Sunday, March 22, 2026

Menjaga Warisan Leluhur, Pawai Ziarah Kubur Desa Tanjung Satu-satunya di Provinsi Jambi


BICARA TRADISI -
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Desa Tanjung di Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, justru menampilkan sebuah tradisi yang tetap kokoh bertahan. 


Ribuan warga berjalan bersama dalam balutan doa, mengikuti pawai ziarah kubur yang menjadi satu-satunya di Provinsi Jambi. Tradisi ini bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga representasi kuat dari identitas spiritual masyarakat yang terus terjaga lintas generasi.


Pawai ziarah kubur ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang hidup bagi sejarah yang terus dihidupkan. 


Kepala Desa Tanjung, Irwan Akili, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur sekaligus sarana memperkuat nilai kebersamaan masyarakat. 


“Ini bukan hanya perjalanan menuju makam, tetapi perjalanan untuk mengingat, mendoakan, dan melanjutkan nilai-nilai yang telah diwariskan,” ungkapnya.


Berbeda dengan praktik ziarah kubur pada umumnya yang terbatas pada lingkup keluarga, masyarakat Desa Tanjung melaksanakannya secara kolektif. 


Lebih dari 1.000 warga ikut serta dalam satu barisan panjang yang penuh kekhusyukan. Kebersamaan ini menjadi cerminan kuat solidaritas sosial, di mana seluruh lapisan masyarakat melebur dalam satu tujuan spiritual.


Prosesi dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Imam Masjid Muawanah Desa Tanjung, H. Muhammad Hasbi, S.Pd.I. Lantunan doa yang menggema menciptakan suasana yang khidmat, mengiringi langkah warga menuju kompleks pemakaman leluhur. 


Setiap langkah yang diambil seolah menjadi simbol penghubung antara generasi masa kini dengan jejak sejarah yang telah lama terpatri.


Sejarah panjang tradisi ini berakar dari sosok Khatib Ali, yang pada tahun 1770 M dikenal sebagai pembawa ajaran Islam pertama di Desa Tanjung. Kehadirannya menjadi titik awal berkembangnya nilai-nilai keislaman yang hingga kini masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat setempat.


Perjalanan sejarah tersebut kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh penting lainnya. Tengku Zainudin tercatat sebagai pendiri masjid pertama di wilayah Bathin VIII, disusul oleh Tengku Sa’id yang merintis berdirinya pesantren di Desa Tanjung. 


Peran pendidikan agama juga diperkuat oleh Tengku Capuk atau H. Mahmud melalui pengajaran Al-Qur’an, serta Tengku Abdullah yang dikenal sebagai hakim pertama di Desa Tanjung yang menanamkan nilai keadilan dalam kehidupan masyarakat.


Tokoh-tokoh berikutnya seperti H. Abbas sebagai pendiri pesantren turut memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam. 


Sementara itu, Puyang Gung dikenal sebagai sosok dermawan dan cendekiawan yang mendukung pendidikan generasi muda dengan membiayai mereka menuntut ilmu ke luar daerah menggunakan emas sebanyak satu gong. 


KH. Usman juga menjadi figur ulama berpengaruh yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ihsan, sebagaimana disampaikan oleh tokoh masyarakat, M. Saman, M.Pd.I.


Pawai ziarah kubur di Desa Tanjung pada akhirnya tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga jembatan menuju masa depan. 


Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal tetap dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Sebuah warisan budaya yang bukan hanya unik, tetapi benar-benar menjadi kebanggaan yang tiada duanya di Provinsi Jambi. (*/) 




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com