HWPL dan IPYG Latih Pemimpin Muda Perdamaian Melalui Dialog Lintas Agama
BICARA HWPL– Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), organisasi perdamaian internasional yang berkomitmen mewujudkan perdamaian dunia melalui pendidikan, dialog, dan kerja sama, bersama International Peace Youth Group (IPYG), organisasi kepemudaan global yang berfokus pada pemberdayaan generasi muda sebagai agen perdamaian, menyelenggarakan Youth Interfaith Dialogue Training secara daring pada Sabtu (4/7/2026).
Pelatihan
ini merupakan tahapan lanjutan dari Youth Empowerment Peace Class (YEPC) yang
memberikan kesempatan kepada peserta terpilih untuk mempraktikkan dialog lintas
agama sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan perdamaian.
Ketua IPYG
Indonesia, Tiurma, mengatakan bahwa program YEPC dirancang untuk membekali
generasi muda Indonesia agar mampu menjadi pemimpin perdamaian yang membawa
perubahan positif di tengah masyarakat.
"Melalui
program YEPC, kami ingin membentuk generasi muda menjadi Peace Envoys dan Peace
Ambassadors yang dapat mewakili Indonesia. Kami juga berharap semakin banyak
pemimpin muda yang terlibat aktif dalam berbagai inisiatif perdamaian sehingga
nilai-nilai perdamaian dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di
masyarakat," ujarnya.
Pelatihan
tersebut dikemas dalam bentuk dialog lintas agama dengan menghadirkan
narasumber dari tiga latar belakang agama, yakni Darmadi, Pembina Komunitas
Gurukula, mewakili agama Hindu; Abdullah Ubaid, Ketua ISNU Tangerang, mewakili
agama Islam; serta Thomas, pengajar Komunitas Berean, mewakili agama Kristen.
Setiap sesi
mengajak peserta membandingkan perspektif berdasarkan kitab suci masing-masing
tanpa memperdebatkan perbedaan doktrin. Melalui pendekatan dialog yang saling
menghormati dan pembelajaran komparatif, peserta diajak menemukan nilai-nilai
universal yang dapat menjadi landasan hidup berdampingan secara damai.
Dalam
paparannya, Darmadi menekankan bahwa perdamaian berawal dari kesadaran akan
hubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan.
"Tuhan
adalah pemilik segala sesuatu dan hadir dalam setiap bagian dari ciptaan-Nya.
Sebagaimana orang tua tidak menginginkan perpecahan di dalam keluarganya,
demikian pula Tuhan menghendaki umat manusia hidup dalam persatuan dan saling
peduli," katanya.
Sementara
itu, Abdullah Ubaid menjelaskan pentingnya menyadari kehadiran Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari.
"Sesungguhnya
Allah itu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Allah
tidak dibatasi oleh ruang, waktu, ataupun dimensi alam semesta. Karena itu,
kita hendaknya senantiasa mengingat kebesaran-Nya dan menyadari bahwa Dia
selalu bersama kita," ujarnya.
Dari
perspektif Kristen, Thomas menyampaikan bahwa perdamaian sejati dimulai dari
perubahan dalam diri manusia.
"Peperangan
sering kali bermula dari konflik di dalam diri manusia. Karena itu, peperangan
terbesar adalah peperangan rohani yang dimenangkan bukan melalui kekerasan,
melainkan melalui kasih dan firman kebenaran. Dalam Alkitab, api juga digunakan
sebagai lambang Firman Tuhan," jelasnya.
Sepanjang
pelatihan, para peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta
merefleksikan berbagai nilai yang dimiliki bersama oleh setiap tradisi
keagamaan. Banyak peserta mengaku memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya
dialog yang saling menghormati serta semakin menghargai keberagaman agama.
Melalui
program Youth Empowerment Peace Class (YEPC) dan Youth Interfaith Dialogue
Training, HWPL dan IPYG berupaya mencetak generasi muda yang mampu menjadi
pelopor perdamaian dengan membangun dialog antarumat beragama, memperkuat kerja
sama lintas komunitas, serta mendorong terciptanya kehidupan yang harmonis di
tengah keberagaman.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
