Venezuela: Tragedi Negeri Petro-State dan Dinamika Konflik Geopolitik 2026
Oleh: Moch Idris
Sejarah Venezuela dimulai jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, namun struktur negara modernnya dibentuk oleh kolonialisme Spanyol yang dimulai pada tahun 1498. Selama tiga abad, wilayah ini menjadi bagian penting dari kekaisaran Spanyol. Perjuangan kemerdekaan dipelopori oleh tokoh legendaris Simon Bolivar, yang berhasil membebaskan Venezuela pada tahun 1811 (secara de facto 1821). Visi Bolivar tentang persatuan Amerika Latin tetap menjadi identitas ideologis bangsa ini hingga dua abad kemudian.
Pada awal abad ke-20, Venezuela adalah negara agraris yang miskin hingga ditemukannya cadangan minyak raksasa di Danau Maracaibo pada tahun 1914. Di bawah kepemimpinan diktator Juan Vicente Gomez, Venezuela bertransformasi menjadi eksportir minyak mentah terbesar di dunia pada tahun 1920-an. Hal ini memicu pertumbuhan ekonomi yang spektakuler, namun juga menciptakan ketergantungan kronis pada komoditas tunggal. Fenomena ini menyebabkan sektor lain seperti pertanian dan manufaktur terabaikan sebuah kondisi ekonomi yang dikenal sebagai "Penyakit Belanda". Sepanjang pertengahan abad ke-20, Venezuela menikmati kemakmuran relatif dan demokrasi yang stabil melalui Pakta Punto Fijo (1958), menjadikannya salah satu negara terkaya di Amerika Latin.
Kestabilan demokrasi Venezuela mulai goyah pada akhir 1980-an ketika harga minyak dunia merosot. Kerusuhan sosial Caracazo (1989) mencerminkan kemarahan rakyat terhadap kesenjangan ekonomi. Di tengah kekacauan ini, seorang letnan kolonel bernama Hugo Chavez muncul. Setelah gagal dalam upaya kudeta tahun 1992, ia memenangkan pemilu tahun 1998 dengan janji "Revolusi Bolivar" dan sosialisme abad ke-21.
Di bawah Chavez, Venezuela menggunakan keuntungan minyak yang luar biasa selama periode commodity boom (2004–2012) untuk mendanai program sosial (Misiones) guna membantu kaum miskin. Namun, kebijakan nasionalisasi massal terhadap perusahaan asing dan kontrol harga yang ketat mulai merusak produktivitas domestik. Chavez juga secara radikal mengubah arah politik luar negeri Venezuela dengan menantang dominasi Amerika Serikat dan membangun aliansi erat dengan Rusia, China, dan Kuba. Meskipun dicintai oleh basis pendukungnya, kebijakan Chavez meninggalkan beban utang yang besar dan infrastruktur industri minyak (PDVSA) yang tidak terawat karena dana dialihkan untuk politik.
Setelah kematian Chavez pada 2013, Nicolas Maduro mengambil alih kepemimpinan. Masa jabatannya ditandai oleh kombinasi mematikan antara jatuhnya harga minyak dunia dan mismanajemen ekonomi yang parah. Venezuela terjerumus ke dalam hiperinflasi ekstrem yang menghancurkan daya beli masyarakat. Kelangkaan makanan, obat-obatan, dan layanan dasar memicu krisis kemanusiaan terbesar di belahan bumi barat, menyebabkan lebih dari 7 juta warga Venezuela mengungsi ke luar negeri.
Secara politik, pemerintahan Maduro menjadi semakin otoriter untuk mempertahankan kekuasaan di tengah protes massa. Pada tahun 2019, ketegangan memuncak saat pemimpin oposisi Juan Guaido memproklamirkan diri sebagai presiden interim dengan dukungan Barat, namun Maduro tetap bertahan berkat dukungan militer dan sekutu luar negerinya. Amerika Serikat merespons dengan menjatuhkan sanksi ekonomi yang sangat berat, termasuk embargo minyak, yang semakin melumpuhkan kemampuan finansial negara tersebut. Ketegangan ini terus membara selama bertahun-tahun tanpa solusi diplomatis yang berarti.
Memasuki tahun 2026, situasi mencapai titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada 3 Januari 2026, dunia dikejutkan oleh serangan militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat di bawah perintah Presiden Donald Trump (yang kembali menjabat). Operasi yang dinamakan "Operation Southern Spear" ini melibatkan serangan udara terhadap instalasi militer di Caracas, Miranda, dan La Guaira.
Tujuan utama operasi ini adalah penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, atas tuduhan "narkoterorisme" dan konspirasi penyelundupan narkoba ke wilayah AS yang telah didakwakan sejak tahun 2020. Laporan terkini mengonfirmasi bahwa Maduro telah ditangkap di kediamannya dan dibawa ke kapal induk USS Iwo Jima sebelum akhirnya diterbangkan ke New York untuk menghadapi pengadilan. Peristiwa ini memicu kekacauan besar di Caracas; pemadaman listrik total terjadi dan suara ledakan terdengar di seluruh ibu kota.
Saat ini, Venezuela berada dalam keadaan darurat nasional. Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengecam tindakan tersebut sebagai agresi ilegal terhadap kedaulatan negara. Di panggung global, Rusia dan China mengutuk keras serangan AS, sementara PBB memperingatkan bahwa tindakan ini menciptakan "preseden berbahaya" bagi hukum internasional. Dengan penangkapan pemimpin tertingginya, masa depan Venezuela kini berada dalam ketidakpastian total antara harapan akan pemulihan demokrasi atau ancaman perang saudara yang berkepanjangan.
Sumber Artikel:
Kompas.com. (4 Januari 2026). "Kenapa Amerika Serikat Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro?".
Serambinews. (4 Januari 2026). "Konflik AS dan Venezuela: Awal Mula dan Alasan Penangkapan Maduro".
Republika.id. (3 Januari 2026). "Caracas Membara, Venezuela Siap Perang".
Laporan PBB (UN News). (4 Januari 2026). "Reaksi Sekjen PBB Terhadap Eskalasi Militer di Venezuela".
Historical Archive. "The Petro-State Evolution: Venezuela from 1914 to 2025".
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
