Wednesday, November 19, 2025

Membangun Iklim Perfilman Jambi: Gerakan Komunitas, Sekolah, dan Anjungan Puisi Sebagai Ruang Alternatif


Oleh Ide bagus Putra


Industri film di Jambi selama bertahun-tahun berkembang seperti riak kecil di permukaan sungai: ada, terasa, tetapi tidak pernah benar-benar membentuk gelombang yang kuat. Penah muncul film layar lebar (bioskop), sesekali muncul produksi film pendek, beberapa kali digelar festival, lalu senyap kembali. Inisiatif komunitas sering terpaut keterbatasan ruang, minimnya dukungan, atau tidak adanya sirkulasi penonton yang berkelanjutan. Kondisi ini membuat ekosistem film Jambi tumbuh tetapi belum berkembang; hidup tetapi belum hidup sepenuhnya.


Belakangan, kembali muncul upaya yang lebih terstruktur dan penuh energi dari berbagai pihak. sekolah vokasi, komunitas kreatif, pelaku seni, hingga ruang alternatif mulai merapatkan barisan. Mereka sadar bahwa ekosistem film tidak mungkin lahir dari satu lembaga saja: film memerlukan kolaborasi, perlu ruang tampil, perlu diskusi, perlu kegagalan, dan perlu keberanian untuk memulai. Dari titik inilah muncul upaya gerakan baru untuk menghidupkan iklim perfilman Jambi dengan cara yang lebih organik dan berkelanjutan.


Salah satu momentum penting adalah produksi film-film yang melibatkan siswa SMK, komunitas independen, dan pendidik yang aktif dalam dunia kreatif. Mereka tidak hanya membuat film sebagai tugas sekolah, lomba atau proyek komunitas, tetapi menjadikannya sebagai percobaan serius dalam membangun fondasi ekosistem perfilman daerah. Pendekatan akademik berpadu dengan semangat pop dan energi anak muda, menciptakan medan kreatif baru yang penulis sebelumnya jarang muncul.


Menghidupkan Kembali Ruang Belajar dan Kolaborasi

Untuk waktu yang lama, persoalan terbesar perfilman Jambi bukan pada talenta, karena talenta itu ada melainkan pada ketiadaan ruang. Ruang untuk menonton, ruang untuk mengkritik, ruang untuk belajar, ruang untuk mencoba, hingga ruang untuk gagal dengan aman. Tanpa ruang-ruang ini, film hanya lahir sesekali tanpa keberlanjutan.


Sekolah vokasi seperti SMK yang memiliki jurusan DKV dan Broadcasting sebenarnya menjadi harapan besar. Di sana, siswa belajar teknis kamera, penyutradaraan, editing, dan penulisan naskah. Tetapi pembelajaran itu seringkali berjalan tanpa kesempatan publikasi di hadapan penonton. Akibatnya, karya berhenti sebagai dokumen, tugas tidak tumbuh, tidak dipertontonkan, dan tidak diuji oleh perspektif publik.


Kondisi ini sebenarnya bisa dicoba melalui pendekatan teaching factory, pembelajaran berbasis proyek, dan kolaborasi antara guru, komunitas film, serta pelaku kreatif di Jambi. Pengalaman produksi film menjadi ajang praktik langsung yang menantang. Siswa bukan sekadar belajar teori, tetapi masuk ke situasi produksi nyata: mengurus peralatan, membentuk tim, menyusun jadwal, mencari lokasi, hingga menangani kendala teknis dan non-teknis yang selalu muncul dalam setiap proses syuting.


“Anak-anak ini tidak hanya belajar membuat film,” ujar Nando, salah satu pendidik di sekolah SMK swasta di kota Jambi. “Mereka belajar disiplin, kerja sama, dan memahami dunia profesional kreatif.”


Dalam banyak hal, inilah inti dari pembelajaran vokasi. Ketika sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membangun pengalaman, maka siswa tidak lagi sekadar memahami film mereka mengalami film.


Film sebagai Medium Cerita Jambi

Film-film yang diproduksi siswa maupun komunitas di Jambi rata-rata mengangkat isu sosial dan ruang budaya lokal yang dekat dengan mereka: kehidupan remaja di kota, kisah keluarga, relasi antarteman, keresahan anak muda, hingga potret keseharian masyarakat Jambi. Cerita-cerita ini mungkin sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya.


Cerita lokal memungkinkan film menjadi cermin bagi masyarakat. Mereka melihat diri sendiri, identitas, ruang tinggal, dialek, dan latar sosial yang tidak dia temukan di film-film mainstream. Lebih dari sekadar hiburan, film lokal menjadi dokumentasi budaya dan jejak sejarah kecil yang kelak bernilai.


Salah satu kekuatan terbesar film lokal adalah keberaniannya untuk jujur. Siswa, komunitas kecil, atau pembuat film pemula tidak dibebani pasar. Mereka bisa bercerita dengan apa adanya, kadang mentah, kadang naif, tetapi selalu autentik. Keaslian semacam ini jarang ditemui dalam industri film. Arus utama yang cenderung mengikuti tren komersial.


Menurut penulis ruang-ruang semacam ini harus diperbanyak. Setiap karya bagus atau belum bagus adalah langkah penting untuk membangun iklim perfilman yang sehat. Tanpa keberanian berkarya, ekosistem tidak akan pernah terbangun.


Ruang Alternatif yang Mulai Mengikat Penonton

Dalam upaya menghidupkan ekosistem film, diperlukan ruang alternatif untuk mengikat penonton dalam bentuk kekinian. Anjungan Puisi Jambi (APJ) mencoba hadir sebagai ruang alternatif tontonan, termasuk diantaranya penayangan film. Ruang yang selama ini dikenal sebagai tempat pertunjukan sastra dan seni, kini memperluas fungsinya sebagai tempat pemutaran film, diskusi kreatif, dan laboratorium gagasan.


Anjungan Puisi mencoba berupaya memposisikan diri sebagai ruang alternatif yang menampung karya pelajar, mahasiswa, komunitas film, sineas independen, dan lembaga-lembaga kreatif di Provinsi Jambi. Bagi banyak siswa SMK, khususnya jurusan DKV dan Broadcasting, ruang ini diharapkan menjadi salah satu tempat penayangan film kepada publik. Sebelumnya pernanan ini pernah dilakukan Tempoa Jelutung, Menurut Iwan Kosuma sebagai pengagas, penayangan film karya siswa di Anjungan Puisi diharapkan memberikan pengalaman yang sangat berbeda dibanding penayangan film di kelas untuk dinilai guru.


Di sini, film ditayangkan untuk dilihat, dinilai, dan untuk dibicarakan. Ada risiko, ada keberanian, ada dialog. Dan di situlah seni tumbuh.


Sebagaimana dijelaskan Iwan Kurniawan Kosumah lebih lanjut, penayangan film ini, bertujuan memberi ruang bagi siswa SMK untuk mengekspresikan diri secara lebih serius. “Siswa harus punya tempat untuk eksis. Mereka sudah belajar banyak hal, tetapi keberadaan ruang publik untuk menunjukkan karya masih terbatas. Anjungan Puisi menjembatani kebutuhan itu,” tuturnya.


Nando Sihombing, tenaga pengajar yang ikut mendampingi siswa, menegaskan bahwa program ini juga merupakan bagian dari tugas pembelajaran mereka di jurusan DKV dan Broadcasting. Publikasi karya, keberanian tampil, dan kesediaan karya “dibedah” dalam forum terbuka adalah proses penting untuk pendewasaan diri sebagai seorang kreator.


“Ketika karya dibuka untuk diskusi, siswa belajar hal yang tidak bisa diperoleh dari buku atau kelas,” tambahnya. “Mereka belajar menerima kritik, menyusun argumentasi, melihat perspektif baru, dan memahami bahwa karya seni selalu berada dalam ruang dialog.”


Penayangan Film Siswa, Momentum Baru

Direncanakan Sabtu, 29 November 2025, Anjungan Puisi Jambi akan menjadi tuan rumah penayangan film Siswa SMK Pelita Raya Jambi. Ini bukan penayangan biasa, tetapi sebuah momentum bagi Jambi. Tidak hanya karena film-filmnya diproduksi pelajar, tetapi karena acara ini menggabungkan unsur pendidikan, seni, dan ruang diskusi yang sehat.


Beberapa film yang akan ditayangkan antara lain: Aidit, Pulih, Domba Hitam, Outclassed, Dompet yang Hilang. Film-film ini mewakili beragam pendekatan visual dan cerita, mulai dari drama personal, konflik emosional, hingga eksplorasi isu sosial. Setiap film menjadi bentuk latihan sekaligus eksperimen kreatif yang penting dalam proses belajar.


Penayangan ini akan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan Taufiq Hidayat Rusti, seniman Jambi sekaligus sutradara film Jambi lulusan ISI Yogyakarta. Kehadiran narasumber ini diharapkan membuka kesempatan bagi siswa untuk mempelajari perspektif profesional dan dinamika industri film dari seseorang yang berpengalaman.


Sayangnya, karena keterbatasan ruang dan alasan kenyamanan, menurut pengagas penayangan ini hanya dapat menampung 40 penonton. Meski jumlahnya terbatas, keintiman ruang justru diharapkan memberikan pengalaman diskusi yang lebih mendalam dan fokus.


Mencari Bentuk Baru Ekosistem Film Jambi

Jika kita melihat lebih jauh, semua inisiatif ini merupakan kolaborasi sekolah, komunitas film, ruang alternatif, sekaligus upaya pelibatan professional adalah langkah dari sebuah gerakan besar: membangun ekosistem film Jambi yang benar-benar hidup. Sebuah ekosistem yang tidak hanya muncul ketika ada festival atau lomba, tetapi berjalan sepanjang tahun, tumbuh dari generasi ke generasi.


Langkah strategis ini menurut penulis merupakan upaya untuk: 1)Menjadikan sekolah vokasi sebagai pusat regenerasi sineas muda. 2)Membentuk ruang-ruang alternatif penayangan film. 3)Membangun kerja sama antar komunitas film di Jambi. 4)Menggelar program diskusi, bedah karya, dan pelatihan berkelanjutan. 4)Mendorong pemerintah daerah dan lembaga budaya mendukung kegiatan film. 5)Membangun arsip digital film Jambi sebagai dokumentasi kreatif.


Ketika langkah-langkah ini saling terhubung, ekosistem akan terbentuk secara natural. Jambi memiliki potensi besar untuk menjadi pusat film lokal yang kuat di Sumatera, mengingat banyaknya talenta muda, sekolah vokasi yang aktif, serta komunitas seni yang terus bergerak.


Mengapa Ruang Alternatif Itu Penting?

Ruang alternatif penayangan memiliki peran yang sangat penting karena tiga alasan: Ruang alternative tidak terikat pada kepentingan komersial. 1)Film dapat ditayangkan tanpa tekanan pasar. 2)Siswa dan komunitas bisa bereksperimen dengan gaya visual, narasi, atau topik yang tidak populer di ranah komersial. 3)Menjadi tempat pertemuan lintas generasi. Di sini, pelajar, sineas senior, akademisi, dan publik bertemu dalam satu ruang yang nyaman dan egaliter. Ruang ini kelak diharapkan memperkuat budaya menonton lokal.


Budaya menonton adalah fondasi dari ekosistem film. Tanpa penonton, film tidak berkembang; tanpa ruang nonton, penonton tidak lahir. Jika budaya menonton tumbuh, maka film lokal pun tumbuh. Jika film tumbuh, maka kreator bergerak. Jika kreator bergerak, maka industri kreatif di Jambi ikut bergerak.


Harapan ke Depan

Gerakan yang lahir dari siswa, guru, komunitas seni, dan ruang alternatif ini menunjukkan bahwa perfilman Jambi sebenarnya tidak kekurangan energi kreatif. Yang dibutuhkan hanyalah konsistensi, keberanian, dan ruang yang tepat.


Penulis mendukung penuh kegiatan ini dan menegaskan bahwa keberanian siswa untuk membuka diri terhadap kritik adalah fondasi perkembangan film yang sehat. Menurut penulis, Setiap penayangan, setiap diskusi, setiap karya yang ditonton itu semua adalah pondasi untuk membangun rumah besar bernama ekosistem film Jambi.


Jika langkah-langkah kecil seperti ini terus direplikasi di sekolah lain, di komunitas lain, di ruang-ruang kreatif lain maka tidak mustahil Jambi akan memiliki industri film lokal yang kuat dalam beberapa tahun mendatang.


Penutup

Ketika film lokal ditonton, dibicarakan, dikritik, dan diapresiasi, di situlah film menemukan hidupnya. Anjungan Puisi Jambi, para guru kreatif, komunitas pelajar, dan para pelaku seni pada Sabtu, 29 November 2025 menunjukkan bahwa ekosistem film tidak hanya dibangun uang dan fasilitas besar, melainkan keberanian kecil yang konsisten: keberanian untuk berkarya, keberanian untuk menunjukkan karya, dan keberanian untuk menerima kritik.


Jika semua itu terus dirawat, maka suatu hari nanti Jambi tidak hanya dikenal sebagai kota dengan budaya Melayu yang kaya, tetapi juga sebagai kota yang melahirkan sineas muda berbakat dan film-film lokal yang kuat.



Follow bicarajambi.com
Facebook @bicarajambidotcom
Twitter/X @bicarajambidotcom
Instagram @bicarajambidotcom
Tiktok @bicarajambicom
Youtube @bicarajambidotcom
Bisnis Klik Tautan Ini: PEMASANGAN IKLAN


Ikuti info terbaru bicarajambi.com di 
Channel bicarajambiDOTcom melalui
WhatsApp dan Telegram


Peringatan Penting!
Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin informasi/berita/konten/artikel, namun dengan mencantumkan sumber bicarajambi.com