Saturday, September 13, 2025

Jutaan Warga Palestina di Kota Gaza Tolak Pemindahan Paksa Israel


BICARA INTERNASIONAL
- Lebih dari 1 juta warga Palestina di Kota Gaza dan wilayah utaranya memilih tetap bertahan di tanah mereka, meski Israel terus memaksa evakuasi ke bagian selatan Jalur Gaza. Dari jumlah itu, lebih dari 350.000 anak-anak tercatat masih berada di kawasan tersebut, menolak meninggalkan rumah dan harta mereka.


Menurut pernyataan Kantor Media Gaza pada Jumat (12/9/2025), hingga kini Israel telah memaksa sekitar 800.000 warga Palestina pindah ke wilayah al-Mawasi di Khan Younis dan Rafah. Namun, daerah yang disebut sebagai zona aman itu justru tidak memiliki sarana hidup dasar seperti rumah sakit, air bersih, makanan, listrik, maupun pendidikan.


Dalam pernyataannya, kantor itu menegaskan bahwa penolakan warga untuk mengungsi ke selatan terjadi meskipun mereka menghadapi agresi militer, serangan udara, dan genosida Israel. Pemindahan paksa tersebut dianggap sebagai bentuk kejahatan pengusiran permanen yang melanggar hukum internasional.


“Lebih dari satu juta warga Palestina, termasuk lebih dari 350.000 anak-anak tetap berada di Kota Gaza dan wilayah utara, teguh di tanah, rumah, dan properti mereka, serta menolak skema pengusiran paksa ke selatan,” demikian pernyataan resmi kantor media tersebut.


Realita justru sebaliknya. Pengungsi mulai kembali dari selatan ke Kota Gaza dan wilayah utara setelah mendapati kondisi di selatan tidak layak untuk bertahan hidup.


Data menunjukkan sekitar 20.000 orang kembali ke wilayah asal mereka pada Kamis (11/9/2025), meski sebelumnya 68.000 orang dipaksa mengungsi di tengah bombardir dan ancaman Israel.


Secara keseluruhan, populasi gabungan Kota Gaza dan wilayah utara mencapai lebih dari 1,3 juta jiwa. Sekitar 398.000 berada di Gaza Utara, 914.000 di Kota Gaza, sementara hampir 300.000 lainnya telah mengungsi dari wilayah timur ke bagian tengah dan barat kota akibat serangan berkelanjutan.


Ironisnya, wilayah al-Mawasi yang disebut Israel sebagai “zona kemanusiaan” justru telah dibom lebih dari 109 kali, menewaskan lebih dari 2.000 orang. Fakta ini menunjukkan bahwa zona aman yang ditetapkan Israel hanyalah ilusi, sebab area perlindungan itu hanya mencakup kurang dari 12% total luas Jalur Gaza.


Kondisi ini memicu kecaman internasional karena Israel dinilai berusaha memaksa lebih dari 1,7 juta warga Palestina tinggal di wilayah sempit tanpa infrastruktur dasar, sekaligus menutup peluang bagi mereka untuk kembali ke tanah dan rumah asalnya.


Sumber: beritasatu.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com