Iran Tolak Gencatan Senjata Saat Trump Ancam Infrastruktur
BICARA INTERNASIONAL - Pemerintah Iran menolak proposal gencatan senjata selama 45 hari dan menegaskan hanya menginginkan penghentian perang secara permanen di tengah makin dekatnya batas waktu ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Penolakan tersebut muncul saat Washington meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan ancaman perluasan serangan ke berbagai infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan apabila tidak ada kesepakatan hingga batas waktu Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 EST.
Trump pada Senin kembali menegaskan, dirinya tidak khawatir terhadap tudingan pelanggaran hukum perang apabila serangan terhadap fasilitas sipil Iran benar-benar dilakukan.
Di tengah ancaman tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres melalui juru bicaranya mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dilarang berdasarkan hukum internasional.
Pada Selasa pagi, Israel kembali melancarkan gelombang serangan udara ke sejumlah wilayah Iran, sementara Iran membalas dengan serangan rudal ke Israel dan beberapa negara Arab Teluk.
Serangan udara dilaporkan menghantam sejumlah titik di Teheran, termasuk kawasan permukiman. Selain ibu kota, serangan juga terjadi di Qom yang dikenal sebagai kota pusat pendidikan Syiah di selatan Teheran.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi adanya serangan tersebut dan menyatakan perincian lebih lanjut akan diumumkan kemudian.
Wilayah sekitar Parchin, pangkalan militer yang selama ini dikaitkan dengan program rudal balistik Iran, serta sejumlah titik di selatan pusat Teheran juga dilaporkan terkena serangan.
Bandara Internasional Khorramabad turut menjadi sasaran serangan pada Selasa pagi menurut laporan media kehakiman Iran. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan objek yang diduga rudal jelajah menghantam salah satu lokasi di Iran.
14 Juta Warga
Televisi pemerintah Iran juga mengeklaim sebanyak 14 juta warga telah menyatakan sukarela untuk membela negara apabila terjadi invasi darat oleh Amerika Serikat dan Israel. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibanding klaim sebelumnya pada 2 April ketika Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut tujuh juta orang siap bergabung.
Pemerintah Iran dalam beberapa hari terakhir juga terus mendorong mobilisasi sukarelawan melalui media resmi dan pesan singkat, termasuk mengajak pensiunan militer kembali terlibat dalam pertahanan negara.
Pasukan sukarelawan Basij dari Garda Revolusi bahkan dilaporkan mulai menerima remaja usia 12 tahun ke dalam barisan mereka.
Sementara itu, Jembatan King Fahd, jalur utama penghubung Arab Saudi dan Bahrain, kembali dibuka pada Selasa pagi setelah sempat ditutup beberapa jam akibat ancaman serangan.
Penutupan dilakukan setelah serangan rudal balistik Iran yang diarahkan ke Arab Saudi diduga menimbulkan kerusakan pada infrastruktur energi kerajaan tersebut.
Pemerintah Bahrain sebelumnya juga menutup operasional bandara selama beberapa pekan karena meningkatnya ancaman keamanan regional.
Di Prancis, dampak konflik mulai terasa pada distribusi energi. Hampir 18% stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar.
Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 900 truk distribusi tambahan untuk mengisi ulang pasokan di berbagai SPBU.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi bertentangan dengan aturan perang.
“Dalam kerangka perang di Iran, mereka tanpa ragu akan memicu fase eskalasi baru, pembalasan, yang akan menyeret kawasan dan ekonomi dunia ke dalam lingkaran setan yang akan sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Menurut dia, lonjakan harga bahan bakar sudah mulai terasa dan dapat semakin memburuk jika fasilitas energi Iran benar-benar menjadi sasaran.
Sementara itu, Pakistan dan Mesir juga mendesak de-eskalasi menjelang tenggat ultimatum Washington.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty guna mendorong dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
Kedua negara menilai penyelesaian diplomatik tetap menjadi jalan paling penting untuk mencegah konflik meluas ke kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Sementara itu, badan kesehatan dunia di bawah PBB menangguhkan sementara evakuasi medis dari Jalur Gaza melalui Penyeberangan Rafah setelah seorang kontraktor tewas dalam insiden terbaru di wilayah tersebut.
sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
