Friday, January 10, 2025

LEMBAYUNG

 


Matahari terbenam di Pantai Kesirat, Gunungkidul.(KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)


LEMBAYUNG

Karya Hendry Nursal

 

Pemeran:

Penata  Cahaya dan Asisten, Penata Suara, Sutradara

Kru Panggung, Aktor dan Aktris

Pemusik dan Penyanyi

Pemandu Acara

 

FADE IN

 

MENCEKAM, WARGA BERLARIAN DAN MEMBAWA KENTONGAN BAMBU, SENTER SERTA OBOR

 

Bujang Lok           :   Coba kau lihat sebelah sana, kamu disana, kamu juga bagian sana, ayo cari yang benar! Mungkin dia bersembunyi diantara ilalang dan semak belukar

Indra                      :   (bersama warga yang lain mencari) Tidak ada bang

Bujang Lok           :   Cari yang teliti, terangin pakai senter lihat pakai mata, jangan pakai hidung

Indra                      :   abang pikir aku apa?

Bujang Lok           :   Emang kamu siapa?

Indra                      :   aku Indra

Bujang Lok           :   itu tau kenapa pakai nanya (kepada Likin) apakah kau menemukan?

Likin                       :   tidak ada disini bang

 

PENATA CAHAYA MENUJU POSISI, SEMENTARA KRU MASIH MELIHAT ULANG CATATAN DARI SUTRADARA

 

Kru 1                      :   (kepada penata suara) Sound aman bang?

Suara                     :   Aman, coba dulu Microphone nya?

Pemusik                :   (memainkan musik) siap aman bang

Penyanyi              :   (bernyanyi)

                                    jangan rendahkan aku

                                    jangan jadikan sebagai candaan

                                    aku adalah Milik Kalian

Suara                     :   MC

Pemandu Acara :   (mencoba pelantang suara) tes, tes, 1 2 3, dicoba tes tes, baik bang

Kru 2                      :   Saya rasa ini sudah semua dalam posisi

Kru 1                      :   Lighting

Cahaya                 :   Tunggu (menyalakan satu persatu) siap

Kru 2                      :   MC mari kita mulai

 

PEMANDU ACARA BERDIRI PADA POSISINYA DAN DIBERIKAN CAHAYA KHUSUS, KRU KELUAR DARI PANGGUNG, CAHAYA PANGGUNG DIGELAPKAN

 

Pemandu Acara :   Lembayung, kini kita lebih banyak menggunakan bahasa asing padahal kita memiliki bahasa yang tidak kalah indahnya. Namun karena terlalu ikut-ikutan, maka kita turut mengucapkan kata yang sama. Sehingga banyak generasi sekarang sampai tidak mengenal bahasa aslinya, hal sederhana untuk kata Jinga, Merah Jambu, Lembayung dan lainnya Seperti apa kisah Lembayung, naskah yang ditulis Hendry Nursal dan disutradarai Hendry Nursal? SELAMAT MENYAKSIKAN

FADE IN

 

[MUSIK]

CAHAYA BERLAHAN MULAI MENYALA DAN SEORANG AKTOR DAN AKTRIS MEMASUKI PANGGUNG, NAMUN BERDIRI TIDAK TEPAT DIBAWAH CAHAYA

 

Aktor         :   Dari rindu aku merasakan artinya penantian

Aktris         :   Dari rasa senang aku kenal artinya luka, namun…

Sutradara :   (datang dari Area penonton) tunggu, apa kamu tidak melihat itu cahaya? Kalau berdiri disitu, tidak tepat dengan cahaya

Aktor         :   tapi saya latihannya selalu berdiri disini

Sutradara :   improvisasi kamu itu NOL, ulang-ulang (kepada penata cahaya) bang ini warnanya bisa dirubah kah?

Kru 1          :  warna mana yang harus dirubah bang, ini catatan abang

Sutradara :  di titik ini warnanya Biru, kenapa tadi warnanya merah

Kru 1          :   berarti saya yang salah

Sutradara :   (menarik nafas)

Cahaya     :   Ada yang salah bang?

Sutradara :   dalam catatan saya biru, tapi kenapa menjadi merah

Cahaya     :   baik kita rubah (kepada Kru) geser steger itu

 

PENATA CAHAYA MENAIKI STEGER DAN MENUKARKAN WARNA CAHAYA MENJADI MERAH SESUAI KEINGINAN SUTRADARA

 

Cahaya     :   Tolong nyalakan lampu yang lain, matikan yang satu ini (menukar filter lampu) coba nyalakan kembali

Sutradara :   Nah, ini baru cocok. Ada perenungan dan sedang memimpikan sesuatu, jadi aneh kalau diberikan cahaya merah. Lagian naskah ini kondisi waktunya di sore hari berlatar taman

Cahaya     :   Kru coba lihat lagi catatan, supaya jangan salah (tetap berada diatas steger)

Sutradara :   (memperhatikan)

Cahaya     :   Bagaimana bang?

Sutradara :   coba kamu berdiri disana (mengarahkan kru 1) sepertinya pas kalau warna kuning (mengarahkan kru 2) kamu coba disebelah itu, pas juga dengan warna biru

Cahaya     :   bukankah diposisi itu, sedang menceritakan tentang sore hari, seharusnya warna Orange

Sutradara :   Orange, apanya yang orange? Warna Jingga itu yang tepat

Cahaya     :   ya kan sama saja

Sutradara :   tidak sama, suka sekali menggunakan kata Orange, kata yang berasal dari Belanda. Jingga lebih indah diucapkan

Kru 1          :   Orange, kan biasa dan sangat umum kita sebutkan bang

Sutradara :   iya tidak salah, namun kita harus bangga dengan bahasa sendiri

Kru 2          :   apakah sudah bang, pegal kaki berdiri

Sutradara :   baru sebentar saja sudah lelah, mau cepat-cepat duduk seperti anggota dewan saja

Kru 2          :   terus saya harus melakukan apa lagi

Sutradara :   itu anggota dewan sibuk saja berebut kursi, udah duduk malah banyak yang tidur saat rapat

Kru  1         :   mau dilanjut atau tidak, kami lelah berdiri terus

Sutradara :   nanti dulu, kamu harus dikasih paham biar tidak salah arah. Sudah salah menyebarkan pula, lama kelamaan yang salah jadi dianggap benar

Cahaya     :   mau berdebat atau mau merubah cahaya?

Sutradara :   (berjalan melihat ke arah lampu) coba ini nyalakan warna merah dan kuning biar menjadi warna Jingga, nahh tepat Warna Jingga sedikit ada siraman warna biru. (melihat-lihat lagi) sepertinya kurang pas ada biru, coba padamkan yang biru, ini lebih mendekati

Kru 1          :   bang kami sudah bisa duduk belum

Sutradara :   nanti dulu (sambil melihat lampu dengan cahaya merah) ini apakah bisa menjadi merah jambu?

Kru 2          :   Warna Pink

Sutradara :   Merah Jambu itu perpaduan antara merah dan putih, kamu berdua sama saja. Coba biasakan dengan sebutan merah Jambu, jangan pink! Pink! Kalau di dusun saya pink itu bedemping.

Kru 2          :   kena tampar bang

Sutradara :   iya makanya, kita ini kaya memiliki 733 bahasa daerah bersatu dalam bahasa Indonesia. Jangan latah!

Kru 2          :   kita juga harus mengikuti perkembangan zaman bang, trend masa kini dan sudah harus berpikir Go International

Sutradara :   (tertawa) Cina disidang umum perserikatan bangsa-bangsa tetap menggunakan bahasa Mandarin, Jepang kedatangan tamu kenegaraan, dia tetap berbahasa Jepang, Arab juga begitu

Kru 1          :   tapi bang?

Sutradara :   tak usah diperdebatkan, tak usah buka teori, tak usah ingin menunjukan anda lebih berpengalaman, tak usah cerita dari hilir ke hulu karena tidak akan habisnya! Kita harus bangga dan jangan latah, kamu pasti tau, ada itu taman dengan sebutan Park, apa itu? Park, park, fuck? Itu taman dibangun pemerintah pula, uang kita itu

Kru 1          :   Park bang

Sutradara :   kamu kasar dengan saya

Kru 1          :   Bukan abang, itu bang, duh bagaimana menjelaskannya…..kata taman dalam bahasa Inggris Park

Sutradara :   salah arti kan? Makanya apa salahnya menggunakan kata taman, (mengeja) taman.

Kru 1          :   supaya mendunia bang

Sutradara :   mendunia apanya, yang datang juga lebih banyak dari kita sendiri. Kalau mau mendunia bikin taman yang benar.

Kru 2          :   kita harus terbuka bang, nanti tempat itu

Sutradara :   sudah tak usah diperdebatkan, tak usah buka teori, tak usah cerita dari hilir ke hulu karena tidak akan habisnya! Jadilah diri sendiri, jatidiri bangsa sendiri

Cahaya     :   Mau dilanjut atau tidak ini?

Kru 1          :   (duduk di tempat) pegal

Kru 2          :   iya (turut duduk)

 

SUTRADARA MASIH MELIHAT-LIHAT KONDISI LAMPU YANG LAIN

 

Sutradara :   iya ya sedikit lagi, coba nyalakan semuanya (setelah mengamati) bisakah disana warnanya Lembayung

Kru 1          :   Warna purple ya

Sutradara :   Lembayung

Kru 1          :   iya sama dengan purple

Sutradara :   Lembayung ya lembayung

Cahaya     :   tidak ada, kalau mendekati bisa

Sutradara :   itu sudah cukup

Aktor         :   bang, kita kapan mulainya

Aktris         :   kami sudah menunggu dari tadi bang. Sudah lah jangan berdebat dengan warna

Aktor         :   Namun saya sepakat dengan Sutradara, kita terlalu silau dan terpukau dengan warna cerah atau yang sangat gelap. Warna kuning, merah, hijau bahkan putih juga hitam

Aktris         :   Kamu seperti menyindir partai politik saja

Aktor         :   Tidak, tapi bisa juga kita gambarkan seperti itu. Mungkin mereka menyembunyikan tujuan aslinya yaitu Jingga, Merah Jambu bahkan Lembayung

Sutradara :   Sudahlah kita tidak sedang membahas partai Politik. Sabar ya, saya sedang memastikan kondisi cahaya. Jika tidak tepat nanti tidak dapat nilai estetik dari pergelaran ini. Kalian tunggu dibelakang sebentar lagi ya

Cahaya     :   jadi kita ganti apa untuk warna Lembayung

Sutradara :   sangat disayangkan jika tidak bisa, padahal Lembayung itu sangat indah

Kru 2          :   atau Ungu saja

Sutradara :   walaupun sedikit mirip, tapi Lembayung itu berbeda. Lembayung adalah keadaan langit setelah Matahari terbenam dan sebelum terbit Matahari, ketika dua waktu tersebut langit belum benar-banar gelap.

Kru 2          :   lalu

Sutradara :   Saat senja Tuhan menyajikan keindahan di langit, penuh warna, ada merah, jingga, biru dan Lembayung terkadang hadir disana. Tuhan melalui senja mengingatkan kita, perbedaaan itu ternyata sangat Indah.

Cahaya     :   malah mengkhayal lagi

Sutradara :   (tersadarkan) kita coba nyalakan semuanya (setelah melihat) baik mari kita mulai. Benda satu ini (menunjuk Steger) Dorong ke pinggir sana saja. Tidak perlu dibongkar, karena cerita juga berlatar Taman (meninggalkan panggung)

 

PENATA CAHAYA TURUN, STEGER DIGESER

 

Kru 1                      :   (kepada penata suara) Sound aman bang?

Suara                     :   Aman

Kru 1                      :   Pemusik, Lighting

Kru 2                      :   MC mari kita mulai

 

PEMANDU ACARA BERDIRI PADA POSISINYA DAN DIBERIKAN CAHAYA KHUSUS, KRU KELUAR DARI PANGGUNG, CAHAYA PANGGUNG DIGELAPKAN

 

Pemandu Acara :   Lembayung, kini kita lebih banyak menggunakan bahasa asing padahal kita memiliki bahasa yang tidak kalah indahnya. Namun karena terlalu ikut-ikutan, maka kita turut mengucapkan kata yang sama. Sehingga banyak generasi sekarang sampai tidak mengenal bahasa aslinya, hal sederhana untuk kata Jinga, Merah Jambu, Lembayung dan lainnya Seperti apa kisah Lembayung, naskah yang ditulis Hendry Nursal dan disutradarai Hendry Nursal? SELAMAT MENYAKSIKAN

FADE IN

[MUSIK]

  T A M A T








Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com