Ular Naga, Apakah Benar-benar Ada?
BICARA LINGKUNGAN - Ular Xenodermus javanicus, satu-satunya anggota Famili Xenodermidae di Indonesia, terpantau di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Imam Ramdani, anggota komunitas Bogor Nature Wildlife Photography, menjadi saksi kemunculan reptil berjuluk ‘ular naga’ itu. Dia menemukannya saat menyusuri sungai berhulu tajam, di kawasan konservasi seluas 113.357 hektar ini, malam hari.
“Pergerakannya lambat, kemungkinan karena medan yang curam. Karakteristiknya juga soliter. Saya pernah melihat tiga individu di lokasi berdekatan, selebihnya terpisah,” jelasnya, akhir Juni 2025 lalu.

Keunikan ular ini tak hanya pada bentuk sisiknya yang menyerupai gerigi naga, namun juga habitat alaminya yang sangat spesifik.
“Sejauh ini, saya hanya menjumpainya di dua lokasi di Jawa Barat. Itu pun selalu di aliran sungai yang sangat jernih dan minim gangguan.”
Dari pengamatan dua tahun terakhir, Imam mencatat kemunculan ular ini sangat terbatas. Umumnya, setelah pukul 1 dini hari. Dia bersama kolega, pernah menunggu lebih empat jam di tepian sungai, sebelum melihat seekor individu bergerak di antara batu dan akar-akar riparian.
“Mungkin itu bentuk adaptasi untuk menghindari predator atau tekanan suhu ekstrem, karena berbeda dengan reptil lain.”

Bertahan dalam kondisi mikrohabitat
Auzan Sukaton, pegiat konservasi Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (Kiara), mencatat enam kali perjumpaan dengan spesies tak berbisa ini sejak 2016.
“Seluruhnya terlihat di aliran sungai yang dikelilingi tebing, baik tanah maupun batu,” jelasnya.
Ular ini aktif malam hari, muncul di tempat yang ada ikan kecil dan berudu katak, yang kemungkinan pakan alaminya. Jenis ini juga punya mekanisme pertahanan unik, yaitu pura-pura mati saat terancam.
“Saat kami sentuh, tubuhnya jadi kaku. Itu bentuk pertahanan diri. Keunikan ini yang menjadi incaran kolektor.”
Menurut Auzan, meski kawasan Halimun mempunyai diversitas habitat dan mikrohabitat tinggi, namun belum ada riset yang difokuskan pada perilaku dan dinamika populasi X. javanicus.
“Selama ini, kami lebih banyak menyisipkan pengamatan ular saat riset utama berlangsung, misalnya saat memantau primata.”

Spesies sangat menarik
Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), menilai Xenodermus javanicus merupakan spesies yang sangat menarik dari sisi taksonomi dan evolusi.
Dalam skala global, Famili Xenodermidae termasuk kelompok monotipik. Artinya, hanya diwakili satu genus dan satu spesies saja.
“Secara taksonomi, ia menempati posisi tunggal dalam pohon kekerabatan ular. Sisiknya berbeda dari ular umumnya,” terangnya, awal Juli 2025.
Terdapat modifikasi bentuk dan ukuran sisik yang membuat bagian punggungnya terlihat seperti gerigi atau sisik naga. Dalam dunia herpetologi, morfologi seperti itu sangat jarang ditemukan dan jadi indikasi bahwa spesies ini mewakili jalur evolusi yang khas.
Meski nama latinnya mengandung kata ‘javanicus’, ular ini tidak endemik Jawa, melainkan tersebar di beberapa kawasan Asia Tenggara. Termasuk di Kalimantan dan wilayah luar Indonesia, seperti Borneo bagian Malaysia.
“Nama ‘javanicus’ mengacu pada lokasi pertama kali ditemukan spesimen ini, yaitu Pulau Jawa. Namun setelah melalui penelusuran literatur dan basis data global seperti Reptile Database, diketahui ular ini juga ditemukan di luar Jawa.”

Kajian spesies ini, masih terfokus pada sebaran geografis dan belum menyentuh aspek-aspek penting seperti perilaku, habitat spesifik, dinamika populasi, dan ekologi reproduksi.
Studi perilaku komprehensif ular ini, terutama perilaku malam harinya yang tak lazim untuk kelompok reptil berdarah dingin, juga masih minim.
“Sebagian besar, reptil merupakan hewan diurnal yang perlu sinar matahari untuk metabolisme. Ular ini justru aktif malam hari, hal yang menunjukkan ia punya strategi ekologi sangat spesifik.”

Pengumpulan data penting untuk mendukung upaya konservasi jangka panjang. Di Indonesia, status konservasinya belum ditetapkan secara resmi dalam daftar dilindungi nasional. Berdasarkan IUCN Red List, X. javanicus dikategorikan sebagai Least Concern (LC) atau tidak mengkhawatirkan.
“Namun, status ini bersifat dinamis dan bergantung pada hasil penilaian berkala yang berbasis data populasi terbaru,” paparnya.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom