Tuesday, April 7, 2026

Menjaga Asa Tarsius Bangka di Gunung Menumbing


BICARA FAUNA
Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus).

Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), Teddy Toriko (49), dan Narto (44) mendampingi Mongabay Indonesia memasuki kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Menumbing yang luasnya 3.300 hektar. Mereka adalah petugas Pamhut (Pengamanan Hutan) Tahura Gunung Menumbing.

“Hutan ini habitatnya mentilin,” kata Narto, saat di hutan yang tidak jauh dari sebuah aliran sungai kecil.

“Kalau ingin melihat mentilin harus malam hari dan sehabis hujan. Siang hari mereka sulit terlihat, mungkin karena ukurannya yang kecil dan tengah istirahat,” lanjutnya.

Meskipun belum ada data pasti populasi mentilin di Gunung Menumbing, Narto memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu. “Semoga mereka hidup aman di sini dan populasinya terjaga.”

Mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus) yang menjadikan Tahura Gunung Menumbing sebagai habitatnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Mentilin atau dikenal juga sebagai Horsfield’s Tarsier, adalah primata nokturnal mungil yang bermata besar dan memiliki kaki belakang panjang untuk melompat secara vertikal.

“Mentilin sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai satwa endemik Pulau Bangka maupun endemik Indonesia. Mengingat, distribusinya juga mencakup wilayah Malaysia dan bagian lain di Indonesia,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dan dosen di Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam [KSDA], Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Dijelaskan Randi, secara ekologis, Tahura Gunung Menumbing memiliki kesesuaian yang sangat baik untuk mendukung kehidupan mentilin. Sebagian besar wilayahnya diklasifikasikan memiliki kesesuaian habitat yang tinggi bagi mentilin, yakni seluas 1.898 hektar atau sekitar 57% dari total luas area.

Sementara kepadatan populasi mentilin di Kabupaten Bangka, termasuk di Tahura Gunung Menumbing, diperkirakan berkisar antara 2,22 hingga 17,78 individu/km².

Tapi, secara global tren populasinya mengalami penurunan. Saat ini, spesies Cephalopachus bancanus dan subspesies C. b. bancanus diklasifikasikan ke dalam status Vulnerable (Rentan) oleh IUCN Red List of Threatened Species.

Habitat mentilin di Tahura Gunung Menumbing. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Selain mentilin, Gunung Menumbing juga menjadi habitat musang congkok (Prionodon linsang), binturong (Arctictis binturong), pelanduk (Tragulus kanchil), kukang bangka (Nycticebus bancanus), serta beragam jenis burung seperti elang brontok (Nisaetus cirrhatus), belibis (Dendrocygna), dan elang laut (Haliaeetus leucogaster).

“Kalau rusa sambar (Rusa unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjak) sudah jarang terlihat di Menumbing,” jelas Narto.

Jenis pohon yang tumbuh di Menumbing antara lain ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.), pelawan (Tristaniopsis merguensis), durian namlung (Durio zibethinus Murr.), serta jenis anggrek Bung Karno (Robiquieta spatulata).

Gunung Menumbing selain rumah beragam jenis flora dan fauna, juga hulu sejumlah sungai kecil, yang sebagian mengalir ke Kota Mentok. Misalnya Sungai Arang-Arang, Sungai Babi, Sungai Aik Putih, Sungai Aik Dingin dan Sungai Aik Simpur.

Aliran sungai yang mulai membaik yang sebelumnya rusak oleh penambangan timah liar. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Gunung Menumbing bagi masyarakat Kota Mentok, Ibu Kota Kabupaten Bangka Barat, memiliki nilai penting. Baik dari sejarah maupun tradisi. Pada 1948-1949, saat Agresi Meliter Belanda II, Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. Ag. Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, dan Mr. Assa’at, diasingkan di Pesanggrahan Menumbing, yang berada di puncak bukit. Pesanggrahan ini dibangun Hindia Belanda pada 1928.

Secara tradisi, sebagian besar masyarakat di Mentok memandang bukit Menumbing wilayah suci, yang dijaga berbagai makhluk halus. Sehingga hutan, mata air, sungai, serta batuan granitnya dilarang untuk dirusak.

“Selain itu, hutan Menumbing merupakan apotek obat radisional bagi masyarakat,” kata Mulyadi.

Saat ini, Tahura Gunung Menumbing menjadi lokasi pendidikan lingkungan, yang sebagian besar diikuti para pelajar di Kabupaten Bangka Barat. Pendidikan ini disajikan melalui kegiatan pendakian dan camping drone.

Teddy Toriko, Narto, dan Mulyadi, penjaga Tahura Gunung Menumbing dari ancaman penambangan timah liar, pembalakan, dan perburuan satwa. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Ancaman

Saat masuk kawasan Tahura Gunung Menumbing di ketinggian sekitar 200 meter, terlihat beberapa lubang dengan diameter satu meter yang dalamnya sekitar 1,5 meter, di sekitar batuan granit. “Ini bekas lubang penambangan timah liar,” kata Teddy.

Sebelum ditetapkan sebagai tahura pada 2016, jelas dia, kawasan ini sering dirambah penambang timah, pembalak liar, dan pemburu satwa. Bahkan, setelah ditetapkan sebagai tahura masih ada yang berani menambang timah.

“Tapi para pelakunya sudah ditangkap tim gabungan pada Desember 2025 lalu,” jelasnya.

Randi menambahkan, saat ini sekitar 62% area Tahura Gunung Menumbing atau sekitar 2.068 hektar berada pada tingkat ancaman habitat tinggi bagi mentilin. Ancaman pertama dari penambang timah liar. Diperkirakan 50% area Tahura Gunung Menumbing telah terdegradasi akibat aktivitas ilegal tersebut. Terutama, keberadaan aliran sungai kecil yang sering dibuat bendungan mini untuk memisahkan timah dari tanah.

“Kemudian pembalakan, perluasan perkebunan rakyat, dan perburuan satwa liar juga terus mendesak ruang hidup mentilin,” katanya.

Hilangnya hutan membuat mentilin yang hidup sangat bergantung pada ketersediaan serangga kehilangan makanan. Pakannya didominasi ordo Lepidoptera (seperti ngengat) dan Orthoptera (seperti jangkrik dan belalang). Sesekali, mereka juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, kelelawar, dan ular.

Pelepasliaran kukang bangka (Nycticebus bancanus) oleh Alobi Foundation pada 2025 lalu. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Harapan

Meskipun penuh ancaman, Tahura Gunung Menumbing adalah kawasan hutan yang ideal di untuk dijadikan suaka satwa.

Alobi Foundation, sudah melepasliarkan puluhan satwa endemik Pulau Bangka di sini. Mulai mentilin, kukang bangka, trenggiling, elang laut, dan elang bondol.

“Pertimbangan kami, Menumbing yang paling aman. Sebab pintu masuk kawasan terbatas, serta ada petugas pamhut yang menjaga. Jadi Menumbing jadi pilihan pertama untuk pelepasliaran,” kata Endi R Yusuf, Manager PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi Foundation, Rabu (1/4/2026).

Guna merawat keberadaan Tahura Gunung Menumbing menjadi lebih baik, Randi berharap patroli keamanan, terutama di sepanjang aliran sungai, terus ditingkatkan. Serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi.


sumber: mongabay.co.id




Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com