Senin, 17 Agustus 2026

Teater Boneka Raksasa Angso Duo; Iktiar Dalam Inovasi Visual Identitas Tanah Pilih


Oleh: Ady Santoso


Ada masa ketika cerita rakyat hanya hidup di dalam suara orang tua, dimana ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui percakapan di beranda rumah, di tepian sungai, di tengah keluarga, di sekolah, di panggung-panggung tradisi, atau dalam ingatan para tetua masyarakat yang masih menyimpan serpihan masa lalu. Cerita itu tidak selalu memiliki buku, tidak selalu memiliki dokumentasi audiovisual, bahkan tidak selalu memiliki panggung yang megah. Cerita rakyat tersebut hidup karena terus diceritakan. Namun tantangan kemudian datang, zaman terus berubah. Anak-anak yang dahulu duduk mendengarkan dongeng dari orang tua kini tumbuh bersama layar. Mereka mengenal dunia melalui gambar bergerak, animasi, gim, media sosial, video pendek, dan tontonan visual yang bergerak sangat cepat. Perhatian generasi muda tidak lagi mudah ditangkap hanya dengan cerita yang disampaikan secara verbal.


Pada titik itulaj kemudian kebudayaan menghadapi sebuah pertanyaan yang tidak sederhana, yakni bagaimana membuat cerita rakyat tetap hidup ketika cara manusia menikmati cerita telah berubah? Pertanyaan itu menjadi semakin penting bagi Jambi, sebab Jambi bukan negeri yang miskin cerita. Jambi justru memiliki kekayaan narasi, simbol, tokoh, sungai, artefak, tradisi, dan ingatan kolektif yang sangat besar. Ada Batanghari yang mengalir seperti urat nadi kebudayaan. Ada Tanah Pilih sebagai gagasan tentang ruang hidup dan pusat peradaban. Ada Angso Duo sebagai simbol yang melekat kuat dalam imajinasi kultural masyarakat Jambi. Ada Rang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai. Ada Perahu Kajanglako. Ada kisah-kisah tentang makhluk penjaga sungai dan alam. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Jambi mempunyai cerita, melainkan pertanyaannya adalah: apakah cerita itu masih memiliki cara lain untuk berbicara kepada generasi yang hidup hari ini?


Dari situlah kemudian Teater Boneka Raksasa Angso Duo yang telah dipertunjukan pada hari Jum’at & Sabtu malam, 31 Juli & 1 Agustus 2026 di Taman Budaya Jambi pada ajang Pusparagam Negeriku; Dari Jambi untuk Indonesia berhasil memperoleh relevansinya. Karya ini menarik bukan semata-mata karena ukurannya yang besar. Bukan hanya karena bonekanya dapat mencapai ukuran kolosal dan dimainkan oleh seorang, dua orang, bahkan lebih dari tiga orang. Bukan pula sekadar karena bentuknya spektakuler ketika dibawa ke ruang terbuka. Namun yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk melakukan sebuah transformasi, yakni mengubah ingatan budaya menjadi pengalaman visual. Cerita rakyat yang selama ini berada di wilayah narasi kemudian dipindahkan ke wilayah tubuh. 


Tokoh-tokoh yang sebelumnya hanya dibayangkan kini memiliki bentuk. Angso Duo tidak lagi hanya disebut, ia muncul, ia bergerak, ia membuka jalan, dan ia menjadi pusat perhatian. Begitupula dengan karakter utama dalam cerita rakyat Angso Duo, yakni Rang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai yang kemudian tidak hanya hadir sebagai nama dalam cerita. Ia menjadi sosok yang berjalan di antara sungai dan tanah. Hewan-hewan penghuni Sungai Batanghari hadir sebagai penguji dalam pertunjukan Teater Boneka Raksasa Angso Duo, ada Labi-labi dan Ikan Tapah yang hadir sebagai kekuatan besar yang menghadang perjalanan, Ular Bide menjelma menjadi simbol ujian, Raja Buaya Batanghari menjadi penjaga terakhir.





Ketika cerita rakyat Angso Duo tidak cukup hanya diceritakan

Ada kecenderungan dalam diskursus pelestarian budaya untuk menganggap bahwa mempertahankan tradisi berarti mempertahankan bentuk lama sedekat mungkin dengan masa lalu. Pandangan semacam itu dapat dimengerti, bahwa ada kekhawatiran dimana inovasi akan menghilangkan keaslian. Disisi lain juga ada ketakutan bahwa ketika cerita rakyat diolah dengan pendekatan baru, nilai aslinya akan terkikis. Selain itu ada pula kekhawatiran bahwa teknologi dan estetika modern justru akan menjadikan kebudayaan sekadar dekorasi. Tetapi kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup dalam keadaan beku. Kebudayaan bergerak karena manusia bergerak. Cerita rakyat pun demikian, ia hidup karena terus ditafsirkan, karena itulah kemudian pertanyaan yang lebih produktif bukanlah, apakah cerita rakyat boleh berubah? melainkan pertanyaannya kini adalah sejauh mana cerita rakyat boleh berubah tanpa kehilangan jiwanya?


Pada titik inilah Teater Boneka Raksasa Angso Duo patut dibaca secara lebih serius. Karya ini bukan sekadar membuat boneka berukuran besar. Ia melakukan proses transformasi, dimana cerita rakyat yang semula berada dalam ruang imajinasi dipindahkan menjadi seni rupa tiga dimensi. Tokoh yang sebelumnya bersifat naratif menjadi karakter visual. Konflik yang sebelumnya disampaikan melalui kata-kata diterjemahkan menjadi gerak. Sungai yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari latar cerita diwujudkan sebagai ruang perjalanan. Dengan demikian, inovasi tidak bekerja untuk menggantikan cerita, melainkan inovasi bekerja untuk memberikan tubuh baru kepada cerita. Dalam konteks Teater Boneka Raksasa Angso Duo, ukuran raksasa bukanlah tujuan akhir, melainkan ukuran hanyalah bahasa visual. Ia adalah cara untuk membuat simbol budaya menjadi terlihat, terbaca, dan terasa oleh penonton.


Cerita Rakyat Angso Duo memiliki posisi istimewa dalam imajinasi kebudayaan Jambi. Dua ekor angsa bukan hanya sekadar dua ekor unggas, melainkan dalam konteks karya ini, keduanya ditempatkan sebagai penuntun perjalanan. Mereka berada di depan, mereka mengarahkan, mereka membawa Rang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai menuju Tanah Pilih. Pilihan dramaturgis ini menarik karena menjadikan Angso Duo bukan sekadar ornament, melainkan keduanya dijadikan sebagai subjek dramatik. Angso Duo mempunyai fungsi naratif, kehadirannya memberi arah, ia menjadi semacam kompas kebudayaan. Angso Duo dalam pertunjukan ini dapat dibaca sebagai simbol bahwa perjalanan sebuah masyarakat harus tetap mempunyai hubungan dengan alam dan ingatan leluhur. Ia membawa pesan yang sederhana, jangan membangun masa depan dengan melupakan dari mana kita berasal.



Dari cerita menuju spektakel; Boneka raksasa sebagai bahasa generasi visual

Pertanyaan yang mungkin banyak dilontarkan kemudian ialah mengapa boneka raksasa? Jawabannya tidak cukup hanya karena menarik. Generasi muda hari ini hidup dalam budaya visual. Mereka terbiasa dengan karakter berukuran besar, efek visual, animasi, superhero, cosplay, film fantasi, gim, dan pengalaman multimedia. Maka, ketika cerita rakyat hendak dibawa kembali kepada mereka, diperlukan bahasa yang dapat memasuki ruang perhatian mereka tanpa harus kehilangan akar budaya. Teater boneka raksasa menawarkan salah satu kemungkinan, ia hadir secara fisik, ia mempunyai ukuran, ia mempunyai tekstur, ia bergerak bersama manusia, ia memiliki risiko, dan ia bahkan memiliki keterbatasan. Namun justru dari adanya keterbatasan itulah yang membuatnya menarik, dimana ketika penonton melihat sebuah boneka Angso Duo raksasa bergerak di ruang terbuka, mereka mengetahui bahwa di balik tubuh raksasa itu ada manusia, ada pemain, ada pengendali/ dalang, ada kerja tim, ada tenaga, ada koordinasi, ada napas. Dengan demikian, boneka raksasa sesungguhnya bukan hanya objek seni, ia adalah pertemuan antara manusia, material, teknologi sederhana, seni rupa, koreografi, teater, dan cerita. Di dalam tubuh boneka terdapat tubuh manusia, inilah yang kemudian menjadikannya sebagai metafora yang menarik. Leluhur memberikan cerita, generasi hari ini memberikan tubuh baru, dan tubuh baru itu menghidupkan kembali cerita.


Salah satu tantangan terbesar seni tradisi hari ini adalah bagaimana membuat pertunjukan yang mampu berkomunikasi dengan ruang publik. Ketika boneka raksasa Angso Duo hadir di lapangan, jalan, festival, halaman kota, atau ruang terbuka, ia segera mengubah cara penonton memandang pertunjukan. Penonton tidak harus duduk dalam posisi tertentu, mereka dapat melihat dari berbagai arah. Anak-anak dapat mendekat, orang dewasa dapat memotret, generasi muda dapat membuat konten, fotografer mendapatkan objek visual, media sosial memperoleh materi, pariwisata memperoleh ikon, pendidikan memperoleh alat belajar. Dari sinilah nilai strategis karya ini menjadi lebih besar daripada pertunjukan semata. Sebuah karya seni pertunjukan dapat memiliki kehidupan kedua ketika ia dapat berpindah dari panggung ke ruang pendidikan, promosi pariwisata, festival, dokumentasi, media digital, hingga ruang publik. Teater Boneka Raksasa Angso Duo mempunyai peluang tersebut, karena karakter visualnya kuat, karena bentuknya mudah dikenali, karena memiliki hubungan dengan identitas Jambi, sehingga ia dapat difungsikan berulang dalam berbagai konteks.





Program pendanaan dan pentingnya seni yang berdampak

Karya seperti ini juga penting dibaca dalam konteks kebijakan kebudayaan dan pendidikan tinggi. Pada tahun 2026, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuka dan mendukung sejumlah program pendanaan riset, pengabdian, hilirisasi, serta inovasi seni. Dokumen resmi tahun 2026 menyebut antara lain Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) sebagai bagian dari ekosistem pendanaan tersebut. Dalam konteks karya Teater Boneka Raksasa Angso Duo yang dipentaskan oleh Teater TUR Jambi sebagai mitra dalam program pengabdian kepada Masyarakat pada skema PISN ini mendapatkan bantuan pendanaan hibah pada tahun 2026 ini. Sehingga melalui karya Teater Boneaka Raksasa Angso Duo yang telah dipertunjukan keberadaannya kini menjadi penting karena seni tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai produk ekspresi individual, tetapi dapat menjadi instrumen pemberdayaan, inovasi, dan penciptaan dampak bagi kelompok masyarakat. 


Pada titik inilah Teater Boneka Raksasa Angso Duo yang dipertunjukan oleh Teater TUR Jambi menjadi menarik, dimana karya tersebut tidak berhenti pada produksi pertunjukan. Ia kemudian dapat dikembangkan menjadi model pembelajaran budaya, dapat menjadi materi promosi pariwisata, dapat digunakan dalam festival, dapat menjadi media literasi lingkungan, dapat dikembangkan sebagai materi dokumentasi, dapat menjadi bahan pengembangan Hak Kekayaan Intelektual, dapat pula menjadi model pengembangan seni pertunjukan berbasis cerita rakyat. Pendanaan seni menjadi bermakna ketika hasilnya tidak berhenti di ruang laporan, ia harus kembali ke publik. Sehingga pengembangan ke depan dari karya Teater Boneka Raksasa Angso Duo dapat ditempatkan dalam konteks penguatan inovasi seni berbasis Masyarakat. Dengan demikian, Teater Boneka Raksasa Angso Duo dapat dibaca bukan hanya sebagai produksi seni pertunjukan, tetapi sebagai contoh bagaimana perguruan tinggi, seniman, komunitas, dan masyarakat dapat mengolah warisan budaya menjadi inovasi seni yang hidup, komunikatif, edukatif, dan berkelanjutan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah inovasi kebudayaan bukan hanya seberapa besar boneka yang berhasil kita buat, melainkan seberapa besar ingatan, kebanggaan, pengetahuan, dan tanggung jawab yang berhasil kita tumbuhkan setelah pertunjukan selesai.







.........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap