Targetkan Kemiskinan 0 Persen, Gap Informasi Masih Jadi Masalah Utama
BICARA NASIONAL - Pemerintah optimistis dapat menekan angka kemiskinan di Indonesia hingga menyentuh level 0%. Apalagi, pemerintah telah memberikan sejumlah bantuan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, akumulasi berbagai program bantuan sosial yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebenarnya sudah sangat mencukupi untuk mengangkat taraf hidup masyarakat bawah.
Namun, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah masalah exclusion error atau ketidakteraturan data penerima manfaat.
"Saya menyimpulkan bahwa sebenarnya jika teman-teman kita, saudara kita yang membutuhkan itu mendapatkan program-program ini, maka angka kemiskinan kita tidak hanya kemiskinan ekstrem, tetapi juga angka kemiskinan yang sekarang di angka 8%, itu bisa dua-duanya turun ke 0%," ujar Dirgayuza dalam acara peluncuran "Buku Saku 0% Manfaat dan Penerima Dukungan Kesejahteraan Tahun 2026" di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).
Dirgayuza menyoroti adanya information gap yang membuat masyarakat paling membutuhkan justru tidak mengetahui cara mengakses bantuan. Banyak dari mereka yang bingung mengenai jenis program, besaran manfaat, hingga prosedur pendaftaran.
Hadirnya Buku Saku 0% ini diharapkan menjadi solusi praktis bagi masyarakat dan relawan untuk membantu sesama. Buku ini merinci berbagai bantuan seperti bantuan likuiditas perumahan, PKH, Sekolah Rakyat, hingga beasiswa LPDP dan SMA Taruna Nusantara.
"Artinya kita sekarang menghadapi sebuah situasi yang dinamakan exclusion error, yang terjadi karena adanya information gap. Karena sering kali yang terjadi, mereka yang paling membutuhkan itu tidak memiliki kemampuan akses terhadap informasi," tambah Dirgayuza.
Salah satu program unggulan yang turut dibahas adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Berbeda dengan program bersyarat lainnya, MBG bersifat universal. Dirgayuza menegaskan bahwa cakupan MBG tidak hanya terbatas pada anak sekolah, tetapi juga menyasar kelompok rentan lainnya.
"Program MBG ini tidak hanya untuk anak sekolah. Ada untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ibu hamil itu berhak mendapatkan MBG mulai dari detak jantung pertama anaknya terdeteksi," jelasnya.
Selain itu, buku saku tersebut juga memberikan panduan teknis bagi pengelola panti asuhan untuk mendaftarkan anak-anak asuhnya yang belum memiliki NIK agar tetap bisa mendapatkan haknya.
Lebih lanjut, Dirgayuza mengingatkan kembali pesan Presiden Prabowo mengenai pentingnya gotong royong dalam membantu sesama, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan.
"Bapak Presiden kita, Pak Prabowo, selalu mengatakan: Kalau kita bisa bantu 1.000 orang, kita bantu 1.000 orang. Kalau tidak bisa bantu 1.000, kita bantu 100. Kalau tidak, kita bantu dua, atau kita bantu satu, atau minimal kita tidak menyusahkan orang lain," pungkas Dirgayuza.
sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
