Menyematkan Catatan Perhelatan; Membuka Karya Lama, Menjaga Daya Drama
(Dari Evaluasi Juri FTR 2024, Menuju Deru Seru FTR 2026)
Oleh: Ady Santoso
Tulisan ini adalah upaya dalam menyematkan catatan pertunjukan dari para penampil di dalam perhelatan Festival Teater Remaja Taman Budaya Jambi (FTR) tahun 2024, yang diperuntukan sebagai pengetahuan, serta membuka informasi dari catatan evaluasi juri berdasarkan pengamatan saya selaku salah satu juri dalam FTR 2024. Semoga penyematan catatan ini bermanfaat menjadi cermin yang kemudian membawanya sebagai bekal menuju panggung FTR 2026. Tak lupa secercah harap dari saya, semoga penyematan catatan ini menjadi energi baru bagi pertumbuhan dan regenerasi teater remaja di Jambi.
Kemudian ialah
yang menjadi pembuka lainnya dari tulisan ini adalah adanya hal yang menarik
dari sebuah gelaran FTR, yang mana setelah lampu panggung dipadamkan, tepuk
tangan kemudian telah berhenti, properti telah disimpan, kostum telah dilipat
dan ditaruh kembali, dan terakhir para pemain kembali lagi kepada keseharian
masing-masing. Namun bagi saya proses gelaran dari sebuah festival teater
sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai, dimana kemudian yang menarik
ialah sisa-sisa tinggalan dari pengalaman, pertanyaan, kegembiraan, kegagalan,
keberanian, dan yang tidak kalah penting ialah catatan.
Catatan itulah
yang kemudian membuat sebuah festival tidak benar-benar berhenti menjadi
peristiwa sesaat, namun telah meninggalkan adanya catatan-catatan. Hal inilah yang
kemudian tercatat dari perhelatan FTR 2024. Catatan juri yang saya buat, dan
ini adalah catatan dari pandangan amatan saya sebagai salah satu jurinya.
Berharap semoga catatan ini bukan sekadar dokumen dari proses penilaian yang
telah berlangsung dan telah ditetapkan para pemenangnya, melainkan adalah upaya
untuk merekam proses kreatif, persoalan keaktoran, pembacaan ulang naskah,
penyutradaraan, tata artistik, musik, vokal, blocking, ritme, transisi,
penggunaan ruang, hingga hubungan antara gagasan dan pertunjukan.
Kini, menjelang
FTR 2026, catatan ini coba saya sematkan kembali, dengan tujuan bukan untuk mengulang
Kembali siapa yang kalah dan menang, melainkan untuk melihat apa yang dapat dipelajari
dan apa yang harus kita kerjakan guna lebih baik pada panggung berikutnya. Hal
ini tak lain karena FTR 2026 datang dengan tantangan yang menarik, dimana para
peserta memilih salah satu dari 25 naskah hasil Lomba Penulisan Naskah Teater
Tahun 2023 untuk dipanggungkan. Saya melihat bahwa kemudian FTR tidak
semata-mata sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang pertemuan antara naskah dan
pertunjukan, penulis dan pemain, gagasan dan ekspresi artistik. Dari sinilah menyematkan
catatan perhetalan FTR 2024 menemukan jalannya.
Catatan Cerminan Perhelatan
Dalam pengalaman
saya sebagai juri, ada satu hal yang selalu terasa penting setelah festival
berakhir, yakni jangan biarkan catatan penjurian berhenti sebagai arsip. Catatan
harus menjadi bahan belajar. Hal itulah yang kemudian saya lakukan setelah
perhelatan FTR 2024 selesai. Catatan-catatan dari setiap penampil pertunjukan
kemudian saya bukukan ke dalam buku yang berjudul “Persiapan Menjadi Juri Drama
Remaja” yang diterbitkan oleh PT. Jnana Triguna Mandiri tahun 2026, dimana
dalam buku tersebut tersemat lampiran-lampiran dari setiap catatan evaluasi
para penampil FTR 2024.
Melihat kembali pada
catatan-catatan tersebut kemudian memperlihatkan akan keberagaman pendekatan
kelompok-kelompok teater remaja di Jambi, baik pada kategori Pelajar ataupun
Umum/Mahasiswa. Dimana dapat dibaca bahwa ada grup penampil yang kuat dalam
musik, ada yang menonjolkan dalam artistik, ada yang berani menggunakan bentuk
minimalis, ada yang mengembangkan humor, ada yang mengolah simbol, ada yang
mengangkat atmosfer lokal, ada yang mencoba pendekatan eksperimental, dan ada
pula yang memilih bentuk realistik.
Namun, di balik
keberagaman tersebut, terdapat sejumlah persoalan yang terus muncul berulang,
yakni vokal dan artikulasi, pendalaman karakter, blocking, pengelolaan ruang, transisi,
ritme, penggunaan properti, keseimbangan musik dan dialog, pembangunan konflik,
klimaks, ending, hingga konsistensi konsep, dan juga yang tidak kalah penting
adalah kemampuan menyatukan seluruh unsur pertunjukan menjadi satu kesatuan
artistik. Catatan-catatan ini saya harap menjadi semacam cermin, karena cermin
hanya memperlihatkan apa yang ada. Demikian pula catatan juri yang
memperlihatkan pertunjukan sebagaimana terbaca di panggung pada saat itu. Maka,
jika dalam catatan evaluasi juri FTR 2024 dibaca dengan cara yang lain, ia
bukanlah kumpulan kekurangan, melainkan adalah peta pembelajaran.
Membuka Karya Lama Menuju Deru Seru
Di sinilah saya
menggunakan istilah “deru seru” untuk menggambarkan FTR 2026. Deru adalah suara
yang bergerak, bergemuruh, terus mengalir. Seru memberi kesan hidup, menarik,
menggairahkan, dan penuh energi. Deru Seru FTR 2026 saya pandang sebagai bukan
sekadar ungkapan untuk membuat judul terdengar indah. Ia adalah metafora
tentang energi baru yang semestinya lahir dari pengalaman sebelumnya. Dan pada sebutan
lain bisa saya katakan bahwa FTR 2026 adalah Lebaran Teater Jambi. Lebaran akan
perayaan dari hari besar teater di Jambi.
Kita kembali
kepada penggunaan istilah deru, yang mana deru itu berasal dari ruang-ruang
latihan. Dari suara aktor yang mulai menemukan artikulasinya. Dari tubuh pemain
yang mulai memahami karakter. Dari sutradara yang mulai menemukan tafsir. Dari
penata artistik yang mulai memahami fungsi ruang. Dari musisi yang mulai
mendengarkan aktor. Dari kru yang mulai memahami waktu. Dan dari
kelompok-kelompok muda yang tidak takut mencoba kembali setelah menerima
kritik. Dengan demikian, evaluasi tidak menjadi titik akhir, melainkan evaluasi
menjadi tenaga untuk bergerak. FTR 2024 menjadi pengalaman, sedangkan FTR 2026
seharusnya menjadi perkembangan.
Kemudian, ada
satu frasa penting dalam judul tulisan ini, yakni “membuka karya lama”. Frasa
tersebut merupakan penggambaran dari catatan-catatan evaluasi juri FTR 2024
yang telah saya tuliskan. Sehingga, “karya lama” dalam tulisan ini tidak
dimaksudkan sebagai karya yang usang, selesai, atau kehilangan relevansinya,
melainkan sebagai pengalaman artistik yang perlu dibuka kembali untuk dibaca,
direnungkan, dan dijadikan bahan pembelajaran. Disinilah kemudian catatan-catatan
juri FTR 2024 menyimpan jejak yang cukup beragam tentang bagaimana kelompok-kelompok
penampil mengolah naskah menjadi pertunjukan, yang mana didalamnya terdapat
catatan mengenai keaktoran, vokal dan artikulasi, penghayatan karakter,
blocking, penyutradaraan, dramaturgi, tata artistik, musik, penggunaan
properti, transisi, ritme pertunjukan, kekompakan kelompok, hingga efektivitas
penyelesaian pertunjukan.
Catatan tersebut
memperlihatkan bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh bagus atau
tidaknya sebuah naskah, tetapi oleh bagaimana naskah itu ditafsirkan, diolah,
dan diwujudkan melalui berbagai unsur panggung. Karena itu, membuka karya lama
berarti membuka kembali pengalaman. Kita melihat apa yang telah dilakukan, apa
yang telah berhasil, apa yang belum optimal, dan apa yang masih mungkin
dikembangkan. Dengan cara pandang seperti ini, catatan juri dari FTR 2024 tidak
berhenti sebagai dokumen penilaian, tetapi berubah menjadi semacam peta
pembelajaran bagi proses kreatif berikutnya.
Dari Catatan Menjadi Persiapan
Tema FTR 2026, “Dari
Naskah Menjadi Pertunjukan” sesungguhnya mengandung sebuah perjalanan artistik.
Naskah adalah teks, dan pertunjukan adalah peristiwa. Sehingga di antara
keduanya ada interpretasi, dan interpretasi membutuhkan keputusan. Disinilah
kemudian sutradara harus memutuskan bagaimana membaca naskah, dan aktor-aktor
harus memutuskan bagaimana menghadirkan karakter, lalu penata artistik harus
memutuskan bagaimana membangun dunia panggung, juga penata musik harus
memutuskan bagaimana bunyi bekerja, juga penata cahaya harus memutuskan apa
yang harus terlihat dan apa yang harus disembunyikan. Kru harus memutuskan
bagaimana semua itu bergerak dalam waktu.
Oleh karenanya,
belajar dari catatan-catatan evaluasi juri yang telah saya tuliskan bagi 32
pertunjukan di FTR 2024, kiranya dapat memberikan bahan pembelajaran yang cukup
luas. FTR 2024 tersebut menghadirkan 32 kelompok atau komunitas teater, terdiri
atas 19 kelompok pelajar dan 13 kelompok umum. Angka itu penting bukan hanya
karena jumlahnya. Ia menunjukkan keberadaan ekosistem. Ada sekolah, ada sanggar,
ada komunitas, ada kelompok umum, ada pemain muda, ada Pembina, ada sutradara, ada
kru, ada penonton, dan semuanya bertemu di satu ruang, Teater Arena Taman
Budaya Jambi.
Jika seluruh
catatan pertunjukan tersebut dibaca secara bersamaan, kita dapat melihat pola-pola
yang hamper berulang. Persoalan vokal muncul di beberapa kelompok. Persoalan
artikulasi muncul kembali dalam bentuk berbeda. Beberapa kelompok sudah
memiliki konsep artistik yang menarik, tetapi belum seluruhnya menyatu dengan
keaktoran. Beberapa kelompok memiliki energi pemain yang kuat, tetapi belum
mampu menjaga ritme hingga akhir.
Ada kelompok yang
memiliki setting menarik, tetapi benda-benda di panggung belum seluruhnya
memiliki fungsi dramatik. Ada pula kelompok yang menggunakan musik dengan baik,
tetapi pada beberapa bagian musik terlalu dominan sehingga dialog kehilangan
daya komunikasi. Inilah mengapa catatan juri perlu dibaca secara kolektif. Satu
kelompok mungkin mempunyai persoalan tertentu. Tetapi ketika 32 catatan
disatukan, kita dapat melihat gambaran dasar dalam perkembangan teater remaja
Jambi yang kemudian saya rangkum dan klasifikasikan menjadi persoalah yang
sangat mendasar, yakni:
1) Masalah Vokal
Masalah lama yang terus berulang dan harus menjadi
pelajaran baru guna diperbaiki kedepannya. Dimana masalah vokal adalah, masalah
suara aktor dan menjadi salah satu alat utama teater. Akan tetapi suara bukan
sekadar keras, karena suara adalah napas, artikulasi, diksi, intonasi, tempo, tekanan,
resonansi, dan niat. Aktor tidak cukup berbicara agar terdengar, ia harus
berbicara agar bermakna. Ada perbedaan antara aktor yang mengucapkan kalimat
dan aktor yang melakukan tindakan melalui kalimat. Karena itu, latihan vokal
harus ditempatkan sebagai latihan inti, bukan hanya sebagai latihan tambahan.
2) Hafalan Dialog
Hafalan dialog tidak hanya sebatas dengan menghidupkan
karakter. Dalam catatan FTR persoalan hafalan dialog adalah aktor kadang tampak
seperti sedang mengucapkan teks yang telah dihafal, bukan menjalani situasi. Padahal
karakter hidup melalui tindakan. Aktor perlu mengetahui dari apa yang saya
inginkan? mengapa saya menginginkannya? siapa yang menghalangi saya? apa yang
terjadi jika saya gagal? apa yang berubah setelah adegan ini? Pertanyaan-pertanyaan
tersebut membantu aktor bergerak dari sekadar hafal teks menuju memahami
tindakan dramatik.
3) Emosi Bukan Sekadar Berteriak
Catatan
terhadap beberapa pertunjukan juga memperlihatkan persoalan gelombang emosi. Marah
sering kali langsung diterjemahkan menjadi suara keras. Sedih langsung menjadi
tangisan. Takut langsung menjadi teriakan. Padahal emosi memiliki tingkat. Kemarahan
dapat dimulai dari diam. Ketakutan dapat hadir dalam tatapan. Kesedihan dapat
hadir dalam tubuh yang kehilangan energi. Kecemasan dapat hadir dalam gerak kecil.
Klimaks menjadi kuat justru karena ada perjalanan menuju ke sana. Inilah yang
disebut kurva emosi. FTR 2026 membutuhkan aktor yang tidak hanya ekspresif,
tetapi mampu mengendalikan ekspresi.
Kecerdasan Pensiasatan Keseluruhan Pertunjukan
FTR 2026 memiliki
tantangan yang sangat jelas, yang tertuang di dalam petunjuk teknis, dimana durasi
keseluruhan pertunjukan maksimal 30 menit, termasuk pemasangan dan pembongkaran
setting. Bagi kebanyakan kelompok/sanggar waktu 30 menit mungkin terasa sangat singkat,
akan tetapi bagi pertunjukan teater, 30 menit dapat menjadi bentuk artistik
yang sangat efektif apabila telah jauh-jauh hari pada saat latihan telah
dilakukan pensiasatan agar durasi keseluruhan yang telah ditetapkan dapat
tercapai. Namun yang menjadi pertanyaannya kini adalah masalah datang bukan
dari bagaimana memadatkan pertunjukan satu jam menjadi setengah jam.
Masalahnya adalah
bagaimana merancang pertunjukan sejak awal sebagai pertunjukan 30 menit,
lengkap dengan termasuk didalamnya pemasangan dan pembongkaran setting.
Sehingga diharapkan menjadi tantangan kreatif yang mendorong peserta untuk
menciptakan pertunjukan yang efektif, komunikatif, efisien dan memiliki
kualitas artistik. Dari ketentuan itulah kemudian setiap peserta perlu untuk
memastikan berapa lama berapa lama setting dipasang? berapa lama setting
dibongkar? Dan berapa lama pertunjukan berlangsung? Pada hal itulah kecerdasan pensiasatan
pertunjukan menjadi mutlak, agar keseluruhan pertunjukan berdurasi 30 menit.
Disinilah stopwatch harus menjadi bagian dari dramaturgi.
Hal lain ialah transisi
dari kelompok ke kelompok lain sehingga dari transisi tersebut sebetulnya bukanlah
waktu kosong, namun menjadi salah satu hal yang sering dilupakan dalam
pertunjukan. Padahal transisi pergantian penampil adalah bagian dari
pertunjukan. Ketika kru dari kelompok penampil memindahkan meja, penonton tetap
melihat, ketika kru membawa properti, penonton tetap melihat. Artinya tidak ada
ruang yang benar-benar kosong selama FTR berlangsung. Karena itu, transisi
harus perlu dirancang, dan perlu diperhatikan dan dimatangkan, karena dari
transisi inilah akan terlihat kelompok mana yang memiliki tata kelola/atau
manajemen pertunjukan yang baik, mulai dari koordinasi, komunikasi, hingga
saling isi melengkapi dengan penuh kesigapan, kesadaran, kematangan dan
kegembiraan.
Perlu
diperhatikan dan menjadi catatan bagi para calon peserta TFR 2026, dimana di
dalam Juknis FTR 2026 setidaknya memberikan enam catatan penting yang dapat
sekaligus dijadikan checklist dalam proses pertunjukan.
1)
Interpretasi
Naskah dan Penyutradaraan
Apa gagasan pertunjukan? Apa tafsir terhadap naskah? Apa
konsep penyutradaraan? Bagaimana struktur adegan?
2)
Pemeranan
Apakah karakter hidup? Apakah vokal jelas? Apakah
artikulasi kuat? Apakah tubuh mendukung karakter?
3)
Penghayatan
dan Komunikasi
Apakah konflik terbaca? Apakah emosi sampai? Apakah
hubungan antartokoh jelas?
4)
Tata
Artistik
Apakah setting memiliki fungsi? Apakah kostum dan rias
mendukung? Apakah musik dan cahaya menjadi satu konsep?
5)
Manajemen
Produksi
Apakah seluruh unsur bekerja bersama? Apakah transisi
terkontrol? Apakah ritme pertunjukan terjaga?
6)
Efektivitas
Waktu
Apakah
seluruh proses dapat diselesaikan dalam 30 menit? Apakah setting efisien? Apakah
pergantian berlangsung cepat?
Menyematkan Catatan, Mempersiapkan Latihan
Jika seluruh
catatan FTR 2024 dirangkum, sebenarnya kita memiliki semacam kurikulum informal
teater remaja Jambi. Bukan kurikulum yang ditulis di dalam silabus, akan tetapi
kurikulum yang lahir dari pengalaman panggung, yang mengajarkan bahwa aktor
perlu melatih vocal, sutradara perlu memahami dramaturgi, penata artistik perlu
memahami fungsi benda, penata musik perlu memahami kebutuhan actor, para kru
perlu memahami waktu, hingga kelompok penampil perlu memahami kerja ensemble.
Kesemuanya perlu memahami bahwa pertunjukan adalah satu kesatuan, karena itu,
menjelang FTR 2026, saya dapat mengusulkan sedikit kepada setiap kelompok agar memiliki
lima tahap sederhana dalam proses produksi pertunjukan, yakni mulai dari Baca,
Bedah, Tafsir, Uji, Refleksi. Baca naskah. Bedah struktur dan konflik. Tafsirkan
melalui konsep. Uji dalam latihan dan gladi. Kemudian refleksikan hasilnya. Ulangi
lagi. Sampai pertunjukan menemukan bentuknya.
FTR 2026 tidak
seharusnya menjadi pengulangan FTR 2024. Catatan 2024 harus menjadi pijakan,
dimana jika pada FTR 2024 kita menemukan persoalan vokal, maka FTR 2026 vokal
harus menjadi perhatian. Jika transisi menjadi masalah pada FTR 2024, maka FTR 2026
transisi harus dirancang. Jika properti terlalu banyak pada FTR 2024, maka FTR 2026
harus lebih selektif. Jika musik pernah terlalu dominan pada FTR 2024, maka FTR
2026 harus lebih dramaturgis. Jika energi pertunjukan pernah menurun pada FTR 2024,
maka FTR2026 harus memperhatikan kurva energi. Jika durasi keseluruhan adalah 30
menit menjadi tantangan, maka dalam proses produksi untuk FTR 2026 stopwatch
harus menjadi bagian dari tim produksi. Dengan cara itu, kiranya dalam
pandangan saya, FTR 2026 bergerak, dan bukan berputar di tempat.
“Deru Seru FTR
2026” pada akhirnya bukan sekadar soal suara yang lebih ramai, melainkan ia
harus menjadi deru regenerasi. Remaja yang nantinya akan berdiri di Teater
Arena Taman Budaya Jambi dalam perhelatan FTR 2026 sebagai pemain, mungkin
suatu hari menjadi sutradara, dan pemain lain mungkin menjadi penulis, kru
mungkin menjadi produser, penata artistik mungkin menjadi seniman professional,
dan penonton mungkin menjadi pekerja budaya. Tak lupa penting kepada Guru
pembimbing mungkin akan melahirkan kelompok baru. Karena itu, FTR bukan
kegiatan kecil, FTR adalah investasi kebudayaan. Apa yang kita tanam di ruang
latihan hari ini dapat menentukan wajah teater Jambi pada masa depan.
Pada akhirnya, frasa
“menjaga daya drama” menjadi inti dari tulisan ini. Apa yang dimaksud dengan
daya drama? yang saya maksudkan dari daya drama disini adalah kemampuan
pertunjukan untuk membuat penonton peduli terhadap apa yang sedang terjadi di
panggung. Penonton ingin tahu apa yang terjadi pada tokoh, penonton ingin
melihat konflik berkembang, penonton ingin mengetahui pilihan tokoh, penonton
ingin melihat konsekuensi, penonton ingin merasakan perubahan. Daya drama tidak
selalu lahir dari cerita yang besar, ia juga dapat lahir dari sebuah kursi,
dari sebuah tatapan, dari sebuah kalimat, dari sebuah keheningan, dari sebuah
benda, dari sebuah cahaya, dari sebuah tubuh yang diam, yang kemudian membuatnya
hadri bermakna, karena itu drama harus berdaya.
Karena itu,
menjelang FTR 2026, catatan juri yang saya tulis pada FTR 2024 sebaiknya
disematkan dan tidak disimpan sebagai masa lalu. Catatan tersebut disematkan
sebagai ingatan yang wajib kita buka kembali sebagai bahan belajar. Baca
kembali sebagai cermin, gunakan sebagai bekal, lalu masuklah ke ruang latihan. Catatan
juri FTR 2024 membawa pengalaman, Juknis FTR 2026 membawa arah, dan dari
sanalah deru seru itu seharusnya lahir. Bukan sekadar suara yang ramai, tetapi
suara kreativitas, suara keberanian, suara pembelajaran, suara regenerasi, suara
teater yang terus mencari bentuknya. Sebab pada akhirnya, naskah adalah awal, pertunjukan
adalah proses, catatan adalah ingatan, evaluasi adalah pembelajaran, dan
regenerasi adalah alasan mengapa panggung harus terus menyala.
Maka, mari
membuka kembali karya lama, mari membaca kembali catatan pertunjukan, mari
belajar dari apa yang telah terjadi, dan mari membawa seluruh pembelajaran itu
menuju panggung baru. Karena daya drama tidak akan bertahan hanya karena karya
pernah ditulis. Ia bertahan ketika selalu ada generasi yang bersedia membaca,
menafsirkan, memainkan, mempertanyakan, dan menghidupkannya kembali. Dari
evaluasi juri FTR 2024, menuju deru seru FTR 2026. Panggung boleh berganti, naskah
boleh dibaca ulang, generasi boleh berganti, tetapi selama masih ada tubuh yang
bergerak, suara yang berbicara, gagasan yang dipertarungkan, dan penonton yang
bersedia menyaksikan bahwa teater akan selalu menemukan cara untuk tumbuh
kembali.
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
