Tuesday, April 28, 2026

Jejak Ular Sanca Hijau Utara di Hutan Papua


BICARA FAUNA
Hujan turun deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Malam itu, aktivitas pengamatan dihentikan lebih cepat dari rencana. Tim memilih kembali ke titik awal demi keselamatan.

Namun, di antara langkah pulang yang tergesa, sebuah perjumpaan tak terduga terjadi -sunyi, singkat, tetapi membekas lama.

Begitu penuturan Imam Ramdhani, anggota komunitas Bogor Nature Wildlife Photography.

Di tengah gelap hutan dan sisa hujan yang masih menetes dari kanopi, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak.

Ular itu adalah Morelia azurea, atau dikenal sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di pepohonan dan jarang terlihat manusia.

“Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,” ungkapnya, Senin (20/4/2026).

Perjumpaan itu bukan pertama baginya, tetapi tetap hadirkan rasa yang sama. Bukan takut, melainkan kagum.

Baginya, melihat langsung ular pembelit di habitat aslinya selalu menghadirkan sensasi berbeda dibanding sekedar melihat di kandang atau dokumentasi.

“Seneng, excited.”

Malam itu, kenang Imam, ular yang tersebar juga di Papua Nugini berada lebih rendah dari biasanya. Tidak di ketinggian kanopi, melainkan dekat permukaan, meski tetap menempel pada batang pohon.

Dugaannya, perilaku tersebut berkaitan dengan aktivitas berburu.

“Biasanya di atas, sekitar 10-20 meter. Tapi kadang turun, mungkin sedang cari makan.”

Morelia azurea atau yang dikenal dengan nama sanca pohon hijau utara. Foto: Imam Ramdhani

Perubahan warna

Morelia azurea merupakan spesies nokturnal yaitu aktif malam hari.

Dalam posisi diam, melilit, dan menunggu, ia mengandalkan kesabaran untuk menyergap mangsa yang melintas. Gerakannya nyaris tak terlihat, namun instingnya tajam.

Menurut Imam, satu daya tarik utama dari sang penjaga ekosistem hutan ini adalah perubahan warna yang terjadi sepanjang hidupnya.

Tidak banyak orang menyadari, ular ini mengalami transformasi warna cukup drastis.

Saat masih juvenil, warnanya kuning cerah. Bahkan, dalam beberapa kasus, tampak mencolok di antara vegetasi. Namun, seiring pertumbuhan, warna tersebut berubah jadi hijau.

“Yang kuning itu masih anakan. Berubah hijau kalau sudah besar.”

Perubahan ini kerap membuat masyarakat mengira keduanya spesies berbeda. Padahal, fase pertumbuhan dari satu individu.

Imam mengaku beruntung bisa mendokumentasikan dua fase tersebut, walau tidak dalam waktu bersamaan.

Morelia azurea saat masih anakan warnanya kuning cerah. Foto: Imam Ramdhani

Secara ilmiah, Morelia azurea merupakan hasil pemisahan dari spesies Morelia viridis.

Pemisahan ini terjadi sekitar tahun 2019, melalui publikasi ilmiah yang melibatkan peneliti internasional. Sebelumnya, seluruh populasi sanca pohon hijau dianggap sebagai satu spesies. Tetapi, penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan, terutama pada populasi di wilayah utara Papua.

Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbaharui pada 2018, sebelum pemisahan dilakukan.

“Secara administratif, ada kemungkinan bahwa spesies baru ini belum sepenuhnya tercakup dalam perlindungan hukum.”

Harusnya, kata Imam, tetap dilindungi. Karena sebelumnya satu jenis.

Kondisi ini jadi perhatian, terutama bila dikaitkan dengan potensi perdagangan satwa liar. Di lapangan, Imam juga berinteraksi dengan masyarakat lokal. Persepsi terhadap ular, katanya, masih didominasi rasa takut.

“Semua jenis ular dianggap bahaya. Sanca pohon hijau misalnya, tidak punya bisa dan cenderung menghindari manusia.”

Sebagai fotografer satwa liar, Imam tak hanya berburu gambar. Melainkan juga membawa misi ylebih besar, mengenalkan kehidupan liar, termasuk ular sanca pohon hijau utara ke publik.

Dokumentasi visual, menurutnya punya kekuatan untuk mengubah cara pandang masyarakat. Oleh karenanya, dia berharap foto yang dihasilkan menjadi sarana edukasi.

“Lebih baik lihat di alam, bukan dipelihara.”

Pesan ini penting, terutama karena sanca pohon hijau utara termasuk spesies yang cukup populer dalam perdagangan satwa.

Morelia azurea merupakan hasil pemisahan dari spesies Morelia viridis. Foto: Imam Ramdhani

Antara perdagangan dan minim data

Di balik status perlindungannya, sanca hijau -termasuk Morelia azurea- masih menghadapi sejumlah tantangan serius.

Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti satu persoalan utama yaitu praktik perdagangan ilegal yang berlangsung hingga saat ini.

Meski secara global kebutuhan pasar mulai banyak dipenuhi dari hasil penangkaran, namun kondisi dalam negeri berbeda. Permintaan domestik, menurutnya, masih kerap dipenuhi dari tangkapan alam.

“Yang dalam negeri ini rata-rata masih diambil dari alam secara ilegal, padahal ini jenis dilindungi,” jelasnya, Senin (27/4/2026).

Ironisnya, satwa hasil tangkapan liar justru punya tingkat kelangsungan hidup lebih rendah dibanding hasil penangkaran. Banyak individu dari alam tak mampu beradaptasi, rentan terhadap penyakit, hingga akhirnya mati.

Sementara itu, hasil captive breeding lebih stabil dan punya nilai ekonomi lebih tinggi di pasar internasional. Sisi lain, tantangan juga muncul dari keterbatasan data populasi di alam.

Ular seperti sanca hijau bukan jenis yang mudah disurvei. Perilakunya cenderung diam dan aktif malam hari membuat pendataan jumlah populasi jadi sulit dilakukan secara konvensional.

“Yang kita butuhkan sekarang itu baseline data populasi, tapi itu tidak mudah didapat.”

Sebagai solusi, dokumentasi visual dinilai jadi alternatif penting. Foto dan video bisa bantu memetakan distribusi spesies, meski harus disertai kehati-hatian agar lokasi tidak disalahgunakan pemburu ilegal.

Selain itu, keterbatasan akses, biaya, dan keamanan di wilayah Papua juga jadi hambatan dalam riset lapangan. Karenanya, sebagai satu-satunya badan penelitian nasional, BRIN mendorong penguatan kapasitas peneliti lokal sebagai langkah jangka panjang.

“Bangun jaringan dan tingkatkan kesadaran herpetologi di Papua penting.”

Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa perlindungan satwa tak cukup hanya dengan regulasi, namun perlu pengawasan, data yang kuat, serta keterlibatan masyarakat secara luas.


sumber: mongabay.co.id



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com