yang mengering di aliran

sawah dan sungai. Karenanya, sebelum

kenangan menjelma jadi ingatan, rawatlah

sisa tanah dan air di bumi. 


Bila semua jadi ingatan, akankah Akal sadar

dan merindu tuk memperbaiki retak tanah,

membuka lumbung agar riak air mengalir

dan menyapa sawah? Hanya kemanusiaan

yang bisa mengubah kelalaian manusia, agar

esok tanah, air, tak menjadi ingatan. 


Teater Air Jambi, 05042025


Catatan:

Sajak Tanah, Air, Ingatan ada di Himpunan Sajak CAHAYA TUBUH (halaman 11, penerbit JBS, Juli 2025)




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com