Selasa, 22 September 2026

Menyematkan Catatan Perhelatan; Membuka Karya Lama, Menjaga Daya Drama


(Dari Evaluasi Juri FTR 2024, Menuju Deru Seru FTR 2026)

Oleh: Ady Santoso


Tulisan ini adalah upaya dalam menyematkan catatan pertunjukan dari para penampil di dalam perhelatan Festival Teater Remaja Taman Budaya Jambi (FTR) tahun 2024, yang diperuntukan sebagai pengetahuan, serta membuka informasi dari catatan evaluasi juri berdasarkan pengamatan saya selaku salah satu juri dalam FTR 2024. Semoga penyematan catatan ini bermanfaat menjadi cermin yang kemudian membawanya sebagai bekal menuju panggung FTR 2026. Tak lupa secercah harap dari saya, semoga penyematan catatan ini menjadi energi baru bagi pertumbuhan dan regenerasi teater remaja di Jambi.

 

Kemudian ialah yang menjadi pembuka lainnya dari tulisan ini adalah adanya hal yang menarik dari sebuah gelaran FTR, yang mana setelah lampu panggung dipadamkan, tepuk tangan kemudian telah berhenti, properti telah disimpan, kostum telah dilipat dan ditaruh kembali, dan terakhir para pemain kembali lagi kepada keseharian masing-masing. Namun bagi saya proses gelaran dari sebuah festival teater sesungguhnya tidak pernah benar-benar selesai, dimana kemudian yang menarik ialah sisa-sisa tinggalan dari pengalaman, pertanyaan, kegembiraan, kegagalan, keberanian, dan yang tidak kalah penting ialah catatan.

 

Catatan itulah yang kemudian membuat sebuah festival tidak benar-benar berhenti menjadi peristiwa sesaat, namun telah meninggalkan adanya catatan-catatan. Hal inilah yang kemudian tercatat dari perhelatan FTR 2024. Catatan juri yang saya buat, dan ini adalah catatan dari pandangan amatan saya sebagai salah satu jurinya. Berharap semoga catatan ini bukan sekadar dokumen dari proses penilaian yang telah berlangsung dan telah ditetapkan para pemenangnya, melainkan adalah upaya untuk merekam proses kreatif, persoalan keaktoran, pembacaan ulang naskah, penyutradaraan, tata artistik, musik, vokal, blocking, ritme, transisi, penggunaan ruang, hingga hubungan antara gagasan dan pertunjukan.

 

Kini, menjelang FTR 2026, catatan ini coba saya sematkan kembali, dengan tujuan bukan untuk mengulang Kembali siapa yang kalah dan menang, melainkan untuk melihat apa yang dapat dipelajari dan apa yang harus kita kerjakan guna lebih baik pada panggung berikutnya. Hal ini tak lain karena FTR 2026 datang dengan tantangan yang menarik, dimana para peserta memilih salah satu dari 25 naskah hasil Lomba Penulisan Naskah Teater Tahun 2023 untuk dipanggungkan. Saya melihat bahwa kemudian FTR tidak semata-mata sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang pertemuan antara naskah dan pertunjukan, penulis dan pemain, gagasan dan ekspresi artistik. Dari sinilah menyematkan catatan perhetalan FTR 2024 menemukan jalannya.

 

Catatan Cerminan Perhelatan

Dalam pengalaman saya sebagai juri, ada satu hal yang selalu terasa penting setelah festival berakhir, yakni jangan biarkan catatan penjurian berhenti sebagai arsip. Catatan harus menjadi bahan belajar. Hal itulah yang kemudian saya lakukan setelah perhelatan FTR 2024 selesai. Catatan-catatan dari setiap penampil pertunjukan kemudian saya bukukan ke dalam buku yang berjudul “Persiapan Menjadi Juri Drama Remaja” yang diterbitkan oleh PT. Jnana Triguna Mandiri tahun 2026, dimana dalam buku tersebut tersemat lampiran-lampiran dari setiap catatan evaluasi para penampil FTR 2024.

 

Melihat kembali pada catatan-catatan tersebut kemudian memperlihatkan akan keberagaman pendekatan kelompok-kelompok teater remaja di Jambi, baik pada kategori Pelajar ataupun Umum/Mahasiswa. Dimana dapat dibaca bahwa ada grup penampil yang kuat dalam musik, ada yang menonjolkan dalam artistik, ada yang berani menggunakan bentuk minimalis, ada yang mengembangkan humor, ada yang mengolah simbol, ada yang mengangkat atmosfer lokal, ada yang mencoba pendekatan eksperimental, dan ada pula yang memilih bentuk realistik.

 

Namun, di balik keberagaman tersebut, terdapat sejumlah persoalan yang terus muncul berulang, yakni vokal dan artikulasi, pendalaman karakter, blocking, pengelolaan ruang, transisi, ritme, penggunaan properti, keseimbangan musik dan dialog, pembangunan konflik, klimaks, ending, hingga konsistensi konsep, dan juga yang tidak kalah penting adalah kemampuan menyatukan seluruh unsur pertunjukan menjadi satu kesatuan artistik. Catatan-catatan ini saya harap menjadi semacam cermin, karena cermin hanya memperlihatkan apa yang ada. Demikian pula catatan juri yang memperlihatkan pertunjukan sebagaimana terbaca di panggung pada saat itu. Maka, jika dalam catatan evaluasi juri FTR 2024 dibaca dengan cara yang lain, ia bukanlah kumpulan kekurangan, melainkan adalah peta pembelajaran.

 

Membuka Karya Lama Menuju Deru Seru

Di sinilah saya menggunakan istilah “deru seru” untuk menggambarkan FTR 2026. Deru adalah suara yang bergerak, bergemuruh, terus mengalir. Seru memberi kesan hidup, menarik, menggairahkan, dan penuh energi. Deru Seru FTR 2026 saya pandang sebagai bukan sekadar ungkapan untuk membuat judul terdengar indah. Ia adalah metafora tentang energi baru yang semestinya lahir dari pengalaman sebelumnya. Dan pada sebutan lain bisa saya katakan bahwa FTR 2026 adalah Lebaran Teater Jambi. Lebaran akan perayaan dari hari besar teater di Jambi.

 

Kita kembali kepada penggunaan istilah deru, yang mana deru itu berasal dari ruang-ruang latihan. Dari suara aktor yang mulai menemukan artikulasinya. Dari tubuh pemain yang mulai memahami karakter. Dari sutradara yang mulai menemukan tafsir. Dari penata artistik yang mulai memahami fungsi ruang. Dari musisi yang mulai mendengarkan aktor. Dari kru yang mulai memahami waktu. Dan dari kelompok-kelompok muda yang tidak takut mencoba kembali setelah menerima kritik. Dengan demikian, evaluasi tidak menjadi titik akhir, melainkan evaluasi menjadi tenaga untuk bergerak. FTR 2024 menjadi pengalaman, sedangkan FTR 2026 seharusnya menjadi perkembangan.

 

Kemudian, ada satu frasa penting dalam judul tulisan ini, yakni “membuka karya lama”. Frasa tersebut merupakan penggambaran dari catatan-catatan evaluasi juri FTR 2024 yang telah saya tuliskan. Sehingga, “karya lama” dalam tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai karya yang usang, selesai, atau kehilangan relevansinya, melainkan sebagai pengalaman artistik yang perlu dibuka kembali untuk dibaca, direnungkan, dan dijadikan bahan pembelajaran. Disinilah kemudian catatan-catatan juri FTR 2024 menyimpan jejak yang cukup beragam tentang bagaimana kelompok-kelompok penampil mengolah naskah menjadi pertunjukan, yang mana didalamnya terdapat catatan mengenai keaktoran, vokal dan artikulasi, penghayatan karakter, blocking, penyutradaraan, dramaturgi, tata artistik, musik, penggunaan properti, transisi, ritme pertunjukan, kekompakan kelompok, hingga efektivitas penyelesaian pertunjukan.

 

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh bagus atau tidaknya sebuah naskah, tetapi oleh bagaimana naskah itu ditafsirkan, diolah, dan diwujudkan melalui berbagai unsur panggung. Karena itu, membuka karya lama berarti membuka kembali pengalaman. Kita melihat apa yang telah dilakukan, apa yang telah berhasil, apa yang belum optimal, dan apa yang masih mungkin dikembangkan. Dengan cara pandang seperti ini, catatan juri dari FTR 2024 tidak berhenti sebagai dokumen penilaian, tetapi berubah menjadi semacam peta pembelajaran bagi proses kreatif berikutnya.

 

Dari Catatan Menjadi Persiapan

Tema FTR 2026, “Dari Naskah Menjadi Pertunjukan” sesungguhnya mengandung sebuah perjalanan artistik. Naskah adalah teks, dan pertunjukan adalah peristiwa. Sehingga di antara keduanya ada interpretasi, dan interpretasi membutuhkan keputusan. Disinilah kemudian sutradara harus memutuskan bagaimana membaca naskah, dan aktor-aktor harus memutuskan bagaimana menghadirkan karakter, lalu penata artistik harus memutuskan bagaimana membangun dunia panggung, juga penata musik harus memutuskan bagaimana bunyi bekerja, juga penata cahaya harus memutuskan apa yang harus terlihat dan apa yang harus disembunyikan. Kru harus memutuskan bagaimana semua itu bergerak dalam waktu.

 

Oleh karenanya, belajar dari catatan-catatan evaluasi juri yang telah saya tuliskan bagi 32 pertunjukan di FTR 2024, kiranya dapat memberikan bahan pembelajaran yang cukup luas. FTR 2024 tersebut menghadirkan 32 kelompok atau komunitas teater, terdiri atas 19 kelompok pelajar dan 13 kelompok umum. Angka itu penting bukan hanya karena jumlahnya. Ia menunjukkan keberadaan ekosistem. Ada sekolah, ada sanggar, ada komunitas, ada kelompok umum, ada pemain muda, ada Pembina, ada sutradara, ada kru, ada penonton, dan semuanya bertemu di satu ruang, Teater Arena Taman Budaya Jambi.

 

Jika seluruh catatan pertunjukan tersebut dibaca secara bersamaan, kita dapat melihat pola-pola yang hamper berulang. Persoalan vokal muncul di beberapa kelompok. Persoalan artikulasi muncul kembali dalam bentuk berbeda. Beberapa kelompok sudah memiliki konsep artistik yang menarik, tetapi belum seluruhnya menyatu dengan keaktoran. Beberapa kelompok memiliki energi pemain yang kuat, tetapi belum mampu menjaga ritme hingga akhir.

 

Ada kelompok yang memiliki setting menarik, tetapi benda-benda di panggung belum seluruhnya memiliki fungsi dramatik. Ada pula kelompok yang menggunakan musik dengan baik, tetapi pada beberapa bagian musik terlalu dominan sehingga dialog kehilangan daya komunikasi. Inilah mengapa catatan juri perlu dibaca secara kolektif. Satu kelompok mungkin mempunyai persoalan tertentu. Tetapi ketika 32 catatan disatukan, kita dapat melihat gambaran dasar dalam perkembangan teater remaja Jambi yang kemudian saya rangkum dan klasifikasikan menjadi persoalah yang sangat mendasar, yakni:


1)    Masalah Vokal

Masalah lama yang terus berulang dan harus menjadi pelajaran baru guna diperbaiki kedepannya. Dimana masalah vokal adalah, masalah suara aktor dan menjadi salah satu alat utama teater. Akan tetapi suara bukan sekadar keras, karena suara adalah napas, artikulasi, diksi, intonasi, tempo, tekanan, resonansi, dan niat. Aktor tidak cukup berbicara agar terdengar, ia harus berbicara agar bermakna. Ada perbedaan antara aktor yang mengucapkan kalimat dan aktor yang melakukan tindakan melalui kalimat. Karena itu, latihan vokal harus ditempatkan sebagai latihan inti, bukan hanya sebagai latihan tambahan.


2)    Hafalan Dialog

Hafalan dialog tidak hanya sebatas dengan menghidupkan karakter. Dalam catatan FTR persoalan hafalan dialog adalah aktor kadang tampak seperti sedang mengucapkan teks yang telah dihafal, bukan menjalani situasi. Padahal karakter hidup melalui tindakan. Aktor perlu mengetahui dari apa yang saya inginkan? mengapa saya menginginkannya? siapa yang menghalangi saya? apa yang terjadi jika saya gagal? apa yang berubah setelah adegan ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu aktor bergerak dari sekadar hafal teks menuju memahami tindakan dramatik.


3)    Emosi Bukan Sekadar Berteriak

Catatan terhadap beberapa pertunjukan juga memperlihatkan persoalan gelombang emosi. Marah sering kali langsung diterjemahkan menjadi suara keras. Sedih langsung menjadi tangisan. Takut langsung menjadi teriakan. Padahal emosi memiliki tingkat. Kemarahan dapat dimulai dari diam. Ketakutan dapat hadir dalam tatapan. Kesedihan dapat hadir dalam tubuh yang kehilangan energi. Kecemasan dapat hadir dalam gerak kecil. Klimaks menjadi kuat justru karena ada perjalanan menuju ke sana. Inilah yang disebut kurva emosi. FTR 2026 membutuhkan aktor yang tidak hanya ekspresif, tetapi mampu mengendalikan ekspresi.

 

Kecerdasan Pensiasatan Keseluruhan Pertunjukan

FTR 2026 memiliki tantangan yang sangat jelas, yang tertuang di dalam petunjuk teknis, dimana durasi keseluruhan pertunjukan maksimal 30 menit, termasuk pemasangan dan pembongkaran setting. Bagi kebanyakan kelompok/sanggar waktu 30 menit mungkin terasa sangat singkat, akan tetapi bagi pertunjukan teater, 30 menit dapat menjadi bentuk artistik yang sangat efektif apabila telah jauh-jauh hari pada saat latihan telah dilakukan pensiasatan agar durasi keseluruhan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Namun yang menjadi pertanyaannya kini adalah masalah datang bukan dari bagaimana memadatkan pertunjukan satu jam menjadi setengah jam.

 

Masalahnya adalah bagaimana merancang pertunjukan sejak awal sebagai pertunjukan 30 menit, lengkap dengan termasuk didalamnya pemasangan dan pembongkaran setting. Sehingga diharapkan menjadi tantangan kreatif yang mendorong peserta untuk menciptakan pertunjukan yang efektif, komunikatif, efisien dan memiliki kualitas artistik. Dari ketentuan itulah kemudian setiap peserta perlu untuk memastikan berapa lama berapa lama setting dipasang? berapa lama setting dibongkar? Dan berapa lama pertunjukan berlangsung? Pada hal itulah kecerdasan pensiasatan pertunjukan menjadi mutlak, agar keseluruhan pertunjukan berdurasi 30 menit. Disinilah stopwatch harus menjadi bagian dari dramaturgi.

 

Hal lain ialah transisi dari kelompok ke kelompok lain sehingga dari transisi tersebut sebetulnya bukanlah waktu kosong, namun menjadi salah satu hal yang sering dilupakan dalam pertunjukan. Padahal transisi pergantian penampil adalah bagian dari pertunjukan. Ketika kru dari kelompok penampil memindahkan meja, penonton tetap melihat, ketika kru membawa properti, penonton tetap melihat. Artinya tidak ada ruang yang benar-benar kosong selama FTR berlangsung. Karena itu, transisi harus perlu dirancang, dan perlu diperhatikan dan dimatangkan, karena dari transisi inilah akan terlihat kelompok mana yang memiliki tata kelola/atau manajemen pertunjukan yang baik, mulai dari koordinasi, komunikasi, hingga saling isi melengkapi dengan penuh kesigapan, kesadaran, kematangan dan kegembiraan.

 

Perlu diperhatikan dan menjadi catatan bagi para calon peserta TFR 2026, dimana di dalam Juknis FTR 2026 setidaknya memberikan enam catatan penting yang dapat sekaligus dijadikan checklist dalam proses pertunjukan.


1)    Interpretasi Naskah dan Penyutradaraan

Apa gagasan pertunjukan? Apa tafsir terhadap naskah? Apa konsep penyutradaraan? Bagaimana struktur adegan?

2)    Pemeranan

Apakah karakter hidup? Apakah vokal jelas? Apakah artikulasi kuat? Apakah tubuh mendukung karakter?

3)    Penghayatan dan Komunikasi

Apakah konflik terbaca? Apakah emosi sampai? Apakah hubungan antartokoh jelas?

4)    Tata Artistik

Apakah setting memiliki fungsi? Apakah kostum dan rias mendukung? Apakah musik dan cahaya menjadi satu konsep?

5)    Manajemen Produksi

Apakah seluruh unsur bekerja bersama? Apakah transisi terkontrol? Apakah ritme pertunjukan terjaga?

6)    Efektivitas Waktu

Apakah seluruh proses dapat diselesaikan dalam 30 menit? Apakah setting efisien? Apakah pergantian berlangsung cepat?

 

Menyematkan Catatan, Mempersiapkan Latihan

Jika seluruh catatan FTR 2024 dirangkum, sebenarnya kita memiliki semacam kurikulum informal teater remaja Jambi. Bukan kurikulum yang ditulis di dalam silabus, akan tetapi kurikulum yang lahir dari pengalaman panggung, yang mengajarkan bahwa aktor perlu melatih vocal, sutradara perlu memahami dramaturgi, penata artistik perlu memahami fungsi benda, penata musik perlu memahami kebutuhan actor, para kru perlu memahami waktu, hingga kelompok penampil perlu memahami kerja ensemble. Kesemuanya perlu memahami bahwa pertunjukan adalah satu kesatuan, karena itu, menjelang FTR 2026, saya dapat mengusulkan sedikit kepada setiap kelompok agar memiliki lima tahap sederhana dalam proses produksi pertunjukan, yakni mulai dari Baca, Bedah, Tafsir, Uji, Refleksi. Baca naskah. Bedah struktur dan konflik. Tafsirkan melalui konsep. Uji dalam latihan dan gladi. Kemudian refleksikan hasilnya. Ulangi lagi. Sampai pertunjukan menemukan bentuknya.

 

FTR 2026 tidak seharusnya menjadi pengulangan FTR 2024. Catatan 2024 harus menjadi pijakan, dimana jika pada FTR 2024 kita menemukan persoalan vokal, maka FTR 2026 vokal harus menjadi perhatian. Jika transisi menjadi masalah pada FTR 2024, maka FTR 2026 transisi harus dirancang. Jika properti terlalu banyak pada FTR 2024, maka FTR 2026 harus lebih selektif. Jika musik pernah terlalu dominan pada FTR 2024, maka FTR 2026 harus lebih dramaturgis. Jika energi pertunjukan pernah menurun pada FTR 2024, maka FTR2026 harus memperhatikan kurva energi. Jika durasi keseluruhan adalah 30 menit menjadi tantangan, maka dalam proses produksi untuk FTR 2026 stopwatch harus menjadi bagian dari tim produksi. Dengan cara itu, kiranya dalam pandangan saya, FTR 2026 bergerak, dan bukan berputar di tempat.

 

“Deru Seru FTR 2026” pada akhirnya bukan sekadar soal suara yang lebih ramai, melainkan ia harus menjadi deru regenerasi. Remaja yang nantinya akan berdiri di Teater Arena Taman Budaya Jambi dalam perhelatan FTR 2026 sebagai pemain, mungkin suatu hari menjadi sutradara, dan pemain lain mungkin menjadi penulis, kru mungkin menjadi produser, penata artistik mungkin menjadi seniman professional, dan penonton mungkin menjadi pekerja budaya. Tak lupa penting kepada Guru pembimbing mungkin akan melahirkan kelompok baru. Karena itu, FTR bukan kegiatan kecil, FTR adalah investasi kebudayaan. Apa yang kita tanam di ruang latihan hari ini dapat menentukan wajah teater Jambi pada masa depan.

 

Pada akhirnya, frasa “menjaga daya drama” menjadi inti dari tulisan ini. Apa yang dimaksud dengan daya drama? yang saya maksudkan dari daya drama disini adalah kemampuan pertunjukan untuk membuat penonton peduli terhadap apa yang sedang terjadi di panggung. Penonton ingin tahu apa yang terjadi pada tokoh, penonton ingin melihat konflik berkembang, penonton ingin mengetahui pilihan tokoh, penonton ingin melihat konsekuensi, penonton ingin merasakan perubahan. Daya drama tidak selalu lahir dari cerita yang besar, ia juga dapat lahir dari sebuah kursi, dari sebuah tatapan, dari sebuah kalimat, dari sebuah keheningan, dari sebuah benda, dari sebuah cahaya, dari sebuah tubuh yang diam, yang kemudian membuatnya hadri bermakna, karena itu drama harus berdaya.

 

Karena itu, menjelang FTR 2026, catatan juri yang saya tulis pada FTR 2024 sebaiknya disematkan dan tidak disimpan sebagai masa lalu. Catatan tersebut disematkan sebagai ingatan yang wajib kita buka kembali sebagai bahan belajar. Baca kembali sebagai cermin, gunakan sebagai bekal, lalu masuklah ke ruang latihan. Catatan juri FTR 2024 membawa pengalaman, Juknis FTR 2026 membawa arah, dan dari sanalah deru seru itu seharusnya lahir. Bukan sekadar suara yang ramai, tetapi suara kreativitas, suara keberanian, suara pembelajaran, suara regenerasi, suara teater yang terus mencari bentuknya. Sebab pada akhirnya, naskah adalah awal, pertunjukan adalah proses, catatan adalah ingatan, evaluasi adalah pembelajaran, dan regenerasi adalah alasan mengapa panggung harus terus menyala.

 

Maka, mari membuka kembali karya lama, mari membaca kembali catatan pertunjukan, mari belajar dari apa yang telah terjadi, dan mari membawa seluruh pembelajaran itu menuju panggung baru. Karena daya drama tidak akan bertahan hanya karena karya pernah ditulis. Ia bertahan ketika selalu ada generasi yang bersedia membaca, menafsirkan, memainkan, mempertanyakan, dan menghidupkannya kembali. Dari evaluasi juri FTR 2024, menuju deru seru FTR 2026. Panggung boleh berganti, naskah boleh dibaca ulang, generasi boleh berganti, tetapi selama masih ada tubuh yang bergerak, suara yang berbicara, gagasan yang dipertarungkan, dan penonton yang bersedia menyaksikan bahwa teater akan selalu menemukan cara untuk tumbuh kembali.






.........
Agar kami terus tumbuh dan selalu sajikan informasi bermanfaat. Dukung bicarajambi.com, klik disini: TRAKTIR KOPI https://trakteer.id/hendry_noesae/gift

Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN

Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com

.....
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam sebagai pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, Bacalah disini 114 Surat 30 Juz: Arab, Latin dan Terjemahan Lengkap