Tuesday, March 10, 2026

Menolak Berdamai dengan Amerika, Iran: Trump Penipu


BICARA INTERNASIONAL
- Iran menegaskan menolak jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah Iran menyatakan siap menghadapi perang panjang jika konflik dengan AS dan sekutunya terus berlanjut.


Pernyataan tersebut disampaikan penasihat kebijakan luar negeri untuk kantor pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, yang menyebut tidak ada lagi ruang negosiasi dengan Washington.


Menurut Kharazi, pengalaman dua kali perundingan sebelumnya membuat Iran tidak lagi mempercayai komitmen Amerika Serikat dalam proses diplomasi.


“Donald Trump penipu, dia telah menipu banyak orang lain. Dia juga tidak menepati janjinya dan itu kami alami dalam dua kali negosiasi. Maka, saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi. Saat kami terlibat dalam negosiasi, mereka menyerang kami,” kata Kamal Kharazi dilansir dari CNN, Rabu (11/3/2026).


Kharazi menyerukan negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu menekan Amerika Serikat agar menghentikan agresi terhadap Iran.


“Tidak akan ada ruang untuk itu, kecuali tekanan ekonomi ditingkatkan sedemikian rupa sehingga negara-negara lain akan campur tangan untuk menjamin penghentian agresi Amerika dan Israel terhadap Iran,” ujarnya.


Ia menilai konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan di berbagai negara, terutama terkait inflasi dan krisis energi.


“Perang ini telah menimbulkan banyak tekanan ekonomi pada pihak lain, dalam hal inflasi, dalam hal kekurangan energi, dan jika terus berlanjut, tekanan ini akan semakin meningkat, dan oleh karena itu pihak lain tidak punya pilihan selain ikut campur,” jelasnya.


Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan, Iran dilaporkan melakukan sejumlah serangan balasan di wilayah Timur Tengah. Teheran mengklaim serangan tersebut menargetkan kepentingan AS di negara-negara Teluk.


Namun dalam beberapa kasus, serangan juga dilaporkan mengenai area sipil seperti bangunan tempat tinggal dan bandara.


Konflik ini turut mengguncang pasar energi global. Jalur perdagangan energi di kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz, dilaporkan mengalami gangguan signifikan.


Lalu lintas maritim melalui jalur strategis tersebut hampir lumpuh, sementara harga minyak mentah melonjak hingga melampaui US$ 100 per barel pada awal pekan.


Menurut data Rapidan Energy Group, sekitar 20% pasokan minyak dunia terdampak konflik yang sedang berlangsung. Angka ini diperkirakan dua kali lipat lebih besar dibanding gangguan pasokan energi pada masa Krisis Suez 1956–1957.


Selain menghambat distribusi minyak, konflik tersebut juga mengurangi kapasitas cadangan energi global yang biasanya digunakan sebagai penyangga ketika terjadi gangguan pasokan.


Kapasitas cadangan sendiri merujuk pada kemampuan produksi minyak tambahan yang dapat segera diaktifkan untuk menstabilkan pasar energi saat terjadi krisis.


Sumber: beritasatu.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com