BRIN Peringatkan Efek Fenomena Godzilla El Nino di Indonesia, Apa Itu?
BICARA PERISTIWA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan terkait dampak dari fenomena Godzilla El Nino yang akan menghantam Indonesia. Berdasarkan riset, BRIN menyebut efek dari fenomena Godzilla El Nino ini akan mulai dirasakan masyarakat Indonesia pada April hingga Oktober 2026 atau sekitar 6 bulan lamanya.
Melalui akun X resmi BRIN, @brin_indonesia, BRIN menyebut Godzilla El Nino atau fenomena pemanasan suhu laut di Pasifik ini dapat membuat musim kemarau di Indonesia jadi lebih panjang dan lebih kering. Kondisi ini bakal diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia.
IOD merupakan interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Hindia yang mempengaruhi iklim atau kondisi cuaca di daerah sekitar Samudra Hindia. Fenomena IOD dibagi menjadi dua jenis yaitu IOD positif dan IOD negatif berdasarkan perbedaan kondisi SPL di barat dan timur Samudra Hindia.
“Dampaknya awan dan hujan lebih banyak terbentuk di Pasifik, sementara Indonesia kekurangan hujan. IOD positif juga membuat suhu laut di sekitar Sumatera dan Jawa mendingin, sehinggaa curah hujan makin berkurang. Kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026,” bunyi keterangan BRIN, dikutip Jumat (20/3/2026).
BRIN menyatakan, untuk wilayah selatan yakni Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi lebih kering, tetapi berbeda dengan Sulawesi, Halmahera dan Maluku yang masih bisa diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof Erma Yulihastin, mengungkapkan, mengingat dampak fenomena Godzilla El Nino terjadi tidak merata, maka pemerintah sebaiknya mempertimbangkan sejumlah langkah mitigasi.
“Mitigasi pemerintah sebaiknya mempertimbangkan dampak kekeringan di selatan Indonesia, dampak banjir di wilayah timur laut, dampak kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan serta mengoptimalkan produksi garam,” jelas Prof Erna.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pada 2026 sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih cepat dibandingkan rerata klimatologinya.
Datangnya musim kemarau lebih awal ini disebabkan oleh berakhirnya fenomena La NiƱa Lemah pada Februari 2026, yang saat ini telah bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Dalam laman resmi BMKG, disebutkan peralihan angin baratan atau Monsun Asia menjadi angin timuran atau Monsun Australia menjadi salah satu penanda dimulainya musim kemarau di Indonesia.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
