MONOLOG DAN EPILOG (Talenta Budaya yang Tumbuh dan Sistem yang Belum Utuh – Catatan dari FLS3N Kota Jambi 2026)
MONOLOG DAN EPILOG
(Talenta Budaya yang Tumbuh dan Sistem yang Belum Utuh – Catatan dari FLS3N Kota Jambi 2026)
Oleh: Ady Santoso (Juri Lomba Monolog FLS3N Kota Jambi 2026)
Di tengah berbagai perbincangan tentang pembangunan kebudayaan, penguatan ekosistem seni, serta pengembangan talenta generasi muda, apa yang telah berlangsung pada pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2026 Tingkat SMA/SMK/MA/MAK/Sederajat se-Kota Jambi, khususnya pada tangkai lomba Monolog, pada Jum’at, 29 Juni 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jambi, adalah hal yang kemudian menghadirkan satu pelajaran penting yang layak dicatat dalam agenda pembangunan kebudayaan Jambi. Gelanggang tersebut menjadi saksi dari 21 peserta yang berasal dari berbagai sekolah menengah atas dan sederajat mengikuti kompetisi monolog dengan tema besar “Ekspresi Seni Melestarikan Alam”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam tiga subtema utama, yaitu kepedulian terhadap alam, menciptakan lingkungan hijau, serta menjaga dan merawat kebersihan air.
Pada pandangan pertama, kegiatan ini mungkin terlihat sebagai sebuah perlombaan siswa sebagaimana lazimnya agenda tahunan pendidikan. Namun apabila dicermati lebih dalam, peristiwa ini sesungguhnya memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting, yakni tentang bagaimana seni, pendidikan, dan kebudayaan bertemu dalam satu ruang yang sama dan melahirkan proses pembelajaran yang tidak dapat digantikan oleh ruang kelas formal. Di sinilah kemudian menariknya dari ajang perhelatan FLS3N. Perhelatan yang sejatinya berada dalam ranah kebijakan pendidikan, dimana merupakan program yang dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam bidang seni dan sastra. Namun ketika pelaksanaannya berlangsung di Taman Budaya Jambi, maka kita menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kompetisi. Kita melihat bagaimana sebuah institusi kebudayaan bertransformasi menjadi ruang integrasi berbagai kepentingan pembangunan manusia.
Panggung yang Tidak Sekadar Panggung
Pagi itu keadaan sedang diguyur hujan, namun derasnya hujan yang datang tidak menyurutkan semangat dari para peserta FLS3N, pun demikian dengan para peserta lomba monolog. Saya melihat bagaimana sejak pagi para peserta datang dengan berbagai ekspresi, yang mana dapat kita jumpai bahwa ada peserta yang masih menghafal naskah, ada yang masih mempersiapkan artistik pertunjukan di sudut-sudut gedung, ada yang mencoba mengendalikan kegugupan sebelum tampil. Adalah hal yang kemudian juga tak luput dari pentingnya para peserta tersebut adalah adanya di belakang mereka berdiri guru pembimbing, pelatih, teman sekolah, bahkan orang tua yang ikut mengantar, dan juga yang tak penting adalah para kru peserta, panitia, dan tim pendukung yang telah bekerja memastikan semua berjalan baik. Di dalam ruang pertunjukan tersebut, kemudian satu demi satu peserta tampil membawa kegelisahan mereka tentang alam. Mereka berbicara tentang sungai yang tercemar, berbicara tentang pohon yang ditebang, berbicara tentang lingkungan yang kehilangan keseimbangan, berbicara tentang masa depan. Dan yang menarik, semua itu disampaikan bukan melalui ceramah, bukan melalui pidato, melainkan melalui seni. Di sinilah monolog mendudukkan kekuatannya.
Monolog bukan sekadar keterampilan berbicara seorang diri di atas panggung. Monolog adalah latihan berpikir, latihan merasakan, sekaligus latihan menyampaikan gagasan secara artistik. Ia mempertemukan logika, emosi, dan imajinasi dalam satu tubuh aktor. Karena itu, ketika seorang siswa memainkan tokoh yang sedang mempertanyakan kerusakan lingkungan, sesungguhnya ia sedang belajar menjadi warga yang peduli terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Seni dalam konteks ini tidak lagi menjadi pelengkap pendidikan. Seni menjadi metode pendidikan itu sendiri. Oleh karenanyalah, pelaksanaan FLS3N Monolog Kota Jambi 2026 juga memperlihatkan bahwa potensi talenta seni di Kota Jambi sesungguhnya sangat besar. 21 peserta yang tampil mungkin hanyalah angka dalam laporan kegiatan. Namun di balik angka tersebut terdapat proses panjang yang tidak sederhana. Ada guru atau pelatih yang melatih, ada sekolah yang memberi ruang, ada komunitas yang mendampingi, ada keluarga yang mendukung, ada jaringan sosial yang bekerja, ada teman sekolah yang saling memberikan semangat. Dan semua itu bertemu dalam satu panggung. Maka jika ditambah dengan jumlah pendamping, guru, penonton, kru, panitia, serta berbagai pihak yang terlibat, sesungguhnya kegiatan ini telah menggerakkan ratusan orang dalam satu ekosistem seni yang hidup. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah energi sebesar ini akan berhenti setelah lomba selesai? Ataukah kita mampu menjadikannya sebagai bagian dari strategi pembangunan kebudayaan yang lebih besar? Pertanyaan inilah yang membawa kita pada pembahasan yang lebih mendasar mengenai peran Taman Budaya Jambi.
Ketika Pendidikan Bertemu Kebudayaan
Dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya mengemukakan bahwa Taman Budaya Jambi perlu dibaca ulang tidak lagi sekadar sebagai fasilitas pertunjukan, melainkan sebagai episentrum pembangunan kebudayaan Jambi. Pelaksanaan FLS3N Monolog Kota Jambi 2026 memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana fungsi tersebut sebenarnya telah berjalan. Secara administratif, kegiatan ini berada dalam ranah Dinas Pendidikan, namun secara praksis, kegiatan ini berlangsung di ruang kebudayaan. Taman Budaya Jambi menjadi titik temu antara dunia pendidikan, dunia seni, komunitas budaya, guru, siswa, masyarakat, dan pemerintah. Dalam perspektif inilah saya melihat Taman Budaya Jambi juga berperan sebagai Integration Hub atau simpul integrasi kebudayaan. Ia tidak hanya menjadi tempat, ia menjadi penghubung, ia menjadi ruang perjumpaan, ia menjadi titik temu berbagai sistem yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Konsep inilah yang sebelumnya saya sebut sebagai upaya mengakhiri fragmentasi dan melampaui orkestrasi.
Fragmentasi terjadi ketika pendidikan berjalan sendiri, kebudayaan berjalan sendiri, komunitas berjalan sendiri, dan pemerintah bekerja sendiri. Akibatnya, berbagai program yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama tidak pernah bertemu dalam satu sistem yang terintegrasi. Padahal pembangunan manusia tidak mengenal sekat-sekat birokrasi. Tatkala kita menyaksikan seorang siswa yang tampil dalam lomba monolog hari ini, bisa jadi dikemudian hari ia akan menjadi seniman masa depan, budayawan masa depan, pemimpin masa depan, atau bahkan pengambil kebijakan masa depan. Oleh karenanya, proses pengembangannya tidak bisa dibebankan hanya kepada satu institusi. Ia harus menjadi tanggung jawab bersama. Di sinilah Taman Budaya Jambi memiliki posisi strategis.
Taman Budaya Jambi sebagai Ruang Pertemuan Talenta
Kita perlu mulai melihat bahwa pembangunan kebudayaan bukan hanya tentang pelestarian warisan budaya. Pembangunan kebudayaan juga tentang investasi pada manusia, tentang menemukan talenta, tentang membina talenta, tentang menciptakan ruang tumbuh bagi talenta. Dalam konteks inilah FLS3N sesungguhnya menjadi bagian dari agenda besar Manajemen Talenta Nasional Bidang Kebudayaan. Selama ini kita sering berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi lupa menyiapkan pelaku budayanya. Kita sibuk berbicara tentang panggung, tetapi lupa menyiapkan aktornya. Kita sibuk membangun gedung, tetapi lupa membangun manusianya. Padahal tanpa regenerasi, tidak ada kebudayaan yang dapat bertahan. Karena itu, kegiatan seperti FLS3N tidak boleh dipahami sebagai perlombaan tahunan semata. Ia harus dibaca sebagai mekanisme identifikasi talenta. Ia harus menjadi pintu masuk pembinaan. Ia harus menjadi bagian dari sistem pengembangan sumber daya manusia kebudayaan. Dan untuk itu dibutuhkan kolaborasi yang lebih serius. Dan Taman Budaya Jambi sejatinya memiliki instrument untuk pengembangan talenta seni.
Apabila kita memahami, bahwa monolog dan teater, khususnya di kalangan pelajar, perlu kita mulai untuk ditempatkan sebagai agenda strategis pembangunan kebudayaan daerah. Alasannya sederhana, tidak banyak cabang seni yang mampu secara bersamaan melatih dalam hal kemampuan literasi, kemampuan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan empati, kemampuan kerja sama, dan kemampuan kepemimpinan. Teater melakukan semuanya, monolog melakukan semuanya. Karena itu, ketika seorang siswa berlatih monolog, sesungguhnya ia sedang berlatih menjadi manusia yang utuh. Ia belajar membaca, ia belajar memahami, ia belajar merasakan, ia belajar menyampaikan gagasan, dan yang lebih penting, ia belajar memahami orang lain. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, nilai-nilai ini jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan perlombaan. Untuk itu, ke depan pemerintah daerah perlu mulai merumuskan strategi yang lebih serius terhadap pengembangan teater dan monolog pelajar. Tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan kompetisi tahunan. Diperlukan program pembinaan berkelanjutan, laboratorium teater pelajar, pelatihan guru pembina, residensi seniman ke sekolah, kerja sama antara Taman Budaya Jambi, sekolah, komunitas, dan perguruan tinggi, serta sistem pemetaan talenta seni pelajar secara berkelanjutan. Dengan cara itu, FLS3N tidak berhenti sebagai peristiwa. Ia menjadi proses. Ia menjadi ekosistem. Ia menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan.
Generasi Kebudayaan yang Sedang Tumbuh dan Sistem Belum Utuh
Pada akhirnya, pelaksanaan FLS3N Monolog Kota Jambi Tahun 2026 menyisakan satu pertanyaan yang tidak boleh berhenti setelah pengumuman juara dan penutupan kegiatan, setelah panggung ini selesai, ke mana para talenta muda itu akan melangkah? Selama ini kita patut berbangga karena memiliki siswa-siswa yang berbakat, guru-guru yang berdedikasi, komunitas seni yang terus bertahan, serta ruang budaya yang tetap hidup. Namun semua potensi tersebut masih sering bergerak dalam lintasannya masing-masing. Talenta ditemukan, tetapi belum selalu dibina secara berkelanjutan. Kompetisi diselenggarakan, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan sistem pengembangan talenta. Sekolah bergerak, komunitas berkarya, pemerintah menjalankan program, tetapi keterhubungan antar elemen tersebut belum membentuk sebuah ekosistem yang utuh. Kita sesungguhnya tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan semangat, bahkan tidak kekurangan ruang. Yang masih kita perlukan adalah sebuah sistem yang mampu mempertemukan seluruh energi itu dalam satu arah pembangunan yang jelas.
Oleh karenanya, dalam pandangan saya, apa yang telah terselenggara pada pelaksanaan FLS3N Monolog Kota Jambi Tahun 2026 di Taman Budaya Jambi memberikan satu pelajaran penting bagi kita semua. Bahwa pembangunan kebudayaan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, kadang ia dimulai dari seorang siswa yang berdiri sendirian di atas panggung, menyampaikan kegelisahannya tentang alam. Dari sana lahir kesadaran, dari sana lahir empati, dari sana lahir harapan. Dan ketika puluhan siswa melakukan hal yang sama dalam satu ruang yang sama, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan proses pembentukan masa depan kebudayaan itu sendiri. Karena itu, Taman Budaya Jambi harus terus diperkuat sebagai episentrum kebudayaan dan Integration Hub pembangunan talenta seni di Provinsi Jambi. Sebab mengakhiri fragmentasi bukan hanya soal memperbaiki koordinasi antarlembaga. Mengakhiri fragmentasi berarti memastikan bahwa pendidikan, kebudayaan, komunitas, pemerintah, dan masyarakat bergerak dalam arah yang sama. Dan melampaui orkestrasi berarti menjadikan seluruh energi tersebut bukan sekadar terhubung, tetapi tumbuh menjadi sebuah ekosistem yang mampu melahirkan generasi baru pelaku budaya Jambi. Di panggung monolog FLS3N Kota Jambi 2026 itu, saya melihat bukan hanya peserta lomba. Saya melihat benih-benih masa depan kebudayaan Jambi sedang bertumbuh.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
