DIBALIK LANGIT GAZA “Perang tanpa bolo, menang tanpa ngasorake”
“Gaza” adalah kata yang membuat akal jungkir balik dan kewarasan terkelupas di tengah kontemplasi. Dunia telah membacanya berkali-kali: darah mengering, nyawa melayang, anak-anak menjadi sasaran, mesin perang bekerja tanpa jam lembur. Masuk akal? Ya. Masuk nurani? Belum tentu.
Di sudut panggung, Adipatilawe—penulis sekaligus sutradara—mengajukan tawaran yang terdengar ganjil di telinga modern: melawan tanpa senjata. Ia meminjam kacamata filsafat Jawa: “perang tanpa bolo, menang tanpa ngasorake.” Bukan pasifisme yang loyo, melainkan perlawanan yang menolak logika adu daya. Sebuah strategi etis yang menggugat asumsi dasar perang: bahwa kemenangan harus lahir dari kehancuran pihak lain.
Dalam dramaturgi ini, iman dan takwa diposisikan bukan sebagai jargon spiritual, melainkan modal kultural—energi simbolik yang bekerja di ranah makna, solidaritas, dan legitimasi moral. Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: adakah yang lebih perkasa dari keyakinan yang mampu menahan hasrat membalas? Jenaka sekaligus getir, karena di dunia yang memuja mesin, Adipatilawe justru mengusulkan nurani.
Sebagai orang Jawa (dan karenanya, barangkali, terlalu akrab dengan ironi), Adipatilawe tidak menawarkan solusi instan. Ia menawarkan cara pandang: menggeser medan tempur dari peluru ke perenungan, dari kekuatan ke kebijaksanaan. Apakah ini “menang”? Mungkin. Apakah ini “masuk akal”? Mungkin juga. Tapi di tengah kebisingan perang, keberanian untuk tidak mengeras—itu sendiri sudah sebuah perlawanan. (*/)
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
