Tangguh! Ikan Paru-Paru Afrika yang Bisa Hidup Tanpa Air Hingga 4 Tahun
BICARA LINGKUNGAN - Ada banyak cara untuk bertahan hidup. Sebagian hewan memilih lari, sebagian lain bersembunyi. Tapi spesies ikan dari Afrika ini mengambil jalan ekstrem: ia diam, menutup tubuhnya dengan lumpur, memperlambat detak kehidupannya, dan menunggu, selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa setetes air pun.
Dialah Protopterus, atau yang lebih dikenal sebagai African lungfish atau Ikan Paru-paru Afrika. Makhluk ini bukan sekadar anomali, tapi sebuah teka-teki evolusi yang masih membuat para ilmuwan mengernyitkan dahi dan penasaran. Di tengah kemarau panjang yang mengeringkan sungai-sungai di Afrika, Protopterus tidak mati. Ia masuk ke dalam semacam “mode tidur biologis” yang disebut estivasi, sebuah kondisi dormansi mirip hibernasi, namun untuk bertahan dari panas dan kekeringan, bukan dari dingin.

Tubuhnya menggali masuk ke dalam lumpur, lalu melepaskan lendir dari kulit yang mengeras menjadi seolah kepompong pelindung. Di dalamnya, ikan ini tak makan, tak bergerak, dan nyaris tak bernapas. Metabolismenya melambat hingga hanya tersisa 1/60 dari kondisi normal. Yang tersisa hanyalah lubang kecil di atas tanah tempat ia menarik napas, bukan lewat insang seperti ikan pada umumnya, melainkan lewat paru-paru yang ia warisi dari masa silam evolusi.
Protopterus berada dalam kelompok lungfish, yang genetik dan morfologinya menunjukkan bahwa mereka adalah kerabat hidup terdekat dengan tetrapoda (hewan berkaki empat, termasuk amfibi, reptil, burung, dan mamalia) Itu menjadikan mereka salah satu jendela evolusi terakhir sebelum vertebrata bangkit dari air. Dengan paru-paru primitif dan sirip bertulang, yang mirip struktur dasar dari anggota tubuh tetrapoda, Protopterus membentuk jembatan nyata, menguatkan posisi evolusinya sebagai “missing link” dalam transisi penting dari air ke darat .
Estivasi dan Proses Bertahan Hidup
Sebelum membahas bagaimana Protopterus bangkit kembali dari estivasi, penting untuk memahami apa yang membuatnya mampu bertahan begitu lama dalam kondisi ekstrem. Estivasi bukan sekadar tidur panjang, melainkan respons biologis kompleks yang memungkinkan ikan ini bertahan dalam kubangan lumpur kering, tanpa makanan, tanpa air, dan dengan oksigen yang sangat terbatas.
Saat air kembali menggenangi daratan dan hujan pertama menyentuh permukaan tanah, Protopterus seperti dibangunkan dari tidur panjang. Ia perlahan-lahan keluar dari kepompong lumpurnya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan mulai berenang seperti tak pernah terjadi apa-apa. Proses ini begitu halus dan efisien, seolah ia memiliki jam biologis yang tahu kapan waktu yang tepat untuk “hidup kembali”. Beberapa laporan bahkan mencatat spesimen Protopterus yang berhasil dibangkitkan dari kondisi estivasi setelah disimpan dalam laboratorium kering selama lebih dari tiga tahun dan tetap hidup.
Dalam kondisi alami, rata-rata masa estivasi Protopterus berlangsung antara 4 hingga 6 bulan, mengikuti musim kemarau di wilayah asalnya. Namun kemampuan ini bisa melampaui batas waktu tersebut jika kondisi lingkungan tetap kering. Rekor yang terdokumentasi secara ilmiah berasal dari studi klasik pada abad ke-19, di mana seekor lungfish Afrika disimpan dalam kondisi kering selama empat tahun sebelum akhirnya “dihidupkan kembali” dengan air dan menunjukkan tanda-tanda hidup normal. Kemampuannya untuk bertahan hidup selama itu dimungkinkan oleh kombinasi metabolisme super rendah, penyimpanan energi dalam bentuk lemak, dan sistem ekskresi urea yang efisien.
Mekanisme Biologis di Balik Estivasi
Apa yang terjadi dalam tubuhnya selama masa dormansi itu? Di sinilah dunia biologi molekuler bekerja. Saat memasuki estivasi, tubuh Protopterus memproduksi lendir pelindung yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan membentuk kepompong saat lendir itu mengeras. Lapisan ini menjaga kelembapan internal dan melindungi tubuh dari suhu tinggi dan infeksi mikroba.
Lebih dalam lagi, proses biokimia dan ekspresi genetik dalam tubuhnya mengalami perubahan drastis. Enzim-enzim pencernaan dimatikan, organ-organ vital memperlambat fungsinya, dan hati menyimpan cadangan energi dalam bentuk glikogen dan lemak. Yang paling menarik: kadar urea dalam tubuh meningkat drastis. Normalnya, ikan akan membuang limbah nitrogen dalam bentuk amonia melalui insang. Tapi karena Protopterus tak punya air untuk menyiram amonia keluar, ia mengubahnya jadi urea. zat yang lebih stabil dan tidak terlalu beracun, lalu menyimpannya dalam jaringan tubuh selama masa estivasi. Bayangkan, itu seperti manusia menyimpan semua limbah tubuhnya di kantong-kantong tersembunyi tanpa membusuk sedikit pun.
Peneliti dari National University of Singapore bekerjasama dengan University of Guelph, Kanada menemukan bahwa selama estivasi, sejumlah gen, termasuk yang terkait heat shock proteins (HSP) dan enzim antioksidan, diaktifkan secara spesifik. Studi pada Protopterus annectens menunjukkan perubahan ekspresi gen-gen dalam otak dan hati setelah 6 hari hingga 6 bulan estivasi, yang mencakup gen pelindung sel dan antioksidan alami.
Hasil ini memberi kesan bahwa mekanisme proteksi dan konservasi energi saat estivasi pada lungfish memiliki kesamaan dengan strategi dormansi metabolik yang ditemukan pada hewan kutub dan embrio manusia saat kondisi stress lingkungan. Karenanya, adaptasi ini menempatkan Protopterus bukan hanya sebagai keajaiban evolusi, tetapi juga sebagai objek strategi masa depan dalam bidang biomedis.

Tak heran jika para ilmuwan dari NASA sampai para ahli transplantasi organ kini mempelajari ikan ini dengan serius. Estivasi ala Protopterus dianggap model ideal untuk memahami bagaimana makhluk hidup bisa bertahan dalam kondisi tanpa asupan, tanpa gerak, tanpa air, dan tetap utuh secara biologis. Studi NASA bahkan menjadikan mekanisme estivasi sebagai model potensial untuk memahami dormansi metabolik dalam skenario perjalanan luar angkasa jangka panjang. Bayangkan jika konsep ini bisa diterapkan ke manusia, dormansi panjang dalam perjalanan ke Mars, atau pelestarian organ hidup untuk transplantasi lintas benua. Semua bisa berawal dari ikan berlendir yang tertanam di lumpur Afrika.

Apakah Ada di Indonesia?
Namun, pertanyaan besar pun muncul: apakah ada ikan di Indonesia yang bisa melakukan hal serupa? Hingga saat ini, belum ditemukan spesies lokal yang benar-benar menjalani estivasi, fkotidur panjang dalam kepompong lumpur dengan metabolisme nyaris berhenti—seperti yang dilakukan Protopterus. Namun beberapa ikan air tawar tropis, terutama dari genus Clarias seperti Clarias batrachus (lele termasuk “walking catfish”), menunjukkan kemampuan adaptasi mengesankan terhadap kondisi minim air dan oksigen rendah.
Lele ini memiliki organ pernapasan tambahan berupa labirin (atau struktur pernapasan udara) yang memungkinkannya mengambil oksigen langsung dari udara. Mereka juga dapat bertahan hidup dalam air dengan kadar oksigen sangat rendah, dan beberapa spesies bahkan mampu berpindah tempat dengan menggeliat di darat, kemampuan yang disebut ambilosis locomotion. Studi fisiologis menunjukkan bahwa saat terpapar hipoksia, Clarias batrachus mengalami penurunan laju metabolisme, peningkatan hematokrit, serta aktivasi enzim anti-oksidan dan adaptasi respirasi udara .
Meskipun adaptasi ini menunjukkan kecerdikan evolusioner dalam kondisi ekstrem, Clarias tetap tidak membuat kepompong lumpur dan tidak menghentikan metabolisme total seperti Protopterus. Dengan demikian, dalam ranah dormansi ekstrem dan efisiensi metabolik, lungfish Afrika masih memegang rekor adaptasi paling radikal di dunia vertebrata—menjadi pelajaran hidup sekaligus inspirasi bagi sains dan konservasi.
Sumber: mongabay.co.id
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom