LEMBAYUNG
Matahari terbenam di Pantai Kesirat, Gunungkidul.(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
LEMBAYUNG
Karya Hendry Nursal
Pemeran:
Penata
Cahaya dan Asisten, Penata Suara, Sutradara
Kru Panggung, Aktor dan Aktris
Pemusik dan Penyanyi
Pemandu Acara
FADE IN
MENCEKAM, WARGA BERLARIAN DAN MEMBAWA
KENTONGAN BAMBU, SENTER SERTA OBOR
Bujang Lok : Coba kau lihat
sebelah sana, kamu disana, kamu juga bagian sana, ayo cari yang benar! Mungkin
dia bersembunyi diantara ilalang dan semak belukar
Indra : (bersama
warga yang lain mencari) Tidak ada bang
Bujang Lok : Cari yang teliti,
terangin pakai senter lihat pakai mata, jangan pakai hidung
Indra : abang
pikir aku apa?
Bujang Lok : Emang kamu siapa?
Indra : aku
Indra
Bujang Lok : itu tau kenapa
pakai nanya (kepada Likin) apakah kau menemukan?
Likin : tidak
ada disini bang
PENATA CAHAYA MENUJU POSISI, SEMENTARA KRU
MASIH MELIHAT ULANG CATATAN DARI SUTRADARA
Kru 1 : (kepada
penata suara) Sound aman bang?
Suara : Aman,
coba dulu Microphone nya?
Pemusik : (memainkan
musik) siap aman bang
Penyanyi : (bernyanyi)
jangan rendahkan aku
jangan
jadikan sebagai candaan
aku
adalah Milik Kalian
Suara : MC
Pemandu Acara : (mencoba pelantang suara) tes, tes, 1 2 3,
dicoba tes tes, baik bang
Kru 2 : Saya
rasa ini sudah semua dalam posisi
Kru 1 : Lighting
Cahaya : Tunggu
(menyalakan satu persatu) siap
Kru 2 : MC
mari kita mulai
PEMANDU ACARA BERDIRI PADA POSISINYA DAN
DIBERIKAN CAHAYA KHUSUS, KRU KELUAR DARI PANGGUNG, CAHAYA PANGGUNG DIGELAPKAN
Pemandu Acara : Lembayung, kini kita lebih banyak menggunakan bahasa asing
padahal kita memiliki bahasa yang tidak kalah indahnya. Namun karena terlalu
ikut-ikutan, maka kita turut mengucapkan kata yang sama. Sehingga banyak
generasi sekarang sampai tidak mengenal bahasa aslinya, hal sederhana untuk
kata Jinga, Merah Jambu, Lembayung dan lainnya Seperti apa kisah Lembayung,
naskah yang ditulis Hendry Nursal dan disutradarai Hendry Nursal? SELAMAT
MENYAKSIKAN
FADE IN
[MUSIK]
CAHAYA BERLAHAN MULAI MENYALA DAN SEORANG
AKTOR DAN AKTRIS MEMASUKI PANGGUNG, NAMUN BERDIRI TIDAK TEPAT DIBAWAH CAHAYA
Aktor : Dari rindu aku merasakan
artinya penantian
Aktris : Dari rasa senang
aku kenal artinya luka, namun…
Sutradara : (datang dari Area penonton)
tunggu, apa kamu tidak melihat itu cahaya? Kalau berdiri disitu, tidak tepat
dengan cahaya
Aktor : tapi saya
latihannya selalu berdiri disini
Sutradara : improvisasi kamu itu NOL,
ulang-ulang (kepada penata cahaya) bang ini warnanya bisa dirubah kah?
Kru 1 : warna mana yang
harus dirubah bang, ini catatan abang
Sutradara : di titik ini warnanya Biru,
kenapa tadi warnanya merah
Kru 1 : berarti saya yang
salah
Sutradara : (menarik nafas)
Cahaya : Ada yang salah bang?
Sutradara : dalam catatan saya biru,
tapi kenapa menjadi merah
Cahaya : baik kita rubah (kepada
Kru) geser steger itu
PENATA CAHAYA MENAIKI STEGER DAN MENUKARKAN
WARNA CAHAYA MENJADI MERAH SESUAI KEINGINAN SUTRADARA
Cahaya : Tolong nyalakan lampu
yang lain, matikan yang satu ini (menukar filter lampu) coba nyalakan kembali
Sutradara : Nah, ini baru cocok. Ada
perenungan dan sedang memimpikan sesuatu, jadi aneh kalau diberikan cahaya
merah. Lagian naskah ini kondisi waktunya di sore hari berlatar taman
Cahaya : Kru coba lihat lagi
catatan, supaya jangan salah (tetap berada diatas steger)
Sutradara : (memperhatikan)
Cahaya : Bagaimana bang?
Sutradara : coba kamu berdiri disana
(mengarahkan kru 1) sepertinya pas kalau warna kuning (mengarahkan kru 2) kamu
coba disebelah itu, pas juga dengan warna biru
Cahaya : bukankah diposisi itu,
sedang menceritakan tentang sore hari, seharusnya warna Orange
Sutradara : Orange, apanya yang orange?
Warna Jingga itu yang tepat
Cahaya : ya kan sama saja
Sutradara : tidak sama, suka sekali
menggunakan kata Orange, kata yang berasal dari Belanda. Jingga lebih indah
diucapkan
Kru 1 : Orange, kan biasa
dan sangat umum kita sebutkan bang
Sutradara : iya tidak salah, namun kita
harus bangga dengan bahasa sendiri
Kru 2 : apakah sudah bang,
pegal kaki berdiri
Sutradara : baru sebentar saja sudah
lelah, mau cepat-cepat duduk seperti anggota dewan saja
Kru 2 : terus saya harus
melakukan apa lagi
Sutradara : itu anggota dewan sibuk
saja berebut kursi, udah duduk malah banyak yang tidur saat rapat
Kru 1 : mau dilanjut atau tidak, kami lelah berdiri
terus
Sutradara : nanti dulu, kamu harus
dikasih paham biar tidak salah arah. Sudah salah menyebarkan pula, lama
kelamaan yang salah jadi dianggap benar
Cahaya : mau berdebat atau mau
merubah cahaya?
Sutradara : (berjalan melihat ke arah
lampu) coba ini nyalakan warna merah dan kuning biar menjadi warna Jingga, nahh
tepat Warna Jingga sedikit ada siraman warna biru. (melihat-lihat lagi)
sepertinya kurang pas ada biru, coba padamkan yang biru, ini lebih mendekati
Kru 1 : bang kami sudah
bisa duduk belum
Sutradara : nanti dulu (sambil melihat
lampu dengan cahaya merah) ini apakah bisa menjadi merah jambu?
Kru 2 : Warna Pink
Sutradara : Merah Jambu itu perpaduan
antara merah dan putih, kamu berdua sama saja. Coba biasakan dengan sebutan
merah Jambu, jangan pink! Pink! Kalau di dusun saya pink itu bedemping.
Kru 2 : kena tampar bang
Sutradara : iya makanya, kita ini kaya
memiliki 733 bahasa daerah bersatu dalam bahasa Indonesia. Jangan latah!
Kru 2 : kita juga harus
mengikuti perkembangan zaman bang, trend masa kini dan sudah harus berpikir Go
International
Sutradara : (tertawa) Cina disidang
umum perserikatan bangsa-bangsa tetap menggunakan bahasa Mandarin, Jepang
kedatangan tamu kenegaraan, dia tetap berbahasa Jepang, Arab juga begitu
Kru 1 : tapi bang?
Sutradara : tak usah diperdebatkan, tak
usah buka teori, tak usah ingin menunjukan anda lebih berpengalaman, tak usah
cerita dari hilir ke hulu karena tidak akan habisnya! Kita harus bangga dan
jangan latah, kamu pasti tau, ada itu taman dengan sebutan Park, apa itu? Park,
park, fuck? Itu taman dibangun pemerintah pula, uang kita itu
Kru 1 : Park bang
Sutradara : kamu kasar dengan saya
Kru 1 : Bukan abang, itu
bang, duh bagaimana menjelaskannya…..kata taman dalam bahasa Inggris Park
Sutradara : salah arti kan? Makanya apa
salahnya menggunakan kata taman, (mengeja) taman.
Kru 1 : supaya mendunia
bang
Sutradara : mendunia apanya, yang
datang juga lebih banyak dari kita sendiri. Kalau mau mendunia bikin taman yang
benar.
Kru 2 : kita harus terbuka
bang, nanti tempat itu
Sutradara : sudah tak usah
diperdebatkan, tak usah buka teori, tak usah cerita dari hilir ke hulu karena
tidak akan habisnya! Jadilah diri sendiri, jatidiri bangsa sendiri
Cahaya : Mau dilanjut atau tidak
ini?
Kru 1 : (duduk di tempat)
pegal
Kru 2 : iya (turut duduk)
SUTRADARA MASIH MELIHAT-LIHAT KONDISI LAMPU
YANG LAIN
Sutradara : iya ya sedikit lagi, coba
nyalakan semuanya (setelah mengamati) bisakah disana warnanya Lembayung
Kru 1 : Warna purple ya
Sutradara : Lembayung
Kru 1 : iya sama dengan
purple
Sutradara : Lembayung ya lembayung
Cahaya : tidak ada, kalau
mendekati bisa
Sutradara : itu sudah cukup
Aktor : bang, kita kapan
mulainya
Aktris : kami sudah menunggu
dari tadi bang. Sudah lah jangan berdebat dengan warna
Aktor : Namun saya sepakat
dengan Sutradara, kita terlalu silau dan terpukau dengan warna cerah atau yang
sangat gelap. Warna kuning, merah, hijau bahkan putih juga hitam
Aktris : Kamu seperti
menyindir partai politik saja
Aktor : Tidak, tapi bisa
juga kita gambarkan seperti itu. Mungkin mereka menyembunyikan tujuan aslinya
yaitu Jingga, Merah Jambu bahkan Lembayung
Sutradara : Sudahlah kita tidak sedang
membahas partai Politik. Sabar ya, saya sedang memastikan kondisi cahaya. Jika
tidak tepat nanti tidak dapat nilai estetik dari pergelaran ini. Kalian tunggu
dibelakang sebentar lagi ya
Cahaya : jadi kita ganti apa
untuk warna Lembayung
Sutradara : sangat disayangkan jika
tidak bisa, padahal Lembayung itu sangat indah
Kru 2 : atau Ungu saja
Sutradara : walaupun sedikit mirip,
tapi Lembayung itu berbeda. Lembayung adalah keadaan
langit setelah Matahari terbenam dan sebelum terbit Matahari, ketika dua waktu
tersebut langit belum benar-banar gelap.
Kru 2 : lalu
Sutradara : Saat senja Tuhan menyajikan keindahan di langit, penuh warna, ada
merah, jingga, biru dan Lembayung terkadang hadir disana. Tuhan melalui senja
mengingatkan kita, perbedaaan itu ternyata sangat Indah.
Cahaya : malah mengkhayal lagi
Sutradara : (tersadarkan) kita coba nyalakan semuanya (setelah melihat) baik
mari kita mulai. Benda satu ini (menunjuk Steger) Dorong ke pinggir sana saja.
Tidak perlu dibongkar, karena cerita juga berlatar Taman (meninggalkan
panggung)
PENATA CAHAYA TURUN, STEGER DIGESER
Kru 1 : (kepada
penata suara) Sound aman bang?
Suara : Aman
Kru 1 : Pemusik,
Lighting
Kru 2 : MC
mari kita mulai
PEMANDU ACARA BERDIRI PADA POSISINYA DAN
DIBERIKAN CAHAYA KHUSUS, KRU KELUAR DARI PANGGUNG, CAHAYA PANGGUNG DIGELAPKAN
Pemandu Acara : Lembayung, kini kita lebih banyak menggunakan bahasa asing
padahal kita memiliki bahasa yang tidak kalah indahnya. Namun karena terlalu
ikut-ikutan, maka kita turut mengucapkan kata yang sama. Sehingga banyak
generasi sekarang sampai tidak mengenal bahasa aslinya, hal sederhana untuk
kata Jinga, Merah Jambu, Lembayung dan lainnya Seperti apa kisah Lembayung,
naskah yang ditulis Hendry Nursal dan disutradarai Hendry Nursal? SELAMAT
MENYAKSIKAN
FADE IN
[MUSIK]
T A M A T
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
