Laut Kritis, Keanekaragaman Hayati Kian Terancam
BICARA LINGKUNGAN - Dunia sedang menghadapi persoalan serius karena keanekaragaman hayati laut terus terancam, terutama karena praktik penangkapan ikan berlebih. Kesehatan laut, secara spesifik juga di ambang titik kritis.
Laporan berjudul “Preserving ocean life: How sustainable fishing supports biodiversity” yang libatkan 58 ilmuwan ungkapkan kekhawatiran kondisi laut sekarang ini.
Menurut mereka, laut sudah terlalu lama menanggung beban kehidupan di bumi dan di bawah air. Situasi itu memicu degradasi laut lebih cepat dari perkiraan.
Para ilmuwan menyebut, laju kepunahan meningkat dari 100-1.000 kali lipat. Kondisi itu menjadikan sumber daya laut menghadapi situasi kritis.
“Situasi itu terjadi salah satunya akibat praktik penangkapan ikan berlebih, habitat hilang dan polusi,” tulis laporan yang dipublikasikan Marine Stewardship Council (MSC) itu.
Merujuk laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 40% spesies karang pembentuk terumbu terancam punah, sementara hampir sepertiga hiu dan pari berada dalam risiko yang sama.
Kondisi itu akan semakin memburuk, karena faktanya saat ini laut dunia menghadapi ancaman serius akibat krisis iklim yang makin parah. Jika itu tidak terkendali, sejumlah spesies akan sulit bertahan hidup.
Secara spesifik, laporan juga menyoroti spesies terancam punah dan terancam, termasuk burung pelikan di Teluk California, penyu di Samudra Hindia, hiu di Pasifik Timur, dan lumba-lumba di Laut Celtic.
Peter Thomson, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Laut mengatakan, ekosistem laut yang sangat penting untuk jaringan kehidupan di bumi. Namun, situasinya semakin tertekan akibat aktivitas manusia.
“Itu ditunjukkan oleh indikator penangkapan ikan berlebihan, polusi, degradasi habitat, dan pemanasan laut yang semakin cepat akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia,” ungkap Peter dalam pengantar laporan.
Menurut Thomson, penangkapan ikan berkelanjutan menjadi kunci dalam pengelolaan laut yang bertanggung jawab. Caranya, menjamin perikanan berkelanjutan terus ada dengan memastikan populasi ikan tidak tereksploitasi berlebih dan ekosistem tetap sehat.
Dia yakin, perikanan berkelanjutan dapat mendukung rantai makanan seimbang, mendorong kehidupan laut dalam jangka panjang, dan memperkuat ketahanan pangan. Semua itu akan berdampak signifikan bagi negara-negara pulau dan pesisir.
Thomson mendorong negara-negara di dunia segera meratifikasi perjanjian Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBN) di laut lepas, selain Perjanjian Subsidi Perikanan Organisasi Perdagangan Dunia PBB (WTO).
“Kami tahu bahwa perikanan berkelanjutan terwujud ketika kita mensinergikan tindakan positif pemerintah, industri, komunitas lokal, dan organisasi internasional,” katanya.
Laporan MSC menyebut, permintaan pasar yang terus meningkat menjadi salah satu pemicu penangkapan ikan berlebihan.

Perikanan berkelanjutan kunci
Penangkapan ikan berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan kesehatan dan ketahanan ekosistem laut. Praktik itu bisa terwujud dengan meminimalkan dampak terhadap tangkapan sampingan (bycatch), spesies terancam punah, terancam, dan dilindungi.
Selama ini, bycatch menjadi ancaman utama sejak lama bagi keanekaragaman hayati di laut. Karena itu, sangat modifikasi alat tangkap demi mengurangi tangkapan sampingan sangat penting.
Lewat laporan itu, para ilmuwan sepakat untuk melaksanakan pengelolaan perikanan berkelanjutan melalui berbagai langkah efektif. Seperti menetapkan dan menegakkan batas tangkapan berdasar ilmu pengetahuan untuk stok target.
Saat ini, ada banyak negara terapkan kuota penangkapan (TAC) berdasarkan penilaian ilmiah untuk mencegah penangkapan berlebihan. Hal itu mencakup analisis faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi stok, seperti pemanasan air laut dan pengasaman laut.
Selain TAC, pengelolaan perikanan berkelanjutan juga melaksanakan penutupan sebagian laut seperti pada kawasan konservasi laut. Tujuannya, agar ikan yang sedang bertelur bisa terlindungi bersama habitatnya.
Laporan ini juga menegaskan, perikanan berkelanjutan akan berdampak positif pada habitat dan keanekaragaman hayati. Dasar laut yang sensitif juga lebih terlindungi. Ekosistem padang lamun dan terumbu karang yang menjadi tempat berlindung, mencari makan dan berkembang biak biota laut juga akan lebih terjaga.
Beth Polidoro, Direktur Penelitian MSC mengatakan, dokumen tersebut sekaligus menegaskan adanya konsensus di kalangan ilmuwan di seluruh dunia akan kondisi laut laut yang kian terancam oleh dampak manusia. Baik melalui penangkapan ikan berlebihan maupun ancaman perubahan iklim.
Namun begitu, masih terbuka harapan untuk membalikkan keadaan itu melalui pengelolaan perikanan yang lebih lestari.
“Perikanan dengan komitmen seperti itu harus didukung, dan pemerintah perlu menyediakan lingkungan yang mendukung agar kemajuan positif dapat dipercepat secara global,.”

Peran ilmu pengetahuan
Francis C Neat, Guru Besar Perikanan Berkelanjutan dan Keanekaragaman Hayati Laut Universitas Maritim Dunia di Malmo, Swedia katakan, kemajuan ilmu pengetahun dapat mencegah degradasi laut lebih parah. Namun, hal terpenting adalah bagaimana meningkatkan melibatan masyarakat.
Judy Mann-Lang dari The Two Oceans Aquarium Foundation, Afrika Selatan mengatakan, laut yang terus memburuk memang perlu penanganan segera. Melalui pengobatan yang tepat, itu berarti laut mendapat kesempatan untuk kembali pulih dan menjadi lebih tangguh. Memperbaiki laut, kata dia, harus melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat yang menjadi salah satu tokoh utama.
Alexander Fordyce, Peneliti Utama di Nature-based Insights, Universitas Oxford, Inggris, meminta semua pihak untuk sama-sama menyadari bahwa persoalan laut yang tidak sehat akan memicu banyak masalah dalam kehidupan.
“Membuat hidup kita lebih sulit.”
Dia bilang, mengelola penangkapan ikan adalah hal paling sederhana yang dapat dilakukan, meski tak mudah.
Sunil Mohamed, Ketua Jaringan Makanan Laut Berkelanjutan India dan pensiunan Ilmuwan Utama, Institut Penelitian Perikanan Laut Pusat, India mengakui kalau beberapa wilayah India sudah mengalami kondisi di mana ekosistem dan sumber daya laut mengalami keterpurukan.
Selain peraturan tentang perikanan yang kurang memadai, juga karena penegakan hukum yang lemah oleh aparat penegak hukum lokal. Akibatnya, penangkapan ikan berlebih makin marak hingga mengancam stok dan habitat.
“Namun, saya yakin alam selalu pulih. Ekosistem laut memiliki ketahanan yang inheren, dan dengan pengelolaan dan perawatan yang baik, mereka dapat pulih kembali,“ ungkapnya.
José Alberto Zepeda Domínguez, Ahli Sistem Sosial Ekologi Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan University Baja of California meyakini, meningkatnya kesadaran pentingnya menjaga ekosistem akan mengembalikan kondisi laut seperti semula. Hanya saja, dia menyadari, tidak semua ekosistem laut dapat pulih secara cepat.

Dorong industri perikanan
MSC mempertegas komitmennya untuk mendukung perikanan berkelanjutan dengan membantu industri perikanan untuk terus bisa meningkatkan keberlanjutannya hingga 2030. MSC alokasikan dana €5,6 juta membantu proses itu melalui Ocean Stewardship Fund (OSF).
Sejak berdiri pada 2019, Ocean Stewardship Fund telah mengucurkan lebih dari €7,7 juta untuk mendukung lebih dari 200 proyek perikanan dan inisiatif di seluruh dunia, 90 di negara berkembang. Inisiatif ini mencakup perlindungan satwa laut, uji coba teknologi baru, dan promosi praktik penangkapan ikan berkelanjutan.
Pada 2025, proyek itu melibatkan perikanan hake menggunakan trawl dan rawai (longline) di Namibia. Proyek fokus pada upaya meminimalisir interaksi berbahaya antara anjing laut Cape dan peralatan penangkapan ikan, dengan menggunakan Targeted Acoustic Startle Technology (TAST) yang melibatkan para ilmuwan terpilih.
Selain di Namibia, OSF juga kerja sama antara pemerintahan dengan multi pihak. Ia mencakup lima komunitas perikanan tuna albakora bersertifikat MSC yang bekerja sama dengan LSM dan lembaga antarbenua. Kerja sama fokus untuk mengembangkan dan menerapkan strategi panen berbasis ilmu pengetahuan untuk populasi albakora.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
