Saturday, January 10, 2026

Ukuran Asli Hiu Raksasa Megalodon Terungkap: Siripnya Saja Setinggi Manusia Dewasa


BICARA FAUNA
Misteri mengenai penguasa samudera purba bernama Megalodon selalu berhasil memicu imajinasi kolektif kita. Selama ribuan tahun. manusia menemukan gigi raksasa yang membatu dan menganggapnya sebagai lidah naga atau monster laut yang tak terbayangkan. Puncak dari obsesi ini terlihat jelas dalam budaya populer modern. Film fiksi ilmiah seperti The Meg menggambarkan predator ini sebagai monster setinggi gedung yang mampu menelan kapal selam. Film tersebut memvisualisasikan Megalodon yang masih bersembunyi di kegelapan dan dalamnya Palung Mariana, menanti waktu untuk muncul kembali ke permukaan.


Namun, di balik efek visual Hollywood yang memukau, para ilmuwan menghadapi tantangan yang jauh lebih sulit dalam dunia nyata. Menentukan dimensi pasti dari hewan yang telah punah jutaan tahun lalu bukanlah perkara mudah. Sebagian besar kerangka hiu terdiri dari tulang rawan yang tidak bisa menjadi fosil dengan baik. Hal ini menyisakan lubang besar dalam sejarah alam. Para peneliti hanya memiliki ribuan gigi tajam dan beberapa ruas tulang belakang yang membatu sebagai petunjuk utama. Selama puluhan tahun,  perdebatan mengenai seberapa besar sebenarnya sang raksasa ini terus bergulir tanpa jawaban yang pasti.

Mencari Jejak pada Spesies Modern

Megalodon sering kali disalahpahami sebagai nenek moyang langsung dari Hiu Putih Besar (Carcharodon carcharias). Anggapan ini muncul karena kemiripan bentuk gigi mereka yang bergerigi. Namun. studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Bristol dan Swansea University di Inggris membawa perspektif yang jauh berbeda. Mereka menyadari bahwa membandingkan Megalodon hanya dengan Hiu Putih Besar akan menghasilkan data yang bias. Para peneliti kemudian memperluas jangkauan analisis mereka dengan melibatkan lima spesies hiu makropredator modern sebagai pembanding.

Gambaran hiu Megalodon yang setelah diteliti panjanganya sekitar 16 meter. Ilustrasi: Oliver E. Demuth/Nature

Spesies pembanding tersebut meliputi hiu Mako sirip pendek (Isurus oxyrinchus),  hiu Mako sirip panjang (Isurus paucus), hiu Salmon (Lamna ditropis), dan hiu Porbeagle (Lamna nasus). Pemilihan spesies ini didasarkan pada kesamaan fisiologis dan kemampuan termoregulasi. Megalodon diyakini sebagai hewan mesotermik yang mampu menjaga suhu tubuhnya tetap hangat di lingkungan laut yang dingin, sama seperti hiu modern dalam daftar penelitian tersebut. Dengan menggunakan metode pemindaian morfometrik. tim ilmuwan meneliti bagaimana proporsi tubuh hiu-hiu ini berubah seiring pertumbuhan mereka. Mereka menemukan sebuah keajaiban biologis yang disebut isometri, sebuah kondisi di mana hiu tumbuh secara proporsional. Tidak seperti manusia yang lahir dengan kepala besar lalu berubah bentuk saat dewasa, hiu mempertahankan bentuk tubuh yang konsisten sejak lahir hingga mencapai ukuran maksimal.

Terungkapnya Ukuran Sang Raksasa

Berbekal data pertumbuhan isometrik dari lima spesies hiu modern tersebut, para peneliti menerapkan model matematika untuk merekonstruksi tubuh Megalodon. Mereka tidak lagi hanya menebak-nebak berdasarkan satu spesies tunggal. Hasil dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal yang terbit di Nature ini akhirnya memberikan jawaban final yang dinanti dunia sains. Setelah melalui perhitungan matematis yang rumit, terungkap bahwa ukuran asli Megalodon dewasa mencapai panjang total 16 meter. Meski angka ini mungkin terdengar lebih kecil dibandingkan klaim 25 meter dalam film fiksi, realitas dimensinya jauh lebih mengerikan dari yang bisa kita bayangkan.

Gigi Megalodon yang besar dibandingkan dengan dua gigi hiu putih. Sumber: Wikimedia Commons/Megalodon tooth with great white sharks teeth-3.jpg

Bayangkan sebuah predator laut dengan panjang 16 meter yang memiliki berat mencapai 48 ton. Berat ini setara dengan gabungan sepuluh gajah afrika dewasa yang berenang di lautan. Detail anatomi yang terungkap menunjukkan bahwa kepala raksasa ini saja memiliki panjang mencapai 4,6 meter. Sebuah rongga mulut yang begitu luas sehingga mampu melumat mangsa sebesar paus kecil dalam hitungan detik. Kekuatan gigitannya diperkirakan mencapai 108.000 hingga 182.000 Newton, menjadikannya pemilik gigitan terkuat dalam sejarah planet bumi.

Sirip Punggung yang Menyamai Manusia

Salah satu bagian paling mengejutkan dari rekonstruksi ini adalah dimensi siripnya. Sirip punggung Megalodon yang tegak lurus ke atas ternyata memiliki ketinggian mencapai 1,6 meter. Angka ini secara visual sangat intimidatif karena hampir setara dengan tinggi rata-rata pria dewasa di Indonesia. Jika kita berdiri di atas dek kapal dan melihat sirip ini muncul di permukaan air, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan bagian tubuh yang ukurannya setara dengan tubuh kita sendiri. Selain itu, ekornya yang berbentuk seperti bulan sabit memiliki ketinggian mencapai 3,8 meter.

Perbandingan sirip punggung Megalodon dewasa sepanjang 1,6 meter dengan penyelam. Ilustrasi: Oliver E. Demuth/Nature

Struktur ekor yang masif ini bukan sekadar hiasan. Ketinggian ekor tersebut mengindikasikan bahwa Megalodon adalah perenang jenis thunniform. Gaya berenang ini mengandalkan kekuatan ekor untuk mendorong tubuh dengan kecepatan tinggi, sementara bagian depan tubuh tetap stabil. Adaptasi ini sangat krusial bagi predator sebesar Megalodon untuk mengejar mamalia laut yang lincah seperti anjing laut dan lumba-lumba purba. Ukuran 16 meter ini bukan sekadar angka, melainkan representasi dari efisiensi evolusi puncak di lautan.

Akhir dari Era Sang Penguasa Samudera

Setelah mengetahui dimensi aslinya, pertanyaan besar berikutnya adalah mengapa makhluk sehebat ini bisa punah. Kepunahan Megalodon sekitar 2,6 juta tahun lalu tidak terjadi karena mereka kalah bertarung. Perubahan suhu lautan global menjadi faktor utama. Sebagai predator yang menyukai perairan hangat. Megalodon terdesak ketika samudera mulai mendingin di akhir zaman Pliosen. Penurunan suhu ini memicu perubahan besar dalam rantai makanan dan migrasi paus ke wilayah kutub yang lebih dingin.

Megalodon yang memiliki tubuh raksasa seberat 48 ton membutuhkan asupan energi yang sangat masif untuk bertahan hidup. Ketika jumlah mangsa berkurang dan akses ke perairan hangat terbatas, sang penguasa tidak lagi mampu menopang kebutuhan biologis tubuhnya. Kenyataannya, Megalodon tidak mungkin bersembunyi di palung laut terdalam seperti yang diceritakan di layar lebar. Palung laut memiliki suhu yang hampir membeku dan sangat sedikit makanan. Predator sebesar 16 meter tidak akan pernah bisa bertahan di sana.


Sumber: mongabay.co.id




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com