Geliat Denyut Teater Pelajar: Membaca Gejala Budaya Generasi Seni Jambi
Oleh: Ady Santoso
Awalan Ledakan
Awal tahun 2026 denyut seni di Jambi telah ditandai dengan pagelaran teater yang telah berlangsung bertubi-tubi. Bagaimana tidak, dalam 1 bulan saja, tepatnya pada Bulan Januari, setidaknya telah terselenggara 3 pertunjukan teater dari grup-grup teater berbeda yang telah dihelat di Teater Arena Taman Budaya Jambi.
Hebatnya, grup-grup teater tersebut merupakan grup teater yang berbasis atawa berasal dari sekolah, mereka adalah; (1) Kolaborasi pementasan antara Sanggar Teater Alangalang & Teater NR yang berasal dari MTs Nururrodiyah Kota Jambi; (2) Ekstrakurikuler Teater Smanda dari SMAN 2 Kota Jambi; (3) Pertunjukan teater dari siswa-siswi kelas XII SMAN 5 Kota Jambi dalam rangka ujian mata Pelajaran yang diorganisir oleh ektrakurikuler teater asal sekolah mereka, yakni Teater Cemara by Limaniart. Peristiwa pertunjukan yang telah berlangsung itulah yang kemudian saya baca sebagai tanda akan gegap gempita dari panggung Teater Arena yang geliat denyutnya telah berpacu kencang walau baru awal tahun 2026.
Hal tersebut saya baca juga sebagai perisiwa yang jauh dari seremoni kebudayaan yang megah, melainkan peristiwa sesuatu yang jauh lebih subtil namun penting, panggung Teater Arena Taman Budaya Jambi tidak diperkenankan tidur, dan terus bernyut bertubi-tubi, dan dalam waktu singkat, panggung berdegup kencang. Pertandakah ini sesuatu yang lebih besar?
Peristiwa tersebut tampak sederhana, hanya pertunjukan teater yang dihelat oleh sanggar teater yang berasal dari sekolah, namun dalam kebudayaan, yang sederhana sering kali menyimpan makna paling dalam. Ketika pelajar datang ke panggung secara masif, ketika jadwal pertunjukan saling berdekatan, ketika ruang teater kembali hidup oleh generasi muda, kita sedang berhadapan dengan sebuah gejala budaya.
Dan setiap gejala budaya layak dibaca, bukan sekadar dirayakan. Oleh karenanya, apa yang telah tersaji di Teater Arena Taman Budaya Jambi, adalah tubuh-tubuh muda yang naik ke panggung dengan peristiwa yang jujur, suara-suara yang belum sepenuhnya mapan, dan keberanian yang belum disaring oleh kalkulasi berlebih. Mereka datang dari sekolah-sekolah, dari ruang kelas, dari latihan-latihan yang sering kali dilakukan dengan fasilitas terbatas, tetapi dengan tekad yang utuh, yakni merayakan perhelatan kesenian. Perayaan yang kemudian meninggalkan pertanyaannya, tentang bukan hanya berapa pertunjukan yang terjadi, melainkan apa arti kehadiran itu. Sebab kebudayaan tidak bergerak melalui angka semata, melainkan melalui tanda-tanda tentang siapa yang hadir, dengan cara apa, dan dalam konteks sosial yang bagaimana.
Pada titik itulah, kemudian peran ruang seperti Teater Arena Taman Budaya Jambi menjadi krusial, yang juga sekaligus membicarakan peran penting dari Unit Pengelola Teknis Dinas (UPTD) Taman Budaya Jambi yang bertindak sebagai pengelola dari Taman Budaya Jambi. Jadi menurut pandangan saya, hal telah tersaji dalam rentetan waktu yang sangat padat dari peristiwa pertunjukan teater yang diselenggrakan secara mandiri ileh sangar sanggar teater tersebut, maka patutlah kemudian UPTD Taman Budaya Jambi mengambil posisi dari fungsi yang bukan hanya menempatkan Teater Arena sebagai sebagai tempat pementasan saja, melainkan perlu meneguhkan posisi sebagai ruang pedagogis kebudayaan. Ruang yang memungkinkan dialog pascapentas, pertemuan lintas sekolah, pendampingan dari seniman dan budayawan yang telah malang melintang turun naik panggung pertunjukan, serta transfer pengetahuan antar generasi.
Saat itulah, kemudian panggung bukan hanya menjadi tujuan akhir proses kebudayaan, melainkan proses keberlanjutan dari seni teater yang terus berdenyut tanpa henti sebagai peristiwa yang menjadi bagian dari proses belajar kebudayaan yang berkelanjutan. Disitulah peristiwa-peristiwa perhelatan teater yang dihelat oleh sanggar berbasis pelajar, kemudian menjelma tumbuh menjadi ekosistem pemajuan kebudayaan.
Teater Pelajar sebagai Ruang Pencarian
Menariknya, geliat tersebut juga memperlihatkan bagaimana sekolah bekerja sebagai bagian dari penggerak ekosistem budaya, dan bukan hanya sebagai institusi Pendidikan semata. Aktifitas sekolah di tengah padatnya kerja ara siswa akan tuntutan nilai, ujian, dan target formal lainnya, teater tetap menemukan celah hidup dan terus tumbuh.
Hal ini tak dapat dipungkiri menandakan adanya kerja-kerja sunyi para pembina, guru, dan pelatih yang memilih bertahan dalam segala keterbatasan demi menghidupkan pertunjukan. Ledakan awal 2026 ini dalam pandangan saya bukan peristiwa instan, melainkan akumulasi dari proses panjang yang jarang mendapat sorotan. Hal itulah kemudian penting untu dibaca sebagai gejala budaya, yang perlu disambut dan dipersiapkan oleh pelbagai pihak untuk terus menjaga dan menghidupkan sikap waspada terhadap euphoria yang berlebihan nantinya. Bahwa ledakan pementasan tidak otomatis menjamin keberlanjutan, tanpa pendampingan artistik yang memadai, tanpa ruang kritik yang sehat, dan tanpa kebijakan kebudayaan yang berpihak pada proses, geliat ini berisiko menjadi letupan sesaat yang dikhawatirkan hilang lenyap di kemudian harinya. Energi generasi muda adalah energi yang cepat menyala, dan sama cepatnya bisa padam jika dibiarkan berjalan sendiri.
Ledakan peristiwa kebudayaan diawal tahun ini penting dibaca bukan hanya semata sebagai statistik jumlah pementasan belaka, melainkan sebagai gejala budaya, bahwa ruang Teater Arena yang kerap dianggap “berjarak” dari pelajar justru direbut, dihidupi, dan diujicobakan oleh mereka. Teater Arena yang sering menjadi saksi kerja-kerja seniman dewasa, mapan, kemudian mendadak menjadi ruang belajar terbuka, tempat remaja memikul tubuhnya sendiri, menghafal teks, mengelola emosi, dan bernegosiasi dengan disiplin kolektif. Ada kegugupan, tentunya, ada ketidaksempurnaan juga, namun justru di sanalah denyut itu terasa hidup. Secara artistik, ragam pendekatan yang muncul memperlihatkan keberanian eksplorasi. Sebut saja pada pertunjukan yang digelar oleh Teater Alangalang dan Teater NR MTs Nururrodiyah Kota Jambi dengan lakon Pencuri Hujan, Karya: Arthur S. Nalan, Sutradara: Diana A, yang berlangsung pada hari Sabtu, 10 Januari 2026.
Pertunjukan yang menghadirkan pendekatan tata artistik realis minimalis dengan adanya potongan-potongan batang kayu yang disebar di area panggung pertunjukan, juga terdapat trap-trap level undakan yang dibungkus dengan kertas berwarna coklat muda, seolah-olah menghadirkan dari suatu setting perbukitan atawa pematang, yang tepat ditenga-tengah setting perbukitan tersebut terdapat sumur, juga pada bagian kiri panggung penonton terdapat sebuah gapura sebagai penanda dari suatu kawasan yang amat ternama.
Selama pertunjukan berlangsung nampak terasa dari upaya para pemain yang mengeksplorasi setting artistik yang telah ditata. Hal tersebutlah yang kemudian saya nilai sebagai keberanian eksplorasi dari tata artistik yang disajikan. Begitupun juga pada pertunjukan yang disajikan oleh Sanggar Teater Smanda SMAN 2 Kota Jambi yang menghadirkan 2 karya pertunjukan dalam penampilannya, ialah pertunjukan monolog berjudul “Elang Menahun”, dan pertunjukan teater berjudul “Goa Mayat” yang kedua pertunjukan tersebut disutradarai oleh EM Yogiswara. Pertunjukan yang digelar pada hari Jum’at & Sabtu, tanggal 30 & 31 Januari 2026, menerapkan pendekatan eksplorasi tata artistik realis yang coba dihadirkan dengan setting goa yang dibangun dari dekorasi kertas berwana coklat, sehingga menghadirkan suasana dinding bukti dengan lubang goa yang berada ditengahnya. Pertunjukan tersebut pada akhirnya mencoba untuk menghadirkan energi pencarian tata artistik itu. Ada hasrat untuk mengeksplorasi, dan justru itulah modal paling berharga dari teater pelajar.
Sehingga dua pertunjukan yang saya jabarkan melalui pendekatan tata artistik yang disajikan, kemduian menandai dari generasi yang tidak ingin sekadar meniru, melainkan ingin memahami.menekankan kekuatan akting dan kejujuran emosi, yang bersamaan dengan memadukan musik, visual, atau simbol-simbol sosial. Tidak semua pilihan dramaturgis rapi, tidak semua upaya eksplorasi berhasil tuntas disajikan.
Ledakan yang lain, ialah apresiasi Drama Kelas XII SMAN 5 Kota Jambi yang diselenggrakan pada hari Ahad, 17 Januari 2026, yang kemudian menjadi aalah satu indikator paling kuat dari geliat teater pelajar di awal 2026, yang mana dalam pandangan saya, pertunjukan drama kelas ini adalah bagian dari hal skala partisipasi. Pentas drama yang terintegrasi dengan ujian mata pelajar bagi kelas XII SMAN 5 Kota Jambi adalah hal baru dan layak untuk diapresiasi, terutama ketika pentas ujian kelas ini telah ditampilkan di ruang publik dan terbuka bagi publik untuk menyaksikannya.
Tampilan format pertunjukan format drama kelas yang melibatkan banyak rombongan belajar sekaligus ini bukan hanya soal jumlah judul, melainkan tentang intensitas proses kolektif yang berlangsung di lingkungan sekolah. Terdapat 10 pertunjukan drama kelas SMAN 5 Kota Jambi yang tampil di Teater Arena Taman Budaya Jambi:
1. Kelas XII A1 – Lakon Dukun-Dukunan karya Puthut Buchori
2. Kelas XII A2 – Lakon Lutung Kasarung
3. Kelas XII A3 – Lakon Keluarga Cemara
4. Kelas XII B – Lakon Beruang Penagih Hutang karya Anton Pavlovich Chekhov
5. Kelas XII C – Lakon RT RW 0 karya Iwan Simatupang
6. Kelas XII D1 – Lakon Beauty and the Beast
7. Kelas XII D2 – Lakon Malam Jahanam karya Motinggo Boesje
8. Kelas XII E1 – Lakon Abdul Muluk
9. Kelas XII E2 – Lakon Hujan. Terobos Aja karya Binar Maisa Zafira
10. Kelas XII E3 – Lakon Lena Tak Pulang karya Muram Batubara
Keberagaman pilihan teks tersebut penting untuk dicatat, dimana ia memperlihatkan lintasan referensi yang luas, dari cerita rakyat, dongeng klasik, realisme sosial Indonesia, hingga naskah dunia dan teks-teks kontemporer. Artinya, teater pelajar kini tidak bergerak dalam satu arah estetik yang tunggal, melainkan sedang mencari bahasa ekspresi yang sesuai dengan konteks, usia, dan daya jangkau mereka, serta tentunya upaya eksplorasi artistik yang sedang mereka bangun.
Hal tersebut tentunya dari apa yang telah tersaji pada format drama kelas menunjukkan bahwa teater tidak lagi menjadi aktivitas eksklusif segelintir siswa, melainkan praktik budaya kolektif. Ratusan pelajar terlibat langsung dalam proses artistik, sebagai aktor, penata artistik, penata musik, tim produksi, hingga penonton yang belajar membaca pertunjukan teman-temannya sendiri. Dalam skala inilah kemudian teater bekerja sebagai alat pedagogi sosial, bukan sekadar ekstrakurikuler.
Oleh karena itu, melalui data partisipasi ini telah menegaskan bahwa ledakan teater pelajar di awal 2026 bukan ilusi, semuanya telah terukur, nyata, dan berbasis proses. Justru karena itu, gejala budaya ini menuntut pembacaan yang lebih serius dari berbagai pihak yang memiliki peran penting dalam kebijakan, tentang bagaimana energi sebesar ini diarahkan, dirawat, dan ditumbuhkan agar tidak berhenti sebagai euforia tahunan, melainkan berkembang menjadi fondasi generasi teater Jambi di masa depan.
Membaca Tanda Ledakan Budaya
Ledakan teater pelajar di awal 2026 ini saya baca sebagai akumulasi dari kerja-kerja panjang yang jarang disorot, dan hal tersebut perlu dibaca kritis. Ledakan tanpa sistem pendampingan berisiko menjadi letupan sesaat. Pertanyaannya adalah apakah setelah panggung riuh ini, tersedia jalur berkelanjutan?. Apakah ada ruang diskusi pascapementasan, kritik yang membangun, akses pelatihan, atau kalender yang memberi kontinuitas?.
Tanpa itu, energi remaja bisa cepat padam, bukan karena kurang bakat, tetapi karena kurang ekosistem. Di titik inilah, pandangan saya kemudian menempatkan peran strategis dari UPTD Taman Budaya Jambi, yang dapat menempatkan diri sebagai fasilitator simpul pertemuan, antara pelajar, pembina, pemerintah daerah, seniman, budayawan dan publik. UPTD Taman Budaya Jambi dapat melaksanakan inisiatif program seperti residensi singkat, forum kritik pelajar, atau kurasi tematik di setiap semesternya, dengan mengambil masa liburan sekolah.
Hal tersebut saya pandanga dapat menjadi jembatan agar ledakan berubah menjadi arus kebudayaan yang terus terjaga geraknya. Dalam konteks inilah, UPTD Taman Budaya Jambi berfungsi sebagai fasilitator artikulasi seni lintas generasi. UPTD Taman Budaya Jambi dapat mengadakan temu wicara proses kekaryana setiap sebualn sekali atau dua bulan sekali untuk membahas dan membedah mengenai tema-teman pertunjukan teater, gaya bermain, dan pilihan estetik yang dihadirkan dala pertunjukan teater, serta siasat dalam merapihkan dramaturgis pertunjukan.
Hal tersebut saya nilai sebagai upaya dari jawaban atas kegelisahan usia remaja, dimana ada dorongan untuk terus berkarya, ada keinginan melampaui batas-batas sekolah dan kurikulum, ada keseriusan yang jujur dalam menghadirkan karya. Kegelisahan-kegelisahan tersebut sata baca justru menjadi penanda bahwa proses teater kini sedang berlangsung deras arusnya. Oleh karenanya kita perlu membaca tanda bahwa teater pelajar kini bukanlah ruang hasil akhir, melainkan ruang tumbuh.
Lebih jauh, ledakan teater pelajar ini menyimpan potensi strategis bagi regenerasi teater Jambi kedepannya. Para pelajar hari ini adalah penonton, aktor, sutradara, dan pengelola ruang seni di masa depan. Tetapi regenerasi tidak terjadi secara alamiah. Ia memerlukan pencatatan, dokumentasi, dan kesinambungan wacana. Pementasan-pementasan teater di awal 2026 ini seharusnya tidak lenyap sebagai ingatan sesaat, melainkan dicatat sebagai bagian dari sejarah kecil yang membentuk arah kebudayaan daerah.
Oleh karenanya perlu peran publik sebagai bagian dari upaya tanggung jawab bersama yang tak kalah penting. Menonton teater pelajar bukan sekadar bentuk dukungan moral, melainkan tindakan pengakuan. Pengakuan bahwa kerja-kerja mereka layak diperbincangkan, dikritisi, diapresiasi secara setara, dan dibangun program strategis untuk pemajuan kedepannya. Karena ketika publik hadir, dialog terbuka, dan kritik berlangsung dengan hormat, teater pelajar akan tumbuh bukan dalam bayang-bayang belas kasihan, melainkan dalam medan wacana yang sehat.
Maka, geliat denyut teater pelajar Jambi di awal 2026 ini patut dibaca sebagai tanda kehidupan kebudayaan. Ia menandai munculnya generasi yang berani mengambil ruang, meski dengan segala keterbatasan. Tinggal pertanyaan kuncinya kini diarahkan kepada ledakan teater pelajar ini, apakah gejala ini akan dirawat sebagai proses kebudayaan, atau dibiarkan berlalu sebagai euforia musiman?. Jawaban atas pertanyaan itulah yang kelak menentukan apakah geliat denyut teatetr pelajar awal 2026 akan dikenang sebagai awal sebuah lintasan panjang yang akan membawa kemajuan pada generasi seni di Jambi, atau sekadar ledakan yang perlahan menghilang dari panggung pertunjukan.
Sebagai penutup, ledakan teater pelajar ini adalah tanda harapan, bahwa generasi teater Jambi sedang deras mengalir mencari ruang kesetaraan dan pengakuan. Mereka menuntut harapan tanggung jawab bersama-sama dalam hal keberpihakan. Oleh karenanya perlu segera dibangun strategi keberlanjutan dari ekosistem teater pelajar Jambi, agar ledakan ini bukan peristiwa sesaat, melainkan kesiapan bersama dalam menata keberlanjutan dari generasi teater Jambi.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom


