Monday, June 15, 2026

Membaca Festival Tapak Teater Kuju sebagai Ruang Pengembangan Teater Remaja


RAMAI SELESAI, REGENERASI DIMULAI

Membaca Festival Tapak Teater Kuju sebagai Ruang Pengembangan Teater Remaja

Oleh: Ady Santoso

 


Festival Tak Sekadar Festival

Ketika penonton mulai pergi meninggalkan ruang Teater Arena Taman Budaya Jambi, dan para pemain beserta tim produksi mulai membongkar set pertunjukan lalu kembali lagi ke aktivitas semua, sebuah festival yang telah selesai sesungguhnya belum benar-benar selesai, namun yang berakhir hanyalah peristiwanya, dan kemudian sesungguhnya yang seharusnya berlanjuta adalah dimulai kembali proses persiapan untuk pertunjukan berikutnya. Dalam konteks itulah, apa yang telah berlangsung dari Festival Tapak yang diselenggarakan oleh Teater Kuju dan para Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi di Teater Area Taman Budaya Jambi selama tiga hari layak dibaca bukan sekadar sebagai agenda pertunjukan, melainkan sebagai ruang pembelajaran, regenerasi, dan pembangunan ekosistem teater bagi generasi muda di Jambi. Saya kemudian melihat, bahwa di Tengah terbatasnya ruang ekspresi seni pertunjukan bagi pelajar dan mahasiswa, kehadiran festival seperti ini menjadi penting. Ia menghadirkan panggung, mempertemukan komunitas, membuka ruang apresiasi, dan yang paling penting adalah menciptakan pengalaman artistik yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kelas atau media sosial.

 

Tiga hari mungkin terdengar singkat dalam hitungan kalender. Namun dalam pandangan saya, di dunia seni pertunjukan, tiga hari dapat menjadi ruang yang sangat panjang bagi lahirnya pengalaman artistik, perjumpaan gagasan, pembentukan jejaring, dan proses regenerasi. Itulah yang dapat saya baca dari penyelenggaraan Festival Tapak yang diorganisir oleh Teater Kuju Universitas Jambi beserta mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi yang telah berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jambi mulai Sabtu hingga Senin, 13 s.d 15 Juni 2026 tersebut,  adalah kemudian apa yang saya baca di tengah situasi ketika ruang kesenian sering mengalami tantangan regenerasi, keterbatasan pendanaan, minimnya publikasi, dan belum terbangunnya ekosistem seni yang kuat, kehadiran Festival Tapak kemudian saya pandang sebagai proses dalam menghadirkan optimisme baru pada generasi teater remaja. Festival ini bukan hanya menjadi panggung presentasi karya dari luaran produk pada sebuah Mata Kuliah, tetapi juga saya nilai menjadi bukti bahwa generasi muda masih memiliki energi, kesungguhan, dan keberanian untuk menghidupkan ruang kebudayaan.

 

Tiga pertunjukan yang dipresentasikan, yakni Mega-Mega karya Arifin C. Noer, Malam Jahanam karya Motinggo Busye, dan Aduh karya Putu Wijaya, memperlihatkan keberagaman pendekatan artistik yang saya nilai penting dalam proses pembelajaran teater. Ketiganya tidak hanya menawarkan tontonan, tetapi juga menghadirkan pengalaman intelektual dan sosial bagi para pemain maupun penonton. Namun sesungguhnya yang menjadi hal fundamental adalah makna dari Festival Tapak yang saya nilai sejatinya tidak berhenti pada ketiga pementasan tersebut. Adalah kemudian yang lebih penting tetang bagaimana festival ini membuka kembali diskusi mengenai masa depan teater remaja, posisi teater akademik, dan peran Taman Budaya Jambi dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan, sebab ramainya perhelatan sebuah festival dapat selesai, namun proses regenerasi tidak boleh berhenti.

 

Teater Mahasiswa dan Regenerasi Seni Pertunjukan Teater Jambi Kini

 

Salah satu fenomena yang saya baca dalam kehidupan seni pertunjukan teater di Jambi kini ialah geliat semaraknya dari proses regenerasi teater. Banyak komunitas teater yang termuat juga didalamnya para pelaku teater lahir dan hadir dengan penuh semangat, akan tetapi semaraknya dari para pelaku kemudian didapati masih belum banyak ruang-ruang kegiatan yang diorganisir baik oleh instansi pemerintah, maupun swasta. Itulah kemudian titik point pembahasan saya mengenai urgensi dari kaderisasi pelaku teater yang berkelanjutan. Kita dapat membaca bahwa banyak kelompok aktif ketika medapatkan pendanaan proyek atau adanya suatu festival teater tertentu, lalu kemudian setelahnya banyak vakum ketika momentum itu selesai. Fenomena ini kini menjadi tantangan, karena banyak diantara kita yang menilai bahwa regenerasi sering dipahami sebagai proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya. Padahal regenerasi membutuhkan sistem, ruang, dan kebijakan yang mendukung. Dalam konteks tersebut, kampus juga sejatinya memiliki posisi yang sangat strategis.

 

Mahasiswa berada pada fase kehidupan yang ideal untuk membangun kapasitas artistik. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan, kesempatan untuk bereksperimen, serta lingkungan yang relatif terbuka terhadap gagasan baru. Karena itu, teater mahasiswa sesungguhnya merupakan salah satu fondasi penting bagi masa depan seni pertunjukan Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa banyak tokoh besar teater Indonesia lahir dari lingkungan kampus. Kampus menjadi tempat mereka berlatih, berdiskusi, membaca, berdebat, dan mengembangkan cara pandang artistik. Dari ruang-ruang akademik da eksploratif itulah muncul generasi seniman yang kemudian berkontribusi terhadap perkembangan kebudayaan nasional. Festival Tapak, sya pandang sebagai upaya dalam menunjukkan bahwa fungsi tersebut masih relevan. Melalui festival yang telah beralngsung, para mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga menjadi subjek kebudayaan yang aktif menciptakan ruang ekspresi.

 

Pertunjukan Mega-Mega karya Arifin C. Noer yang disajikan pada hari pertama, Sabtu, 13 Juni 2026, adalah naskah yang menghadirkan dunia kaum marginal yang sering terpinggirkan dalam narasi pembangunan. Tokoh-tokohnya hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap berusaha mempertahankan martabat dan harapan. Pada hal tersebut, pemilihan naskah bagi mahasiswa yang memainkan karya ini, proses kreatifnya bukan sekadar menghafal dialog. Mereka harus memahami struktur sosial yang melahirkan tokoh-tokoh tersebut. Mereka harus mempelajari bagaimana kemiskinan, keterasingan, kegagalan dalam kehidupan dan ketidakadilan yang memengaruhi kehidupan manusia. Di sinilah teater berfungsi sebagai pendidikan sosial. Mahasiswa belajar melihat kenyataan dari perspektif yang berbeda. Mereka belajar memahami kehidupan orang lain. Mereka belajar mengembangkan empati. Dalam konteks pembangunan kebudayaan, kemampuan berempati merupakan modal yang sangat penting. Sebab kebudayaan bukan hanya tentang pelestarian tradisi atau penciptaan karya seni, melainkan juga tentang kemampuan memahami manusia.

 

Jika Mega-Mega mengajak penonton melihat struktur sosial, maka Malam Jahanam karya Motinggo Busye membawa kita memasuki wilayah psikologi manusia. Pertunjukan yang dihelat di hari kedua, pada Ahad, 14 Juni 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jambi. Naskah yang membicarakan tentang rahasia, kecemburuan, pengkhianatan, dan konflik batin yang terjadi dalam hubungan antar manusia. Saya melihat bahwa pertunjukan dengan isu semacam ini penting bagi mahasiswa karena menuntut kedalaman akting yang lebih kompleks. Para pemain harus mampu menghadirkan emosi yang meyakinkan. Mereka harus memahami motivasi karakter. Mereka harus membangun ketegangan dramatik secara konsisten. Namun yang lebih penting, karya ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah sesederhana, terlebih apabila kita konteks kan dalam era media sosial saat ini yang sering memproduksi penghakiman cepat, teater justru mengajarkan kemampuan memahami kompleksitas dalam kehidupan.

 

Pementasan terakhir dari Featival Tapak adalah lakon Aduh karya Putu Wijaya menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda. Pertunjukan yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026, mengangkat permasahan yangi bergerak di wilayah absurd. Logika dipertanyakan, kepastian diguncang, makna tidak selalu hadir secara langsung. Bagi sebagian penonton, bentuk seperti ini mungkin terasa membingungkan. Namun justru di situlah kekuatan teater absurd. Ia tidak menawarkan jawaban, ia menawarkan pertanyaan. Dalam kehidupan modern yang dipenuhi informasi, hoaks, polarisasi politik, dan berbagai kontradiksi sosial, absurditas sering kali terasa lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan rasionalitas yang kita bayangkan. Karena itu, Aduh menjadi ruang latihan berpikir kritis bagi generasi muda, terlebih bagi mahasiswa.

 

Taman Budaya Jambi: Dari Gedung Pertunjukan Menjadi Rumah Regenerasi

 

Salah satu hal yang paling menarik dari Festival Tapak adalah lokasinya diTaman Budaya Jambi. Kehadiran festival mahasiswa di ruang ini memiliki makna simbolik yang sangat penting untuk kita baca lebih lanjut. Taman Budaya Jambi tidak boleh dipahami hanya sebagai gedung pertunjukan. Ia adalah institusi kebudayaan yang memiliki mandat untuk mengembangkan, memfasilitasi, dan memperkuat ekosistem seni di Jambi. Karena itu, keberadaan mahasiswa di panggung Teater Arena Taman Budaya Jambi sesungguhnya merupakan pertemuan antara dua kekuatan, dimana di satu sisi terdapat energi kreatif generasi muda, dan di sisi lain terdapat infrastruktur kebudayaan yang dimiliki negara. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana kedua kekuatan ini dapat dipertemukan secara berkelanjutan?

 

Saya memandang bahwa ke depan, Taman Budaya Jambi perlu mengambil peran yang lebih progresif dalam mendukung kegiatan seni yang lahir dari inisiatif masyarakat. Selama ini, banyak mahasiswa, pelajar, dan sanggar yang menyelenggarakan festival, pementasan, atau program kebudayaan secara mandiri. Mereka bekerja dengan sumber daya terbatas, mengumpulkan dana secara swadaya, mengandalkan batuan sponsor dan mengandalkan semangat gotong royong. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah ketiadaan kreativitas, melainkan keterbatasan akses terhadap fasilitas dan dukungan kelembagaan. Karena itu, Unit Pengelola Teknis Dinas (UPTD) Taman Budaya Jambi perlu mengembangkan paradigma baru. Bukan hanya sebagai penyelenggara program pemerintah, tetapi juga sebagai fasilitator bagi program-program yang diinisiasi oleh masyarakat. Bentuk fasilitasi tersebut dapat berupa: (1) penyediaan ruang latihan gratis atau bersubsidi; (2) penggunaan gedung pertunjukan untuk kelompok muda; (3) bantuan teknis tata cahaya dan tata suara; (3) pendampingan produksi; (4) klinik penulisan naskah; (5) laboratorium sutradara muda; (6) forum kritik dan apresiasi; (7) bedah dokumentasi karya; (8) publikasi kegiatan komunitas. Dengan model seperti itu, Taman Budaya Jambi tidak hanya menghasilkan acara, tetapi juga menghasilkan generasi.

 

Ramai Festival Selesai, Pekerjaan Besar Baru Dimulai

 

Persoalan terbesar kebudayaan di Jambi hari ini bukan hanya kekurangan platform atau event pertunjukan, khususnya teater. Memang setiap tahun festival teater remaja diselenggarakan oleha pihak UPTD Taman Budaya Jambi, namun yang masih kurang adalah ekosistem. Ekosistem berarti adanya hubungan yang berkelanjutan antara seniman, komunitas, sekolah, kampus, pemerintah, media, dan penonton. Festival Tapak kiranya telah mencoba untuk memberikan alternatif bahwa benih-benih ekosistem tersebut sebenarnya sudah ada. Mahasiswa memiliki energi kreatif, komunitas memiliki pengalaman, Taman Budaya Jambi memiliki infrastruktur, dan Pemerintah yang memiliki kebijakan. Adalah yang dibutuhkan kini ialah keberanian untuk mempertemukan semuanya dalam satu visi yang sama. Visi tersebut adalah menjadikan Jambi sebagai ruang tumbuh bagi generasi baru seni pertunjukan.

 

Pada akhirnya, keberhasilan dari telah berlangsungnya Festival Tapak tidak dapat diukur hanya dari jumlah penonton, kualitas artistik pertunjukan, atau kemeriahan acara selama tiga hari. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuannya menumbuhkan harapan bahwa regenerasi masih mungkin terjadi. Pertunjukan yang telah tersaji memberikan pengayaan pengalaman pengkaryaan dan tontonan Melalui Mega-Mega, mahasiswa belajar tentang ketimpangan sosial. Melalui Malam Jahanam, mereka belajar memahami kompleksitas manusia. Melalui Aduh, mereka belajar mempertanyakan realitas. Melalui Taman Budaya Jambi, mereka belajar bahwa seni membutuhkan ruang publik untuk bertumbuh.

 

Namun pekerjaan besar masih menunggu. Regenerasi tidak akan berlangsung hanya melalui satu festival. Ia membutuhkan komitmen jangka panjang, dukungan kelembagaan, kebijakan yang berpihak, dan kemauan untuk membuka ruang bagi generasi muda. Karena itu, Festival Tapak harus dibaca sebagai awal, bukan akhir. Ia adalah tapak pertama dari perjalanan yang lebih panjang. Perjalanan menuju ekosistem teater remaja dan akademik yang kuat. Perjalanan menuju Taman Budaya Jambi yang benar-benar menjadi rumah bagi pertumbuhan regenerasi dan komunitas seni. Perjalanan menuju Jambi yang tidak hanya kaya warisan budaya, tetapi juga kaya generasi penerus kebudayaan. Ramai festival selesai, tetapi regenerasi baru saja dimulai.





Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....

Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap