Deretan Spesies yang Baru Terungkap Dunia Sains Tahun 2025
BICARA FLORA FAUNA - Dunia sains terus menambah daftar nama makhluk hidup setiap tahunnya. Meski ada juga spesies yang dinyatakan punah pada 2025, jumlah penemuan baru ternyata tidak sedikit. Ratusan spesies dideskripsikan secara formal, sering kali lewat proses penelitian bertahun-tahun yang sangat teliti. Peresmian nama ilmiah ini kerap kali baru terjadi jauh setelah organisme tersebut pertama kali dilihat.
Ahli biologi memperkirakan baru sepersepuluh hingga seperlima spesies di Bumi yang terdokumentasi. Bahkan untuk kelompok mamalia, data yang ada belum lengkap. Kekosongan data ini umumnya mencakup hewan berukuran kecil, hewan nokturnal, mereka yang hidup di wilayah terpencil, atau yang mudah terlewatkan. Masalahnya, ketidaktahuan ini juga terjadi di wilayah yang mengalami tekanan lingkungan berat. Banyak spesies berisiko punah sebelum sempat diberi nama ilmiah.
Penemuan spesies baru tidak selalu berasal dari ekspedisi lapangan yang besar. Beberapa memang ditemukan di hutan awan atau laut dalam, namun banyak juga yang terungkap lewat pemeriksaan ulang. Misalnya, temuan perbedaan genetik pada spesimen di laci museum atau spesimen yang tidak sesuai dengan definisi lama. Proses ini sengaja dibuat lambat melalui tinjauan sejawat dan replikasi data. Saat publik mendengar tentang spesies “baru” ini, status mereka di alam liar mungkin sudah langka.
Sains juga makin mengakui fakta penting lain. Spesies yang baru dideskripsikan secara ilmiah sering kali sudah lama dikenal, dinamai, dan dimanfaatkan oleh masyarakat adat serta komunitas lokal. Mereka sering menjadi penjaga utama keanekaragaman hayati tersebut, meski kredit penemuan formal tercatat di tempat lain.
Daftar spesies tahun 2025 ini menunjukkan dua hal: upaya penemuan yang terus berjalan dan sempitnya peluang untuk menyelamatkan spesies tersebut. Temuan ini berasal dari berbagai lokasi, mulai dari jalur wisatwa, koleksi museum, hutan purba, hingga lautan dangkal.
Beberapa Spesies yang Dideskripsikan Tahun 2025
Empat Ular Pohon Baru (Papua Nugini)
Sebuah peristiwa dramatis di Pulau Sudest membuka jalan bagi penemuan ini: herpetolog Fred Kraus menyaksikan seekor ular hitam legam sedang membelit dan melumpuhkan elang goshawk hidup-hidup. Ular pemberani itu kemudian diidentifikasi sebagai Dendrelaphis anthracina (hitam arang), satu dari empat spesies ular pohon baru yang dideskripsikan dari kepulauan terpencil di Provinsi Milne Bay.

Selain D. anthracina, Kraus juga mengidentifikasi D. atra (ular hitam doff dari Pulau Misima yang adaptif di area tambang), D. melanarkys (bermata jingga dengan pola jaring dari Pulau Rossel), dan D. roseni (spesies terkecil dari Pulau Woodlark). Keempatnya adalah contoh nyata “spesiasi pulau”, di mana isolasi geografis mendorong evolusi jalur unik. Penemuan yang diterbitkan di jurnal Zootaxa ini menegaskan posisi Papua Nugini sebagai titik panas keanekaragaman reptil yang belum terpetakan sepenuhnya.
Marmosa chachapoya (Peru)
Pada tahun 2018, ahli biologi Brasil Silvia Pavan melakukan perjalanan ke Taman Nasional Río Abiseo di Peru dengan tujuan awal mencari spesies tupai langka. Bukan tupai yang ditemui, timnya justru menemukan jenis oposum tikus baru yang hidup di hutan awan dataran tinggi. Mereka menamainya Marmosa chachapoya. Menggunakan tes DNA, peneliti memastikan ini adalah spesies marsupial yang benar-benar baru dan berbeda dari oposum tikus lainnya yang sudah dikenal.

Andes timur Peru memiliki banyak spesies unik yang tidak ada di tempat lain. Namun, pegunungan yang curam dan berhutan lebat membuatnya sangat sulit dijelajahi. “Ini adalah area dengan endemisme yang sangat tinggi di antara mamalia kecil, yang secara ilmiah masih sedikit dipelajari,” kata Pavan. “Pastinya ada spesies lain yang masih perlu dideskripsikan.”
Nothobranchius sylvaticus (Kenya)
Para ilmuwan menemukan spesies ikan yang menakjubkan dengan sisik biru berkilauan dan tanda merah cerah di Hutan Gongoni, Kenya. Ikan killifish ini dinamai Nothobranchius sylvaticus, yang berarti “berkaitan dengan hutan”. Ini adalah killifish pertama yang diketahui hidup di habitat hutan, tepatnya di rawa-rawa musiman sepanjang Sungai Mkurumudzi.
Peneliti awalnya mengumpulkan spesimen muda pada 2017. Tes DNA kemudian mengonfirmasi bahwa ini bukan hanya spesies baru, tetapi garis keturunan genetik yang sepenuhnya baru bagi Kenya. Hutan Gongoni yang berusia 7 juta tahun hanya seluas 820 hektar. Habitat yang sangat terbatas ini menempatkan ikan tersebut pada risiko serius. Meski ancaman ekstraksi air dari tambang titanium terdekat telah berakhir pada 2024, pertanian dan perambahan manusia terus membahayakan rawa-rawa tempat ikan ini hidup dan berkembang biak.
Tessmannia princeps (Tanzania)
Ahli botani menemukan spesies pohon baru di Pegunungan Udzungwa, Tanzania. Dinamai Tessmannia princeps, pohon-pohon raksasa ini tumbuh hingga ketinggian 40 meter dengan akar penopang yang besar. Dengan menghitung cincin pertumbuhan pada kayu yang tumbang, peneliti memperkirakan beberapa pohon bisa berusia 2.000 hingga 3.000 tahun.
Ilmuwan hanya menemukan sekitar 100 pohon dewasa di dua cagar hutan kecil yang dikelilingi lahan pertanian tua. “Ini momen yang membuat merinding karena jika mereka tidak mengetahui [spesies ini], itu bisa jadi sesuatu yang menarik,” kata ahli botani Andrea Bianchi. Pohon-pohon ini dianggap rentan punah karena jumlahnya yang sedikit di area yang sangat kecil. Untungnya, hutan tempat mereka tumbuh kini menjadi bagian dari proyek restorasi yang menghubungkan kawasan lindung, memberikan harapan bagi pelestarian spesies purba ini.
Iolaus francisi (Angola)
Di Pegunungan Namba, Angola, para ilmuwan menemukan spesies kupu-kupu baru yang disebut “Francis’s gorgeous sapphire” (Iolaus francisi). Kupu-kupu ini memiliki sayap biru berkilauan yang dibingkai warna hitam, dengan sayap bawah perak berhias pola oranye dan cokelat. Ulatnya hanya memakan tanaman benalu (mistletoe) yang tumbuh tinggi di hutan hijau abadi pegunungan.
Hutan langka ini hanya mencakup 591 hektar dan menghadapi ancaman serius dari kebakaran, pertanian, dan penebangan liar. Kupu-kupu ini adalah satu dari 13 spesies yang hanya ditemukan di wilayah ini. Para ilmuwan khawatir hutan unik ini bisa hilang sebelum kita menemukan semua spesies yang hidup di sana.
Thismia selangorensis (Malaysia)
Seorang naturalis melihat tanaman yang tidak biasa dengan bunga berwarna putih-kemerahan di lokasi piknik populer di Hutan Simpan Hulu Langat, Malaysia. Ilmuwan mengidentifikasinya sebagai Thismia selangorensis, bagian dari kelompok tanaman misterius yang dikenal sebagai “lentera peri” (fairy lantern). Tanaman ini hidup sebagian besar di bawah tanah dan tidak memiliki klorofil, sehingga mereka mencuri nutrisi dari jamur.

Kurang dari 20 tanaman dari spesies baru ini telah ditemukan, semuanya dalam area kecil di lokasi piknik yang sama. Ilmuwan mengklasifikasikan spesies ini sebagai sangat terancam punah karena orang bisa secara tidak sengaja menginjaknya atau banjir bisa menghanyutkannya. Penemuan ini mengingatkan kita bahwa temuan ilmiah penting bisa terjadi di tempat-tempat biasa.
Crunomys tompotika (Sulawesi, Indonesia)
Menambah daftar panjang mamalia endemik Sulawesi, tim peneliti mendeskripsikan Crunomys tompotika, spesies tikus hutan baru dari Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah bagian timur. Berdasarkan analisis ribuan penanda DNA, tikus bertubuh sedang dengan bulu rapat ini terbukti memiliki kekerabatan erat dengan genus Crunomys, memaksa revisi taksonomi besar-besaran terhadap kelompok tikus berduri.

Habitatnya adalah hutan pegunungan alami yang lebat, sebuah ekosistem yang relatif masih terjaga. Penemuan ini dipublikasikan di Journal of Mammalogy dan menjadi bukti pentingnya eksplorasi lapangan yang intensif. “Penemuan ini membuka jendela baru terhadap sejarah evolusi hewan kecil di wilayah Wallacea, serta menegaskan pentingnya klasifikasi ulang pada tingkat genus untuk memahami keanekaragaman mamalia Indonesia secara lebih akurat,” ujar peneliti BRIN, Anang Setiawan Achmadi.
Dua Anggrek Baru di Raja Ampat (Papua Barat Daya, Indonesia)
Di balik pesona bawah lautnya, Raja Ampat menyimpan harta karun botani yang baru terungkap. Dua spesies anggrek baru, Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu, dideskripsikan pada tahun 2025 dari Pulau Batanta. Dendrobium siculiforme tampil elegan dengan bunga krem kekuningan dan bibir runcing menyerupai belati (sicula). Sayangnya, spesies ini diusulkan berstatus Kritis (Critically Endangered) karena sebaran alaminya yang sangat terbatas.

Sementara itu, Bulbophyllum ewamiyiuu memiliki keunikan nama yang diambil dari Bahasa Batta—bahasa asli Suku Batanta yang terancam punah. Ewamiyiuu berarti “bergaris”, merujuk pada motif di batang semunya. Penemuan ini menjadi pengingat pahit. Keindahan anggrek ini terancam oleh aktivitas manusia dan perdagangan ilegal yang sudah merambah hingga ke Jawa, bahkan sebelum sains sempat mengenal mereka sepenuhnya.
Temuan Ocean Census (Global)
Proyek Ocean Census telah menemukan 866 spesies laut baru dalam waktu kurang dari dua tahun. Temuan ini mencakup makhluk luar biasa dari lingkungan laut ekstrem, termasuk kuda laut kerdil (pygmy pipehorse) berukuran 4 sentimeter di lepas pantai Afrika Selatan, limpet laut dalam di kedalaman lebih dari 3.000 meter dekat Norwegia, dan hiu gitar (guitarfish) yang sangat terancam punah.
Ilmuwan memperkirakan baru 10% kehidupan laut yang teridentifikasi, menyisakan 1 hingga 2 juta spesies yang belum terdokumentasi di lautan Bumi. Menggunakan tes DNA dan teknologi canggih, peneliti kini mengidentifikasi spesies baru lebih cepat dari sebelumnya. “Tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk menjadi ahli biologi laut,” kata Direktur Ocean Census Oliver Steeds, mencatat bahwa teknologi modern memungkinkan ilmuwan belajar lebih banyak dalam dekade berikutnya daripada dalam 10.000 tahun terakhir.
Myotis himalaicus (Himalaya)
Peneliti Rohit Chakravarty menangkap kelelawar yang tidak biasa pada 2016 tetapi baru menyadari itu spesies baru setelah tes DNA menunjukkan perbedaan genetik. Ia menghabiskan lima tahun mencari spesimen kedua Myotis himalaicus (myotis ekor panjang Himalaya) untuk mengonfirmasi temuannya. Kelelawar ini memiliki fitur unik seperti ekor ekstra panjang, tubuh lebih berat, dan bercak mata gundul.
Menggunakan metode modern yang menggabungkan pengukuran tubuh, DNA, dan rekaman suara, tim ini menyoroti Himalaya Barat sebagai titik panas (hotspot) bagi spesies langka. Geografi unik wilayah ini, yang terbentuk saat benua India bertabrakan dengan Asia, menciptakan batas antara dua zona ekologi yang kaya.
Celestus jamesbondi (Jamaika)
Peneliti menemukan 35 spesies kadal baru di Karibia, termasuk satu yang dinamai menurut mata-mata fiksi James Bond. Kadal hutan Celestus jamesbondi ditemukan di dekat Goldeneye, Jamaika, tempat penulis Ian Fleming menulis novel terkenalnya.

Ilmuwan dari Temple University menggunakan tes genetik dan pengukuran fisik pada ratusan spesimen, termasuk beberapa yang diawetkan di museum selama 200 tahun. Temuan ini mengkhawatirkan karena lebih dari separuh spesies yang baru diidentifikasi ini mungkin terancam punah. “Habitat hutan spesies ini menghilang dengan cepat, yang berarti banyak yang akan punah dalam masa hidup kita—segera,” kata peneliti Blair Hedges.
Leptophis mystacinus (Brasil)
Ilmuwan mendeskripsikan spesies ular baru di Brasil yang telah tersimpan dalam koleksi museum selama hampir sembilan tahun. Ular nuri ini memiliki warna hijau dan kuning cerah serta garis hitam unik di moncongnya yang tampak seperti kumis. Itulah sebabnya peneliti menamainya Leptophis mystacinus, yang berarti “kumis” dalam bahasa Yunani.

Ular tidak berbisa ini hidup di pohon dan kemungkinan hanya tinggal di Cerrado, sabana tropis Brasil yang sedang dihancurkan oleh pertanian dan peternakan. Lebih dari separuh Cerrado telah hilang. Para ilmuwan khawatir ular ini bisa punah sebelum kita mempelajarinya lebih jauh, padahal predator seperti ular penting untuk mengendalikan populasi hama dan menjaga kesehatan ekosistem.
Tiga Katak Pristimantis (Peru)
Ilmuwan di Peru menemukan tiga spesies katak baru di Pegunungan Andes selama ekspedisi antara 2021 dan 2024. Peneliti mendaki berjam-jam di malam hari melalui area berbahaya dan cuaca tak menentu untuk mencari amfibi dengan lampu kepala. Mereka menemukan Pristimantis chinguelas yang berkulit benjol dan bersuara melengking; P. nunezcortezi dengan bintik hitam di kaki; dan P. yonke yang merupakan spesies terkecil dengan panjang kurang dari satu inci.
Ketiga katak ini hidup di area yang terancam oleh pertanian, peternakan sapi, dan kebakaran. “Mereka kecil dan tidak mencolok, tetapi katak-katak ini adalah pengingat kuat tentang betapa banyaknya hal yang masih belum kita ketahui tentang Andes,” kata Germán Chávez, penulis utama studi dari Institut Herpetologi Peru.
Mobula yarae (Samudra Atlantik)
Ilmuwan akhirnya mengonfirmasi spesies pari manta ketiga di lautan, menamainya Mobula yarae sesuai nama Yara, roh air dari mitologi masyarakat adat Brasil. Selama bertahun-tahun, para ahli percaya hanya ada dua spesies pari manta, namun studi terbaru membuktikan spesies Atlantik ini berbeda secara genetik dan fisik. Spesies ini memiliki bercak bahu putih berbentuk V yang unik.
Peneliti utama Nayara Bucair dari Universitas São Paulo menghabiskan waktu bertahun-tahun menganalisis ribuan foto dan spesimen museum. “Saat kami menerima hasil genetik pertama, saya sadar dan yakin bahwa ini adalah spesies yang berbeda,” kata Bucair kepada Mongabay. “Jauh di lubuk hati, kami semua sudah tahu ini spesies baru selama bertahun-tahun, tetapi hari itu, saya merasa lega.” Mobula yarae hidup hanya di Atlantik barat dan tinggal lebih dekat ke pantai, membuatnya lebih rentan terhadap aktivitas manusia, polusi, dan penyakit dibandingkan kerabatnya yang menjelajah lautan luas.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
