Literasi Baca Tulis Sebagai Jalan Pembebasan Pendidikan: Refleksi di Hari Guru Nasional
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, kemampuan membaca sering dianggap hal biasa. Banyak orang berpikir bahwa membaca hanyalah kegiatan mengenal huruf dan memahami kata. Padahal membaca sejatinya adalah jalan menuju kemerdekaan berpikir dan pembebasan diri. Melalui literasi seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk memahami dunia, menilai kebenaran, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Inilah makna sesungguhnya dari membaca untuk merdeka membaca agar kita mampu berpikir bebas dan tidak terbelenggu oleh ketidaktahuan.
Selama ini sistem pendidikan di Indonesia masih sering menekankan hafalan daripada pemahaman. Banyak siswa belajar demi nilai bukan demi ilmu. Mereka bisa menjawab soal ujian tetapi kesulitan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya membebaskan peserta didik dari ketergantungan berpikir. Padahal, tujuan utama pendidikan seharusnya bukan sekadar mencetak manusia yang pandai secara akademik melainkan yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan berdaya.
Membaca adalah langkah awal dari sebuah perubahan besar. Melalui membaca seseorang mengenal dunia yang lebih luas dari lingkungannya sendiri. Mereka bisa belajar dari pengalaman orang lain, menelusuri sejarah, memahami budaya bahkan memprediksi masa depan. Dengan membaca manusia memperoleh kemampuan untuk membandingkan, mengkritisi, dan mengambil sikap terhadap berbagai persoalan. Inilah yang pernah disebutkan oleh Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil sebagai “pendidikan pembebasan”. Menurutnya, literasi bukan hanya alat untuk memahami teks tetapi juga memahami konteks kehidupan.
Pengalaman penulis saat menempuh pendidikan menengah di salah satu sekolah di Muaro Jambi akan didedahkan dalam artikel ini. Menurut saya, ketika pemahaman siswa dipukul rata untuk memahami setiap mata pelajaran maka dapat memunculkan kecurangan. Adanya tekanan diluar kemampuan pemahaman dan minat bakat siswa, membuat kecurangan itu dilakukan secara bersama-sama. Tentunya hal ini menciptakan kekompakkan dalam ranah yang negatif. Banyak sekali pelajar di Indonesia yang ikut merasakan sistem yang tidak memihak pada siswa. Ketika pemerintah mencetuskan kurikulum merdeka, para pelajar merasa terwakilkan atas pendapatnya. Kurikulum itu memberikan kebebasan bagi siswa untuk memilih pilihannya sendiri berdasarkan minat dan bakatnya pada mata pelajaran tertentu.
Meski demikian, kehadiran kurikulum baru tidak sepenuhnya diterima seluruh kalangan masyarakat. Bagi sebagian orang tua siswa, sistem belajar yang membebaskan seperti ini justru akan mengurangi kemampuan anak mereka terhadap mata pelajaran yang penting seperti matematika. Faktanya di lapangan menunjukkan hanya sedikit sekali siswa yang mau mengikuti kelas matematika. Siswa cenderung memilih kelas seni atau bahasa. Terlepas dari hasil TKA Matematika yang rendah tahun ini, adanya kebebasan memilik mata pelajaran, dapat mengakomodir pengembangan minat dan bakat siswa. Mereka juga dapat menemukan makna dari proses belajar di sekolah termasuk arah hidupnya melalui proses pembelajaran yang seperti itu.
Selain Sekolah, keluarga juga memiliki peran besar dalam menumbuhkan semangat literasi. Di sekolah, kegiatan membaca seharusnya tidak hanya dilakukan saat pelajaran bahasa Indonesia tetapi juga menjadi bagian dari semua mata pelajaran. Guru bisa mendorong siswa untuk mencari sumber bacaan tambahan, mendiskusikan ide atau menulis refleksi dari apa yang mereka baca. Pendekatan seperti ini akan melatih kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan rasa ingin tahu.
Di sisi lain keluarga adalah lingkungan literasi pertama bagi anak. Kebiasaan membaca tidak akan tumbuh jika di rumah tidak ada contoh nyata. Orang tua bisa membiasakan anak untuk membaca buku bersama, berdiskusi ringan tentang isi bacaan atau mengunjungi perpustakaan. Dengan cara sederhana ini anak belajar bahwa membaca bukan kewajiban, melainkan kebutuhan dan kesenangan
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik tetapi juga bebas dari ketidaktahuan dan kebodohan. Literasi memberikan kekuatan kepada setiap individu untuk berpikir mandiri, berani bertanya dan mampu menilai kebenaran. Dengan literasi seseorang tidak mudah ditipu, tidak gampang dipengaruhi, dan tidak takut berbeda pendapat. Dalam konteks pendidikan. Literasi menjadi fondasi bagi terwujudnya Merdeka Belajar sebuah konsep di mana siswa memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya tanpa dibatasi oleh cara belajar yang kaku.
Membaca untuk merdeka bukan sekadar slogan tetapi ajakan untuk membangun kesadaran bahwa literasi adalah jalan menuju pembebasan pendidikan. Dengan literasi kita tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang kritis, terbuka dan mandiri. Jika setiap individu memiliki kesadaran literasi. Maka bangsa ini akan memiliki generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga merdeka dalam berpikir dan bertindak. Di sanalah letak sejati dari pendidikan yang membebaskan.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
.png)