5 Aksi Demo Ojol Terbaru, dari Tarif Tak Adil hingga Omnibus Law
BICARA PERISTIWA - Demo ojol kembali menjadi sorotan publik setelah ribuan pengemudi ojek online (ojol) dan taksi online (taksol) dari berbagai daerah turun ke jalan pada Selasa (20/5/2025). Aksi besar-besaran ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan aplikator yang dinilai merugikan para pengemudi dan tidak memberikan kepastian kesejahteraan maupun perlindungan hukum.
Aksi unjuk rasa ini berlangsung serentak di berbagai kota besar, termasuk Jakarta, dan diprakarsai oleh Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia (Garda). Ketua Umum Garda, Raden Igun Wicaksono, menyebutkan bahwa lebih dari 25.000 pengemudi roda dua dan empat akan turut serta, dengan titik aksi terpusat di kantor aplikator serta instansi pemerintah seperti Kemenhub, Istana Merdeka, dan DPR RI.
Selain demonstrasi fisik, para pengemudi juga melaksanakan offbid nasional selama 24 jam sebagai bentuk mogok kerja, yang berdampak langsung pada layanan transportasi, makanan, dan logistik.
Dalam orasinya, Igun menyatakan, “Kami sedang memperjuangkan hak dan keadilan atas tidak adanya ketegasan dari pihak regulator yang mendiamkan pelanggaran regulasi sejak 2022”. Lima tuntutan utama pun dilontarkan dalam aksi ini, mulai dari kepastian status hukum hingga pengaturan tarif yang adil.
Berbagai aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para pengemudi ojek online selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tuntutan mereka bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan bagian dari perjuangan panjang yang konsisten.
Dari masalah kesejahteraan hingga kepastian hukum, aksi-aksi ini menjadi gambaran nyata ketegangan antara pihak aplikator, regulator, dan mitra pengemudi. Berikut deretan demo ojol yang terjadi sejak tahun 2022 hingga 2025.
Deretan Aksi Demo Ojol Beberapa Tahun Terakhir
1. Aksi 17 Februari 2025: Tuntut Kepastian THR
Pada 17 Februari 2025, ratusan pengemudi ojol menggelar demo di depan Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta. Demo ini juga diiringi aksi offbid, dengan tuntutan utama adalah kejelasan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) oleh pihak aplikator.
Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, mengatakan pemerintah belum juga menerbitkan regulasi terkait kewajiban THR bagi pengemudi ojol, taksol, dan kurir.
2. Aksi 1812 (18 Desember 2024): Tolak Peraturan Sepihak
Aliansi Pengemudi Online Bersatu (APOB) menggelar aksi pada 18 Desember 2024 di depan kantor Gojek, Jakarta. Dalam demo ojol ini, mereka menolak keras aturan, kode etik, dan tata tertib yang dinilai dibuat sepihak oleh aplikator tanpa dialog dengan pengemudi.
Aksi ini mencerminkan ketidakpuasan atas regulasi internal yang dianggap memberatkan dan tidak mencerminkan kemitraan sejati.
3. Aksi 29 Agustus 2024: Serukan Kesetaraan dan Status Hukum
Ribuan pengemudi dari Jabodetabek kembali turun ke jalan pada 29 Agustus 2024. Konvoi besar digelar menuju kantor Gojek, Grab, dan Istana Negara. Tuntutan utama dalam demo ojol ini adalah pengakuan legal atas profesi pengemudi melalui undang-undang yang jelas.
Ketua Garda, Igun Wicaksono, menegaskan pentingnya legal standing untuk mencegah perusahaan memperlakukan mitra secara semena-mena.
4. Aksi 10 Agustus 2023: Cabut Omnibus Law Cipta Kerja
Sekitar 150 pengemudi yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat melakukan aksi di depan Mahkamah Konstitusi dan Istana Negara. Mereka mendesak pencabutan Omnibus Law yang dianggap tidak berpihak pada pekerja informal, termasuk ojol.
Ketua SPAI, Lily Pujiati, menyebut kebijakan dalam undang-undang tersebut justru memperburuk kondisi kerja pengemudi dan kurir.
5. Aksi 9 September 2022: Tiga Tuntutan Utama
Pada 9 September 2022, berbagai asosiasi pengemudi ojol melakukan aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Mereka menyuarakan tiga tuntutan besar: legalisasi ojek online lewat undang-undang, pengaturan tarif oleh pemerintah provinsi, dan penurunan biaya sewa aplikasi maksimal 10%.
Organisasi yang terlibat antara lain Garda Indonesia, Tekab Indonesia, Patra Indonesia, dan Masyarakat Online Seluruh Indonesia (MOSI). Aksi ini menjadi momen penting dalam memperlihatkan kekompakan antar komunitas pengemudi daring.
Rangkaian demo ojol dari 2022 hingga 2025 mencerminkan keresahan yang tak kunjung teratasi. Para pengemudi menuntut bukan hanya peningkatan pendapatan, tapi juga kejelasan status hukum dan perlindungan dari kebijakan sepihak perusahaan.
Sumber: beritasatu.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
