Tuesday, December 16, 2025

1 dari 5 Orang Alami Masalah Mental, Begini Cara Mengetahui Adanya Masalah Kesehatan Mental


BICARA KESEHATAN -
Di tengah derasnya arus kehidupan modern, isu kesehatan mental semakin krusial dan tak dapat diabaikan. Namun, di Indonesia, stigma negatif dan minimnya pemahaman masih menjadi penghalang besar bagi banyak individu untuk mencari pertolongan profesional. Fenomena ini disoroti dalam acara ulang tahun ke-13 Rumah Sakit Izza, yang melalui seminar "It's Okay Not to Be Okay," berupaya mengikis stigma dan meningkatkan kesadaran publik.


Direktur RS Izza Karawang, dr. Dik Adi Nugraha Sp.B., MM., mengungkapkan bahwa masalah kesehatan mental di Indonesia bagaikan fenomena gunung es yang hanya terlihat puncaknya. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan 20% penduduk Indonesia, atau sekitar 54 juta orang, mengalami gangguan mental emosional. Ironisnya, hanya 8% dari penderita tersebut yang mendapatkan penanganan profesional yang memadai.


Angka ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentang cara mengetahui adanya masalah kesehatan mental. Keengganan masyarakat untuk berkonsultasi ke profesional masih sangat tinggi, padahal deteksi dini adalah kunci utama menuju pemulihan. Mari kita selami lebih dalam mengapa hal ini terjadi dan bagaimana kita dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih mendukung.


Mengapa Banyak yang Enggan Mencari Bantuan Profesional?

Survei Populix pada Oktober 2022 menunjukkan bahwa 69% responden yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental belum mengakses layanan profesional. Mengidentifikasi cara mengetahui adanya masalah kesehatan mental menjadi sia-sia jika enggan mencari bantuan.


Stigma Negatif: Banyak orang merasa malu dan takut dicap "gila" atau "bermasalah" jika mencari bantuan psikolog atau psikiater. Stigma ini dapat menjauhkan pasien dari penanganan terbaik yang bisa didapatkan.

Kurangnya Pemahaman dan Literasi: Minimnya edukasi dan literasi tentang kesehatan mental membuat masyarakat kurang memahami gejala, penyebab, dan pentingnya penanganan gangguan mental.

Biaya: Persepsi bahwa konsultasi ke psikolog atau psikiater itu mahal menjadi salah satu penghalang utama.

Merasa Tidak Perlu: Mayoritas responden (45%) merasa tidak perlu berkonsultasi, dan 42% percaya dapat menemukan solusi masalahnya sendiri.

Takut Diadili: Orang dengan gangguan mental seringkali enggan menceritakan masalahnya karena takut dihakimi oleh lingkungan sekitar.


Faktor-faktor ini secara kolektif menciptakan hambatan signifikan yang perlu kita atasi bersama. Membangun kesadaran dan menghapus stigma adalah langkah awal untuk mendorong lebih banyak orang mencari dukungan yang mereka butuhkan.


Pentingnya Deteksi Dini untuk Kesehatan Mental Optimal

Memahami cara mengetahui adanya masalah kesehatan mental sejak dini adalah kunci utama menuju pemulihan yang efektif. Psikolog klinis, Tri Iswardani Sadatun, M.Si., menekankan bahwa deteksi dini merupakan langkah pertama yang vital. "Banyak kasus gangguan mental yang memburuk karena tidak dikenali sejak awal. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat lebih cepat mengambil tindakan dan mendapatkan bantuan yang sesuai," jelasnya.


Skrining awal kesehatan mental memiliki manfaat besar, yakni mendeteksi lebih cepat atau menentukan risiko seseorang mengalami gangguan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, atau PTSD. Semakin cepat terdeteksi, semakin baik efektivitas penanganan yang dapat diberikan oleh psikolog dan psikiater. Hal ini secara signifikan mengurangi risiko komplikasi atau masalah yang lebih besar, termasuk penggunaan narkoba atau ide bunuh diri.


Oleh karena itu, edukasi mengenai tanda-tanda awal dan pentingnya skrining perlu terus digalakkan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih peka dan proaktif dalam menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang di sekitar.


Tanda-tanda Awal yang Perlu Diwaspadai pada Kesehatan Mental

Mengenali tanda-tanda awal adalah bagian krusial dari cara mengetahui adanya masalah kesehatan mental. Psikolog Marissa S. Purba, M.Psi., dan psikiater dr. P. Beta Ayu Natalia, Sp.KJ, memaparkan perspektif profesional mengenai pentingnya mengenali gejala-gejala ini. "Mengenali tanda-tanda awal dari gangguan kesehatan mental itu penting. Misalnya seorang ibu atau ayah yang melihat perubahan perilaku pada anak," ujar mereka.


Beberapa gejala awal gangguan mental yang perlu diwaspadai antara lain:


- Perubahan pola tidur yang signifikan, seperti sulit tidur atau tidur berlebihan.

- Perubahan suasana hati yang ekstrem atau cepat berubah tanpa alasan jelas.

- Perubahan fungsi sosial atau menarik diri dari lingkungan dan aktivitas yang disukai.

- Kesulitan konsentrasi, fokus, atau membuat keputusan.

- Sering merasa cemas, khawatir, atau takut yang berlebihan dan tidak proporsional.

- Cepat sedih dan mudah emosi, bahkan terhadap hal-hal kecil.

- Kurang energi atau kelelahan kronis meskipun sudah cukup istirahat.

- Merasa diri tidak berharga atau memiliki harga diri yang rendah (self-esteem rendah).

- Sulit mengatasi stres atau tekanan hidup sehari-hari.

- Pernah atau berisiko menyakiti diri sendiri (self-harm) atau memiliki pikiran untuk bunuh diri.


Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa tanda ini secara persisten, penting untuk tidak mengabaikannya. Ini adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan lebih lanjut.


Sumber: fimela.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com