Sunday, December 28, 2025

Perbedaan Tahun Baru Masehi vs Hijriah dari Sejarah hingga Makna


BICARA PENDIDIKAN
- Momen Tahun Baru kerap dimaknai sebagai waktu untuk melakukan refleksi dan menata ulang langkah ke depan.


Namun, di tengah kehidupan masyarakat yang menggunakan dua sistem kalender secara bersamaan, masih banyak yang belum memahami secara utuh perbedaan antara Tahun Baru Masehi dan Hijriah.


Kondisi ini wajar mengingat keduanya berasal dari sistem penanggalan yang berbeda, baik dari sisi sejarah, metode perhitungan, hingga makna yang dikandung.


Perbedaan tersebut tidak hanya berdampak pada penentuan waktu pergantian tahun, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memaknai sebuah awal yang baru.


Oleh karena itu, penting untuk menelaah secara komprehensif perbandingan Tahun Baru Masehi dan Hijriah agar pemahamannya tidak sekadar bersifat umum, melainkan juga mendalam dan utuh.


Sejarah Kalender Masehi


Kalender Masehi, yang juga dikenal sebagai kalender Gregorian, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1582.


Sistem penanggalan ini didasarkan pada perhitungan peredaran bumi mengelilingi matahari dan mula-mula digunakan di wilayah Eropa.


Dasar perhitungannya berasal dari temuan seorang astronom Romawi yang menyimpulkan bahwa satu kali revolusi bumi membutuhkan waktu sekitar 365,25 hari.


Angka tersebut ternyata membawa konsekuensi terhadap pergeseran musim yang datang sedikit lebih lambat dari waktu seharusnya. Untuk mengatasi hal ini, Kaisar Julius Caesar menetapkan penambahan satu hari pada bulan Februari setiap 4 tahun sekali.


Sistem ini kemudian dikenal sebagai kalender Julian. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, kalender Julian mengalami ketidaksesuaian dengan posisi matahari hingga melenceng sekitar 10 hari pada abad ke-16.


Ketidaksinkronan ini dikhawatirkan akan berdampak pada penetapan hari-hari besar keagamaan, khususnya Paskah, yang semakin menjauh dari waktu idealnya.


Atas dasar itu, Paus Gregorius XIII merancang sistem penanggalan baru. Bersama ahli fisika Aloysius Lilius dan astronom Christopher Clavius, pengembangan kalender ini dilakukan selama kurang lebih 5 tahun.


Dalam kalender Gregorian, aturan tahun kabisat disempurnakan. Penambahan satu hari tetap dilakukan setiap 4 tahun sekali, kecuali pada tahun-tahun abad yang tidak habis dibagi 400.


Dengan ketentuan ini, tahun 2000 termasuk tahun kabisat, sedangkan tahun 1700, 1800, dan 1900 tidak. Selain itu, Paus Gregorius XIII juga menetapkan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru, menggantikan tanggal 25 Maret yang sebelumnya digunakan.


Kalender Masehi kemudian diterima secara luas, terutama di negara-negara Katolik seperti Italia, Spanyol, dan Portugal. Sementara itu, Inggris dan Amerika Serikat baru mengadopsinya pada tahun 1752 karena adanya kecurigaan terhadap pengaruh Katolik.


Bahkan, Arab Saudi pun mulai menggunakan kalender Masehi secara resmi pada 2016, setelah sebelumnya mengandalkan kalender Hijriah dalam berbagai urusan administratif.


Sejarah Kalender Hijriah


Melansir dari NU Online, berbeda dengan kalender Masehi, kalender Hijriah lahir dari kebutuhan administratif dalam pemerintahan Islam.


Sejarah mencatat bahwa kebingungan muncul akibat surat-surat resmi yang hanya mencantumkan bulan tanpa menyebutkan tahun.


Hal ini disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy’ari kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, sebagaimana tercatat dalam biografi para khalifah.


Permasalahan penanggalan ini mencuat pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Untuk mencari solusi, dilakukan musyawarah bersama para sahabat yang bertugas di pusat pemerintahan.


Sebelumnya, sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW hingga masa kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq dan 4 tahun awal pemerintahan Umar bin Khattab, belum ada sistem penanggalan Islam yang baku.


Dalam forum tersebut, Umar bin Khattab mengungkapkan kegelisahannya terhadap pencatatan dokumen penting, termasuk surat-menyurat antarwilayah yang menggunakan kalender lokal berbeda-beda.


Kondisi ini menyulitkan administrasi pemerintahan dan menimbulkan potensi kekeliruan. Oleh sebab itu, disepakati perlunya satu sistem penanggalan yang seragam dan digunakan di seluruh wilayah Islam.


Berbagai usulan pun muncul, mulai dari menjadikan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, masa pengangkatan sebagai Rasul, turunnya Al-Qur’an, hingga kemenangan umat Islam dalam peperangan sebagai titik awal kalender.


Setelah melalui pertimbangan matang, disepakati bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menjadi awal penanggalan Islam.


Pilihan ini bukan tanpa alasan. Hijrah dipandang sebagai titik balik penting yang menandai perubahan besar dalam perjalanan umat Islam, sekaligus menjadi fondasi bagi perkembangan dan kemenangan Islam di masa-masa berikutnya. Dari sinilah kalender Hijriah mendapatkan namanya dan mulai digunakan secara resmi.


Perbedaan Tahun Baru Masehi dan Hijriah


Setelah memahami latar belakang sejarah masing-masing kalender, perbedaan antara Tahun Baru Masehi dan Hijriah dapat dilihat dari berbagai aspek berikut.


1. Penggunaan dalam ritual keagamaan

Kalender Hijriah memiliki peran sentral dalam kehidupan umat Islam. Penentuan waktu ibadah penting seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha mengacu sepenuhnya pada sistem penanggalan ini. Tahun Baru Hijriah sendiri menandai pergantian tahun Islam yang selalu jatuh pada tanggal 1 Muharram.


Sebaliknya, Tahun Baru Masehi diperingati secara global setiap 1 Januari. Penanggalan ini berkembang dari sistem kalender Romawi dan kini digunakan secara internasional dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan hingga aktivitas sosial.


2. Perbedaan cara perhitungan waktu

Perbedaan mendasar lainnya terletak pada metode perhitungan waktu. Kalender Hijriah menggunakan peredaran bulan mengelilingi bumi sebagai acuan. Awal bulan ditetapkan ketika hilal terlihat setelah fase bulan sebelumnya berakhir.


Sementara itu, kalender Masehi didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Sistem ini menjadi dasar penentuan panjang bulan dan tahun dalam kalender Masehi.


3. Perbedaan jumlah hari dalam 1 bulan

Jumlah hari dalam setiap bulan juga menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Dalam kalender Hijriah, satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari. Adapun kalender Masehi memiliki jumlah hari yang bervariasi, dengan maksimum 31 hari dalam satu bulan.


Jika ditotal dalam 1 tahun, kalender Hijriah memiliki sekitar 354 hingga 355 hari. Sebaliknya, kalender Masehi lebih panjang dengan jumlah hari mencapai 365 atau 366 hari pada tahun kabisat.


4. Perbedaan sejarah yang mendasarinya

Dari sisi sejarah, kalender Masehi berakar pada sistem penanggalan yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa As atau Yesus.


Sementara itu, kalender Hijriah berlandaskan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 Masehi, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.


5. Penggunaan simbol angka

Perbedaan berikutnya terlihat pada simbol angka yang digunakan. Kalender Hijriah umumnya menuliskan tanggal dengan angka Arab, selaras dengan bahasa utama dalam ajaran Islam.


Sebaliknya, kalender Masehi menggunakan sistem angka yang lazim dipakai secara internasional di berbagai bahasa.


6. Perbedaan pergantian hari

Penentuan awal hari juga menjadi pembeda yang tidak kalah penting. Dalam kalender Masehi, hari baru dimulai tepat pada pukul 00.00 tengah malam.


Sementara kalender Hijriah menetapkan awal hari sejak matahari terbenam, yang menandai dimulainya hari berikutnya.


Perbedaan antara Tahun Baru Masehi dan Hijriah mencerminkan latar belakang sejarah, sistem perhitungan, serta nilai yang dianut oleh masing-masing kalender.


Sumber: beritasatu.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com