Wednesday, March 11, 2026

Waspada! Ini 4 Penyakit Metabolik yang Picu Risiko Kanker Ginjal


BICARA KESEHATAN
- Kanker ginjal merupakan salah satu jenis kanker yang jumlah kasusnya terus meningkat di berbagai negara. Meskipun tidak sepopuler jenis kanker lain dalam pembahasan publik, penyakit ini memiliki kaitan yang cukup erat dengan berbagai gangguan metabolik yang umum terjadi di masyarakat.


Momentum bulan Maret sering dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini melalui kampanye Renal Cancer Awareness Month. Pada bulan yang sama juga diperingati World Kidney Day, yang pada tahun 2026 jatuh pada 12 Maret, sebagai pengingat pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini.


Di Indonesia, pembicaraan mengenai kanker ginjal semakin banyak muncul setelah kabar wafatnya musisi Vidi Aldiano yang selama bertahun-tahun menjalani pengobatan akibat penyakit tersebut. Kisah perjuangannya membuat masyarakat semakin menyadari bahwa kanker ginjal dapat menyerang siapa saja.


Pada sisi lain, perubahan pola makan selama Ramadan juga dapat memengaruhi kesehatan metabolik tubuh. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis, gorengan, dan makanan olahan secara berlebihan saat berbuka berpotensi memperburuk kondisi metabolik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes yang berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker ginjal.


Penyakit Metabolik yang Berkaitan dengan Risiko Kanker Ginjal

Sebagian besar kasus kanker ginjal termasuk dalam jenis Renal Cell Cancer (RCC), yaitu kanker yang berkembang dari sel-sel pada tubulus ginjal. Berbagai penelitian selama beberapa dekade terakhir menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara gangguan metabolik dan meningkatnya risiko penyakit ini.


1. Obesitas

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang paling konsisten dikaitkan dengan kanker ginjal. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Molecular Sciences tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 25% hingga 30% kasus kanker ginjal berkaitan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.


Penumpukan lemak tubuh dapat memicu berbagai perubahan biologis di dalam tubuh. Salah satunya adalah hipoksia, yaitu kondisi ketika jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen.


Situasi ini membuat sel-sel tubuh beradaptasi dengan meningkatkan aktivitas jalur molekuler tertentu, seperti hypoxia-inducible factor (HIF), yang diketahui berperan dalam pertumbuhan tumor.


Selain itu, jaringan lemak yang berlebih juga dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah. Sel-sel lemak menghasilkan berbagai molekul peradangan seperti sitokin dan adipokin yang dapat memengaruhi lingkungan sel di sekitar ginjal.


Obesitas juga berkaitan erat dengan resistensi insulin. Ketika tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, kadar hormon ini dalam darah meningkat. Kondisi tersebut merangsang produksi insulin-like growth factor (IGF-1) yang dapat mempercepat proses pembelahan sel, termasuk sel yang mengalami mutasi.


Penelitian juga menunjukkan bahwa sel stroma pada jaringan adiposa dapat memengaruhi perkembangan tumor. Sel-sel ini mampu melepaskan faktor pertumbuhan serta molekul sinyal yang membantu sel kanker bertahan hidup, berkembang, bahkan mempermudah proses metastasis atau penyebaran ke jaringan lain.


Karena itu, obesitas tidak hanya dipandang sebagai masalah berat badan semata, tetapi juga sebagai kondisi biologis yang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kanker.


2. Hipertensi

Tekanan darah tinggi juga memiliki hubungan yang cukup kuat dengan meningkatnya risiko kanker ginjal. Penelitian dalam jurnal Hypertension tahun 2020 menunjukkan bahwa penderita hipertensi memiliki risiko sekitar 60% hingga 70% lebih tinggi mengalami kanker ginjal dibandingkan mereka yang tekanan darahnya normal.


Ginjal merupakan organ yang sangat bergantung pada jaringan pembuluh darah kecil untuk menjalankan fungsi penyaringan darah. Ketika tekanan darah terus meningkat dalam jangka waktu lama, pembuluh darah kecil di ginjal dapat mengalami kerusakan.


Kerusakan ini memicu perubahan pada jaringan ginjal, termasuk gangguan suplai oksigen serta peningkatan stres oksidatif. Lingkungan sel yang mengalami tekanan kronis seperti ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan genetik yang berperan dalam pembentukan kanker.


Selain itu, hipertensi juga sering berjalan beriringan dengan kondisi metabolik lain seperti obesitas dan resistensi insulin. Kombinasi berbagai gangguan metabolik tersebut dapat semakin memperbesar risiko kerusakan pada jaringan ginjal.


3. Diabetes

Diabetes tipe 2 juga diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ginjal. Studi kohort yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia tahun 2011 menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko sekitar 42% lebih tinggi mengalami kanker ginjal dibandingkan populasi tanpa diabetes.


Pada kondisi diabetes, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat memicu stres oksidatif dan peradangan kronis di dalam tubuh. Kedua proses tersebut dapat merusak berbagai jaringan, termasuk pembuluh darah dan sel-sel ginjal.


Diabetes juga sering disertai dengan peningkatan kadar insulin dalam darah. Seperti pada obesitas, kondisi ini dapat merangsang jalur pertumbuhan sel melalui hormon insulin-like growth factor (IGF) yang dapat memicu proliferasi sel secara berlebihan.


Selain itu, diabetes juga meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis, yang pada akhirnya dapat memperbesar kemungkinan berkembangnya kanker ginjal.


4. Penyakit ginjal kronis

Penyakit ginjal kronis merupakan kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap dalam jangka waktu lama. Penelitian dalam jurnal Advances in Chronic Kidney Disease tahun 2021 menunjukkan bahwa pasien dengan kondisi ini memiliki risiko dua hingga empat kali lebih tinggi mengalami kanker ginjal dibandingkan orang yang tidak memiliki gangguan ginjal.


Kerusakan jaringan ginjal yang berlangsung lama memicu proses regenerasi sel secara terus-menerus. Ketika sel harus terus memperbaiki diri, peluang terjadinya kesalahan dalam proses pembelahan sel juga meningkat.


Selain itu, peradangan kronis, stres oksidatif, serta perubahan lingkungan sel pada ginjal yang rusak dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan sel abnormal.


Pola Makan yang Bisa Memperburuk Faktor Risiko

Ramadan sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki pola makan. Waktu makan yang terbatas sebenarnya dapat membantu tubuh menata kembali ritme metabolisme. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru mengalami perubahan pola makan yang berlawanan.


Setelah seharian menahan lapar dan haus, momen berbuka sering berubah menjadi waktu makan besar. Meja makan dipenuhi minuman manis, gorengan, makanan bersantan, hingga makanan cepat saji.


Jika kebiasaan ini terjadi hampir setiap hari selama satu bulan, dampaknya tidak hanya terlihat pada berat badan, tetapi juga pada kesehatan metabolik yang berkaitan dengan risiko kanker ginjal.


1. Konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan

Minuman manis hampir selalu menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa. Sirup, teh manis, minuman kemasan, hingga berbagai hidangan penutup berbasis gula sering menjadi menu pertama saat berbuka.


Gula memang dapat membantu memulihkan energi dengan cepat setelah berpuasa. Namun konsumsi gula berlebihan secara terus-menerus dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah berulang. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkaitan dengan resistensi insulin, diabetes tipe 2, serta peningkatan berat badan.


Penelitian dalam British Medical Journal (BMJ) tahun 2019 juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman tinggi gula secara rutin berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas dan kanker.


Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperbesar kemungkinan terjadinya diabetes dan obesitas, dua faktor yang diketahui meningkatkan risiko kanker ginjal.


2. Makanan tinggi lemak dan gorengan

Gorengan menjadi salah satu makanan yang paling identik dengan berbuka puasa. Banyak orang mengonsumsi beberapa jenis gorengan sekaligus sebelum makan utama.


Masalahnya, makanan yang digoreng dengan minyak panas—terutama jika minyak digunakan berulang kali—dapat menghasilkan senyawa oksidatif dan radikal bebas.


Senyawa tersebut dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh, kondisi yang diketahui berperan dalam perkembangan berbagai penyakit kronis termasuk kanker.


Selain itu, konsumsi makanan tinggi lemak juga berkontribusi pada peningkatan berat badan yang pada akhirnya meningkatkan risiko obesitas.


3. Ultra-processed food dan asupan natrium tinggi

Pilihan praktis seperti mi instan, sosis, nugget, makanan kaleng, hingga berbagai makanan siap saji sering menjadi menu sahur maupun berbuka karena mudah disiapkan.


Sebagian besar makanan tersebut termasuk ultra-processed food (UPF) yang umumnya mengandung natrium tinggi, gula tambahan, serta berbagai bahan tambahan pangan.


Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan memperburuk hipertensi. Penelitian dalam jurnal BMJ tahun 2018 juga menemukan bahwa konsumsi UPF secara rutin berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker.


Jika pola makan seperti ini berlangsung terus-menerus, kondisi metabolik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes dapat semakin memburuk. Ketiga kondisi tersebut diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker ginjal.


4. Makan berlebihan saat berbuka

Tubuh yang berpuasa sepanjang hari sebenarnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali sistem pencernaan. Ketika seseorang langsung mengonsumsi makanan dalam porsi besar saat berbuka, tubuh menerima lonjakan kalori dalam waktu singkat.


Situasi ini dapat memicu peningkatan kadar gula darah dan insulin secara cepat. Jika terjadi berulang kali, pola makan seperti ini dapat mendorong resistensi insulin serta peningkatan berat badan.


Penelitian dalam jurnal Nutrients menunjukkan bahwa kebiasaan makan berlebihan dalam waktu singkat dapat memperburuk kontrol metabolik dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme dalam jangka panjang.


Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sejumlah penyakit metabolik seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal kronis memiliki hubungan yang cukup erat dengan meningkatnya risiko kanker ginjal. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh pola makan serta gaya hidup yang dijalani sehari-hari.


Sumber: beritasatu.com



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com