Saturday, January 3, 2026

Mekarnya Rafflesia hasseltii, Isyarat Pentingnya Menjaga Hutan Sumatera


BICARA FLORA
Isak tangis Septian Andriki mewakili perasaan publik media sosial, saat ia bersama tim peneliti menyaksikan mekarnya Rafflesia hasseltii, satu dari 42 spesies Rafflesia yang tercatat secara global dan terancam punah saat ini (Malabrigo Jr et al., 2025).

Thanks Chris, terima kasih Pak Iwan. Allahu akbar,” kata Andriki, anggota Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu, dalam unggahan video Chris Thorogood di X, Rabu (19/11/2025) lalu.

Butuh waktu 13 tahun bagi Andriki untuk bisa melihat puspa paling langka di dunia tersebut. Hingga kini, video itu telah ditonton lebih dari dua juta orang, dan menjadi trending di sejumlah platform media sosial.

Dalam cuitannya, Chris Thorogood menulis bahwa Rafflesia hasseltii hanya tumbuh di beberapa hutan hujan terpencil yang dijaga ketat oleh harimau, hanya dapat diakses dengan izin, dan hanya sedikit yang melihatnya.

“Kami mendaki siang dan malam untuk menemukannya,” tulis Chris Thorogood, ahli tumbuhan parasit dari Universitas Oxford.

Selain Andriki dan Thorgood, tim ekspedisi tersebut didampingi Iswandi, pemandu dari Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPN), yang selama ini menjaga dan mengelola kawasan hutan di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, lokasi mekarnya Rafflesia hasseltii.

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Peta sebaran keanekaragaman Rafflesia di wilayah Asia. Sumber: Malabrigo dan kolega

Joko Ridho Witono, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN yang terlibat langsung dalam temuan tersebut mengatakan, pada awalnya, ekspedisi itu akan dilakukan di Desa Tanjung Gelang dan Desa Selamat Sudiarjoo, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Sebab, berdasarkan beberapa penelitian dan informasi dari Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu, R. hasseltii dilaporkan mekar beberapa kali di Bengkulu dan lokasi lain, seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.

“Namun informasi temuan bunga mekar yang akurat mengarahkan tim menuju Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, saat R. hasseltii mekar,” terangnya, dikutip dari laman BRIN­­­, Senin (24/11/2025).

Kegiatan riset besar bertajuk The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia tersebut, merupakan kolaborasi Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Universitas Bengkulu, dan penggiat konservasi di Bengkulu. Penelitian bertujuan memetakan seluruh hubungan kekerabatan Rafflesia di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Indonesia memiliki keanekaragaman Rafflesia tertinggi, mencapai 16 jenis, dengan 13 jenis telah dikoleksi sampelnya oleh tim BRIN,” lanjut Joko.

Joko mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam gerakan konservasi Rafflesiayang sering berada di luar kawasan konservasi, dan berbatasan dengan perkebunan kopi atau sawit. Riset ini juga membuka peluang untuk menemukan jenis-jenis baru Rafflesia yang belum terdokumentasi secara ilmiah.

“Kami berharap Indonesia bisa menjadi pusat penelitian dan konservasi Rafflesia dunia. Dengan kolaborasi internasional dan pendekatan sains yang kuat, kita bisa memastikan bunga langka ini tetap lestari,” tegasnya.

Rafflesia hasseltii yang mekar di Sijunjung, Sumatera Barat. Foto: Dok. BRIN

Rafflesia dengan hutan­­­­

Rafflesia, tumbuhan dengan bunga terbesar merupakan jenis tumbuhan parasit. Dijelaskan dalam Renjana dan kolega (2022), mereka memperoleh semua kebutuhan air dan nutrisi dari tanaman inangnya dengan menggunakan organ khusus, yaitu haustorium, yang menempel pada pucuk atau akar inang.

Uniknya, Rafflesia tergolong jenis parasit holoparasit yang sama sekali tidak mampu berfotosintesis dan sepenuhnya bergantung pada inangnya. Tumbuhan ini tidak memiliki bagian vegetatif seperti batang dan daun, serta tidak memiliki klorofil.

Seluruh pertumbuhannya hanya terjadi pada jaringan batang dan akar inang spesifiknya, yaitu genus Tetrastigma –yang habitatnya umum ditemukan di hutan hujan tropis Asia Tenggara. Ini menegaskan ketergantungan tinggi Rafflesia terhadap pohon inangnya serta ekosistem hutan tropis yang sehat.

“Hilangnya tanaman inang akan menyebabkan kepunahan Rafflesia,” tulis penelitian tersebut.

Sumatera merupakan wilayah utama Rafflesia. Lebih dari 11 spesies tercatat di pulau ini, dan sembilan diantaranya adalah spesies endemik Sumatera (Govaerts et al., 2021).

Dalam penelitian studi kasus oleh Renjana dan kolega, mereka menemukan lebih dari tiga juta hektar hutan di sepanjang bukit barisan (Aceh–Lampung) yang layak menjadi habitat Rafflesia arnoldii. Sekitar dua juta hektar (70 persen) berada di luar kawasan konservasi, dan sekitar 856 ribu (30 persen) berada di dalam kawasan konservasi.

“Temuan studi ini dapat digunakan Pemerintah Indonesia serta Kementerian Kehutanan, untuk menetapkan kawasan lindung dan peningkatan pengelolaan berbasis konservasi,” tulis penelitian tersebut.

Daerah persebaran antara Rafflesia arnoldii dengan tiga spesies Tetrastigma yang berada di dalam dan di luar kawasan konservasi. Sumber: Renjana dan kolega

Sejak Rafflesia ditemukan pertama kali dua abad lalu, ekologinya masih belum dipahami sepenuhnya oleh para peneliti. Pohon Tetrastigma yang diketahui menjadi inang spesisik juga masih sangat sulit diidentifikasi secara pasti di lapangan.

Dijelaskan dalam studi Malabrigo dan kolega (2025), sebuah penelitian di Filipina oleh Pelser dan kolega (2016) menunjukkan bahwa spesies Rafflesia mungkin tidak spesifik terhadap inangnya, seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Studi ini menemukan bahwa sebagian besar dari delapan garis keturunan inang Tetrastigma di pulau-pulau tersebut, mampu menampung banyak spesies Rafflesia. Sebaliknya, empat spesies Rafflesia juga ditemukan bersifat parasit bagi banyak garis keturunan Tetrastigma. Temuan ini mengisyaratkan adanya fleksibilitas inang, sehingga membuka kemungkinan spesies pohon lain mendukung pertumbuhan Rafflesia.

“Selain itu, kurangnya penyimpanan benih dan teknik perbanyakan membuat konservasi eks situ menjadi sangat menantang,” tulis penelitian tersebut.

Rafflesia membutuhkan habitat hutan yang sehat. Foto: Nopri Ismi Mongabay Indonesia

Terancam punah

Gerakan konservasi menjaga hutan sebagai habitat alami, menjadi pilihan terbaik saat ini, karena begitu banyak hal yang belum diketahui tentang ekologi Rafflesia.

Dari 42 spesies yang diketahui, sebagian besar terancam punah. Ini sejalan dengan laju degradasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar.

“Kami memperkirakan bahwa 60% spesies Rafflesia menghadapi risiko kepunahan yang parah (setara dengan Kritis/CR). Selain itu, kami memperkirakan bahwa setidaknya 67% habitat yang diketahui berada di luar kawasan lindung, yang memperburuk kerentanan mereka,” tulis penelitian Malabrigo dan kolega (2025).

Dalam penelitian Renjana dan kolega (2022), disebutkan bahwa, berdasarkan laporan Eyes on the Forest (EoF, 2018), pada 1985, Sumatera masih memiliki 25 juta hektar hutan alami. Namun, setelah lebih tiga dekade deforestasi yang intens, pada 2016 hutan alam tersisa hanya sekitar 11 juta hektar.

Ini berarti, rata-rata kehilangan hutan tahunan mencapai 0,46 juta hektar (460.000 hektar) per tahun. Tingkat kehilangan yang cepat ini berpotensi memberikan risiko besar terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem Sumatera.

Malabrigo dan kolega (2025) menyarankan untuk melakukan pendekatan konservasi multi-cabang (penguatan taksonomi, perbanyakan eks situ, ekowisata, hingga perluasan kawasan lindung), dengan menyerahkan aktivitas konservasi sepenuhnya kepada masyarakat adat atau lokal.

“Terakhir, kami mengusulkan untuk menetapkan Rafflesia sebagai ikon baru bagi konservasi tumbuhan di kawasan tropis Asia. Pendekatan gabungan mungkin dapat menyelamatkan beberapa bunga paling menakjubkan di dunia, yang sebagian besar kini berada di ambang kepunahan,” tegasnya.


Sumber: mongabay.co.id




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com