Membaca Festival Tapak Teater Kuju sebagai Ruang Pengembangan Teater Remaja
RAMAI SELESAI, REGENERASI DIMULAI
Membaca Festival Tapak Teater Kuju sebagai Ruang Pengembangan Teater Remaja
Oleh: Ady Santoso
Festival Tak Sekadar Festival
Ketika penonton mulai pergi meninggalkan ruang Teater Arena Taman Budaya
Jambi, dan para pemain beserta tim produksi mulai membongkar set pertunjukan
lalu kembali lagi ke aktivitas semua, sebuah festival yang telah selesai
sesungguhnya belum benar-benar selesai, namun yang berakhir hanyalah peristiwanya,
dan kemudian sesungguhnya yang seharusnya berlanjuta adalah dimulai kembali proses
persiapan untuk pertunjukan berikutnya. Dalam konteks itulah, apa yang telah
berlangsung dari Festival Tapak yang diselenggarakan oleh Teater Kuju dan para Mahasiswa
Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi di Teater Area Taman Budaya
Jambi selama tiga hari layak dibaca bukan sekadar sebagai agenda pertunjukan,
melainkan sebagai ruang pembelajaran, regenerasi, dan pembangunan ekosistem
teater bagi generasi muda di Jambi. Saya kemudian melihat, bahwa di Tengah terbatasnya
ruang ekspresi seni pertunjukan bagi pelajar dan mahasiswa, kehadiran festival
seperti ini menjadi penting. Ia menghadirkan panggung, mempertemukan komunitas,
membuka ruang apresiasi, dan yang paling penting adalah menciptakan pengalaman
artistik yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kelas atau media sosial.
Tiga hari mungkin terdengar singkat dalam hitungan kalender. Namun dalam
pandangan saya, di dunia seni pertunjukan, tiga hari dapat menjadi ruang yang
sangat panjang bagi lahirnya pengalaman artistik, perjumpaan gagasan,
pembentukan jejaring, dan proses regenerasi. Itulah yang dapat saya baca dari
penyelenggaraan Festival Tapak yang diorganisir oleh Teater Kuju Universitas
Jambi beserta mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi yang telah
berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jambi mulai Sabtu hingga Senin, 13 s.d
15 Juni 2026 tersebut, adalah kemudian
apa yang saya baca di tengah situasi ketika ruang kesenian sering mengalami
tantangan regenerasi, keterbatasan pendanaan, minimnya publikasi, dan belum
terbangunnya ekosistem seni yang kuat, kehadiran Festival Tapak kemudian saya
pandang sebagai proses dalam menghadirkan optimisme baru pada generasi teater
remaja. Festival ini bukan hanya menjadi panggung presentasi karya dari luaran
produk pada sebuah Mata Kuliah, tetapi juga saya nilai menjadi bukti bahwa
generasi muda masih memiliki energi, kesungguhan, dan keberanian untuk
menghidupkan ruang kebudayaan.
Tiga pertunjukan yang dipresentasikan, yakni Mega-Mega karya
Arifin C. Noer, Malam Jahanam karya Motinggo Busye, dan Aduh
karya Putu Wijaya, memperlihatkan keberagaman pendekatan artistik yang saya nilai
penting dalam proses pembelajaran teater. Ketiganya tidak hanya menawarkan
tontonan, tetapi juga menghadirkan pengalaman intelektual dan sosial bagi para
pemain maupun penonton. Namun sesungguhnya yang menjadi hal fundamental adalah
makna dari Festival Tapak yang saya nilai sejatinya tidak berhenti pada ketiga
pementasan tersebut. Adalah kemudian yang lebih penting tetang bagaimana
festival ini membuka kembali diskusi mengenai masa depan teater remaja, posisi
teater akademik, dan peran Taman Budaya Jambi dalam membangun ekosistem
kebudayaan yang berkelanjutan, sebab ramainya perhelatan sebuah festival dapat selesai,
namun proses regenerasi tidak boleh berhenti.
Teater Mahasiswa dan Regenerasi Seni Pertunjukan Teater Jambi Kini
Salah satu fenomena yang saya baca dalam kehidupan seni pertunjukan
teater di Jambi kini ialah geliat semaraknya dari proses regenerasi teater.
Banyak komunitas teater yang termuat juga didalamnya para pelaku teater lahir
dan hadir dengan penuh semangat, akan tetapi semaraknya dari para pelaku
kemudian didapati masih belum banyak ruang-ruang kegiatan yang diorganisir baik
oleh instansi pemerintah, maupun swasta. Itulah kemudian titik point pembahasan
saya mengenai urgensi dari kaderisasi pelaku teater yang berkelanjutan. Kita
dapat membaca bahwa banyak kelompok aktif ketika medapatkan pendanaan proyek
atau adanya suatu festival teater tertentu, lalu kemudian setelahnya banyak vakum
ketika momentum itu selesai. Fenomena ini kini menjadi tantangan, karena banyak
diantara kita yang menilai bahwa regenerasi sering dipahami sebagai proses
alami yang akan berlangsung dengan sendirinya. Padahal regenerasi membutuhkan
sistem, ruang, dan kebijakan yang mendukung. Dalam konteks tersebut, kampus
juga sejatinya memiliki posisi yang sangat strategis.
Mahasiswa berada pada fase kehidupan yang ideal untuk membangun
kapasitas artistik. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan, kesempatan
untuk bereksperimen, serta lingkungan yang relatif terbuka terhadap gagasan
baru. Karena itu, teater mahasiswa sesungguhnya merupakan salah satu fondasi
penting bagi masa depan seni pertunjukan Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa
banyak tokoh besar teater Indonesia lahir dari lingkungan kampus. Kampus
menjadi tempat mereka berlatih, berdiskusi, membaca, berdebat, dan mengembangkan
cara pandang artistik. Dari ruang-ruang akademik da eksploratif itulah muncul
generasi seniman yang kemudian berkontribusi terhadap perkembangan kebudayaan
nasional. Festival Tapak, sya pandang sebagai upaya dalam menunjukkan bahwa
fungsi tersebut masih relevan. Melalui festival yang telah beralngsung, para
mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga menjadi subjek
kebudayaan yang aktif menciptakan ruang ekspresi.
Pertunjukan Mega-Mega karya Arifin C. Noer yang disajikan pada
hari pertama, Sabtu, 13 Juni 2026, adalah naskah yang menghadirkan dunia kaum
marginal yang sering terpinggirkan dalam narasi pembangunan. Tokoh-tokohnya
hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap berusaha mempertahankan martabat dan
harapan. Pada hal tersebut, pemilihan naskah bagi mahasiswa yang memainkan
karya ini, proses kreatifnya bukan sekadar menghafal dialog. Mereka harus
memahami struktur sosial yang melahirkan tokoh-tokoh tersebut. Mereka harus
mempelajari bagaimana kemiskinan, keterasingan, kegagalan dalam kehidupan dan
ketidakadilan yang memengaruhi kehidupan manusia. Di sinilah teater berfungsi
sebagai pendidikan sosial. Mahasiswa belajar melihat kenyataan dari perspektif
yang berbeda. Mereka belajar memahami kehidupan orang lain. Mereka belajar
mengembangkan empati. Dalam konteks pembangunan kebudayaan, kemampuan berempati
merupakan modal yang sangat penting. Sebab kebudayaan bukan hanya tentang
pelestarian tradisi atau penciptaan karya seni, melainkan juga tentang
kemampuan memahami manusia.
Jika Mega-Mega mengajak penonton melihat struktur sosial, maka Malam
Jahanam karya Motinggo Busye membawa kita memasuki wilayah psikologi
manusia. Pertunjukan yang dihelat di hari kedua, pada Ahad, 14 Juni 2026 di
Teater Arena Taman Budaya Jambi. Naskah yang membicarakan tentang rahasia,
kecemburuan, pengkhianatan, dan konflik batin yang terjadi dalam hubungan antar
manusia. Saya melihat bahwa pertunjukan dengan isu semacam ini penting bagi
mahasiswa karena menuntut kedalaman akting yang lebih kompleks. Para pemain
harus mampu menghadirkan emosi yang meyakinkan. Mereka harus memahami motivasi
karakter. Mereka harus membangun ketegangan dramatik secara konsisten. Namun
yang lebih penting, karya ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah
sesederhana, terlebih apabila kita konteks kan dalam era media sosial saat ini yang
sering memproduksi penghakiman cepat, teater justru mengajarkan kemampuan
memahami kompleksitas dalam kehidupan.
Pementasan terakhir dari Featival Tapak adalah lakon Aduh karya
Putu Wijaya menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda. Pertunjukan yang
berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026, mengangkat permasahan yangi bergerak di
wilayah absurd. Logika dipertanyakan, kepastian diguncang, makna tidak selalu
hadir secara langsung. Bagi sebagian penonton, bentuk seperti ini mungkin
terasa membingungkan. Namun justru di situlah kekuatan teater absurd. Ia tidak
menawarkan jawaban, ia menawarkan pertanyaan. Dalam kehidupan modern yang
dipenuhi informasi, hoaks, polarisasi politik, dan berbagai kontradiksi sosial,
absurditas sering kali terasa lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan
rasionalitas yang kita bayangkan. Karena itu, Aduh menjadi ruang latihan
berpikir kritis bagi generasi muda, terlebih bagi mahasiswa.
Taman Budaya Jambi: Dari Gedung Pertunjukan Menjadi Rumah Regenerasi
Salah satu hal yang paling menarik dari Festival Tapak adalah lokasinya
diTaman Budaya Jambi. Kehadiran festival mahasiswa di ruang ini memiliki makna
simbolik yang sangat penting untuk kita baca lebih lanjut. Taman Budaya Jambi tidak
boleh dipahami hanya sebagai gedung pertunjukan. Ia adalah institusi kebudayaan
yang memiliki mandat untuk mengembangkan, memfasilitasi, dan memperkuat
ekosistem seni di Jambi. Karena itu, keberadaan mahasiswa di panggung Teater
Arena Taman Budaya Jambi sesungguhnya merupakan pertemuan antara dua kekuatan,
dimana di satu sisi terdapat energi kreatif generasi muda, dan di sisi lain
terdapat infrastruktur kebudayaan yang dimiliki negara. Pertanyaannya kemudian
adalah, sejauh mana kedua kekuatan ini dapat dipertemukan secara berkelanjutan?
Saya memandang bahwa ke depan, Taman Budaya Jambi perlu mengambil peran
yang lebih progresif dalam mendukung kegiatan seni yang lahir dari inisiatif
masyarakat. Selama ini, banyak mahasiswa, pelajar, dan sanggar yang
menyelenggarakan festival, pementasan, atau program kebudayaan secara mandiri.
Mereka bekerja dengan sumber daya terbatas, mengumpulkan dana secara swadaya, mengandalkan
batuan sponsor dan mengandalkan semangat gotong royong. Fenomena ini
menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah ketiadaan kreativitas, melainkan
keterbatasan akses terhadap fasilitas dan dukungan kelembagaan. Karena itu, Unit
Pengelola Teknis Dinas (UPTD) Taman Budaya Jambi perlu mengembangkan paradigma
baru. Bukan hanya sebagai penyelenggara program pemerintah, tetapi juga sebagai
fasilitator bagi program-program yang diinisiasi oleh masyarakat. Bentuk
fasilitasi tersebut dapat berupa: (1) penyediaan ruang latihan gratis atau
bersubsidi; (2) penggunaan gedung pertunjukan untuk kelompok muda; (3) bantuan
teknis tata cahaya dan tata suara; (3) pendampingan produksi; (4) klinik
penulisan naskah; (5) laboratorium sutradara muda; (6) forum kritik dan
apresiasi; (7) bedah dokumentasi karya; (8) publikasi kegiatan komunitas.
Dengan model seperti itu, Taman Budaya Jambi tidak hanya menghasilkan acara,
tetapi juga menghasilkan generasi.
Ramai Festival Selesai, Pekerjaan Besar Baru Dimulai
Persoalan terbesar kebudayaan di Jambi hari ini bukan hanya kekurangan platform
atau event pertunjukan, khususnya teater. Memang setiap tahun festival teater
remaja diselenggarakan oleha pihak UPTD Taman Budaya Jambi, namun yang masih
kurang adalah ekosistem. Ekosistem berarti adanya hubungan yang berkelanjutan
antara seniman, komunitas, sekolah, kampus, pemerintah, media, dan penonton. Festival
Tapak kiranya telah mencoba untuk memberikan alternatif bahwa benih-benih
ekosistem tersebut sebenarnya sudah ada. Mahasiswa memiliki energi kreatif, komunitas
memiliki pengalaman, Taman Budaya Jambi memiliki infrastruktur, dan Pemerintah yang
memiliki kebijakan. Adalah yang dibutuhkan kini ialah keberanian untuk
mempertemukan semuanya dalam satu visi yang sama. Visi tersebut adalah
menjadikan Jambi sebagai ruang tumbuh bagi generasi baru seni pertunjukan.
Pada akhirnya, keberhasilan dari telah berlangsungnya Festival Tapak
tidak dapat diukur hanya dari jumlah penonton, kualitas artistik pertunjukan,
atau kemeriahan acara selama tiga hari. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada
kemampuannya menumbuhkan harapan bahwa regenerasi masih mungkin terjadi. Pertunjukan
yang telah tersaji memberikan pengayaan pengalaman pengkaryaan dan tontonan Melalui
Mega-Mega, mahasiswa belajar tentang ketimpangan sosial. Melalui Malam
Jahanam, mereka belajar memahami kompleksitas manusia. Melalui Aduh,
mereka belajar mempertanyakan realitas. Melalui Taman Budaya Jambi, mereka
belajar bahwa seni membutuhkan ruang publik untuk bertumbuh.
Namun pekerjaan besar masih menunggu. Regenerasi tidak akan berlangsung
hanya melalui satu festival. Ia membutuhkan komitmen jangka panjang, dukungan
kelembagaan, kebijakan yang berpihak, dan kemauan untuk membuka ruang bagi
generasi muda. Karena itu, Festival Tapak harus dibaca sebagai awal, bukan
akhir. Ia adalah tapak pertama dari perjalanan yang lebih panjang. Perjalanan
menuju ekosistem teater remaja dan akademik yang kuat. Perjalanan menuju Taman
Budaya Jambi yang benar-benar menjadi rumah bagi pertumbuhan regenerasi dan komunitas
seni. Perjalanan menuju Jambi yang tidak hanya kaya warisan budaya, tetapi juga
kaya generasi penerus kebudayaan. Ramai festival selesai, tetapi regenerasi
baru saja dimulai.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
