Rutin Dengarkan Musik Bisa Turunkan Risiko Demensia, Ini Penjelasannya
BICARA TREND - Pengobatan modern terus berkembang dan mendorong batas umur panjang manusia. Banyak orang kini bisa hidup lebih lama berkat kemajuan teknologi medis dan gaya hidup yang lebih sehat.
Namun, di balik meningkatnya harapan hidup tersebut, muncul tantangan besar lain yang tidak kalah penting, yaitu penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Dalam banyak kasus, tubuh manusia mampu bertahan lebih lama dibandingkan kemampuan otak. Kondisi ini membuat penyakit seperti demensia menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi banyak orang ketika memasuki masa tua.
Penyakit ini tidak hanya memengaruhi daya ingat, tetapi juga kemampuan berpikir, berkomunikasi, hingga menjalani aktivitas sehari-hari.
Demensia sering menjadi bayangan menakutkan bagi banyak keluarga karena dapat memengaruhi kualitas hidup lansia secara drastis. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan terus diteliti untuk menurunkan risiko penyakit ini.
Cara Mengurangi Risiko Demensia
Para ahli telah lama menyarankan beberapa kebiasaan gaya hidup untuk membantu menjaga kesehatan otak. Beberapa langkah yang umum direkomendasikan antara lain menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, memperoleh pendidikan yang baik, serta menjaga otak tetap aktif melalui berbagai aktivitas mental.
Kini, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa musik juga dapat menjadi salah satu faktor yang membantu melindungi kesehatan otak.
Studi Besar pada Lansia Australia
Disitat dari laman ZMEScience, penelitian berskala besar yang melibatkan lebih dari 10.800 lansia di Australia menemukan adanya hubungan antara aktivitas yang berkaitan dengan musik dan penurunan risiko demensia.
Studi ini dipimpin oleh peneliti dari Monash University, yaitu Emma Jaffa bersama Profesor Joanne Ryan. Mereka menganalisis data dari proyek penelitian jangka panjang yang dikenal sebagai ASPREE Study.
Penelitian tersebut melacak berbagai faktor yang berkaitan dengan kesehatan lansia, mulai dari kondisi fisik, riwayat penyakit, hingga kebiasaan gaya hidup seperti mendengarkan atau memainkan musik. Hasil analisis menunjukkan temuan yang cukup menarik.
Dalam penelitian tersebut, lansia yang secara rutin memainkan alat musik diketahui memiliki risiko demensia 35% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak terlibat dalam aktivitas musik.
Temuan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi peneliti. Sejumlah studi sebelumnya juga telah menunjukkan musisi sering memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik karena aktivitas musik melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan.
Namun, hasil yang lebih mengejutkan justru datang dari kelompok lain dalam penelitian tersebut.
Mendengarkan Musik Juga Memberi Manfaat
Penelitian ini menunjukkan seseorang tidak harus menjadi musisi untuk mendapatkan manfaat bagi kesehatan otak. Para lansia yang melaporkan selalu atau sangat sering mendengarkan musik ternyata memiliki penurunan risiko demensia hingga 39% dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mendengarkan musik.
Selain itu, kelompok ini juga menunjukkan risiko 17% lebih rendah mengalami kondisi yang disebut CIND. CIND merupakan singkatan dari cognitive impairment no dementia, yaitu tahap awal penurunan kognitif yang sering dianggap sebagai ruang tunggu sebelum demensia.
Pada fase ini seseorang mungkin mulai mengalami gangguan ingatan ringan, seperti mudah lupa atau kesulitan mengingat informasi tertentu. Namun, mereka biasanya masih mampu hidup mandiri dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bagaimana Musik Bekerja pada Otak?
Menurut para peneliti, musik dapat memberikan stimulasi yang cukup kompleks bagi otak manusia. Ketika seseorang mendengarkan musik, otak tidak hanya menerima suara secara pasif. Otak akan memproses berbagai unsur dalam musik, seperti nada, ritme, harmoni, serta karakter suara atau timbre.
Proses ini mengaktifkan berbagai bagian penting dalam otak, termasuk hippocampus, bagian otak yang berperan dalam penyimpanan memori dan amygdala, yang berkaitan dengan emosi.
Tidak jarang seseorang merasakan pengalaman yang disebut sebagai nostalgia saraf, yaitu ketika sebuah lagu tiba-tiba memunculkan kenangan masa lalu secara sangat jelas.
Misalnya, seseorang bisa mendengar lagu lama dari masa muda dan tiba-tiba teringat pada momen tertentu, seperti pertemuan pertama, perjalanan penting, atau kenangan keluarga.
Aktivitas semacam ini dianggap sebagai bentuk latihan bagi otak karena memicu kembali jaringan memori dan emosi.
Genre Musik Tidak Ditentukan
Penelitian ini tidak menentukan jenis musik tertentu yang paling bermanfaat bagi otak. Para ilmuwan menilai keterlibatan emosional dengan musik kemungkinan lebih penting dibandingkan genre musik itu sendiri.
Dengan kata lain, musik yang membuat seseorang merasa terhubung secara emosional mungkin memberikan efek stimulasi otak yang lebih besar. Artinya, musik klasik tidak selalu lebih baik daripada musik lain.
Lagu dari band seperti Metallica bisa saja memberikan manfaat yang sama dengan karya dari Wolfgang Amadeus Mozart, selama musik tersebut benar-benar melibatkan perhatian dan emosi pendengarnya.
Hubungan Ini Belum Tentu Sebab-Akibat
Walaupun hasil penelitian ini cukup kuat, para ilmuwan mengingatkan bahwa hubungan antara musik dan risiko demensia belum tentu bersifat sebab-akibat langsung.
Dalam penelitian ilmiah, hubungan seperti ini disebut korelasi, yang berarti dua hal terjadi bersamaan tetapi belum tentu salah satunya menjadi penyebab.
Misalnya, ada kemungkinan bahwa orang dengan kondisi otak yang lebih sehat memang cenderung lebih aktif mencari dan menikmati musik dibandingkan mereka yang sudah mengalami penurunan kognitif.
Untuk mengurangi kemungkinan bias, para peneliti telah menyesuaikan beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, serta tingkat pendidikan. Setelah penyesuaian tersebut dilakukan, hubungan antara aktivitas musik dan penurunan risiko demensia masih tetap terlihat cukup kuat.
Musik Sebagai Strategi Menjaga Kesehatan Otak
Emma Jaffa menjelaskan temuan ini menunjukkan aktivitas musik berpotensi menjadi strategi sederhana yang mudah diakses untuk menjaga kesehatan kognitif pada usia lanjut.
Sementara itu, Profesor Joanne Ryan menekankan pentingnya menemukan metode pencegahan baru untuk demensia. Menurutnya, hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan demensia, sehingga langkah pencegahan menjadi sangat penting.
Penelitian juga menunjukkan penuaan otak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia dan genetika, tetapi juga oleh lingkungan dan pilihan gaya hidup. Kebiasaan seperti mendengarkan musik atau bermain alat musik dapat menjadi bagian dari pendekatan gaya hidup yang membantu menjaga fungsi otak lebih lama.
Bagi orang yang telah memasuki usia 70 tahun atau memiliki anggota keluarga lansia, musik mungkin bisa menjadi sekutu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan otak.
Walaupun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami secara pasti bagaimana musik memengaruhi risiko demensia, aktivitas ini memiliki satu keunggulan besar, yakni manfaat potensialnya tinggi dan hampir tidak memiliki risiko negatif.
Dengan kata lain, menikmati musik favorit bukan hanya menyenangkan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan kognitif. Jadi, tidak ada salahnya memutar kembali album favorit Anda. Aktivitas sederhana ini mungkin saja membantu menjaga otak tetap aktif dalam jangka panjang.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
