Thursday, August 14, 2025

Ular Kobra Palsu, Bagaimana Cara Membedakan dengan yang Asli?


BICARA LINGKUNGAN
Apakah penampilan bisa menipu, bahkan di dunia reptil? Inilah ular kobra palsu yang kerap disalahpahami.

Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB) menuturkan, ular kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus) berbeda dengan ular kobra asli (Naja sputatrix untuk kobra jawa). Perbedaan ini bisa dilihat dari warna kobra palsu yang cenderung keabuan kusam, bahkan ada yang jingga atau kemerahan.

“Sedangkan, kobra asli hitam legam kilap, terlihat shiny bila terkena sinar matahari,” jelasnya, Senin (11/8/2025)

Selain warna, kunci pembeda paling akurat adalah sisik loreal. Pada kobra palsu, yang termasuk famili Colubridae, terdapat sisik loreal di antara sisik hidung dan sisik mata. Kobra asli, yang berasal dari famili Elapidae, tidak mempunyai sisik ini -sisik hidungnya langsung nempel pada sisik di depan mata.

“Bagi pengamat lapangan atau fotografer satwa, pemotretan kepala ular dari jarak aman bisa membantu memastikan ada tidaknya sisik loreal.”

Kobra palsu biasanya punya garis putih berbentuk huruf V terbalik di bagian atas kepala. Sementara kobra asli, bagian atas kepalanya polos. Polanya hanya ada di bawah leher.

Perbedaan lain, kobra palsu lebih kecil yang panjang tubuhnya jarang melebihi 1 meter, rata-rata 75 sentimeter. Sedangkan kobra asli bisa tumbuh lebih dari 1,5 meter. Meski ekornya sama-sama relatif pendek, proporsi tubuh kobra palsu membuatnya lebih kompak.

“Ciri paling menipu kobra palsu adalah kemampuannya mengembangkan leher (hooding) seperti kobra asli,” jelasnya.

Perilaku ini, merupakan bentuk mimikri untuk menakuti predator. Hanya perbedaanya, kobra palsu tidak bisa ‘berdiri’ mengangkat bagian depan tubuh setinggi kobra asli.

“Belum ada dokumentasi yang menunjukkan kobra palsu bisa berdiri seperti kobra asli.”

Inilah ular kobra jawa (Naja sputatrix). Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Efek racun kobra palsu

Walaupun kobra palsu berbisa, Ganjar katakan, tingkat bahayannya jauh lebih rendah. Dalam literatur herpetologi, bisa ular ini tergolong mildly venomus (bisa ringan). Taringnya terletak di belakang rahang (rear-fanged), berbeda dengan kobra yang bertaring depan.

Efek gigitannya pada manusia, menimbulkan reaksi pada individu tertentu.

“Pernah ada kasus orang digigit ular berbisa ringan lalu mengalami pembengkakan, sementara orang lain tidak bereaksi sama sekali. Itu tergantung tubuh masing-masing.”

Sejauh ini, belum banyak laporan ilmiah mengenai pembunuhan kobra palsu akibat salah identifikasi. Namun, di lapangan hal ini bisa terjadi. Sebab, persepsi masyarakat yang melihat leher ular mengembang umumnya langsung menganggap ular berbisa, lalu membunuhnya.

Fenomena ini, juga dilaporkan di wilayah Asia Selatan, Myanmar, dan Thailand, yaitu kobra palsu dari genus serupa sering dianggap mematikan.

Berdasarkan habitat, kobra palsu lebih sering ditemukan di dataran tinggi berhutan dengan vegetasi tertutup. Di Indonesia, spesies ini tercatat di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Dalam bidang akademis, penelitian tentang peran kobra palsu dalam ekosistem masih minim, terutama di Indonesia. Diperkirakan, seperti ular darat umumnya, kobra palsu berperan sebagai predator katak, kadal, dan hewan kecil lain di lantai hutan.

“Sifatnya terestrial, jarang manjat pohon karena ekornya pendek. Perjumpaan sering terjadi saat di jalur pendakian,” terangnya.

Ular kobra jawa yang memiliki bisa berbahaya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Terbatas di alam liar

Amir Hamidy, Profesor Peneliti Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, meskipun namanya terdengar mengelabui, reptil ini bukanlah ular berbisa mematikan.

Di alam liar, populasinya sangat terbatas, bahkan informasi ilmiahnya minim. “Habitatnya yang spesifik, serta rendahnya jumlah temuan menjadikan kobra palsu sebagai reptil yang rawan punah secara senyap,” terangnya, Senin (11/8/2025).

Bagi kobra palsu, tren pemeliharaan satwa eksotik menjadi ancaman. Keunikan, membuatnya diburu penghobi reptil. Media sosial mempercepat penyebaran minat, sehingga potensi eksploitasi meningkat. Ancaman lain adalah penyempitan habitat. Hutan pegunungan yang menjadi rumahnya terus terdesak, baik oleh konversi lahan maupun fragmentasi.

“Habitat spesifik membuat sebarannya sangat terbatas. Kalau hutan pegunungan hilang, mereka lenyap.”

Ular kobra palsu yang kulitnya kemerahan. Foto: Hafizh Aulia Khairy Rakananda/iNaturalist/CC BY-NC 4.0/Free to share

 

Kobra palsu belum termasuk satwa dilindungi di Indonesia. Regulasi mengatur bahwa satwa tidak dilindungi mempunyai aturan pemanfaatan, termasuk izin dan kuota resmi. Hingga kini, tidak ada kuota resmi pengambilan dari alam untuk kobra palsu.

Berdasarkan statusnya di IUCN, kobra palsu belum dievaluasi. Sebab, datanya masih sangat minim. Sementara, untuk melakukan asesmen diperlukan data distribusi, populasi, tren penurunan, hingga peran ekologis.

“Sumatera dan Kalimantan belum ada data terkini. Yang ada hanya di Jawa. Bisa jadi, di luar Jawa sudah punah, atau memang belum ditemukan lagi.”

Proses evaluasi, perlu melibatkan penelusuran catatan museum, pemantauan melalui citizen science, hingga survei lapangan di pegunungan yang menjadi habitatnya. Riset lanjutan sangat penting untuk menjawab pertanyaan dasar: apa pakannya, apakah aktif siang atau malam, bagaimana pola reproduksinya dan peran ekologisnya?

“Tanpa data ini, sulit menentukan status ancaman secara akurat. Tanpa status jelas, rekomendasi perlindungan sulit diterapkan,” paparnya.









Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com